
Sebenarnya, jika mengintip saja kemarin malam di kamar Ian. Bian tengah bergulung-gulung. Merutuki dirinya yang sepertinya bersikap aneh seharian itu. Ada hal tidak dia mengerti terasa di dadanya ketika Lista menyentuh wajahnya, mengusap air matanya. Ada yang aneh dalam dadanya ketika wajah mereka begitu dekat, hingga Bian bisa melihat dengan jelas manisnya coklat pekat yang membesar karena terkejut.
Perasaan aneh itu memusingkannya semalaman. Di tambah lagi, pikiran tentang makna surat dari Ian yang baru saja diterimanya hari itu. Semakin membuat kepalanya terasa berat. Hari yang melelahkan. Dia kemudian menampar pipinya keras, berusaha membuat pikirannya yang kacau tertata lurus. Berusaha melupakan semua dan pergi tidur. Bian kemudian menarik selimut. Dan keesokan paginya bangun dengan hati dan pikiran yang longgar
Sedangkan Lista di pagi berikutnya sudah bisa menenangkan diri. Jantungnya sudah beritme normal bahkan ketika mengingat kejadian dengan Bian kemarin. Dia telah bulat dengan perasaanya. Dia ingin menghargai rasa cinta yang tersisa pada Ian meski Ian sendiri telah pergi. Dia tidak ingin menjadi perempuan gampangan yang mudah berpindah hati.
"Bodohnya aku, karena sempat membiarkan benih lain tumbuh di hati."
Ian, jika saja tahu, Lista masih terus mempertahankan rasa cintanya. Ketika sedikit saja goyah, Lista menguatkannya lagi. Menopangnya dengan baja kuat, melindunginya dengan pagar tinggi.
Karena itulah, saat bertemu Bian, Lista bisa bersikap biasa-biasa saja, seperti kemarin adalah hal yang tidak masalah baginya. Membuat Bian yang salah tingkah sendiri karena berpikir Lista akan terbawa perasaan setelah kejadian kemarin. Bian menghela napas lega mengetahui Lista tampak biasa-biasa saja.
Mereka berdua memilih melupakan kejadian kemarin. Menganggap itu hanya angin lalu yang tidak penting. Toh cuma wajah yang berdekatan dan menyentuh tangan, kenapa bisa jadi hal yang begitu rumit kan?
***
"Jadi, omongan Tante memang benar," ucap Tante Mirna. Bian berdiri menyandar di bingkai pintu dapur, bercakap dengan tantenya mengenai perkataannya kemarin bahwa Ian juga meninggalkan sesuatu untuk Bian.
"Ya, sejak awal Ian meninggalkan surat juga padaku."
"Aku tahu bagaimana anakku itu, aku tahu persis," ucap Tante Mirna, dia sedang membuat adonan kue. Entah ada kesiur angin apa Tante Mirna hari ini dia ingin buat kue bolu.
"Tante memang orang yang paling mengenal baik bagaimana Ian orangnya."
Sedangkan Lista sekarang ada di ruang tengah rumah Tante Mirna, manatap lekat surat yang diterima Bian.
*Cari yang kedua
Pertengahan bulan, minggu kedua. Aku sudah berjanji padanya*.
Mata Lista membacanya berulangkali, tetap tidak mengerti. "Jadi, apa maksud surat ini, Bian?"
Bian yang mendengar pertanyaan Lista segera menghampirinya ke ruang tengah.
"Oh iya, ayo kita bahas." Dia duduk, melipat tangan, berdehem sebentar. Sekarang saatnya membuka forum diskusi lagi.
"Baik, aku sempat memikirkannya malam tadi. Jika permainan ini melibatkan aku dan kau. Maka kita bisa asumsikan, petunjuk yang ada di suratmu dan petunjuk yang ada di suratku bisa saling melengkapi." Bian kemudian meminta Lista memberikan surat yang dia terima. Lantas menjajarkannya dengan surat miliknya.
Dahi Lista berkerut. "Ehmm, apa karena Isdernus 12, 65192 di suratku menunjukkan tempat dimana surat kedua. Sedangkan pada surat milikku 'minggu kedua, pertengahan bulan' menunjukkan waktunya?"
"Ya itu juga benar."
"Tapi kita tidak tahu dimana tempat pastinya kan? Daerah pertokoan pusat kota luas. Dan untuk 'minggu kedua, pertengahan bulan' tidak juga menjelaskan secara gamblang kapan, bulan ini, bulan lalu, bulan depan. bagaimana kita tahu kapan jelasnya ini?"
"Itu tadi benar ,Lista. Tapi bukan itu yang kumaksud. Aku beritahu, petunjuk tidak selalu tertulis pada surat."
"Kau menemukan surat ini di kotak atas lemari kan?"
"Iya. Kenapa memang?"
Bian kemudian berdiri, menuju tangga dan naik ke lantai dua. Dia mengambil kotak yang ditemukan Lista kemarin. Membawanya turun, menaruhnya tepat di depan Lista. Lista memandang bingung
"Lihat baik-baik Lista. Kau kemarin membukanya, tapi tidak memperhatikan apa isinya selain amplop coklat dari Ian."
Kotak kayu itu dibuka. Di dalamnya ada kardus-kardus mainan yang berukuran setinggi botol minum Lista dan semuanya bermotif sama. Ada sebelas kardus tersusun rapi, menyisakan satu rongga kosong di pojokan kotak kayu. Surat kemarin yang ditemukan Lista juga diletakkan rapi di atas susunan sebelas kardus itu.
"Apa ini?"
"Ambil satu kardus itu, dan lihat isinya." perintah Bian
Lista kemudian mengambil salah satu kardus. Ada plastik tebal bening yang menjadi salah satu sisinya, sehingga apa yang di dalamnya bisa terlihat jelas. Sejenak Lista berpikir itu hanya mainan, namun seketika terperangah ketika menyadari bahwa itu adalah figure karakter game The Kingdom Of Logres.
"Hei, ini bukankah salah satu dari kesatria di game The Kingdom Of Logres?"
Bian tersenyum lebar, "Ya benar."
"Wow, ini mengejutkan. Eh tunggu, kenapa hanya ada sebelas. Bukankah Kesatria Arthur itu ada dua belas?"
Bian menjentikkan jarinya. Itu yang dia maksud sebagai petunjuk yang tidak tertulis. "Nah, itu. Sekarang pertanyaannya adalah di mana kesatria yang keduabelas? Aku pikir itu juga semacam petunjuk. Aku barusan ingat Bian punya koleksi action figure ini, lengkap dua belas. Tapi di sini, hilang satu."
Lista memutar otaknya. Menghubungkan segala petunjuk yang sampai saat ini bisa mereka kumpulkan. Jika benar hilangnya kesatria keduabelas adalah petunjuk, mungkin bisa memberikan gambaran yang lebih jelas letak surat kedua.
"Petunjukknya sebenarnya banyak. Kita saja yang sulit menghubungkannya."
Lista manggut-manggut sependapat dengan Bian.
"Aku beritahu juga. Ini action figure limited edition, Lista. Dan lagi, ini sudah lama, Ian membelinya semasa SMP. Sudah sulit sekarang mencarinya. Mungkin sudah jadi barang langka. Perusahaan gamenya sudah tidak memproduksinya lagi."
"Apa mungkin kesatria keduabelas itu dijual oleh Ian pada orang lain? Kau bilang ini sulit dicari, dan mungkin saja jadi barang langka kan?"
"Itu yang hendak aku jelaskan, Lista. Ian juga menuliskan bahwa dia sudah berjanji pada seseorang. Ian menjualnya, dan mungkin orang yang dijanjikan adalah pembelinya."
"Kau yakin Ian menjualnya? Bukan memberikannya pada seseorang?"
"Daerah pertokoan pusat kota, itu petunjuk tempat dari suratmu. Di sana, kita bisa membeli banyak hal."
Alis Lista terangkat, memandang tidak mengerti pada Bian. Memangnya kenapa? Tentu saja tempat itu untuk membeli banyak hal, namanya juga daerah pertokoan.
Bian menyeringai. "Di sana kita bisa membeli banyak barang... Dan menjual banyak barang juga."