Last Game

Last Game
Petunjuk Lain



"Kau sudah menemukan jawaban teka-teki itu"


"Ah, Bian kau bisa membantuku menemukan petunjuk."


Bian dan Lista kemudian tertawa. Mereka berbicara berbarengan ketika pintu dibuka. Bel tadi berbunyi tiga kali, suara Lista terdengar dari balik daun pintu, memanggil Bian. Pagi itu Lista berkunjung, dia tidak menemukan jawaban untuk Isdernus 12,65192 meski sudah semalam suntuk memikirkan. Dia menyerah, memutuskan untuk mendapat batuan dari Bian. Sedangkan Bian sendiri, semalaman gelisah memikirkan dirinya yang ingin tahu tentang surat milik Lista dari Ian, tentang permainan mereka, tentang apakah Ian tidak meninggalkan sesuatu juga untuknya. Dia tidak menyangka, Lista akan meminta bantuannya. Kalau begitu, gelisahnya kemarin seperti sia-sia, Lista sendiri yang menyeretnya untuk ikut juga masuk dalam permainan. Mereka berdua akan mencari tau bersama.


"Aku hampir tidak tidur memikirkan teka-teki ini," Lista mengeluh lagi. Dia sekarang berbaring di sofa, memeluk bantal sofa dengan renda biru itu. Tante Mirna yang baru saja dari dapur membawakan segelas coklat hangat untuk mereka berdua, dan secangkir teh untuk diri sendiri. Tante Mirna sudah menganggap Lista anaknya juga, tidak heran kalau membiarkan begitu saja Lista yang bertingkah seperti di rumah sendiri.


Pagi itu, di rumah hanya ada Bian dan Tante Mirna. Pagi sekali, orang tua Bian segera menuju bandara. Kembali ke rumah, mengurus segala keperluan kepindahan dan menyelesaikan berkas pekerjaan yang tersisa sebelum kembali tinggal di kota kelahiran.


"Teka-teki?" tanya Tante Mirna, lantas duduk di sofa juga, tertarik dengan perkataan Lista barusan.


Lista menarik tubuhnya, beralih ke posisi duduk. Mengeluakan sepucuk surat yang dibuat Ian. "Anak Tante itu, bukanya kasih salam perpisahan kek atau apa. Malah kasih teka-teki gak jelas gitu." Ada rasa kesal dalam suara Lista.


Tante Mirna mengambilnya, menelisik, membaca tulisan di dalam surat itu. Lista kemudian mencoba menceritakan semuanya, tentang permainannya dengan Ian—lebih tepatnya taruhan—sebelum kelulusan, dan tentang mencari surat yang kedua yang mungkin dimaksud Ian dalam kalimat ketiga dalam surat, permintaan dari si pemenang permainan sebelumnya. Tapi tentu saja kecuali tentang perasaannya pada Ian, itu memalukan untuk bilang pada ibu Ian sendiri.


Kemudian Tante Mirna tertawa, "Mungkin dia menyukaimu Lista, makanya buat surat untukmu," goda Tante Mirna.


Telinga Lista sedikit merah, "Mana mungkin, mana ada orang yang pergi meninggalkan surat berisi teka-teki untuk orang yang disukainya. Setidaknya dia membuat surat salam perpisahan daripada teka-teki tidak jelas itu . Dan lagi pula, aku juga yakin. Ian itu menyukai Kak Mary, seniorku memanah. Mereka dekat meski Kak Mary sudah lulus sekalipun. Tapi Ian selalu menjawab 'bukan'."


"Tante Mirna mungkin benar Lista. Dia begitu menyukaimu hingga tidak sanggup bilang langsung, bahkan dalam surat. Makanya buat teka-teki itu" tambah Bian, dia ikut di sisi tantenya. Menggoda Lista sambil meminum coklat hangatnya.


Wajah Lista semakin memerah, Tante Mirna dan Bian tertawa melihatnya. Tidak diberi tahu pun, Tante Mirna sudah bisa menyadari perasaan Lista pada putra semata wayangnya itu.


"Anak itu, memang ada-ada saja. Mungkin dia punya tujuan tertentu Lista, kau cari tau saja. Ian memang punya banyak sekali rahasia yang dia pendam sendiri. Barangkali, kau menemukan hal yang tidak terduga," ucap Tante Mirna sambil meletakkan lagi surat dari Ian untuk Lista di atas meja.


"Aku juga mencari tau, Tante. Tapi aku sama sekali tidak tau maksudnya."


"Apa Ian tidak mengatakan sesuatu, Tante?" Bian sekarang bertanya, menoleh pada Tante Mirna di sebelahnya.


Tante Mirna berpikir sebentar, kemudian menjawab dengan gelengan kepala. Bian dan Lista mendesah kecewa.


Lista menyandarkan punggung pada sofa, kemudian mendongak, melihat langit-langit ruang tamu dengan tatapan sebal. "Isdernus 12, apa sih itu? 65192 juga apa sih. Gak habis pikir deh, apa yang Ian pikirkan ketika menulis surat."


"65192," Tante Mirna mengulangi angka yang disebutkan dalam surat. Dia teringat sesuatu, berpikir sebentar mencoba mengingatnya lebih jelas.


"Apa Tante mengetahui sesuatu?" Bian bertanya penasaran.


"Bukankah itu terdengar seperti kode pos? Daerah rumah kita ini saja, 65187. Mungkin sekitaran pusat kota."


Lista yang mendengarnya, langsung merogoh ponsel pintar di sakunya. Mengetik kode pos '65192'.


Tante Mirna benar. Pencarian internet itu menampilkan daerah mana saja yang memiliki kode pos tersebut, itu daerah pusat kota. Daerah pertokoan tengah kota yang dulu Ian dan Lista kunjungi sebelum kelulusan. Girang Lista mengetahuinya. Dia bersorak dalam hati


"Aduh, kenapa tidak terpikirkan. Tante Mirna memang hebat." Lista lantas beranjak dari sofa, mengbil langkah hendak keluar.


"Hei Lista, kau akan langsung ke sana?" Bian berdiri, bertanya pada Lista yang sudah memegang gagang pintu. Lista menoleh, mengangguk mantap.


Bian menepuk dahinya, "Hei, apa kau pikir akan mencarinya dengan hanya tahu itu daerah pertokoan tengah kota? Kau akan memasuki tiap toko, melihat sudut-sudutnya atau bahkan menanyai satu per satu pemiliknya tentang surat kedua? Jangan tergesa-gesa. Daerah itu luas ,Lista. Ada puluhan toko yang mempunyai kode pos yang sama di alamatnya."


Lista terdiam, dia menyadari tidak berpikir panjang. Petunjuknya belum terlalu terperinci. Bian benar, tidak mungkin dia mencari surat kedua dengan mengunjungi semua toko di sana, itu merepotkan. Lista kemudian balik kanan, melangkah gontai, menghempaskan tubuh ke sofa. Helaan napasnya jadi begitu panjang.


"Lantas, harus apa lagi?"


"Tentu saja mencari petunjuk lagi, agar bisa mempersempit daerah pencarian, Lista." Bian menjawab, dia melipat lengannya, mencoba memikirkan petunjuk lain. "Tinggal 'Isdernus 12' , mungkin dengan mengetahui maksudnya, kita jadi tahu di mana surat kedua berada."


Untuk kesekian kali Lista mengeluh, memaki dalam hati. Dia baru saja senang mendapat petunjuk tentang di mana kemungkinan surat kedua. Tapi itu belum cukup, masih ada sisa kata yang belum bisa diartikan maksudnya.


Isdernus 12


Hingga coklat hangat mereka tandas, mereka masih tidak bisa menemukan ide apapun untuk menjelaskan kata itu. Tante Mirna sudah beranjak ke dapur sejak tadi, mempersiapkan sarapan. Bau mentega leleh merambat hingga ruang tamu.


"Bian, Lista, ayo sarapan," teriak Tante Mirna dari arah dapur. Sarapan telah matang.


Bian kemudian berdiri, menoleh pada Lista. "Sudahi sebentar saja, Lista. Kita sarapan dulu."


Tapi Lista tetap bergeming, menatap serius surat yang ada di atas meja, berpikir keras untuk mendapatkan petunjuk tambahan. Bian tertawa kecil, kemudian meraih kepala Lista, mengacak rambutnya. "Oi, ayo sarapan. Tante Mirna sudah memanggil itu loh."


Lista jadi terkejut, lamunannya jadi pecah. "Aku sedang berpikir keras, Ian. Jangan—"


Tanpa sadar Lista menyebut nama Ian, lupa bahwa yang mengacak rambutnya adalah Bian. Sebelumnya memang Ian yang biasa iseng mengacak rambut Lista. Lista terdiam, ada rasa sesak di dadanya. Sejenak tadi hatinya baik-baik saja. Namun, ketika teringat kembali kenangan tentang Ian, kebiasaan Ian yang mengacak rambutnya. Rasa sedih menyelimuti hatinya kembali.


Bian yang menyadari langsung menarik tangannya. Dia dekat dengan Ian, jadi satu dua hal kebiasaan mereka juga sama. Suka mengacak rambut orang lain. Dan tanpa sadar juga melakukan hal sama pada Lista.


Suasana canggung terasa diantara mereka berdua.


"Ehm, ayo kita segera ke meja makan, Lista."


Lista mendongak, lantas mengangguk.