
Makan siang telah selesai. Lista kembali ke ruang tengah, merapikan buku-buku yang masih berserakan setelah belajar tadi. Ian merapikan meja makan, hendak mencuci piring kotor.
"Bian," tantenya memanggil. Dia masih duduk di kursi meja makan, menatap punggung Bian yang sedang membersihkan alat makan kotor.
"Ya?" Bian menoleh. Dia mengelap tanganya yang basah, baru saja selesai cuci piring.
"Entah kenapa, Tante pikir Ian tidak membuat surat itu hanya untuk Lista."
"Maksud, Tante? Jelas-jelas di amplop hanya tertulis nama Ardelia Calista."
"Bukan itu maksudnya. Ah, bagaimana ya. Tante tau betul Ian itu anaknya seperti apa. Dia itu sangat peduli pada kalian, kau dan Lista. Dia pasti meninggalkan sesuatu juga untukmu. Jadi, tetaplah membantu Lista, Tante merasa kau akan mengetahui barang satu hal saja yang tidak terduga dari Ian."
Kursi di seberang Tante Mirna ditarik Bian, dia duduk. Tersenyum tipis. Bian menanggapi hanya dengan senyum tipis. Dia sekarang sudah tidak penasaran dan berharap lagi, apakah Ian juga meninggalkan sesuatu padanya atau tidak. Biarlah, dia sudah ikhlas sepupu terbaiknya itu pergi tanpa bilang atau meninggalakan apapun. Lagipula, Bian tadi hanya bercanda. Dia tidak benar-benar berniat berhenti membantu Lista. Apalagi setelah Lista yang tadi begitu memohon.
"Lista sudah memohon seperti itu tadi. Aku jadi kasihan. Tante tak usah khawatir, aku akan tetap membantunya," ucapnya sambil melirik ruang tengah. Dia sedikit mengeraskan suaranya, berharap Lista mendengarnya. Bian menggoda Lista sekali lagi.
Di ruang tengah, telinga Lista jadi panas. Dia mendengar apa yang diucapkan Bian. Lantas jadi bersungut, dia menyesal telah memohon tadi, Bian sekarang malah berlagak. "Kau menyebalkan Bian!"
Tawa Bian terdengar hingga telinga Lista. Lista menggerutu. Dia sudah selesai menata ruang tengah. Sedang menonton TV, ingin sekali dia menimpuk Bian, tapi badanya sudah malas untuk bergerak. Dia tidak ingin membuang tenaganya hanya untuk orang menyebalkan seperti Bian. "Hah, hari ini anak itu tambah nyebelin banget," gerutu Lista sambil menekan tombol remote, beralih ke siaran lain.
***
"Uwo, aku menang. Lihat-lihat, siapa kata aku ini payah huh?" sorak Lista. Dia memamerkan level up-nya. Sudah hampir menyamai level Bian. Statusnya telah naik jadi bintang tiga. Sekarang bahkan dia bisa memiliki meriam yang perlu banyak sekali poin untuk membelinya.
"Baiklah-baiklah. Kau tidak payah," jawab Bian datar, dia tengkurap di tempat tidur, membaca novel.
"Hanya tidak payah?"
"Ya, hanya tidak payah. Masih belum cukup untuk mengalahkanku. Aku masih di atasmu, kau ingat?"
Lista mendegus, dia tidak bisa membatahnya. Dua hari ini, dia gencar sekali memainkan game The Kingdom Of Logres itu. Tidak terima dipanggil payah oleh Bian , dia jadi semangat menyelesaikan misi ekspansi wilayah dalam game. Tapi masih saja berada di bawah level Ian. Meski sibuk dengan game perang itu, pikiran tentang teka-teki yang belum terpecahkan masih terngiang. Mereka berdua masih sering membahasnya ketika di kamar.
"Ian pernah bilang sih, dia lebih suka game offline ketimbang Game Online yang tengah populer saat ini." Lista memulai percakapan. Topik tentang Ian dan surat yang dia tinggalkan sudah kembali lagi.
Matahari sudah sejak tadi menyingsing dari titik tertinggi. Bian dan Lista sedang bersantai-santai di kamar. Bian masih dengan novelnya di atas tempat tidur. Lista sudah lelah menatap layar komputer terlalu lama, beralih memainkan kursi dengan roda di kaki itu, berputar-putar. Sedikit bosan.
"Selain itu, kau tidak ingat dia bilang apapun tentang game lagi?" tanya Bian, dengan mata yang tetap membaca tulisan dalam novel yang dia pegang.
"Kalau dihitung, sudah seminggu lebih lima hari aku memikirkannya. Otakku ini rasanya mau meledak."
"Haha, otakmu sudah panas dan berkebul-kebul sepertinya. Apa aku perlu menyiram dengan air agar dingin?" gurau Bian, dia terkekeh.
"Loh, beneran? Aku turun sebentar mengambil air dulu." Bian kemudian beranjak dari tempat tidur,melangkah ke arah pintu, berpura-pura hendak turun. Lista langsung melemparnya dengan salah satu buku di rak sebelahnya. Buku itu tepat mengenai kepala Bian. Bian mengaduh, mengelus kepalanya, memandang sebal Lista.
"Nice shoot." Lista jadi tertawa keras. Dia sampai memegangi perutnya karena tidak tahan melihat wajah yang terlipat karena sebal Bian. Jarang-jarang dia bisa melihat wajah itu.
"Cewek bar-bar," maki Bian.
"Ciwik bir-bir, biarin!" Kemudian tertawa lagi.
Hampir dua minggu mereka saling mengenal. Dan sekarang kedekatan mereka hingga bisa menganiyaya satu sama lain (dalam artian bercanda). Lista sudah leluasa tertawa, lebih terbuka, dan dua kali lebih sering berkunjung ke rumah Tante Mirna. Bian juga sudah terbiasa dengan Lista yang cerewet dan sedikit bar-bar—sifat Lista yang biasanya telah kembali. Bian juga jadi memiliki tambahan kegiatan ketika bosan, menjahili Lista begitu pula sebaliknya. Paduan remaja yang komplit. Rumah itu jadi begitu ramai hanya karena mereka berdua. Tante Mirna sering jadi penengah mereka. Untung saja, Tante Mirna tidak kerepotan dengan adanya dua anak tambahan di rumahnya.
Orang tua Bian sedang sibuk-sibuknya di tempat kerja, ada sedikit masalah. Kemarin menelepon, bilang kalau mungkin mereka akan sedikit lebih lama mengurus kepindahan. Tapi mereka sudah men-DP rumah Pak Aini di seberang jalan. Barusan ditansfer juga kemarin, agar tidak keduluan dibeli orang lain.
Sedangkan ibu Lista, tidak penah sekalipun pulang. Hanya beberapa kali menelepon, menanyakan keadaan Lista. Kadang kala malah Lista mengabaikan panggilan ibunya itu.
Meski lebih terbuka. Untuk masalah kenapa dia kadang kala mengabaikan panggilan ibunya, Lista tidak menceritakanya. Bian yang melihat kelakuan Lista itu tidak berniat bertanya, memaklumi kalau Lista pasti punya satu dua hal yang tidak bisa diceritakan pada orang lain.
"Beneran nih, Ian tidak pernah mengatakan apapun yang berkaitan dengan ini? Surat, teka-teki, atau lainya padamu?" Lista bertanya, keributan kecil antara mereka tadi sudah terlewat. Sekarang mereka memulai diskusi seriusnya.
"Tidak. Aku sudah bilang berulang kali bilang kan."
Lista menghempaskan punggunya, dia berpikir keras lagi. Tanganya memegang catatan kecil, hampir kosong, hanya ada satu nama tapi telah dicoret oleh Lista. Tidak ada satu tempat pun yang bisa dia pikirkan lagi. "Apa coba hubungan antara Isdernus yang merupakan karakter di dalam game, dengan pusat pertokoan?"
"Hmm, toko yang menjual kaset game offline? Aku ingat ada satu toko menjual itu di sana"
"Aku tau toko itu. Tapi pemiliknya sudah menjual tokonya, dan sekarang di sana jadi toko peralatan rumah tangga."
"Kau yakin? Toko itu ada di blok pertama, ujung jalan, pojok kanan."
Lista menghela napas, berulang kali meyakinkan Bian bahwa di sana tidak ada toko penjual kaset game, sudah berganti jadi toko lain. "Tidak ada, Bian. Sudah dua tahun, toko itu sudah beralih menjual alat rumah tangga."
Bian mengelus dagunya, mengingat. "Kalau dipikir-pikir memang aku terakhir kali ke sana sebelum pindah ke ibukota provinsi sih. Jadi baru tahu sekarang sudah dijual tokonya."
Di tengah percakapan mereka, tiba-tiba dering panggilan terdengar. Itu dari smartphone Lista. Lista mengambilnya, kemudian mematikannya setelah membaca nama yang tertera di sana.
Bian menelisik. "Ibumu?" dia bertanya memastikan.
Lista menggeleng. "Barusan itu ayahku."