
"Eh Bian, aku...tadi cuma bercanda." Suara Lista terdengar pelan, menyesal. Situasi canggung antara mereka sepertinya datang lagi.
Bian masih membelakanginya. Dia diam-diam sebenarnya sedang menahan tawanya. Dengar suara Lista yang lirih malu itu, dia gemetar karena tidak tahan lagi untuk menertawakan. Sesaat buncahlah tawa Bian.
"Ya ampun, lihat. Apa kau kira aku akan baper dengan rayuanmu tadi. Maaf Lista, hatiku tidak selemah itu." ejek Bian. Dia mengacak-acak rambut Lista. Kali ini, Lista sudah terbiasa kalau Bian yang mengantikan kebiasaan Ian mengacak rambutnya.
Lista menggelembungkan pipinya. Sudah seperti tupai yang memakan kacangnya. Sial, dia memaki. Sepertinya kali ini dia kena kerjai Bian lagi.
Telunjuk Bian mendorong dahi Lista pelan. "Ck..ck.. seranganmu tadi kurang. Haha." itu bohing, apa yang dikatakan Bian sebenarnya bohong. Sepersekian detik tadi, napasnya terhenti. Jantung Bian rasanya berhenti sejenak setelah mendengar kata-kata Lista tadi. Tapi dia langsung menepis perasaan berdebar itu. Itu manis, sedikit. Namun Bian tidak mau mengakui. Dan jadilah, dia membalas dengan menggoda Lista balik. Itu satu bentuk pertahanan dirinya agar tidak terbawa perasaan lagi seperti sebelumnya.
Tangan Lista kemudian menangkup wajah Bian, dia kemudian membenturkan dahinya pada dahi Bian, keras. Kalau urusan kekuatan dahi, Lista memang jagonya. Jenongnya itu bisa diandalkan sebagai senjata ampuh selain menimpuk dengan benda, menjitak atau balasan fisik lainnya.
"Aduh!" seru Bian, kesakitan. Mengelus dahinya. "Cewek bar-bar!"
Lista tidak peduli, malah mengejek Bian dengan juluran lidah panjang. Kemudian berjalan meninggalkan remaja laki-laki itu yang masih saja mengelus dahi, masih terasa berdenyut kepala Bian.
"Hey, Lista kau mau kemana?" seru Bian, dia mengerjar Lista yang meninggalkannya.
"Katanya ke BeanShop. Baiklah, ayo!"
***
Suara bel terdengar ketika mereka berdua membuka pintu. Itu sedikit menarik bagi Bian. Jarang-jarang toko sekarang menggunakan bel klasik, yang akan berbunyi ketika pintu terbuka dan mengenainya. Terakhir kali dia ke sana tidak ada bel lucu itu. Dan lagi, yang membuatnya lebih tertarik lagi adalah nama tokonya. Dia terheran-heran dengan namanya, BeanShop dari dulu. Pemiliknya memiliki selera aneh dalam menamai tokonya sendiri. 'Bean' kan artinya buncis, nama tokonya buncis tapi di dalamya malah menjual figure-figure dari berbagai film, game, maupun anime.
Tidak ada buncis sama sekali di sini, pikir Bian sambil matanya menelusuri seisi toko.
Ada banyak sekali figure-figure terpajang rapi, mulai dari yang kecil hingga besar. Toko itu ramai, banyak orang meski tidak sebanyak toko roti La Sasa.
Bian melihat harga yang tertera, kemudian langsung menelan ludah. Dia kemudian mendekat ke Lista, menyikut lengannya. "Harganya gak main-main. Untung aku bukan pengoleksi figure. Bisa tekor aku jadinya. Dari dulu aku belum terbiasa dengan harga yang begini" bisik Bian.
Kepala Bian manggut-manggut dengan penjelasan Lista. Paling murah, tapi baginya harga tadi tetap membuat merinding dompetnya. "Tapi tetap saja bagiku ini mahal."
"Hei, kita niat ke sini cari surat kedua. Bukan mau beli figure." tukas Lista, dia juga berbisik. "Harus gimana nih, kita tanya siapa? Masak kita langsung ke kak kasir itu, kemudian tanya 'halo kak, tau surat kedua dari kedua' gitu?"
Bian baru sadar, mereka belum memikirkan apapun tentang bagaimana mereka akan menemukan surat kedua setelah sampai di BeanShop. "Loh iya, kita gak kepikiran sebelum datang ke sini. Sebentar-sebentar" Bian kemudian mencoba mencari akal, sambil melihat jajaran figure dengan berbagai macam bentuk model, berpura-pura sedang memilih figure yang ingin dibeli. "Kata Ian di surat, dia sudah berjanji pada seseorang 'kan? Kita belum memikirkan siapa itu."
Jari Lista mematuk-matuk kepala, berusaha menemukan celah keluar dari permasalahan ini. Mereka sepertinya datang tanpa persiapan yang matang. Dia memandang seorang laki-laki yang baru saja selesai membeli sebuah figure, dia menerima struk dari kasir, tidak begitu tertarik dan langsung mengantonginya. Dia mengintip ke barang belanjaannya, wajahnya terlihat begitu berseri. Sepertinya senang sekali bisa membeli figure yang dia inginkan. Sambil kegirangan dia keluar toko.
Lampu ide Lista menyala, "Jika Ian kemungkinan menjual Kesatria Arthur yang keduabelas di sini, kemungkinan masih ada riwayat transaksinya bukan?" Dia melirik laki-laki tanggung di belakang kasir. "Jadi seperti kataku tadi, kita beneran ke kakak kasir itu, bertanya."
"Loh kita beneran tanya 'halo Mas ,apa ada surat dari Ian untuk kami yang dititipkan di toko ini?' ke orang kasir itu?"
Lista menyentil dahi Bian, "Ya enggaklah ****, aku bilang kan tadi jika Ian menjual Kesatria Arthur keduabelas di sini, pasti ada riwayat transaksinya. Nah, kita tanya ada atau tidak?"
Bian tidak mengerti jalan pikir Lista, dia memandang penuh tanya. "Terus kalau ada, bagaimana kita bisa menemukan surat kedua dengan riwayat transaksi itu? Apalagi kita juga belum tau siapa yang membuat janji dengan Ian. Barangkali mungkin dia yang pegang surat kedua."
Lista mengusap mukanya, pertanyaan Bian jadi bercabang, membuatmya semakin memeras otaknya. Bian benar, apa yang akan dilakukannya dengan riwayat transaksi itu jika. Dia belum tahu, Lista masih tidak tahu apa yang harus dilakukan. Padahal sudah sedekat ini, tapi mereka sekali lagi terhalang lubang tanya.
"Jadi, Lista. Bagaimana?"
Belum genap Lista menjawab, seseorang menyapa dari belakang. Suaranya terdengar berat. Membuat mereka berdua terkejut, sontak kepala mereka menoleh. Mendapati seorang pria berambut klimis, dengan kemeja biru, celana hitam, serta sepatutu kets tersenyum, lebih seperti menyeringai.
"Pagi, Nona manis ini namanya Lista kan?" sapa pria itu. Dia masih menyungingkan senyum tipisnya. Wajahnya sedikit garang dengan alis tebal miliknya. Ada garis luka sayatan di pipi kanannya, menambah kesan menakutkan. Seperti berhadapan dengan bekas preman.
"Nah, kalau remaja laki-laki ini namanya Bian bukan?" Dia sekarang beralih memandang Bian. Dia sebenarnya menanyai dengan ramah, namun keramahannya kontras dengan wajahnya yang galak. Sehingga orang bisa ngeri duluan saat besitatap denganya.
Lista dan Bian sama-sama menelan ludah, tercekat. Orang ini tau nama mereka. Bagaimana bisa? Seingat Lista dan Bian, mereka tidak pernah mengenal atau bahkan bertemu dengan pria. Lalu dari mana pria dengan tampang menyeramkan ini bisa mengenali mereka?