
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Bian, mendapati Lista yang sedang terduduk di lantai, dengan sebuah kotak di hadapanya. Rasa canggung yang sempat dia rasakan sebelum masuk kamar karena kejadian tadi hilang seketika. Lista memegang sebuah amplop coklat, membuat Bian memandang bingung.
"Bian, permainan ini sejak awal tidak dibuat Ian hanya untukku."
Bian langsung mendekat. Duduk bersila di dekat Lista. "Apa maksudmu?"
Lista kemudian menyerahkan amplop coklat itu. Bentuknya mirip seperti amplop surat milik Lista. Yang berbeda hanya nama di belakangnya.
Aldino Fabian, 1
Dia menceritakan bagaimana dia bisa menemukan amplop itu. Mulai dari kertas stiky notes yang dia temukan "Mungkin sebelumnya, kertas itu menempel di komputer, terus karena perekatnya sudah lama, jadi jatuh. Akhirnya, kau tidak sadar ada catatan yang diberikan Ian padamu di sana"
Bian tertegun mendengarnya.
Ian meninggalkan catatan padanya? Bian dengan segera membuka amplop coklat bertuliskan namanya itu. Sebuah surat ada di dalamnya.
*Cari yang kedua
Pertengahan bulan, minggu kedua. Aku sudah berjanji padanya*.
Kalimatnya kali ini lebih pendek dibandingkan surat yang diterima Lista. Bian membacanya berulang. Kali ini dengan dada yang begitu sesak. Kesedihan yang berusaha mengusiknya sekarang berhasil menembus hati kuatnya. Sejak awal, permainan ini tidak hanya ditujukan untuk Lista saja, namun juga dirinya. Sejak awal, ini bukan permainan konyol tentang Lista dan Ian saja. Tapi juga tentang Bian.
Kenapa Ian tidak meninggalkam apapun untuknya. Bukan, Bian salah paham. Hari di mana dia menemukan surat Lista, seharusnya juga hari di mana dia menemukan catatan yang tertempel di komputer. Catatan kecil yang merujuk pada surat Ian untuknya.
Bulir air di ujung mata Bian mengalir, setetes demi setetes. Pelan, namun penuh dengan luapan perasaan. Tangisanya begitu sunyi, hingga suara kicau burung masih terdengar jelas merdu. Bian meremas surat yang dia terima, menunduk begitu dalam.
"Aku kira, dia hanya ingat kau saja. Hanya meninggalkan tulisan terakhir padamu saja, Lista." Suara Bian pelan penuh pilu. "Lantas, aku malah berpikir bodoh, aku sempat sejenak iri denganmu karena Ian masih memikirkanmu bahkan di hari akhirnya. Lalu kemudian jadi lebih bodoh ketika aku berpikir bahwa permainan yang dibuat Ian hanya karena permainan konyol atas dasar hubungan romantis kalian berdua."
Mulut Lista hendak memprotes dengan perkataan Bian tertutup rapat. Ian tidak memiliki perasaan romantis pada Lista. Tidak mungkin dirinya ini disukai Ian, Ian selalu menyangkal ketika ditanya. Sampai Ian pergi lebih dulu, tebakan siapa yang disukai Ian masih saja menjadi misteri. Lista hendak menyangkal, tapi ini bukan waktu yang tepat. Bian sedang emosional.
"Aku sudah bisa menerima Ian tidak meninggalkan sepatah kata apapun padaku. Dan memilih tetap membantu permainanmu dengan Ian meski menurutku konyol. Bodohnya aku sudah berpikir bahwa Ian sepertinya sudah tidak peduli dengan sepupu terdekatnya ini."
Bulir itu jatuh lagi setetes. Lista belum terbiasa dengan wajah sedih Bian. Biasanya, Bian yang paling tegar. Memberi kekuatan pada Lista dan Tante Mirna selama masa berduka, karena dia adalah satu-satunya laki-laki yang ada di rumah ini. Dia yang kuat sekarang tengah menangis. Lista terenyuh, kemudian menyentuh wajah Bian, membuat wajah yang tertunduk sedih itu terangkat.
Lista tidak punya ide kata-kata yang bisa menenangkan Bian. Dia tanpa berucap, mengusap bulir air mata Bian yang jatuh. Jantung Bian mendadak berdenyut cepat dari biasanya. Mereka bersitatap sebentar. Kemudian Lista dengan lirih berucap.
"Menangislah hingga puas, Bian."
Mata berkaca-kaca Bian membulat. Apa yang barusan yang dikatakan Lista tadi. Ah, benar juga, Bian belum pernah menangis sejak hari meninggalnya Ian.
Bian menatap sebentar Lista, dia menyeka ujung matanha. "Bukankah seharusnya aku mendengar kalimat bijak yang menyuruhku untuk kuat?" Bian menanggapi kalimat Lista barusan.
"Itu kata bijak juga, Lista."
"Bukan, itu cuma ucapan menyuruhku untuk makan. Bukan ucapan bijak yang menyuruhku kuat."
"Kau malah menyuruhku menangis sepuasnya."
"Ya, menangislah sepuasanya hingga tidak ada rasa sedih yang tersisa di hatimu. Kemudian tersenyumlah dengan lebar."
Menangislah hingga tidak ada rasa sedih yang tersisa. Bian tertawa kecil mendengarnya, dia sudah cukup untuk menangis tadi. Tidak seperti Lista, tangis Bian bisa reda cepat. Tangis tadi sudah cukup meluapkan perasaan. Dia kemudian menyentuh tangan Lista yang masih berada di wajahnya. Kali ini menatap Lista begitu lekat. "Terimakasih."
***
Malam telah menyergap. Bintang beterbaran di langit gelap, bulan tengah bertengger terang di sana. Saat ini pukul delapan malam, Lista duduk termenung di meja makan. Dia sudah selesai makan malam, memilih memasak sendiri di rumah walaupun Tante Mirna menyuruhnya makan bersama. Lista menolaknya dengan ramah bilang ada sisa makanan di rumah, dia hendak memakanya kalau tidak nanti malah menyia-nyiakan rezeki. Padahal, sebenarnya Lista hanya ingin menghindar dari Bian. Tidak ada makanan sisa di rumahnya, dia memasak lagi untuk makan malam.
Bukan wajan saja yang memanas. Tapi juga muka Lista yang memanas ketika dia mengingat kejadian tadi siang. Kejadian ketika Bian bangun tidur, wajah mereka yang begitj dekat. Bukan hanya itu, tapi juga kejadian ketika Bian menangis. Betapa lembut ketika jari Bian menyentuh tanganya, suaranya yang lirih berucap terimakasih terngiang di kepala Lista.
"Aaaaa, dia itu mudah buat orang jantungan."
Dia sedang memotong bawang dengan kesal. Hingga potonganya tidak karuan.
"Apa-apaan tadi coba." Dia mengomel sendiri di dapur.
Siang tadi, Lista tidak menyangka Bian akan memegang lembut tanganya. Menatapnya begitu lekat. Kemudian dengan lirih bilang terimakasih dengan begitu tulus setelah Lista berusaha menyemangatinya. Mata Bian yang coklat terang, rambutnya yang lurus, hidungnya yang mancung, mulutnya yang tipis, dan yang lebih menganggunya adalah sedikit kemiripan Bian dengan Ian berhubung mereka masih sedarah. Lista tidak kuat dengan wajah lumayan dan tatapan sendu itu. Seketika dadanya berdegup. Bola matanya jadi membesar, terkejut.
Bian saat itu tanpa sadar memegang tangan Lista. Berterimakasih karena Lista membuatnya sedikit lebih baik. Melihat Lista yang terbelalak karena perilakunya, sontak membuatnya menarik tangan. Cukup tadi wajah mereka yang begitu dekat. Suasana canggung tadi yang sudah sempat hilang, datang kembali, malahan lebih kuat.
"Bodoh, kenapa aku begini sih. Itu hanya Bian!"Lista menutup mukanya dengan kedua telapak tangan.
"Kenapa aku begitu berdegup—"
Lista termenung. Apa-apaan perasaanya saat ini. Tidak mungkin kan ada benih rasa muncul di hatinya untuk Bian. Lista menggeleng keras. Ini baru dua minggu selepas kepergian Ian. Bagaimana bisa dia secepat itu melupakan perasaannya pada Ian. Tidak-tidak, ini mungkin kesalahan. Betapa jahatnya dia bisa menghilangkan perasaan dan malah hendak berpindah hati. Bukankah dia sudah mengakuinya di depan pusara Ian, bahwa dia menyukainya. Ada apa denganya, kenapa begitu mudah menjadikan pengakuan itu hanya angin lalu.
Ada hujaman keras dalam hati Lista.
"Lista, bagaimana bisa kau sejahat ini, bagaimana bisa semudah ini melupakan perasaanmu pada Ian?" Lista berbisik pelan pada hatinya.
Malam itu, Lista menyangkal setitik kecil rasa yang baru saja muncul dalam hatinya. Dia sedang menghancurkan benih yang bahkan baru saja mulai tumbuh. Hati yang dulu sudah penuh akan Ian, sekarang menolak kehadiran orang lain.