
Ting...tong...
Bel rumah Tante Mirna berbunyi. Dan ketika Lista akan memencet untuk ketiga kalinya, daun pintu terbuka.
"Cepat sekali, aku tadi mau menjemputmu," kata Bian kemudian berteriak pamit pada Tante Mirna yang ada di dalam rumah.
"Ayo langsung berangkat saja."
Minggu pagi ini, mereka memutuskan untuk ke daerah pertokoan pusat kota. Jika tebakan mereka benar, hari ini mereka akan menemukan surat kedua. Jaraknya pusat pertokoan cukup jauh dari tempat tinggal mereka. Harus dua kali naik transportasi umum.
Pusat pertokoan itu ramai. Orang sibuk berlalu-lalang. Mampir ke satu toko, lalu ke toko lain. Jajaran toko sudah memasang tanda buka sejak beberapa jam yang lalu. Ini akhir pekan, banyak orang yang menghabiskan liburnya untuk berbelanja di sini. Tidak kalah dengan mall besar, daerah dengan berbagai jenis toko berdiri ramai oleh pembeli. Biasanya pelancong senang datang ke sini, karena ada banyak hal baru yang tidak akan mereka temui di pusat berbelanja seperti mall.
"Ah, kita mampir dulu ke toko roti sebentar ya, Bian," ajak Lista. Mereka sudah ada di blok ketiga. BeanShop berjarak lima bangunan dari jalan raya. Mereka bisa langsung ke sana dan mendapat kepastian tentang surat kedua, tapi Lista malah mengajak Bian mampir dulu sebentar ke tempat lain.
"Eh, iya," jawab Bian heran, dia kira akan langsung ke BeanShop.
Lista tersenyum lebar.
Toko roti yang dimaksud Lista , berjarak tiga bangunan dari jalan raya, bersebrangan dengan BeanShop. Bau manis menggelitik hidung, membuat siapapun ingin ke sana, mencicipi setidaknya satu menu di toko roti itu. Bian memilih menunggu di depan toko, malas melihat keramaian dan antren panjang di dalam toko. Lista tidak masalah masuk sendirian.
La Sasa, nama itu terpampang besar di depan toko.
Hal yang andalan di toko roti La Sasa yang tidak akan kalian temui di tempat lain adalah Roti Sasa. Roti berbentuk bulat sebesar bola tenis dengan resep adonan yang dirahasiakan, berisi coklat keju yang begitu memeleh di mulut. Teksturnya rotinya akan gurih dan kering di luar, namun berubah menjadi lembut dan manis karena bercampur dengan isinya. Membuat siapapun menyukai roti ini. Memang tidak lama ini berdiri, namun toko tidak pernah sepi pengunjung.
"Halo Kak!" Lista menyapa perempuan yang melayani di belakang etalase toko—setelah menunggu lama untuk mengantre. Rambutnya hitam legam dikuncir kuda, dengan pita berwarna merah.
Perempuan itu kemudian tersenyum lembut. "Sudah lama aku tidak melihatmu, Lista. Bagaimana kabarmu?"
"Kabarku baik, Kak Sa. Toko semakin ramai ya?"
Yang dipanggil Kak Sa oleh Lista menghela napas. Wajahnya malah seperti tidak menyukai situasi toko yang ramai pembeli. "Ya, aku sampai kewalahan harus melayani banyak orang. Aku harap, toko ini segera menambah pegawai, aku akan mengundurkan diri jika sampai bulan depan harus mengurus ini bertiga saja, dengan Ibu dan Ayah."
"Aku harap Kakak segera mendapatkan pegawai baru. Oh iya kak, aku pesan Roti Sasa dua."
Kak Sa menepuk dahi, lupa kalau Lista juga seorang pelanggan, datang untuk membeli roti bukan untuk mengobrol. Dengan tangkas langsung mengambil dua roti pesanan Lista, memasukkannya pada kantong kertas coklat bertuliskan La Sasa. Masih hangat ketika diterima Lista.
Bian masih menunggu sambil berdiri di depan toko, ada jendela besar yang bisa memperlihatkan wajah Bian yang kesal menunggu. Lista tertawa dalam hati melihatnya.
"Ah, itu Ian? Sejak kapan dia meluruskan rambut gelombangnya?" Kak Sa memicingkan matanya, memperjelas penglihatannya, mengamati seseorang yang dipandang Lista. Bian memang sekilas mirip dengan Ian. Perawakan mereka hampir sama.
"Eh, bukan." Lista terkejut, Kak Sa memang belum mengetahui tentang Ian maupun tentang sepupu Ian. Lista tak sempat datang ke tokonya sejak hari meninggalnya Ian. "Itu sepupunnya, namanya Bian."
"Loh, lalu mana Ian?"
"Ian sudah meninggal Kak Sa," kata Lista dengan suara lirih.
Kak Sa langsung menutup mulutnya, tidak percaya. Sulit untuk dipercayai bahwa salah satu pelanggan setianya ternyata sudah tidak akan datang lagi. Itu begitu mengejutkannya. "Sejak kapan?"
"Dua minggu lalu?"
"Astaga, aku tidak menyangka sama sekali. Aku turut berduka"
"Terimakasih Kak Sa."
"Anak itu, sepertinya baik-baik saja, sehat-sehat saja. Aku benar-benar tidak menyangka."
Sebelum Lista menanggapi perkataan Kak Sa, orang di antrean belakangnya sudah memaki, berteriak kenapa lama sekali. Sontak membuat dua gadis muda itu terkejut, mereka lupa ini jam sibuknya toko. Antrean panjang masih ada di belakang Lista, menunggu untuk membeli roti.
"Ah, maaf Kak aku akan menceritakannya lain kali. Sepertinya aku membuat antrean terhenti."
Lista membayar kedua rotinya dan segera menyingkir, mempersilahkan orang di belakangnya yang sudah kesal menunggunya. Lista pergi sambil meminta maaf. Berjalan keluar, dan di sana disambut dengan wajah Bian yang terlipat. Mulutnya mengerucut sebal.
"Hah, hampir setengah jam aku menunggu tahu!"
Yang dimarahi malah cengegesan. "Antreannya panjang."
"Seberapa seenak apa sih memangnya, sampai banyak orang rela menga—"
Mulut Bian langsung tersumpal oleh roti yang dibeli Lista. Roti Sasa itu Lista jejalkan pada mulut Bian yang hendak mengomel. "Coba dulu dong , baru menilai."
Gigitan pertama, keju dan coklatnya langsung meleleh di dalam mulut. Bian yang berwajah terlipat tiba-tiba langsung cerah. Dia langsung mengerti kenapa banyak orang. Memandang Lista dengan wajah terkejut, Lista hanya berekspresi seperti mengatakan, tuh kan! Kemudian tertawa.
Dalam sekejap, roti bulat seukuran bola tenis sudah tidak bersisa. Roti itu enak sekali, Bian jadi ingin lagi. Dia menoleh ke dalam toko. Uh, antreannya panjang kayak ular. Membayangkan harus berada di dalam antrean sepanjang itu, Bian menggeleng keras. Tidak, dia tidak ingin.
Ketika itu, munculah ide iseng di kepala Bian. Milik Lista masih ada separuh, dia menatapnya dengan mata jahil. Bian menyeringai, mendekati Lista yang berjalan satu langkah di depannya. "Hey Lista, lihat itu!"
Lista yang tidak mengerti, langsung saja menoleh ke arah yang ditunjuk Bian. Lantas dengan cepat, Bian meraih tangan kanan Lista. Memakan sebagian roti milik Lista. Lista mendelik, menyadari bahwa dia dikerjai Bian. Tawa kemenangan yang disuarakan Bian terdengar berdengung di telinga Lista.
"BIIAANN!"
"Ehe, kau mau menghajarku? Tangkap aku!" Bian kemudian dengan cepat mengambil seribu langkah.
"Awas kau!"
Kali ini mereka sejenak lupa tujuan lagi.