
Sebulan sudah Anggita tinggal bersama Rania, Bima dan anak-anaknya. Rania tak terlalu banyak bicara. Ia mengerjakan apa yang sudah menjadi rutinitasnya. Anggita awalnya agak susah menyesuaikan diri. Ia tak nyaman dengan tatapan Ardan yang secara jelas menggambarkan ketidaksukaannya pada Anggita.
Rania hanya bicara seperlunya saja. Ia mengerjakan semuanya tanpa mengeluh sampai-sampai Anggita merasa tak enak hati. Ia sehari-hari hanya membersihkan kamarnya. Memasak adalah pekerjaan favorit Rania. Bahkan mencuci pun dikerjakan Rania. Anggita tak mendapatkan porsi pekerjaan rumah. Ia merasa bahwa Rania sedang menunjukkan wilayah kekuasaannya. Seolah Rania ingin mengatakan bahwa seluruh rumah ini adalah miliknya dan Anggita hanya sebagian kecil di rumah ini.
Suatu kali, di hari Minggu, Rania sedang menghidangkan kopi hitam favorit Bima, saat Anggita keluar dari kamarnya. Muka bantalnya menunjukkan bahwa ia baru saja bangun tidur. Rania hanya meliriknya saja. Sedangkan Bima menatapnya tak suka. Anggita duduk di samping Bima.
"Kamu mau kopi atau teh?," tanya Rania datar.
"Teh aja," jawab Anggita tak merasa bersalah. Rania berlalu dan memanaskan air. Bima meletakkan gelasnya dengan setengah membantingnya, membuat Anggita dan Rania sedikit terkejut. Bima menatap Anggita tak suka. Jelas sekali di wajahnya ada amarah. Anggita tak mengerti mengapa Bima menatapnya seperti itu. Ia tak merasa melakukan kesalahan.
"Apa?," tanyanya setengah berbisik. Bima mencekal tangannya dengan kasar dan menariknya menuju kamarnya. Anggita merasa kesakitan. Ia meronta namun tak bisa melepaskan diri dari cengkeraman tangan Bima. Rania hanya melirik dengan ujung matanya tanpa bergeming sama sekali.
BRAK
Bima menutup pintu kamar dengan membantingnya keras. Anggita masih meronta kesakitan. Dilepaskannya tangan Anggita dengan setengah melemparnya.
"Apa-apaan sih kamu, Yang? Sakit tahu!," seru Anggita kesakitan sambil memegang pergelangan tangannya. Mata Bima penuh emosi.
"Kamu ini perempuan macam apa? Ini jam berapa kamu baru bangun? Ingat, Nggi! Kamu sudah menikah! Lakukan apa yang jadi tanggung jawabmu sebagai istri!," seru Bima. Anggita melirik Bima dengan takut. Bima ketika marah sangat menakutkan.
"Tanggung jawab apa lagi? Semua udah dikerjakan Rania! Rumah ini semua kekuasaanya! Aku bahkan tak bisa memasak apa yang ingin kumakan," jawab Anggita tak mau kalah meninggi. Bima menghela napas menahan amarahnya.
"Nggi, kamu bisa tawarkan bantuanmu ke Rania. Jangan biarkan dia yang mengurus semuanya sendiri. Bukan hanya karena dia akan sangat lelah, tetapi juga aku ingin menunjukkan bahwa kamu adalah pilihanku yang baik," kata Bima melemahkan suaranya. Anggita terdiam. Ia membenarkan perkataan Bima barusan. "Cobalah berbicara dengan Rania. Jangan menunggunya memulai. Dia lebih tua darimu dan kita memang salah padanya. Wajar dia mungkin masih sakit hati. Cobalah posisikan dirimu di posisinya," sambung Bima lagi.
Anggita terdiam tertunduk sambil memegangi tangannya. Bima mendekat padanya dan memeluknya. Ia mencium kepala Anggita. Anggita menengadah dan menatap Bima. Bima tersenyum melihat tatapan Anggita. Anggita pun tersenyum meskipun sedikit terpaksa.
"Oke, sekarang kita sarapan bersama. Rania sudah buatin sarapan untuk kita semua," kata Bima. Anggita mengangguk senyum. "Besok-besok kamu bisa bangun lebih pagi untuk membuat sarapan untuk kita semua. Tunjukkan sama Rania bahwa kamu juga bisa jadi istri dan saudari yang baik baginya," kata Bima membimbing Anggita menuju ruang makan.
Sarapan kali ini berlangsung tanpa ada insiden apapun. Setelah selesai sarapan, Rania membereskan piring yang ada di meja. Bima memberikan isyarat kepada Anggita agar membantu Rania. Anggita pun beranjak dari kursinya.
"Mbak, biarin aja aku yang cuci piringnya," kata Anggita dengan lembut. Rania mengangguk senyum dan menyerahkan pekerjaannya pada Anggita. Rania pun duduk di meja makan dan mulai meneguk kopinya. Bima menatapnya kagum.
"Yang, biarin Anggita membantumu. Jangan kamu ambil semua kerjaan sendiri. Kan dengan gitu kamu juga punya me time lebih banyak," kata Bima dengan memegang tangan Rania. Rania menghela napas. Perkataan Bima ada benarnya. "Dia masih muda, belum pernah berumah tangga, jadi ajarin dia untuk jadi istri yang baik seperti kamu. Walaupun gak akan sesempurna kamu," rayu Bima. Ia menyentuh pipi wanita kesayangannya itu. Rania mengangguk senyum lagi. Hanya itu yang bisa lakukan. Toh, ia tidak bisa mengusir perempuan yang sudah dinikahi sah oleh suaminya itu. Biarlah jadi ladang pahalaku, batinnya.
Anggita sudah mulai membantu Rania. Rania juga sebenarnya merasa terbantu dengan hadirnya Anggita. Ia bisa lebih fokus dengan anak-anaknya. Hanya saja keduanya belum bisa mengendalikan rasa cemburu mereka. Saat Bima bersama Rania, Anggita akan merajuk pada gilirannya. Sedangkan, Rania merasa Bima terlalu banyak bersama Anggita. Bima sempat kewalahan, tetapi pada akhirnya mereka pun menerima satu sama lain.
Rania juga sudah mulai berbicara pada Anggita. Ia memberitahu bagaimana cara membuat kue kesukaan Bima. Bahkan cara menggunakan mesin cuci. Awalnya Anggita sedikit gengsi untuk meminta bantuan Rania menggunakan mesin cuci. Ia sama sekali tidak pernah mencuci bajunya sendiri. Ia selama ini selalu menggunakan jasa laundry.
"Kenapa, Nggi?," tanya Rania mendekati Anggita yang kebingungan melihat mesin cuci di hadapannya itu. Rania pun mengerti melihat ekspresi bingungnya Anggita.
"Kayaknya rusak mesinnya, Mbak. Ini nggak mau nyala," jawab Anggita masih dengan kebingungannya. Rania tersenyum. Ia kini paham, ia sedang menghadapi gadis yang tak pernah menyentuh pekerjaan rumah tangga sama sekali.
"Ini nggak rusak. Ini sudah aku set untuk merendam dulu selama 15 menit. Entar abis itu juga muter sendiri," kata Rania. Anggita menatapnya dengan melongo. Rania meninggalkannya dengan senyuman geli. Ia merasa seperti sedang menghadapi adiknya sendiri.
Di lain kesempatan, Anggita mencoba membuat sarapan untuk seisi rumah. Ia sudah bangun pagi sekali. Membuka youtube untuk melihat cara memasak nasi goreng. Karena Bima sedang bersama Rania, ia bisa bangun lebih pagi. Ketika seisi rumah bangun, mereka sedikit terkejut melihat sarapan sudah terhidang di meja. Nasi goreng biasa tanpa telur. Dari baunya terlihat menggoda.
"Makasih, Nggi," bisik Rania. Ia berterima kasih karena Anggita membantu pekerjaannya hari ini. Anggita tersenyum bangga. Mata Rania tertuju pada kulit telur dan benda hitam di tempat sampah. Ia mengernyitkan dahinya mencoba melihat benda apa itu. Anggita nyengir melihat Rania.
"Maaf, Mbak. Telurnya gosong," bisik Anggita. Rania hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia menghela napas dan mengambil alih untuk membuatkan telur. Rania memperlihatkan cara membuat telur goreng kepada Anggita. Begitu selesai, mereka semua bersiap sarapan. Namun, begitu suapan pertama masuk ke mulut mereka, mereka memuntahkannya kembali kecuali Rania. Rania menikmati makanannya. Bima menatapnya takjub.
"Nasi goreng apa ini? Asin!," seru Ardan mendorong piringnya ke depan. Husna pun melakukan apa yang dilakukan kakaknya. Rania menatap tajam ke arah Ardan dan Husna. Mereka memilih meninggalkan meja makan. Sedangkan Bima terpaku pada piringnya. Ia sadar telah melukai perasaan Anggita. Ia bahkan tak bisa berbohong saat mencicipi makanan itu. Ia terus menatap Rania yang memakan nasi goreng itu seolah tak ada yang salah. Bahkan meskipun mungkin Rania sakit hati, ia tetap menghargai apa yang Anggita sudah berikan padanya.
"Mbak, jangan dimakan. Aku tahu itu nggak enak," kata Anggita mencegah tangan Rania menyuapkan nasi goreng itu ke mulutnya. Rania menoleh ke arah Anggita. Ia bisa melihat air mata wanita itu sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Udah, gapapa, Nggi. Kamu sudah capek-capek bangun pagi, buatin ini. Bagiku ini tetap enak untuk dimakan. Namanya nikmat yang sudah ada di depan mata harus disyukuri, Nggi," jawab Rania. Bima sedikit tersindir dengan kata-kata Rania. Ia pun meninggalkan meja makan dengan gusar. Rania menatap kepergiannya dengan datar. Berbeda dengan Anggita yang menatap kepergian Bima dengan perasaan kesal. Ia kesal karena Bima pergi begitu saja.
"Maafin Ardan dan Husna tadi. Jangan tersinggung," kata Rania kemudian. Anggita mengangguk. Ia dan Rania memang sudah mulai beradaptasi satu sama lain. Mereka mulai beradaptasi hati mereka untuk berbagi.
"Nggak apa-apa, Mbak. Aku harus bisa menyesuaikan diri dengan rumah ini. Aku yang harus bisa beradaptasi dengan kalian," kata Anggita. Rania tersenyum kecut. Beradaptasi? Ya! Mereka semua juga harus beradaptasi dengan kedatangan Anggita yang tiba-tiba muncul di rumah mereka. Mereka juga harus mulai rela berbagi Bima dengan Anggita. Mungkin suatu saat nanti dengan anak-anak Anggita juga. Rania menghela napas panjang. Dalam hati ia hanya berdo'a agar suaminya diberikan kesehatan dan kekuatan. Dan ia berdo'a agar diberikan kelapangan dada dan keikhlasan menerima kenyataan ini.
🍁🍁🍁