Last Game

Last Game
Hanya untuk Lista, Tidak untuk Bian



"Maaf Lista, aku tidak—"


"Sudahlah, tidak apa-apa," ucap Lista berusaha seperti 'itu bukan masalah berarti', yang sebenarnya adalah dia sangat malu tau kalau Bian melihat semuanya, mendengar semuannya. Wajahnya masih sedikit panas. Tapi, pikirannya segera dengan kejam mengingatkan tentang kenyataan pahit lagi. Ian sekarang sudah tidak ada. Bukankah berarti perasaan itu sudah tidak berarti lagi. Perlahan raut Lista menjadi datar, rasa padas wajahnya jadi mendingin, ada ngilu yang dia rasakan dalam hatinya. Ian telah pergi, yang tersisa dari perasaan itu, hanya kesia-siaan.


"Lagi pula, bukankah Ian sudah pergi. Perasaan ini, tidak berarti apa-apa." Suasana sendu jadi mengusai ruang tamu itu. Wajah Lista yang menunduk itu membuat Bian terdiam, tidak tau harus berkata apa.


"Bukankah kita sedang membahas tentang surat itu. Mari kembali, buang suasana sedih ini." Lista berusaha mengalihkan pembicaraan. Memasang paksa senyum. Tapi Bian malah semakin tidak sampai hati melihat Lista yang berpura-pura kuat.


"Sampai kelulusan aku tidak tau siapa yang dia suka." Lista berbicara lagi, masih mencoba mencairkan suasana. "Dia itu kurang ekspresif dengan perasaanya. Pintar sekali menyembunyikan."


Bian terkekeh. Sendu tadi sudah perlahan hilang. "Ian memang pandai merahasiakan sesuatu. Dan apa yang dia minta sebagai imbalan kemenangannya?"


"Mungkin maksud dari 'Aku pemenangnya' itu tentang dia memenangkan permainan yang kami lakukan. Dia belum bilang permintaanya, tapi mungkin..." Lista mengambil surat kusut itu, membaca lagi kalimat terakhirnya, kemudian menunjuk 4 kata terakhir pada surat. "Dia mungkin minta aku mencari surat yang kedua. Bukankah tertulis 'maka carilah yang kedua? Sebuah permainan baru untukku. The New Game"


Bian mengusap dahinya. Berpikir. Itu masuk akal.Bagaimana pun, tanpa tau perkiraan Lista benar atau tidak, setidaknya mereka mendapat kemungkinan yang bisa menjelaskan isi surat. Meski tidak semuanya.


Pupil coklat terang Bian kemudian bergerak, melirik kalimat pertama dalam surat.


"Lantas, apa makna 'Isdernus 12, 65192' ini?"


***


Matahari sudah beranjak dari kaki langit. Bian bersitatap dengan bulan. Malam ini, Bulan tengah segan memunculkan seluruh tubuhnya, bintang tanpa ragu bersebaran mengelilinginya. Rambut lurus Bian itu tampak berkilau dengan sinar cahaya malam, kadang angin sempat mengibasnya pelan. Tubuh Bian memang seperti di sana, duduk termangu di bingkai jendela kamar. Tapi pikirannya sudah melayang ke mana-mana.


Pertanyaan terakhir ketika di rumah Lista, belum juga mendapatkan kemungkinan jawaban. Ah bukan, lebih tepatnya mereka bisa memperkirakan walau hanya secuil dari keseluruhan.


Isdernus 12, 65192, mungkin saja petunjuk dimana surat ke dua.


Bian mendesah pelan, tidak ada ide untuk bisa menjelaskan lebih banyak. Dia kira, Lista akan punya petunjuk berhubung dia adalah si penerima surat. Tapi itu tidak membantu. Ini permainan untuknya, mungkin Lista harus mencari tahu sendiri.


Permainan untuk Lista?


Mata coklat terang itu membesar, wajahnya mengaggantungkan raut heran. Bian mulai bertanya pada dirinya sendiri.


Bukankah surat itu ditujukan untuk Lista? Kenapa aku begitu ingin tau?


Bian menurunkan kakinnya dari bingkai jendela, beralih duduk membelakangi pemandangan langit malam. Tepekur menatap lantai kayu kamar. Angin masih saja membelai lembut rambut lurusnya, jendela terbuka itu memberikan akses bebas untuk angin masuk. Kepalanya sekarang menanyai hatinya. Bukankah sudah cukup baginya hanya memberikan surat kepada pemiliknya. Kenapa dia juga ikut mencari tau. Berusaha memikirkan segala hal yang bisa mengisi lubang tanya yang ada dalam surat itu. Permainan yang Ian buat, hanya ditujukan untuk teman perempuannya, Lista. Bian tidak ada hubungannya sama sekali. Dia tidak semestinya ikut campur dengan urusan mereka.


Bian kemudian menggeleng keras. Sudah cukup. Tidak baik baginya mengetahui urusan pribadi orang lain.


"Apa Ian hanya meninggalkan surat untuk Lista saja?"


Pintu kamar pelan di dorong dari luar ketika Bian melamunkan banyak hal. Ibu Bian terlihat mengintip dari daun pintu, memastikan apakah anaknya sudah atau belum beranjak tidur. Seulas senyum terpasang ketika matanya menemukan anak laki-lakinya duduk di bingkai jendela, belum tidur rupanya.


"Tidak tidur Bian?"


Bian menggeleng pelan, "Belum mengantuk Ibu."


Ibunya lantas berjalan masuk. Duduk di tempat tidur. Menatap anaknya yang menunggunya berbicara. Bian tau, kalau ibunya datang tiba-tiba di waktu malam, itu karena ingin berbicara hal penting dengan dirinya.


"Pasti sulit bagimu kehilangan Ian yang sudah seperti kakakmu sendiri." Kalimat pembuka ibu Bian sudah mengiring suasana dukacita kembali menguasai.


Bian tidak langsung membalas. Itu benar, baginya Ian adalah kakak meski pada dasarnya mereka hanya berbeda beberapa bulan. Keduanya tumbuh bersama, tidak heran mereka sudah layaknya saudara kandung. Hingga Bian pindah ke luar kota, mereka masih berhubungan baik. Setiap liburan, Bian selalu menyempatkan untuk berkunjung ke rumah Ian. Dan lagi, kejadian di masa sekolah menengah pertama. Ian yang berdiri langsung membelanya, tidak akan pernah terlepas dari ingatannya.


"Ya," Bian menjawab singkat, tidak terlalu bersemangat. Helaan napasnya begitu berat.


Ibunya kemudian mengelus lembut kepalanya. Ibunya pun sama, seperti sudah kehilangan salah satu anaknya. Tiap kali melihat Bian dan Ian, dia serasa memiliki dua orang putra. Saat ini, tidak ada siapapun di rumah itu yang tidak dirudung rasa sedih. Semuanya pastilah merasa kehilangan. Ian memiliki tempat di masing-masing hati mereka.


Ian begitu berharga bagi mereka.


"Masih sulit untuk menerima kenyataan. Tapi kita harus terbiasa dengan ini,Bian." Ibu Bian terdiam sesaat, mendesah pelan, dan kemudian menatap anaknya itu dengan penuh harap. "Ini memang sulit, apalagi untuk tantemu. Karena itu, bisakah Bian tinggal sebentar di sini menemani tantemu yang sendirian."


Bian mendongak, menatap balas dengan kebingungan. Ibu Bian sudah berada di inti pembicaraannya. Bian tau, pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakan ibunya itu, tapi tetap saja itu tidak terduga baginya.


Ibunya itu menjelaskan perlahan, "Ibu dan Ayah tidak tega dengan tantemu yang sekarang sendirian, Bian. Dan akhirnya memutuskan untuk kembali tinggal di kota ini. Tapi butuh waktu untuk mengurus semua itu, belum lagi tentang pekerjaan Ibu dan Ayahmu juga. Ibu minta tetaplah di sini. Untuk menemani tantemu, hingga segala urusan selesai. Dan mengenai perguruan tinggimu nanti, Ibu—"


"Tidak usah khawatir Ibu, aku mungkin akan memilih perguruan tinggi di sini sekalian. Jadi, Ibu tidak perlu repot mengurus tempat tinggalku nanti selama berkuliah, aku akan ikut kalian pindah ke sini." Dengan cepat Bian menjawab, memutuskan tanpa berpikir panjang.


Senyum lembut terlukis di wajah ibunya. "Baiklah jika itu pilihanmu, Bian. Besok Ibu segera mengurus semuanya dengan Ayah. Mungkin akan lama, tapi tunggulah sampai kami kembali. Jaga Tante Mirna ya."


Malam itu, Bian menyumpahi dirinya sendiri. Beberapa saat yang lalu, Bian baru saja mencegah diri sendiri untuk ikut campur dan mencari tau urusan orang lain. Namun, mendengar orang tuannya yang memilih pindah lagi, kembali ke kota kelahiran. Malah membuat hatinya berbalik, mengelak.


Ada rasa ganjal yang tidak ingin membuatnya pergi. Dia ingin lebih tau lagi tentang surat itu, dia ingin tau apakah ada surat dari Ian untukknya.


Di bawah bingkai jendela, kakinya yang terayun di lantai dua, matanya yang sekali lagi bersitatap berani dengan bulan. Bian, menghabiskan malam dengan hanyut dalam lamunan.