Last Game

Last Game
Minggu Ini



Lista menggebrak kotak, membuat Bian terperanjat. "Kau pintar Bian! Kau pintar!"


Bian langsung mengangkat dagunya, berlagak sombong. "Aku memang pintar, kau baru tahu?"


"Oke orang pintar. Sekarang katakan dimana kita bisa menjual action figure langka ini?"


"Di BeanShop, ada di blok tiga pusat pertokoan. Jaraknya lima bangunan dari jalan raya. Aku harap toko itu masih ada, terakhir aku ke sana tiga tahun lalu."


"Oh tempat itu ya. Tak perlu khawatir, tempat itu masih ada. Aku sempat ke sana bersama Ian sebelum kelulusan."


Langkah kaki terdengar mendekat. Tante Mirna sudah selesai dengan memasaknya. Membawa piring berisi bolu yang masih hangat. Bau harumnya sejenak mengalihkan pikiran Bian dan Lista tentang teka-teki surat dari Ian. Mereka tertawa lebar ketika bolu tersaji di depan mereka. Kali ini, Tante Mirna meminta mereka menjadi tester. Ini kali pertama Tante Mirna membuat bolu, dia meminta Lista dan Bian menilai.


Begitu lembut ketika di dalam mulut, manisnya membuai lidah, harumnya menggelitik hidung. Bolu buatan Tante Mirna yang pertama tidak kurang apapun. Enak. Bian langsung mengacungkan dua jempolnya.


"Senang kalau enak dan kalian suka."


Bolu di atas piring itu dalam sekejap sudah tidak bersisa.


"Aku dengar diskusi kalian dari dapur, sudah menemukan tempat surat kedua ya?"


Mulut Bian masih penuh untuk menjawab. Dia belum habis dengan bolu terakhirnya. Lista yang menjawab. "Ya, kemungkinan di BeanShop. Tempat menjual figure-figure itu loh."


Telanan terakhir, Bian langsung menimpal perkataan Lista. "Ya, kita tinggal mengunjungi toko itu untuk memastikan."


"Ya, sekarang tinggal yang terakhir. 'Minggu kedua, pertengahan bulan' apa maksudnya? Kita disuruh ke tempat surat kedua pertengahan bulan gitu?"


"Bisa saja. Hmm, Minggu kedua, pertengahan bulan. Apa akhir pekan ini? kebetulan hari minggu nanti itu benar-benar pertengahan bulan, tanggal 15. " Bian mencoba menebak.


"Mungkin. Tapi di sana tidak tertulis tanggal, bulan atau apapun bagaimana kita memastikan itu benar akhir pekan ini? Bisa saja bulan depan, atau lebih buruk bulan lalu." Lista menjawab dengan sanggahan


Beberapa detik lengang. Mereka diam dan berpikir. Tante Mirna yang menyimak jadi ikutan berpikir. Putranya itu sepertinya pintar sekali membuat teka-teki yang membingungkan.


"Mungkin kita bisa menghitungnya dari sejak Ian menulis surat ini. Ehmm, Tante Kira-kira kapan Ian menulis ini? Apa Tante pernah liat Ian menulis saat sakit dulu?"


Tante Mirna menggeleng pada pertanyaan Bian. "Setelah kelulusan, keadaan Ian tiba-tiba jadi buruk. Aku membawanya ke rumah sakit, dia dirawat di sana seminggu lebih. Lalu pindah ke rumah sakit rujukan, dan tidak pulang hampir dua minggu. Mana sempat Ian menyiapkan surat dan teka-teki untuk kalian."


"Tunggu," Lista menyela penjelasan Tante Mirna. Membuat Tante Mirna dan Bian menoleh "Itu berarti Ian membuatnya sebelum kelulusan."


Mata Bian bergerak-gerak, melihat ekspresi dua orang di hadapanya ini tidak begitu baik. "Ada apa? Tolong jelaskan padaku."


"Ian, sebelum kelulusan, dia sudah tahu kalau dia tidak akan hidup lama. Dia sudah tahu, dan menyiapkan semua hal ini." Suara Lista bergetar.


"A-apa maksudmu, Lista?"


"Tidakkah cukup jelas, Bian. Ian tahu kalau dia tidak akan hidup lama. Makanya dia menyiapkan semua teka-teki ini sebelum kelulusan. Sebelum keadaanya menjadi buruk. Dia tahu, tapi tetap tidak bilang. Tetap tertawa, ber-haha-hihi, ikut bergembira di acara kelulusan. Tetap tersenyum padaku bilang dia akan memberitahu permintaanya nanti. Hah, anak itu benar-benar." Mata Lista jadi berkaca-kaca.


Kesenangan karena sudah berhasil memecahkan lokasi tempat surat kedua ada langsung hancur. Bian langsung membeku mendengar ucapan Lista barusan. Sebelum acara kelulusan? Mereka masih berkomunikasi walau tidak sering, dia tidak menyangka bahwa Ian sudah menyiapkan surat sejak saat itu. Bian memang sempat heran dengan sikap Ian yang menolak dikunjungi setelah acara kelulusan. Dia tidak tahu, Ian menyembunyikan semua ini, menyiapkan surat dan teka-teki tanpa ada orang yang tahu.


"Tapi bagaimana dia tahu kalau hidupnya tidak lama lagi? Itu tidak masuk akal." Bian kemudian menoleh ke tantenya." Tante, bukankah sebelumnya Ian tidak memiliki riwayat penyakit? Bagaimana dia bisa tahu kalau dia akan segera dipanggil?"


"Apa Bian pernah dengar, seseorang yang akan meninggal terkadang diberi tanda di hari-hari menjelang kematiannya?"


Deg, Bian terkesiap dengan kalimat tantenya. Iya, Bian pernah dengar cerita itu. Tapi dia tidak begitu meyakini cerita tersebut. Tanda sebelum kematian, itu aneh menurutnya. Kematian adalah rahasia Tuhan, datang selalu di waktu yang tak terduga. Tidak ada yang bisa tahu kapan dirinya akan mati. Seharusnya Ian juga begitu.


"Seseorang tersebut memang tidak tahu kenapa, bagaimana, dan kapan pastinya akan mati. Yang dia tahu, dia tidak akan lama di dunia."


Kepala Bian langsung tertunduk, ini tidak masuk akal baginya. Yang paling tidak dipercayainya adalah bagaimana bisa Ian masih bisa tertawa ketika mereka saling menelepon, bercerita tentang ujian dan acara kelulusan yang akan diadakan. Dan bagaimana Ian dalam perbincangan itu masih sempat memikirkan bagaimana dia akan melanjutkan hidup setelah lulus, rencana masa depan, sedangkan dia menyadari hidupnya tidak akan lama lagi.


"Acara kelulusan itu akhir April. Sekarang sudah Juni. Tidak mungkin minggu kedua pertengahan bulan Mei—bulan lalu, Ian masih di rumah sakit." Tante Mirna membuka kalimat setelah beberapa saat hening menyaput mereka. Bian yang tertunduk sekarang mengankat kepalanya. Lista yang tadi pucat pasi menghela napas panjang, menenangkan dirinya. Tante Mirna tersenyum melihat mereka yang berusaha tegar. "Sekarang, minggu kedua bulan juni. Pertengahan bulan adalah akhir pekan ini. Mungkin hari itu yang dimaksud."


"Tapi bagaimana kalau ternyata itu bulan depan?" Pendapat lain dilontarkan Bian. Tidak tertulis tanggal di surat itu, jadi sulit untuk memastikan kapan waktu yang dimaksud.


"Tante Mirna benar. Yang dimaksud adalah minggu ini. Kita akan ke BeanShop hari Minggu besok, Bian" Lista angkat bicara, sejenak tadi dia teringat sesuatu. Dia saat dia berbicara, dia berusaha mengendalikan perasaan. Belajar dari hari sebelumnya, dirinya tidak ingin lagi terlalu terhanyut dalam kesedihan. Kali ini, dia harus jauh lebih kuat.


"Kenapa kau bisa yakin?"


"Percaya padaku. Aku yakin, itu Minggu ini."


Ada tanda tanya besar di kepala Bian. Tapi melihat air muka Lista yang mendung saat mengatakan kalimatnya, membuatnya urung bertanya. Di mana kesenangan setelah mereka menemukan titik terang dari teka-teki yang dibuat Ian? Sekarang sepertinya telah hilang tidak berbekas.


Lista, dia mulai menyadari inti permainan ini.