Last Game

Last Game
Buntu Lagi



Bian menghidupkan komputer, lantas menawari Lista untuk duduk di kursi. "Kau pernah main?"


Lista menggeleng. Dia belum pernah. Ini pertama kalinya. Pernah sekali waktu Ian mengajaknya bermain game lama ini, tapi Lista tidak tertarik dan menolak tawaran Ian. Lista kemudian duduk di kursi dengan kaki beroda itu, Bian berdiri di belakangnya.


"Aku akan mengajarimu." Bian berbicara, kemudian sedikit membungkuk. Mengarahkan Lista dari belakang kursi. Satu tangan Bian menyangga di pegangan kursi. Yang satunya lagi menunjuk-nunjuk pada layar, mana tombol hang harus diklik.


Itu jarak yang dekat. Bahkan jika Lista mendongak, kepalanya bisa terbentuk dengan dagu Bian. Lista jadi kaku untuk beberapa saat. Dia tidak fokus dengan penjelasan yang dikatakan Bian. Entah kenapa jantungnya malah beritme lebih cepat. Matanya menatap lurus pada layar, tapi pikirannya kemana-mana. Dia menelan ludah, Bian masih terus menjelaskan tutorial memainkan game. Tidak menyadari, bahwa Lista tengah gugup dengan posisi mereka yang begitu dekat.


"Kau paham?" pertanyaan Bian segera menyadarkan Lista.


"Eh apa? Ah, aku tidak mengerti." Lista menjawab dengan kikuk. Dia mana dengar penjelasan Bian tadi di tengah kegugupan yang tidak jelas kenapa.


"Kau mendengarkan apa tidak sih? Aku sudah panjang lebar loh."


Lista bersumpah serapah dalam hati. Jarak yang terlalu dekat tadi, bisa-bisanya begitu membuat pikirannya kacau.


"Aku sudah panjang lebar menjelaskan. Kau malah memikirkan hal lain."


"Eh, bukan. Aku mendengarkan, cuma aku tidak paham maksudnya." Lista mencoba mencari alasan lain. Tidak mau Bian menyadari kegugupaannya.


Bian menatap tidak percaya. Tapi akhirnya menghela napas, "Baiklah, akan aku ulangi."


Lista mengangguk pelan. Lantas, Bian kembali menjelaskan lagi tutorial memainkan game The Kingdom Of Logres. Dan sialnya lagi, posisi mereka tidak berubah. Bian membungkuk lagi, satu tangannya menunjuk layar, menjelaskan. Satu tanganya menyangga di pegangan kursi. Napas Lista tertahan. Dia memaki Bian dalam hati, anak ini sama sekali tidak peka. Bagaimana dia bisa biasa-biasa saja dengan jarak yang begitu dekat ini. Suaranya bahkan seperti ada di samping telinga.


"Sudah, kau paham?" Bian bertanya lagi, memastikan apakah muridnya yang satu ini mendengarkan penjelasannya. Beringsut mundur, kembali berdiri tegak.


Lista yang sejak tadi ritme detaknya tidak berjalan normal mengangguk patah-patah. Menjawab iya pelan. Meski tidak paham sepenuhnya, tapi dia tidak mau lagi Bian terlalu dekat dengannya. Jantungnya terlalu lemah. Dia menoleh pada Bian, anak itu mengerutkan dahi tidak mengerti kenapa Lista menatapnya.


Anak ini, persis seperti Ian. Sama sekali tidak peka.


Ya ampun. Apa memang Bian yang tidak peka, atau Lista saja yang terlalu berlebihan?


***


"Kau payah," ejek Bian. Lista belum menyelesaikan game di level satu.


Lista memutar kursinya ke samping, menghadap Bian yang tegah berselonjor di lantai. Dia menjulurkan lidah, membalas ejekannya. "Kau saja yang tidak pintar mengajari."


Bian tersentak, "Hei, kau saja yang tidak memperhatikan dengan baik penjelasanku."


Kau yang terlalu dekat ketika menjelaskan, aku kan jadi tidak fokus. Lista hendak menjawab seperti itu, tapi segera mengatupkan mulutnya. Mana mungkin dia bilang begitu.


Mereka sepertinya lupa tujuan. Malah sibuk memainkan game. Menyelesaikan level satu yang bagi Lista terlalu sulit.


"Bukankah kita bermain game ini untuk cari petunjuk?"


"Loh, iya." Lista jadi tersadar, "Hmmm...aku tidak menemukan apapun yang bisa dijadikan petunjuk di dalam game itu."


Mereka masih di jalan buntu meski sudah satu minggu terlewat. Bian berdecak kesal. Ini memeras otaknya. Ian, dia sepertinya pintar sekali membuat teka-teki. Bian berpikir kalau sepupunya ini kurang kerjaan sekali melakukan semua hal ini, menciptakan teka-teki. Ini memang bukan teka-teki untuknya, tapi dia sudah memilih untuk terlibat.


Lista, bahunya jadi turun mendapati tidak ada informasi baru yang bisa melengkapi potongan yang belum lengkap. Dia mengeluh dalam, berulang kali menanyakan kenapa Ian repot-repot membuat semua hal ini. Lista memang merasa konyol, tapi dia ingin tahu, Ian memiliki tujuan apa dengan teka-teki di surat yang dia berikan.


Menyebalkan. Itu yang mereka rasakan sekarang. Mereka ingin tahu, tapi tidak berdaya meski rasanya jarak mereka dengan tujuan tinggal sejengkal. Tidak bisa menemukan apapun bahkan ketika seminggu terlewat. Mereka mulai gelisah tentang apakah ini hanya akan jadi tanda tanya selamanya. Lista dan Bian sudah hampir mendekati titik dimana mereka akan menyerah. Padahal tinggal sedikit lagi, mereka sudah senang ketika kata yang belum terpecahkan hanya tinggal Isdernus 12, dan bahkan memiliki sedikit petunjuk kalau isdernus adalah karakter game. Tapi hanya sampai itu. Mereka tidak bisa melangkah lebih jauh lagi.


Bian bangkit dari posisinya berbaring.Lista beranjak dari kursi, ikut duduk di lantai dengan Bian.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Lista, nadanya sudah mulai putus asa.


***


"Yah, kami hanya tidak tahu harus melakukan apa dengan surat yang ditulis Ian." Lista menjawab, menyendok makanannya dengan malas. "Seminggu sudah terlewat, tapi bahkan kami tidak menemukan petunjuk apapun lagi."


"Padahal hanya tinggal sedikit." Bian menimpali.


"Ya ampun, anak-anakku ini. Apa kalian akan menyerah secepat ini?"


Lista mengangkat wajahnya, kemudian mengangkat bahu. Bian, dia tidak menjawab. Tante Mirna menghela napas, meletakkan sendoknya. Berhenti sejenak untuk melanjutkan makannya. "Ian pasti memiliki alasan membuat semua teka-teki itu."


"Aku tahu, tapi..." Lista sendiri bingung hendak menjawab apa. Dia ingin tahu, tapi sudah mentok. Teka-teki dari Ian itu, belum bisa terpecahkan. Otaknya bahkan sudah kebul asap karena memikirkannya.


Tante Mirna tersenyum simpul, "Bersemangatlah. Surat itu ditinggalkan Ian untukmu. Apa kau akan menyerah begitu saja? Lista tidak ingin Ian kecewa melihat bagaimana kau menyerah dengan suratnya bukan?"


Lista menggeleng keras. Tidak, dia tidak ingin. Surat itu, adalah hal terakhir yang ditinggalkan Ian. Tante Mirna benar, dia seharusnya tidak boleh menyerah begitu saja. Bukankah awal dulu dia sudah bertekad. Ini juga permintaan terkahir Ian. Dia yang memenangkan permainan sebelumnya.


Siapapun yang kalah, harus menuruti satu permintaan dari sang pemenang.


Lista kembali ingat akan janjinya pada Ian dulu. Permainan tebak-tebakkan selama sekolah, hingga akhir dimenangkan oleh Ian. Perjanjian tetaplah perjanjian, meski salah satu sudah tidak ada.


Ian yang merupakan pemenang memintanya mencari surat kedua. Dia tidak mungkin melanggar janjinya.


"Baiklah, aku akan lebih berusaha lagi. Lagipula, kalau diingat, aku juga punya janji padanya sebagai pihak yang kalah dalam permainannya sebelum kelulusan."


"Oh, permainan menebak siapa yang disukai Ian itu?" Tante Mirna bertanya, memastikan.


Lista menjawab dengan anggukan.


Di sisi lain memakan potongan omeletnya sambil menatap Lista dan Tante Mirna yang berbincang dengan tatapan malas. Di tengah percakapan Tante Mirna dan Lista tadi, dia menyadari sesuatu. Perasaanya tiba-tiba konyol, kenapa dia tidak sadar sebelumnya. Kenapa dia malah ingin tahu, dan ikut terlibat dalam urusan antara Ian dan Lista. Dan lebih sialnya lagi, dia juga mempertanyakan kenapa Ian hanya menuliskan surat untuk Lista.


"Kenapa aku baru sadar sekarang ya?" Suara Bian membuat Lista dan Tante Mirna menoleh, menatap heran.


"Apanya, Bian?" Lista bertanya.


"Tante dulu bilang , mungkin karena Ian begitu menyukaimu makanya dia menuliskan surat untukmu sebelum dia pergi." Bian berhenti sejenak. Lista yang hendak protes pada kalimat Bian seketika terdiam saat telujuk Bian mengarah cepat ke mulut. "Biarkan aku berbicara dulu Lista. Iya, Tante benar. Itu kemungkinan yang sangat besar. Dan yang aku sesali sekarang satu. Kenapa aku ingin tahu dan memilih terlibat untuk membantumu, sedangkan ini ternyata urusan romantis antara kau dan Ian. Tentang permainanmu sebelumnya atau apalah. Kalau dipikir-pikir, aku ini ternyata konyol karena ingin tahu."


Tante Mirna terkekeh dengan ucapan Bian. Bian menyadarinya baru sekarang. Ini hanya permaian Ian untuk orang yang disukainya. Urusan romantis bercampur drama. Betapa bodohnya dia yang penasaran sebelumnya tentang surat yang diterima Lista, permainan teka-teki itu. Bian menghela napas panjang, dia menertawai diri sendiri yang dulu gelisah dengan hal yang seperti ini. Dia mengakui tidak berpikir panjang karena terbawa emosi kepergian sepupu berharganya itu.


"Seharusnya memang sejak awal aku tidak perlu ikut campur urusan kalian ini. Hanya berikan surat itu dan selesai."


"Loh, jangan bilang begitu Bian. Aku perlu bantuanmu."


Bian menyeringai. "Itu surat untukmu Lista, Ian membuatnya khusus untukmu. Pasti kau akan bisa memecahkannya."


"Hey ayolah, aku tidak mau memecahkan teka-teki ini sendiri." Suara Lista mengandug nada memohon. Dia memandang Bian penuh harap.


Bian malah semakin menyeringai lebar, senang melihat ekspresi Lista. "Ah ini urusan kalian, seharusnya aku tidak ikut serta."


Lista menggelembungkan pipinya, sebal. Bian malah jadi tertawa kemudian melanjutkan lagi memakan omeletnya. Dia menghiraukan Lista yang memprotesnya karena berhenti dalam menjadi patner pemecah teka-teki. Lista yang sebal malah beralih mengolok Bian tentang betapa payahnya dia dalam mengajarinya game. Bian membantah, Lista saja yang kurang perhatian dengan penjelasannya. Topik jadi loncat kemana-mana. Meja makan itu jadi adu mulut antara Bian dan Lista.


Meja makan itu sekali lagi ramai. Tante Mirna yang melihat mereka berdua hanya tertawa kecil serta berulang kali menggeleng-gelengkan kepala. Remaja memang masa yang menyenangkan. Batinya.


Sekarang, mengingat Ian sudah tidak terlalu menggores hati. Mereka perlahan sudah bisa menerima kepergian Ian.