
"*Baiklah, aku menerima tantangnmu. Aku akan berusaha sangat keras. Dan mulai saat ini, aku akan lebih memperhatikanmu, memperhatikan setiap tingkah lakumu. Kau harus bersiap-siap Ian. Kau nanti akan menyesal telah mempertaruhkan alat panah kesayanganmu itu."
"Aku menunggu itu*"
***
Lista masih berdiri di sana. Menunduk begitu dalam. Tenggorokannya tercekat, sedari tadi berusaha menahan tangis. Dia tidak bicara sepatah katapun sejak tadi. Hingga orang-orang meninggalkan tempat, Lista masih bertahan di sana.
"Tante Mirna bisa duluan. Tante pasti kelelahan sudah dua hari tidak tidur," ucap Lista, suaranya sempat bergetar. "Aku, aku hanya ingin sebentar saja di sini."
Sekarang, yang dibutuhkan Lista adalah waktu sendiri untuk meluapkan perasaan.Tante Mirna mengerti itu, lantas mengiyakannya dan perlahan pergi. Meninggalkan Lista.
Beberapa saat kemudian, langit tiba-tiba mendatangkan awan gelapnya, menjatuhkan isi. Rintik air mulai terjun bebas, semakin deras semakin deras. Sudah tidak bisa ditahan lagi, bendungan di matanya itu sudah tidak kuat menahan. Air mata Lista jatuh deras, tersamar di antara ribuan tetes hujan. Dia menangis sesenggukan. Hatinya yang tersayat-sayat itu akhirnya bisa meluap saat kesendirian menyergap. Dia kemudian jatuh terduduk. Sedari tadi mencoba kuat di hadapan banyak orang.
"Bukankah kau menang kali ini? Sampai kelulusan, aku belum juga tahu siapa yang kau sukai." Lista berbicara, dengan pusara yang ada di hadapannya.
"Kau sudah menang dalam permainan yang kau buat dan kemudian pergi begitu saja. Keterlaluan!" Suara Lista parau, memaki seseorang yang berbaring di bawah tanah sana. Dia tidak peduli hawa dingin menyelimutinya, basah tubuh karena hujan, atau gemuruh langit yang kian menggema. Tangannya mengepal kuat hingga kukunya melukai kulitnya. Dia tidak peduli. Di depan pusara Ian, hati dan pikirannya kacau balau.
"Aku menunggumu yang menghilang begitu lama tanpa kabar, tanpa memberitahu. Dan ketika kembali..." Lista terdiam, ada tusukan dalam dadanya yang membuatnya tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. "Kau menyebalkan Ian, kau membuatku menunggu hal yang sia-sia," keluhnya.
"Permainan sialanmu itu, membuatku terus memperhatikanmu." Lista sekali lagi terdiam, hening sebentar, menyisakan suara ribuan rintik air yang jatuh. "Setelah permainan itu selesai, setelah sekarang hatiku sudah jatuh kepadamu, dan sebelum aku tau pada siapa sebenarnya hatimu tertambat. Kau kemudian seenaknya pergi."
Lista semakin mencengkeram tangannya, membuat luka gores kulitnya semakin dalam. "Aku menyukaimu Ian, dan aku begitu terlambat mengatakannya."
Gemuruh langit sekali lagi terdengar, hujan jadi lebih deras. Tapi Lista masih tidak ingin beranjak dari sana. "Hah lihat, bodohnya aku yang berbicara pada orang yang sudab dikubur." Lista tertawa getir. Dia menghela napas, hatinya terasa begitu berat. Sekali lagi, dia menunduk dalam. Tepekur menatap pusara Ian. Air matanya itu benar-benar tersamar oleh rinai hujan.
Hingga beberapa saat kemudian, ribuan tetes hujan yang jatuh mengenainya tiba-tiba menghilang. Lista sontak menengadah, ada payung hitam meneduhinya. Dia menoleh, seorang laki-laki berdiri di belakangnya. Perawakannya seperti Ian, dengan rambut hitam legam yang lurus dan mata coklat terang. Wajahnya tampak muram, rasa duka mendalam juga terlihat dalam tatapannya.
"Apa kau Ardelia Calista?" tanya laki-laki itu.
Lista menyeka air matanya. Kemudian mengangguk.
"Ian meninggalkan sesuatu untukmu," katanya sambil menawarkan tangan, membantu Lista berdiri.
Lista dipenuhi tanda tanya. "Apa maksudmu?"
Laki-laki itu merogoh sakunya, mengeluarkan sepucuk surat. Di belakangnya tertulis nama Ardelia Calista dan sebuah angka, '1'. Lista ragu-ragu menerimanya. Dia menatap laki-laki itu dengan segudang pertanyaan di benaknya.
Laki-laki itu tersenyum, menghiraukan banyak tanda tanya di wajah Lista. "Sepertinya, Ian punya permainan untuk kau mainkan lagi, Lista"
Ketika Lista hendak ,membuka mulutnya, laki-laki itu berbicara. "Sekarang kita harus pulang dulu. Hujan makin deras, hawa jadi makin dingin. Tidak baik untuk tubuh."
Lista menelan ludah, dia mengambil selangkah mundur. Ragu dengan laki-laki yang tidak dikenal mengajaknya pulang. Bukankah berulang kali dia diberitau untuk tidak ikut sembarang orang. Dia seketika bergidik ngeri dengan segala kemungkinan yang bakal terjadi. Tapi surat yang dia pegang membuat bimbang. Dia sendiri juga penasaran dengan amplop coklat yang diberikan laki-laki asing itu, dia pasti punya jawaban untuk menjelaskan.
Laki-laki itu menatap keraguan dalam mata Lista, sontak tersadar. " Ah maafkan aku. Seharusnya aku mengenalkan diri terlebih dulu. Aku Aldino Fabian, sepupu Ian."
Sepenggal ingatan Lista tiba-tiba datang di kepalanya. Dia ingat, Ian punya sepupu yang dekat dengannya.
"Bian?" Lista bertanya, memastikan.
Mata coklat terang itu melebar, tidak menyangka dia akan dipanggil dengan nama akrab yang hanya Ian gunakan. "Kau tau aku?"
Kepala Lista mengangguk. Beberapa kali Ian menceritakan sepupunya pada Lista. Rumah yang Lista tinggali juga sebenarnya rumah lama Bian yang dijual. Ian sempat bilang kalau sepupuya itu pindah, bersekolah ke luar kota. Sesekali berkunjung ke rumah Ian tiap kali liburan. Lista selalu pergi ke neneknya di kota sebelah selama seminggu tiap awal liburan sekolah. Itu juga jadwal yang sama ketika Bian berkunjung. Karena itu, mereka tidak pernah bertemu atau sekedar berpapasan.
"Ian terkadang menceritakan tentangmu padaku," jelas Lista. Keraguannya sedikit menghilang.
Bian kemudian tertawa kecil. "Kalau begitu sama. Ian terkadang juga menceritakan tentangmu, teman perempuan yang tinggal sebelah rumahnya, rumah lamaku."
Ada perasaan lega dalam hati Lista mengetahui bahwa laki-laki itu adalah sepupu Ian. Pikiran anehnya tadi dia singkirkan. Beberapa saat, dia kembali teringat. Surat itu, dia belum menanyakannya.
"Eh Bian, surat itu ap—"
"Tahan dulu pertanyaanmu Lista, aku tidak akan menjelaskan panjang lebar di tengah pemakaman dan hujan deras seperti ini," ucap Bian, menyela Lista yang ingin mendengar penjelasan tentang surat dengan amplop coklat itu. "Sekarang ayo kita pula—" Bian terdiam sebentar, tidak menyelesaikan perkataannya, menatap tubuh Lista. "Sebentar, tolong pegangkan payungnya."
Dahi Lista berkerut, tidak mengerti kenapa tiba-tiba Bian menyuruhnya memegang payung sebentar. Tinggi mereka beda, Lista harus lebih mengangkat payung hitam jtu supaya sama tinggi dengan Bian. Meski begitu, Lista menurut, mengangguk, lantas memegangi payung hitam itu dengan sedikit mengangkatnya lebih tinggi.
Bian membuka resleting jaket, lantas melepaskanya. Lista sempat heran mengapa di hawa dingin ini Bian malah melepas jaketnnya
Pundak dan punggung Lista seketika jadi terasa hangat. Lista mendongak ke arah Bian, bingung. Bian memakaikan jaketnya itu pada Lista.
"Kau basah kuyup, pakai jaketku biar hangat."
Lista terdiam sebentar, tersenyum simpul. Bian orang yang cukup perhatian, gumam Lista.
"Terimakasih," ucap Lista lirih.
Bian hanya membalas dengan senyum tipis, kemudian mengambil kembali payung hitam yang diberikannya sebentar pada Lista."Nah ayo kita pulang, aku akan menjelaskan semuanya."