
Tempat pertama adalah tempat yang paling dekat dengan mereka sekarang. Lista sempat menyebutkan tadi, SinEs. Itu tempat berbagai jenis es krim di jajakan. Ada jenis es serut dengan berbagai tambahan toping, hingga es krim susu dengan cone yang sangat renyah. Toko itu berhias wallpapaper biru bergambar sulur-sulur daun, beberapa lukisan lattering dengan kata-kata bijak terpampang. Belakangan ini toko itu ramai ketimbang biasanya karena sedang melakukan promosi menu barunya.
"Tunggu gimana carinya?" Bian bertanya, mereka ada di antrean kasir. Masih ada lima orang di depan mereka. "Kita malah kayak mau beli?"
Lista mengeluarkan dompet dari tas selempannya. Dia kemudian menyeringai. "Kau bilang padaku suruh menikmati, ya sekalian lah beli."
"Terus cari suratnya bagaimana?" Bian kembali menegaskan pertanyaannya tadi. Alisnya jadi berkerut.
"Tadi di BeanShop suratnya dititipkan pada Jek kan? Ya kita tanya aja langsung nanti. Lagipula aku juga kenal orang yang di kasir itu." Telunjuk Lista menunjuk seorang laki-laki yang berdiri di belakang kasir. Matanya besar dengan hidung yang mancung, garis rahagnnya terlihat menampilkan kesan maskulin. Cukup tampan untuk seorang penjaga kasir.
Bian menghela napas, menjawab dengan ekspresi seakan bilang ya baiklah, terserah Lista.
"Yo, Nik. Aku pesan seperti biasanya, dua ya."
Mata laki-laki itu melebar sebentar. "Wow, Lista. Lama sudah tidak bertemu. Pelanggan favorit ini akhirnya datang juga. Kemana saja?" tanyanya. Dia kemudian berteriak pada temannya yang ada di belakang, untuk menyiapkan pesanan Lista.
"Terlalu banyak yang terjadi Nik," jawab Lista sambil tersenyum simpul.
Mata Niko bergeser ke Bian. Menatap menyelidik Bian dari atas hingga bawah. "Pacar baru, Lista?" tanyanya.
"Bukan. Ini sepupu Ian!" Lista menjawab kesal.
Niko tertawa, "Lalu di mana Ian?"
Ini kedua kalinya pertanyaan itu menghujam Lista. Masih sedikit sulit untuk menceritakan kepergian Ian pada orang lain. Seberapa dia sudah berusaha kuat. Tetapi untuk berulang kali memberi tahu orang lain bahwa Ian sudah tidak ada tetap membuat hatinya terusik. Pertahanan di hatinya jadi sedikit terguncang. Apalagi setelah ini, dia akan menemui beberapa tempat yang dia sukai. Bertemu beberapa orang yang mengenal Ian dan tidak mengetahui kabar Ian sekarang. Apalagi semua orang tahu, Ian dan Lista selalu bersama. Pertanyaan itu nanti pasti akan seharian dia dengar.
"Dia...sudah tidak ada." Bian yang malah menyahut, menjawab pertanyaan Niko. Bian juga masih sedikit kelu mengatakannya.
Niko tersentak, "Hah, kau bercanda ya?"
Lista menggeleng, membuat Niko jadi terdiam membisu untuk beberapa detik. "A..aku tidak tahu itu, maaf menanyakannya, Lista. Aku turut sedih mendengarnya."
"Tidak apa, aku tidak masalah." Lista berusaha tersenyum.
Melihat itu, Niko tiba-tiba berteriak lagi pada temannya yang menyiapkan es krim untuk membuatkan satu porsi menu baru yang ada di toko. Temannya menyahut mengiyakan.
"Coba produk baru toko ini, Lista. Kali ini aku yang bayar."
Lista terkejut, hendak menolak, namun sebelum berkata Niko sudah menyelanya. "Aku tidak menerima penolakan. Terima dan semoga hatimu jadi lebih baik lagi."
Senyum terlukis di wajah Lista, dia berterimakasih. Kemudian mengambil nomor meja, mengajak Bian untuk mencari tempat duduk. Dan sebelum berbalik, Niko berseru pelan. "Semangat Lista, jangan terus bersedih ya!" Lista hanya menjawab dengan anggukan kecil, lalu berjalan meninggalkan Niko yang kemudian kembali lagi melayani pelanggan berikutnya.
Bian memandang Lista yang sedang melamun. Entah, dia tidak paham perasaannya sekarang. Pegawai dengan wajah tampan tadi sedikit menggaggunya. Apalagi saat dia memberikan kata-kata yang menyemangati pada Lista tadi. Dia tidak menyukai itu. Dia tidak menyukai Niko yang perhatian dengan Lista.
Tunggu kenapa aku berpikir seperti itu?
Tangan Bian langsung menampar wajahnya sendiri. Membuat Lista terjingkat, kaget. "Apa yang kau lakukan?"
"Eh, ah tidak apa. Bukan apa-apa."
Tatapan penuh tanya Lista jatuh ke arah Bian. Membuat dia sedikit kikuk harus menanggapi bagaimana. Kemudian seorang pelayan datang tiba-tiba, meletakkan pesanan mereka. Wajah penuh penasaran Lista tadi langsung berubah menjadi wajah semringah. Pesanannya datang, ditambah menu spesial tambahan gratis dari Niko membuat Lista tidak sabar mencicipinya. Matanya berbinar ketika tiga menu es krim itu diletakkan di atas meja. Pelayan itu pun pergi sambil berkata agar menikmati makanannya.
Belum genap sendok menyentuh, Bian kemudian teringat, lagi-lagi mereka melupakan tujuan lagi.
"Loh, bukannya katanya mau tanya surat tadi?"
Gerakan tangan Lista yang hendak menyendok berhenti. Dia langsung menepuk dahi.
***
Ketika matahari sudah beranjak dari kaki langit mereka sudah menelusuri banyak tempat. SinEs, tidak ada di sana. Niko bilang Ian tidak menitipkan apa pun padanya. Mereka kemudian bergerak ke toko panah, di mana Ian dan Lista selalu membeli peralatan memanah. Di sana juga tidak ada. Lantas langsung menaiki angkutan kota menuju toko aksesoris di dekat sekolah Lista. Taman dekat daerah pertokoan bahkan sampai disusuri setiap sudutnya—ini yang makan waktu lebih lama. Namun sia-sia, di sana juga mereka tidak menemukan apapun. Malahan yang berada di tangan Lista sekarang adalah beberapa aksesoris seperti ikat rambut baru yang dibeli di toko aksesoris tadi, dan Arm Guard dari toko peralatan panah. Tidak ada surat ketiga di tangan Lista maupun Bian. Seharian tadi malah mereka lebih seperti menikmati pencarian mereka, makan makanan pinggir jalan untuk mengisi perut. Bercanda dengan topeng pesta di toko aksesoris. Bian berlagak seperti seorang pangeran yang sedang menawari seorang putri untuk berdansa.
"Nona, maukah anda berdansa denganku?" tanya Bian dengan nada jahil. Dia mengenakan topeng pesta berwarna hitam dengan hiasan emas.
Lista menepis tangan Bian. "Kau kira ini Masquerade Ball?" Kemudian tertawa.
Sempat menanyai petugas taman, apakah menemukan, mengetahui atau barangkali dititipi surat. Dan kemudian senang ketika petugas tersebut mengatakan pernah menemukan beberapa surat. Namun seketika rasa senang itu hilang ketika beberapa surat yang ditemukan tidak ada yang merupakan surat ketiga dari Ian.
Hingga mereka menyerah dan memutuskan pergi ke perpustakaan kotam tempat terakhir.
"Perpustakaan, ini harapan terakhir loh." Bian menelan ludah, lampu trotoar sudah mulai dinyalakan. Untungnya, perpustakaan kota yang merupakan tempat pencarian palong jauh tutup pukul tujuh malam nanti, masih ada satu jam.
"Kalau tidak ada lagi, pupus harapan sudah. Kenapa hanya diberi waktu satu hari sih?" Lista berdecak kesal. Menatap bangunan perpustakaan yang ada di hadapan mereka, menyala terang, masih ramai meski satu jam lagi tutup.
"Loh, kamu Bian kan?" Tiba-tiba seseorang muncul dari belakang Lista dan Bian, mengejutkan mereka.
Bian dan Lista seketika menoleh. Dan saat itu, ketika Bian melihat orang yang menyapanya tadi, mukanya tampak terkejut setengah mati.
"Bian, aku kira kau sudah tidak berani datang ke sini lagi."
Bian jadi bungkam, wajahnya berubah pucat pasi.