
Sarapan pagi tadi berakhir dengan hening. Lista tidak berselera untuk bicara lagi, membahas tentang surat dan teka-teki di dalamnya. Tempat dalam hati Lista yang masih belum menerima kepergian Ian bergejolak lagi. Rautnya kembali suram. Tante Mirna sempat bertanya tapi dia bilang bahwa dia tidak apa-apa lantas beranjak dari meja makan setelah makanannya tandas. Mengucap terimakasih atas sarapannya kemudian kembali ke rumahnya.
"Sepertinya barusan dia tidak seperti itu, masih bersemangat." Tante Mirna berkomentar, heran dengan perubahan suasanan hati Lista.
Bian yang mengetahui alasannya hanya diam tidak menjelaskan, melanjutkan sarapannya. Dia tadi tidak menyangka Lista akan seperti itu setelah dia mengacak rambut Lista. Bian tidak tahu bahwa itu akan mengingatkan Lista akan Ian. Padahal keadaan Lista sudah lebih baik daripada kemarin saat di pemakaman.
Hingga malam menyergap, Lista tidak terlihat batang hidungnya. Bian melihat ke luar jendela, memandang rumah Lista yang ada di sebelah. Gelap, lampu rumahnya belum dinyalakan. Bian menghela napas khawatir.
Bian kemudian turun dari lantai dua, menuju ruang makan. Makan malam sudah disiapkan oleh Tante Mirna. Sudah sejak tadi Tante Mirna meneriakinya untuk bergegas turun.
"Tante?" panggil Bian, tantenya sejenak melamun. Membiarkan makan malamnya mendingin.
Tante Mirna tersentak, kaget. "Eh, iya Bian?"
"Dimakan makanannya. Tante memikirkan apa?"
"Lista. Lampu rumahnya belum juga menyala. Apa dia baik-baik saja. Atau sedang keluar?"
"Aku juga tidak tahu."
Tantenya mengerutkan dahi. "Bian, nanti bawakan makan malam untuk Lista. Aku selalu khawatir padanya, dia itu sendiri di rumah. Kalau ada apa-apa, tidak ada siapa pun yang mencarinya."
"Orang tuannya ke mana, Tante?"
"Aku tidak tahu ayahnya, yang aku tahu ibunya sibuk kerja dan hanya pulang sebulan sekali."
Tangan Bian berhenti menyuapi mulutnya. "Sebulan sekali?"
Tante Mirna mengangguk sambil memakan telur dadarnya. "Ya, biasanya tengah bulan. Tapi hanya sehari. Dan pergi berangkat lagi. Entah apa pekerjaan ibunya itu hingga jarang sekali pulang. Jadinya dia menitipkan anaknya pada Tante."
"Karena itu ya Tante sangat dekat dengan Lista. Ian juga sepertinya dekat dengannya."
Tante Mirna sekali lagi mengangguk. "Kalau lihat Lista, Tante jadi serasa punya anak perempuan." Tante Mirna kemudian memandang Bian yang tengah memakan potongan telur dadarnya. "Kalau lihat Bian juga, rasanya anak Tante ada dua. Bian sama Ian. Eh, ngomong-ngomong nama panggilan kalian itu hampir mirip."
"Aku kalau di sekolah itu dipanggil Aldi, Tante. Ian saja yang suka panggil Bian. Tante, Ibu, sama Ayah jadi ikutan. Ditambah lagi Lista," jelas Bian. Dia sedikit menggerutu, sebenarnya tidak terlalu suka dengan panggilan itu.
"Kalau gak teliti bisa salah dengar ya. Bian, Ian... Beda 'B' saja."
Bian sontak mengiyakan dengan keras. "Nah Iya itu, Tante. Aku sama Ian sering sekali salah dengar. Panggil Ian, yang datang malah aku. Atau sebaliknya, panggil aku yang datang malah Ian. Itu kan ngeselin." Bian mendesah kesal, mengingat beberapa kejadian salah dengar itu.
Tante Mirna tertawa kecil, dia juga pernah mengalaminya ketika memanggil mereka.
Bian keluar rumah dengan kotak berisi makanan hangat menuju rumah Lista. Dia bertanya-tanya dalam langkahnya. Yang sangat tidak bisa kuat menghadapi kepergian Ian sepertinya bukan Tante Mirna, melainkan Lista. Tante Mirna tadi sudah bisa tertawa lagi. Berbeda dengan malam sebelumnya, dia masih menangis, terisak di dalam kamar, bangun dengan mata sembab. Wajah Tante Mirna sudah perlahan cerah saat makan malam tadi. Saat membicarakan Ian juga, Tante Mirna tidak nampak begitu sedih lagi. Namun di sisi lain, sebenarnya Bian juga tahu, menyembuhkan rasa duka itu tidak mungkin secepa ini. Tantenya pasti sekarang sedang berusaha keras.
Sedangkan Lista.
"Pasti butuh waktu lama baginya," gumam Bian. Dia ada di depan rumah Lista.
Ini kali kedua Bian memencet bel rumah Lista. Kali kedua juga tidak ada jawaban dari dalam. Yang dia dapat hanya kesunyian dari dalam. Lampu rumah Lista juga belum dinyalakan.
"Lista, kau di dalam?" Bian mencoba berseru memanggil. Kali saja Lista di dalam tertidur dan lupa menyalakan lampu rumah.
Bian menghela napas panjang. Mengeluh dalam hati. Sekali lagi, sepertinya Lista tidak ada di rumahnya. Tidak ada jawaban dari dalam, sunyi. Hanya suara burung hantu ber-huhu dan jangkrik mengerik yang dia dengar. Kali ini beda dari kemarin. Setidaknya kemarin dia tahu kemana harus mencari Lista. Tapi sekarang, dia tidak tahu lagi harus ke mana untuk mencari Lista.
"Atau barangkali dia pergi ke rumah temannya?" Bian mencoba memikirkan alasan lain.
Beberapa saat, dia kembali mengeluh dalam hati. Mencoba mempertimbangkan alasan lain Lista tidak ada di rumah. Ketika menunggu terlalu lama, akhirnya Bian memutuskan untuk kembali. Hendak memberi tahu tantenya, Lista tidak ada di rumahnya. Namun, baru saja dia berbalik, dia mendapati Lista berjalan masuk ke halaman.
"Lista, dari mana saja kamu sampai malam baru—"
"Aku tadi cari angin," sela Lista. Dia melewati Bian dengan tidak peduli. Membuka pintu yang tidak dikunci. Bian memaki dalam hati, anak ini meninggalkan rumah kosong tanpa dikunci? Dan apa katanya, cari angin? Dari pagi hingga malam, yang benar saja.
Bian yang tidak begitu dihiraukan Lista jadi kesal, kemudian menarik tangan Lista. "Hei, Tante Mirna dari tadi khawatir pada—" Mulut Bian langsung tercekat melihat mata Lista yang sembap. Seharian tadi, jika saja Bian tahu, Lista menangis di bawah pohon bedaru, dekat dengan rumah mereka. Pohon besar dengan kepalanya yang lebat oleh daun, pohon dengan udara yang begitu sejuk membelai kulit. "Lista," Bian kelu, tidak tau harus berbicara apa pada Lista.
Sebelumnya, Lista kira sudah lebih baik perasaannya ketika pagi menjelang, berdiskusi dengan Bian dan Tante Mirna tentang teka-teki juga sedikit banyak memberinya semangat. Tapi usahanya seakan musnah habis ketika sebuah tangan memyentuh dan mengacak rambutnya, membuyarkan pikirannya yang tengah berfokus dengan pemecahan teka-teki.
Lista sangat mengerti, Bian tidak bermaksud apapun dengan itu. Namun sayang, hatinya itu rapuh dan kenangan dengan kejam kembali menikamnya. Ian yang biasa menjahilinya dengan mengacak rambut, Ian yang menggodanya karena rambutnya jadi berantakan. Suara Ian, senyumnya, tawa jahilnya seakan hadir dan menyiksa hatinya lagi. Semua itu sekarang hanya tersisa di masa lalu.
Lista kemudian menangis lagi. Perasaanya sama sekali tidak bisa tegar, bahkan untuk sekedar berpura-pura kuat di depan Bian. Dia berusaha mengusap air matanya, tapi alirannya tidak mau berhenti. "Maaf, maaf Bian. Aku begitu lemah, aku terus saja menangis bahkan pada hal yang remeh seperti tadi pagi. Dan terus saja menunjukkan sisi lemahku ini padamu. Kemarin di pemakaman, dan hari ini." Lista terus mengusap matanya yang semakin memerah. Dia berusaha untuk berhenti menangis.
Bian terdiam memandang Lista. Tangannya yang hendak menepuk kepala Lista, menenangkan. Tapi kemudian dia tarik lagi. Sudah cukup tadi pagi, dia tidak ingin Lista teringat Ian dan menangis lagi.
Bian lantas ingat masih membawa makan malam yang diberikan Tante Mirna untuk Lista. "Ehmm, Lista. Ini dari Tante Mirna. Kau pasti belum makan malam," kata Bian sambil menyodorkan makan malam yang dia bawa.
Lista menarik napas panjang, mencoba tenang, kemudian menerima pemberian itu. Berterimakasih.
Bian kemudian undur diri, berjalan pergi. Beberapa saat dia berbalik menoleh sebentar pada Lista yang masih berdiri di depan pintu. Lista memandang heran. "Cukup hati saja yang sakit, Lista. Jangan badan. Selamat makan." Kemudian Bian kembali mengambil langkah, pulang.
Lista melihat punggung Bian yang semakin jauh. Matanya membesar mendengar perkataan Bian barusan. Dia menyeka hidungnya, kemudian tersenyum simpul. Itu senyum pertamanya setelah menangis seharian.
"Iya, terimakasih."