Last Game

Last Game
Isdernus



Di meja makan, Lista meletakkan kepalanya, menatap makan malam yang sudah habis. Seulas senyum terukir di wajahnya.


Cukup sakit hati saja, badan jangan.


Bian benar, dia memang belum makan lagi sejak sarapan pagi tadi. Tidak seharusnya dia memperburuk keadaan dengan membiarkan tubuhnya tidak terisi asupan. Perutnya sekarang sudah kenyang, hatinya juga sudah lebih tenang. Berterimakasih dalam hati atas makan malam yang enak dari Tante Lista. Sejenak, Lista mengambil napas panjang.


"Tante Mirna mengkhawatirkanku, padahal dia yang seharusnya lebih terpuruk. Aku harus lebih kuat." Dia mencoba menyemangati diri sendiri.


Dia kemudian merogoh sakunya, surat dari Ian masih dia pegang. Namun sekarang lebih kusut dari sebelumnya, bekas air matanya juga membekas di sana, tak sengaja terjatuh. Dia manatap getir, namun langsung menggeleng keras. Tidak membiarkan kesedihan sekali lagi mengusainya.


Isdernus 12


Hanya itu, hanya kata itu yang tersisa untuk mengungkapkan kemungkinan di mana surat kedua berada. Dia sudah tahu kalau surat kedua kemungkinan berada di daerah pertokoan pusat kota. Tapi, terlalu luas untuk mencari sepucuk surat di sana. Lista tidak mendapatkan petunjuk apapun meski sudah berpikir lama, mengingat keras apa Ian dulu pernah mengatakan yang berhubungan dengan kata itu, atau apapun yang bisa menjadi petunjuk.


Lengang, hingga derik jangkrik begitu keras terdengar sepertu orkestra. Menemani Lista yang sekali lagi, terbenam dalam pikirannya, kepalanya sekarang penuh akan usaha pemecahan teka-teki. Dia sekarang sudah beralih ke ruang tengah, berbaring sambil membaca berulang kali surat yang dia pegang. Hingga rasa kantuk mulai datang, matanya mulai sayu, tidak kuat untuk bertahan.


Dan ketika kedua matanya benar-benar sudah tertutup, bel rumahnya berbunyi. Lista tersentak kaget, jatuh dari sofa. Dia mengaduh, mengelus pinggangnya. Menatap ke arah jam, ini jam setengah sepuluh. Siapa yang malam-malam begini memencet bel rumah orang.


Lista menggerutu menuju pintu rumah, dia mengintip dari balik gorden. Terkejut mendapati seseorang yang dia kenal berdiri gelisah di depan pintu.


"Eh, Bian?"


****


"Lista ada di rumah?" tanya Tante Mirna. Bian baru saja kembali.


Bian mengangguk, "Dia baru saja pulang."


"Dia memangnya dari mana?"


Bian mengangkat bahu, "Aku tidak tahu. Dan sepertinya seharian tadi dia menangis."


Tante Mirna terdiam sejenak. Dia tahu, kalau Lista menangis, Lista tidak ingin seorangpun tahu. "Kalau kaya gitu berarti seharian tadi dia di pohon bedaru."


"Yang di belakang taman itu?"


Tante Mirna mengiyakan. "Syukurlah kalau dia sudah pulang."


"Ya, untunglah."


"Ini sudah malam Bian, tidurlah."


"Iya," jawab Bian lantas berjalan menuju tangga. Menaiki setiap anak tangga, berbelok hingga persis di depan pintu kamar Ian. Ada tulisan "Rico Hadrian" terpampang jelas di daun pintu. Hanya ada satu kamar di lantai dua. Kamar sebelah bekas tempat kerja ayah Ian sudah kosong sejak lama. Tidak terpakai, karena ayah Ian sudah pergi lebih dulu beberapa tahun yang lalu.


Bian mendorong pintu, mendapati kamar lengang. Biasanya Ian akan ramai, memaksanya bermain game offline di komputernya ketika malam dia menginap. Sekarang, komputer itu bahkan sudah tidak tersentuh. Debu tipis sudah mulai menyelimuti. Bian mengelapnya. Menatap pilu. Ada sedikit kenangan tersimpan di sana. Ya, hanya kenangan.


Bian jadi tidak berniat untuk tidur. Menyalakan komputer di hadapannya. Itu termasuk komputer lama. Sekarang di tengah melejitnya game online, game offline masih memiliki peminatnya dan salah satuny adalah Ian. Game ini keluaran lama, komputernya juga bahkan milik ayahnya dulu, dibeli ketika masih kelas empat sekolah dasar. Permainannya sendiri diadaptasi dari legenda kuno. The Kingdom Of Logres. Berkisah tentang Kesatria Arthur di kerajaan eropa pada abad pertengahan, berperang melakukan ekspansi wilayah, hingga bisa menguasai seluruh negeri. Meski berdebu sedikit, komputer ini masih lancar digunakan. Ian terbilang orang yang cukup awet dalam merawat suatu barang. Barang lawas di tangan Ian selalu dalam keadaan baik.


Kalau diingat, Bian dan Ian memainkan game ini sepertinya hampir tiga bulan lalu, saat menginap di akhir pekan sebelum ujian akhir sekolah. Mereka semalaman bermain sebelum keesokan paginya Ian pulang dengan mata yang masih kuyu, kurang tidur. Tante Mirna sempat memarahi mereka, bagaimana bisa mereka bergadang sebelum kepulangan Ian. Bagaimana kalau Ian telat naik pesawat, ujian akhir sekolah sebentar lagi. Mereka hanya cengingisan, merasa tidak bersalah.


Layar menyala, menghilangkan sejenak pikiran Bian, kesedihan hampir saja menguasainya. Beruntung, game segera mengalihkan pikirannya. Di layar menampilkan latar kerajaan eropa abad pertengahan. Beberapa karakter dengan baju perang dihadirkan, pemain bisa memilih karakternya sendiri. Pedang, panah, tombak, semua senjata tersedia sesuai level yang sudah dicapai. Semakin luas wilayah yang dikuasai, semakin tinggi level yang dicapai.


Bian duduk di kursi dengan roda kecil di kaki kursinya. Matanya tertuju pada layar. Ada rasa rindu yang datang ketika melihat game itu.


Dia sejenak terdiam. "Main sendiri sepertinya tidak seru."


Belum genap menekan tombol mulai, Bian sudah merasa bosan. Mendorong kursi beroda itu mundur dengan kakinya, menjauh dari komputer. Bian mendongak, menatap langit-langit.


"Gak ada kau, gak seru,' ucapnya, entah dengan siapa dia berbicara.


Dia melirik kembali layar yang masih menyala. Saat itulah, matanya seketika terbelalak. Membaca tulisan di layar.


Isdernus


Dia langsung bangkit. Terperangah sebentar. Kemudian menepuk jidatnya. "Benar juga, Isdernus itu nama karakter di game ini. Kesatrian Arthur, Isdernus itu artinya Kesatria Arthur, 12 Kesatria Arthur."


Bian berpikir sejenak. Menghubungkan semua petunjuk yang sudah didapatkan.


*Surat kedua


Pertokoan di pusat kota


Isdernus, 12 Kesatria Arthur dalam game*


***


"Eh Bian?" Lista terkejut mendapati orang yang memencet bel rumahnya malam-malam adalah Bian. Padahal sepertinya tidak lama tadi mereka masih bertemu.


Daun pintu terbuka, wajah gelisah Bian sekarang jelas terlihat.


"Ada apa Bian?" tanya Lista heran.


"Aku, aku menemukan petunjuk lain. Isdernus, itu karakter di game milik Ian."


Lista menutup mulutnya yang hendak berteriak girang. Tidak percaya secepat ini akan bisa menemukan kejelasan dari teka-teki dalam surat Ian padanya. Dia lantas menarik tangan Bian masuk, menutup pintu rumahnya keras. Lista mengajak Bian duduk di ruang tamu, memintanya menjelaskan lebih rinci petunjuk yang Bian maksud. Kesedihannya seharian tadi seakan menguap. Suasana hatinya seakan berubah seratus delapan puluh derajat. Begitu antusias dengan apa yang akan dijelaskan Bian.


"Jadi, petunjuk apa, Bian?" Lista bertanya, langsung ke inti.


"Sudah aku bilang, Isdernus itu nama karakter di game PC milik Ian."


"Karakter game?" Dahi Lista terlipat.


Bian mengangguk, "Isdernus itu karakter game yang di komputer milik Ian. Memang sudah tidak terkenal seperti dulu, tapi kami masih sering memaikannya."


Lista menelan ludah, rasanya sudah seperti selangkah lagi dengan apa yang dia cari. "Kalau begitu di mana kemungkinan surat kedua, Bian?"