
"Kau tidak mengangkatnya juga?"
Lista terdiam, tidak menjawab. Enggan untuk menjelaskan. Bian yang melihat ekspresi enggan itu segera mengerti dan mencoba mengalihkan pembicaraan. Membahas topik sebelum dering telepon tadi berbunyi. "Banyak yang berubah memang sejak aku pindah. Tempat game arcade saja sekarang sudah lebih bagus."
"Aku suka ke sana, Ian sering mengajakku. Apalagi kalau sudah selesai ujian. Sekarang ada tambahan permainan baru, dan pembaruan sistem pembayaran dengan uang elektronik."
"Aku jadi ingin ke sana. Sudah lama tidak ke arcade."
"Mau ke sana besok? Mumpung kita kan sudah tidak sekolah lagi."
Mata Bian melebar. Apa itu, ajakan kencan? Bian menahan tawanya. Ada bahan lagi untuk mengerjai Lista. "Apa kau mengajakku kencan, Lista? Wow, modus yang bagus."
Sekali lagi, dalam sekejap kepala Bian sudah kena lemparan buku Lista.
***
Langit tengah cerah. Kicau burung terdengar mengisi kelengangan pagi. Bian masih meringkuk di bawah selimut. Larik cahaya sempat melewati kisi-kisi kamar, mengenai wajahnya, membuatnya matanya sedikit mengerjap.
"Pagi tukang tidur." Sapaan seseorang terdengar. Itu Lista, dia berdiri di ambang pintu.
Bian bangkit dengan malas. Mengucek matanya, masih belum genap nyawanya terkumpul. "Ada apa? Pagi sekali kau sudah di sini."
"Apanya yang pagi sekali? Ini sudah jam sepuluh,Bian. Kau itu tidur jam berapa? Aku tidak mengerti kenapa Tante Mirna membiarkanmu bangun terlambat begini." Mulut Lista sudah mulai cerewet. Bian yang masih terkantuk itu hanya menerima perkataan Lista dengan telinga kanan, lantas keluar lagi dari telinga kanan juga.
"Dia susah sekali bangun, Lista. Pagi shubuh tadi dia sempat bangun, lalu tidur lagi," Tante Mirna menyahut setelah mendengar omelan Lista yang begitu keras hingga terdengar sampai lantai bawah.
"Huh, siapa yang bilang ingin ke game arcade?"
Bian menutup mulutnya yang hendak menguap. Kembali tidur, menyelimuti tubuhnya lagi. "Nanti saja, atau tidak besok, atau lain hari. Kita masih punya liburan panjang hingga masuk kuliah semester awal, Lista."
Dengus sebal terdengar, Lista kemudian berjalan mendekat ke arah tempat tidur. Kemudian menarik keras selimut yang membungkus Bian. "Bangun bodoh, aku sudah terlanjur bersiap untuk pergi."
Yang disuruh malah semakin meringkuk. Menutup mata lebih rapat. Lista jadi bersungut-sungut melihatnya. "BIAN!"
Panggilan keras itu bergaung di kepala Bian. Dia menutup teliganya. Tidak ingin tidur malasnya ini terganggu. Lista berdiri di samping tempat tidur, menatap tajam wajah orang yang ingin tidur itu.
"Bian, aku akan menghitung sampai tiga kalau kau tidak bangun aku akan menyirammu dengan air botol yang kubawa ini!"
Peringatan Lista tidak dihiraukan Bian.
"Satu!"
Tidak bergeming. Lista mulai membuka tutup botolnya.
"Dua!"
Bian malah menarik selimutnya. Wajah Lista memerah padam menahan kesal. Dia sudah bersiap menyiram kepala Bian.
"Sa—"
Bian kemudian segera bangkit. Mencegah Lista menuangkan air dalam botol, menarik tangannya mendekat, mengambil cepat botol dalam genggaman Lista. "Hah, cerewet de—." Mulutnya langsung terkatup ketika menoleh sedikit, wajah mereka jadi begitu dekat.
Mata Lista terbelalak, terkejut. Rasanya jantung Lista berhenti berdegup sekejap. Pupil coklat terang Bian jadi begitu jelas, pandangan mereka bertemu.
Genggaman Bian pada tangan Lista seketika dia lepas, langsung membuang muka ke arah lain. Wajah Bian kebas, menghangat. Dia tidak sengaja tadi. Dia merutuki dirinya sendiri dalam hati. Apa yang barusan dia lakukan.
"Bian, tolong buang sampah ini ke depan. Habis ini jadwal pengambilan sampah!"
Bian langsung beranjak dari tempat tidur. "Ah, aku dipanggil. Sebentar."
Lista mengangguk kikuk.
Saat sudah keluar kamar, berjalan menuruni anak tangga. Tante Mirna sedang di ruang tengah, menonton TV. Tangga ke lantai dua memang berada di ruang tengah. Bian menoleh ke atas, Lista sepertinya masih di kamar.
Kejadian beberapa saat tadi terulang jelas dalam pikiran Bian. Wajah mereka begitu dekat tadi.
Kalau dilihat dekat, Lista manis juga.
Seketika dia membenturkan kepalanya pada dinding. Tante Mirna sampai terkejut melihat tingkahnya.
"Loh, ngapain Bian?"
Bian menggeleng, tersenyum kecut. Dia memaki pikirannya barusan. Oi, apa yang barusan aku pikirkan, Lista manis? Kepalanya pasti sedang tidak waras karena baru saja bangun tidur.Telinganya jadi sedikit memerah. Dia menepuk keras pipinya dengan kedua tangan, berusaha membuat akalnya bepikir lurus.
Plastik hitam terlihat di dekat pintu dapur, itu plastik sampah. Bian langsung teringat perintah tantenya dan bergegas mengambilnya.
"Sampah, ah iya. Sekarang harus buang sampah. Lupakan tadi."
***
Sedangkan di kamar. Jika hati Lista bisa di dengar orang lain, hatinya keras berteriak tadi.
Huwa, itu tadi dekat banget
Dia segera menghempaskan badan ke tempat tidur ketika Bian keluar kamar. Membenamkan kepalanya yang sudah mengepul, jantung Lista rasanya tadi berhenti berdetak beberapa saat. Dia ingin menampar wajah Bian sebenarnya, tapi entah kenapa dia tidak bisa. Tubuhnya tiba-tiba jadi kaku, pikirannya berproses lama hingga membuat kediaman mereka membentuk suasana canggung kuat.
Dia berguling-guling di atas tempat tidur. Ada apa dengannya tadi, kenapa malah terdiam, kenapa pikirannya tidak karuan. Kemarin juga seperti itu saat Bian menjelaskan cara bermain game. Lista tidak mengerti kenapa dia begitu terganggu hanya karena hal sepele.
Lista berpikir, menatap langit-langit. Mencari segala alasan yang bisa menjelaskan. "Mungkin karena aku tidak pernah begitu dekat jarakanya dengan Bian. Jadi terkejut bila tiba-tiba jadi sedekat itu tadi." Lista mencoba memberi alasan pada diri sendiri, mencoba membuat lurus pikirannya. "Ya benar, cewek mana yang tidak terkejut dengan kejadian tadi. Ya benar, itu hal biasa."
Lista mengambil napas panjang, lalu menghembuskannya. Menenangkan pikirannya yang kalut. Sebenarnya jauh di hatinya yang dalam. Dia sedang menyangkal. Bahwa ada setitik benih rasa muncul. Dia berusaha menyangkalnya.
"Aku harus bersikap biasa-biasa saja ketika Bian kembali," ucapnya pada diri sendiri. Berulang kali menghela napas panjang. Kemudian beranjak, dia ingin mengalihkan pikirannya, menuju meja dengan satu set komputer lama diletakkan di sana. Dia hendak bermain game lagi.
Langkahnya seketika terhenti ketika dia menyadari ada kertas di bawah meja. Dihimpit dinding dan sisi meja. Itu kertas stiky notes, ada pelekat di sebagian salah satu permukaan kertas. Mungkin jatuh karena perekatnya sudah terlalu lama. Lista mengambilnya, mengiranya hanya sampah. Namun langsung berubah pikiran ketika membaca kalimat yang tertulis di sana.
Kotak di lemari
"Kotak di lemari?" Lista langsung menoleh pada lemari yang ada di sudut kamar. Berjalan mendekat, kemudian membukanya. Hanya ada pakaian milik Ian. Lista ingat jaket kesukaan Bian, masih tergantung rapi di sana. Kenangan tentang Ian kemudian hadir kembali, tapi kali ini rasa sakit itu tidak semenyakitkan sebelumnya. Lista sedang memulai untuk memeluk luka hatinya akibat kepergian Ian. Lista berusaha menerima. Berusaha mengenang Ian dengan hati yang tenteram.
"Sudah dua minggu saja sejak kau pergi Ian. Masih tidak percaya saja, kau pergi begitu cepat."
Baju Ian lainya juga masih tertata rapi di dalam lemari. Lista jadi tahu kalau Bian sepertinya tidak mengusik sama sekali isi lemari itu, membiarkan apa adanya.
"Eh cari kotak, malah mikir yang lain." Lista mengingatkan diri sendiri tujuannya membuka lemari, kemudian segera beralih mencari kotak yang dimaksud. Tidak ada. Lista kemudian menutup pintu lemari. Beralih mendongak, barang kali ada di atas lemari. Lista seketika tersenyum lebar.
"Ketemu!"