
"Haaah, aku capek."
Tawa keras Bian memanaskan telinga Lista. Bian benar-benar mengerjainya kali ini. "Orangnya sudah capek ternyata."
Bian mengerjainya, dan dia ingin membalas. Tapi seperti banteng menghadapi matador, hanya bisa melewati kain merah yang dikibas-kibaskan. Bian gesit, apalagi di keramaian pusat pertokoan ini. Celingukan mencari sosok Bian, ingin sekali dia menjitaknya.
"Tenagaku habis kau tau!"
Tawa Bian masih mengudara, berangin-angin di telinga Lista. Duduk di bangku panjang, Lista beristirahat mengembalikan tenaganya yang terkuras sia-sia. Bian berjaga-jaga, beberapa langkah jauh dari Lista, khawatir jika dia mendekat malah kena jitak.
"Ehe, selalu menyenangkan mengerjaimu."
"Aku akan balas nanti, Bian!" tukas Lista. Dia mengancam.
Untuk beberapa saat kemudian, Lista yang sedang mengisi energinya tidak menyadari Bian menghilang lagi. Dia menelusiri kanan-kirinya. Bocah itu kemana lagi sekarang, batinya dengan kesal.
Dia celingukan ke sana ke mari mencari keberadaan Bian tiba-tiba terjingkat ketika rasa dingin mendadak menyentuh pipinya.
"Nih, aku belikan minuman dingin."
Ternyata Bian menghilang karena membelikan minuman untuk Lista. Ada drink machine di dekat mereka. Bian yang tadi sedikit merasa bersalah setelah melihat Lista kewalahan mengerjarnya, menghabiskan tenaga dengan percuma. Meski dia suka menjahili Lista, dia masih punya rasa bersalah dan rasa ingin menebus kejahilannya kalau menurutnya sudah kelewatan.
Itu sedikit manis bagi Lista. Dia terdiam sesaat, perasaannya sedikit terbawa suasana. Dia jadi ingat saat di pemakaman dulu, Bian meneduhi dirinya yang tengah duduk sembarang di dekat pusara Ian. Hujan deras, dan sedikit angin kencang, Bian membiarkan dirinya basah dan memberikan teduhan payung padanya. Kalau diingat, kesan pertama Lista terhadap Bian dulu adalah cowok yang cukup perhatian.
Tunggu, seketika ingatan tentang Bian yang baru saja mengerjainya datang memperingati. Bocah menyebalkan ini kan baru saja menjahiliku, membuat aku menghabiskan tenaga secara percuma, Lista sontak menerima kasar minuman yang dibelikan Bian.
Melihat Lista yang seperti kucing kecil marah membuat Bian tidak henti-hentinya tertawa, dia senang sekali melihat wajah Lista ketika dikerjai. Meski merasa bersalah awalnya, wajah lucu Lista ketika marah lah yang membuat Bian tidak bisa berhenti.
"Kita jadi lupa kalau kita ke sini kan untuk mencari surat kedua. Ayo, kita ke BeanShop, Lista" Bian teringat tujuan awal mereka.
Minuman Lista belum habis ketika Bian mengajak kembali ke tujuan awal mereka datang ke daerah pertokoan pusat kota. Lista menggerutu, mengeluh kalau masih ingin beristirahat sebentar. Apalagi tempat duduk itu berada di bawah pohon, rindangnya menyejukkannya. Ditambah, duduk-duduk di bangku ini bisa sekalian melihat keseluruhan keramaian pusat pertokoan ini. Membuat Lista ingin berlama-lama.
"Kita membuang waktu, Lista."
Botol minuman yang kini sudah kosong dia lemparkan ke kepala Bian. Bian berhasil mengelak, menangkap tepat botol itu.
"Siapa yang duluan memulai?"
Bian terkekeh, dia mengangkat tangan seperti anak kecil yang mengakui kesalannya pada gurunya. "Ya, benar. Itu aku."
"Tapi kan semakin cepat dapat, semakin kita bisa tau apa isi surat yang kedua." Bian yang semenjak tadi berdiri, beringsut duduk di sebelah Lista. "Apalagi, Ian menuliskan di suratku 'minggu kedua, pertengahan bulan', seperti mengharuskan kita mengambil surat kedua di hari ini. Semakin kita cepat dapat, kemungkinan kecil kita akan melewatkan sesuatu."
"Tenanglah, masih ada lima belas jam sebelum hari berganti tanggal," jawab Lista santai.
"Kau tenang sekali, Lista. Eh, ngomong-ngomong kenapa kau yakin kalau waktu yang dimaksud hari ini? Bukan pertengahan bulan depan atau—"
"Sudah aku bilang percaya saja padaku," Lista memotong. "Aku yakin hari ini.
"Ah, terserah deh. Ya sudah, ayo ke BeanShop."
"Harus sekarang nih?" nada suara Lista memelas. "Aku ingin mampir sebentar ke SinEs, toko yang jual berbagai macam es krim. Aku sejak lama ingin ke sana, tapi selalu saja tidak sempat. Atau mampir ke toko panah di ujung jalan sana sebentar, ada senior memanahku di sana, aku juga ingin membeli peralatan memanah baru."
Entah kenapa, Lista seperti enggan segera cepat menemukan surat kedua. Berbeda sekali seperti hari-hari sebelumnya, dia begitu tidak sabaran menemukan petunjuk letak surat kedua.
Bian jadi menyelidik "Ada apa sih, kok kayak malas gitu? Gak kayak biasanya. Tadi juga, padahal BeanShop sudah dekat, malah belok ke toko roti dan menunggu lama di sana."
"Kalau kita ke BeanShop dan dapat surat kedua, pasti kau akan langsung mengajak pulang." jawab Lista, melontarkan apapun yang ada di benaknya.
"Ya tentu. Kan tujuan kita memang ke sini untuk itu. Kalau kau mau pergi ke tempat lain, sendiri saja. Aku akan pulang duluan."
Tidak langsung menjawab, Lista seperti komputer sedang loading. Memutar bola matanya, berpikir. Dia sedang mencari alasan yang tepat. Sebenarnya ada hal yang membuatnya ingin mengulur waktu. Kalau bisa, hari ini dia ingin pulang larut malam sekalian. Kemudian terbesitlah ide konyol, ide dadakan dari otak Lista untuk menjawab pertanyaan Bian.
Lista pura-pura menampakkan wajah kecewa. Dia kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain, seolah tidak ingin membiarkan Bian melihat wajahnya. Lista diam-diam menyeringai jahil ,"Aku masih ingin main di sini, menghabiskan waktu bersenang-senang...dengamu."
Satu detik...dua detik...tiga detik...Tidak ada sahutan dari Bian. Biasanya Bian yang menggoda Lista seperti itu, hari ini dia dapat ide untuk menjawab pertanyaan Lista dengan kejahilan milik Bian biasanya. Lista pikir, Bian akan menimpuknya dengan sesuatu dan berkata hal-hal yang dingin serta menyebalkan seperti yang Lista biasa lakukan.
Tapi tidak ada suara apapun. Hanya keramaian pusat pertokoan yang mengisi kekosongan percakapan di antara mereka. Ini aneh, tidak biasanya Bian diam dengan jahilannya. Lista kemudian menoleh, ingin tahu kenapa Bian diam saja. "Eh, Bian?"
Lihat-lihat, ya ampun , mata Lista melebar tidak menyangka reaksi Bian. Dia membelakangi Lista, tidak ingin menampakan ekspresinya sekarang. Lista mengamati, Bian mengalihkan wajahnya terus ketika Lista mencoba melihat mukanya.
Apa itu? Apa Bian malu? Astaga. Lista yang tidak bisa melihat raut muka Bian, menebak kalau dia sekarang tengah malu, merah padam, atau mungkin sedang tersipu.
Tidak menyangka reaksi Bian bakal begitu, Lista langsung merutuki dirinya sendiri, menyesal menggoda Bian. Mana dia tahu Bian akan jadi sepeeto itu, mana dia tahu Bian akan terbawa perasaan semudah itu. Dia malah malu sendiri dengan bercandaanya tadi.
"Eh Bian, aku...tadi cuma bercanda."