Last Game

Last Game
Aku pemenangnya



Bian bergegas ke pemakaman, dia masih hapal betul jalan meski sudah pindah rumah tiga tahun lalu. Hawa dingin semakin menguat, dia kemudian merapatkan resleting jaketnya, mengecek saku, barangkali amplop coklat itu tertinggal. Tidak, dia masih membawanya. Dia menghela napas lega, mempercepat langkah.


Dan benar saja. Seorang perempuan di pemakaman selama hujan deras, dia duduk di depan sebuah pusara. Bian menelan ludah. Itu pastilah pusara Ian, batinya. Dia tadi tidak sempat menghadiri prosesi pemakaman. Sesak dadanya kembali ketika melihat tempat peristirahatan sepupu berharganya.


Dia melangkah perlahan sambil terus menguatkan hati. Perempuan di sana harus diajak pulang, dia akan demam di tengah hujan deras ini.


Bian berjarak beberapa langkah dari Lista, perasaan sesak melihat pusara Ian dan kebingungan hendak memanggil seseorang yang belum dia kenal tercampur. Dia ingin segera pergi, tidak kuasa dia bertahan di sana. Dia mengambil beberapa langkah lagi untuk mendekat dan seketika berhenti mendengar Lista berkeluh kesah dengan suara sengau.


"Bukankah kau menang kali ini? Sampai kelulusan, aku belum juga tahu siapa yang kau sukai." Lista berbicara, dengan pusara yang ada di hadapannya. Tidak menyadari keberadaan Bian di dekatnya.


"Kau sudah menang dalam permainan yang kau buat dan kemudian pergi begitu saja. Keterlaluan!" Lista memaki seseorang yang berbaring di bawah tanah sana.


"Aku menunggumu yang menghilang begitu lama tanpa kabar, tanpa memberitahu. Dan ketika kembali...." Lista berhenti bicara sebentar, tidak kuasa melanjutkan. "Kau menyebalkan Ian, kau membuatku menunggu hal yang sia-sia," keluhnya. Bian diam di belakang Lista. Sebenarnya tidak sopan menurutnya mendengarkan seseorang yang berkeluh kesah sendirian dan membiarka perempuan basah kuyup di bawah hujan. Tapi dia tidak ingin menganggu Lista yang sedang meluapkan kesedihan. Dia memutuskan menunggu.


"Permainan sialanmu itu, membuatku terus memperhatikanmu." Lista sekali lagi terdiam, hening sebentar, menyisakan suara ribuan rintik air yang jatuh. "Setelah permainan itu selesai, setelah sekarang hatiku sudah jatuh kepadamu, dan sebelum aku tau pada siapa sebenarnya hatimu tertambat. Kau kemudian seenaknya pergi."


Lista semakin mencengkeram tangannya, membuat luka gores kulitnya semakin dalam. Bian yang hendak meraih perempuan itu, mencegahnya menyakiti diri sendiri. Tapi terhenti setelah mendengar pengakuan Lista di depan pusara Ian.


"Aku menyukaimu Ian, dan aku begitu terlambat mengatakannya."


Bian tertegun mendengar perkataan Lista di depan pusara Ian. Hatinya ikut terenyuh melihatnya. Mengakui perasaan pada seseorang yang telah mati, Bian yang melihat di belakang seperti bisa merasakan rasa sakit yang dialami Lista. Sebuah perasaan perih.


"Hah lihat, bodohnya aku yang berbicara pada orang yang sudab dikubur."


Bian getir melihatnya, akhirnya memilih untuk berjalan lebih dekat. Mencondongkan payungnya pada Lista yang terduduk di atas tanah basah. Lista mendongak, melihat seseorang yang meneduhinya.


"Apa kau Ardelia Calista?"


***


Hujan masih belum sepenuhnya reda. Hawa dingin masih membelai kulit. Kepul dari dua cangkir teh terlihat putih, mengudara. Setelah berganti dengan baju hangat. Bian dan Lista duduk di sofa ruang tamu, rumah Lista. Segudang pertanyaan bersarang di kepala Lista semenjak dari pemakaman tadi. Perasaannya kalut semenjak Bian bicara tentang Ian yang meninggalkan surat untuknya. Dia terus melihat amplop coklat yang Bian berikan padanya selama perjalanan. Butuh keberanian lebih bagi Lista untuk membukanya. Tangannya sempat gemetar saat membuka amplop itu. Menelan ludah saat hendak membaca surat di dalamnya.


Beberapa menit lengang. Bian sabar menunggu. Ekspresi tegang Lista perlahan berubah. Dia tidak langsung bicara.


"Ini saja?" tanyanya, kebingungan. Membolak-balik surat. Tapi tidak dia temukan apapun kecuali tiga kalimat:


Isdernus 12, 65192


The New Game


Aku pemenangnya, maka carilah yang kedua.


"Hanya surat itu yang aku temukan. Tidak ada yang lain," jelas Bian. Lista tidak berkata apapun untuk menanggapi. Derai hujan mengisi kelengangan diantara mereka. Bian menatap penasaran Lista. Sejak tadi Bian berharap Lista mengetahui sesuatu dalam surat yang tidak dia mengerti itu. Tapi sepertinya, harapan itu sia-sia. Tampang Lista sudah bisa ditebak, dia juga tidak mengerti tulisan itu.


Bian diam, menelan ludah. Tidak berani berbicara melihat Lista yang tengah bersungut. Lista menghembuskan napas panjang, sebal. Menyandarkan punggunnya pada sofa, mengeluh dalam hatinya. Memaki Ian yang pikirnya itu egois, tidak memberitahu yang sebenarnya dan pergi seenaknya.


Hingga beberapa saat, ketika Lista sudah dingin kepalanya. Bian mulai berani berbicara. "Kau juga tidak diberitau sedikit pun, Lista?"


Lista menoleh ke arah Bian, "Tidak. Setelah kelulusan rumahnya tiba-tiba kosong. Aku berulang kali menelpon, mengirim pesan. Tidak dia jawab. Padahal sebelumnya kami masih bertemu dan pergi ke daerah pertokoon tengah kota. Kau juga tidak diberi tau?"


Bian mengangguk pelan, kemudian menghela napas gusar. "Setelah kelulusannya itu, dia sulit sekali dihubungi. Ah tidak, maksudnya tidak bisa dihubungi. Mungkin memang dia tidak ingin kita khawatir."


Keduannya menghela napas panjang, menyadari kesamaan nasib.


"Tante Mirna juga sama, dia tidak bilang apapun kalau Ian di rumah sakit pada ibu dan ayahku. Dia tidak ingin merepotkan lagi katanya," Bian menambahkan. Dia beranjak dari sofa, mengambil surat yang tadi dilempar Lista. Surat itu jadi kusut karena diremas Lista tadi. "Kau sedikit saja tidak tau apa maksud kalimat ini?" tanya Bian, sekali lagi memastikan.


Lista mendengus, "Tidak. Mana tau aku tentang Isdernus atau apalah. Angka-angka itu. Dan apa, ah di surat itu dia juga bilang 'Aku pemenangn—" Lista kemudian berhenti. Matanya melebar. Dia teringat, bukankah mereka dulu dalam sebuah permainan. Lebih tepanya taruhan.


Jika aku menang, kau harus menuruti satu permintaanku.


Itu kata-kata Ian ketika mereka memulai permainan itu, permainan menebak siapa yang disukai Ian. Lista masih mencerna, tidak yakin apa yang dia pikirkan ini sudah benar atau tidak.


Bian menangkap ekspresi Lista yang menyadari sesuatu. "Apa kau tau sesuatu?"


"Aku tidak tau apa ini memang berhubungan atau tidak. Tapi sebelumnya kami membuat sebuah permainan, lebih tepatnya seperti taruhan."


Bian duduk kembali, menanti jawaban Lista.


Lista mendesah pelan. "Dia memenangkan permainan itu. Dan peraturannya, siapapun yang menang berhak meminta satu permintaan pada yang kalah."


"Maksudmu permainan yang kau sebut saat di pemakaman tadi kan?"


Mendengar itu Lista tertegun. Di pemakaman tadi? Kalau begitu, sebanyak apa Bian mendengar perkataannya di depan pusara Ian? Termasuk pengakuannya? Lista jadi gusar.


"Jadi itu maksudmu tadi tentang Ian punya permainan lagi untukku? kau dengar semuanya?"


Bian kembali bisa membaca ekspresi Lista, sontak menyadari bahwa dia secara tidak sengaja mengakui kalau dia telah menguping.


"Ah itu, bukan. Bagaimana ya, aku tidak bermaksud menguping. Kau menangis, meluapkan perasaan. Aku tidak berani mengganggu, jadi aku menunggumu hingga selesai. Dan, ah maaf. Sekali lagi, maaf. Aku tidak bermaksud menguping." Bian kebingungan , kata-katanya jadi kacau saat menjelaskan.


Telinga Lista mulai memerah. "Termasuk pengakuanku tadi?" tanyanya dengan suara sedikit gemetar.


Bian ragu hendak menjawab, namun akhirnya mengangguk, mengiyakan. Lista memerah padam.