La Tahzan

La Tahzan
IRI ATAU MASIH CINTA?



Hari terus berganti. Rania terus menyibukkan dirinya dengan mengurus beberapa hal untuk pembukaan toko kue miliknya. Toko itu tak terlalu besar tetapi cukup manis terlihat. Di dalamnya juga ada mini cafe agar customer yang datang bisa sekaligus mencicipi kopi dan teh disana. Toko itu diberi nama 'Mommy Cake' dan berada di Tunjungan Plaza, Surabaya. Hari ini adalah grand openingnya.


Saat sedang sibuk berbincang dengan salah satu customernya, Rania melihat dua orang yang sangat dikenalnya, tetapi tak ingin dilihatnya. Bima dan Anggita. Badan Anggita tampak lebih besar dengan kehamilannya. Mereka berjalan bergandengan tangan menyusuri mall itu sembari membawa beberapa tas belanja.


Tanpa Rania duga, mereka ternyata masuk ke dalam tokonya. Mungkin tertarik dengan diskon yang sedang berlangsung. Hati Rania bimbang untuk menyambut mereka. Ia diam terpaku melihat kemesraan keduanya. Hal yang jarang Bima lakukan padanya dulu.


"Raniaaaaaaaaaa," sebuah suara mengagetkan Rania yang sedang berdiri di antara customernya. Rania menoleh. Gina dan Abdul datang juga. Mereka tak berdua saja. Mereka mengajak Lutfi juga. Begitu sudah dihadapan Rania, Gina memeluknya erat.


"Congrats ya, Beb! Sukses dang for ngana!," ucap Gina dengan bahasa Manadonya yang kental. Rania mengangguk dan tertawa kecil. Melihat Lutfi, Rania sedikit kikuk. Ia ingat ketika terakhir kalinya membuat kegaduhan di kantor Lutfi dan tak pernah muncul lagi disana bahkan untuk sekedar berpamitan.


"Pak Lutfi? Apa kabar, Pak?," sapa Rania kikuk. Lutfi tersenyum lebar. Ia tahu apa yang dirasakan perempuan di depannya itu.


"Duh, kamu bukan karyawan saya lagi. Jangan panggil pak! Saya jadi kelihatan tua nanti!," jawab Lutfi dengan bercanda. Rania tertawa. Manis sekali. Tawa yang belum pernah Lutfi lihat.


"Hai!," sapa seseorang dari belakang Rania. Rania menoleh. Dilihatnya Bima dan Anggita sudah berdiri disana. Anggita mengeratkan dekapan tangannya saat bertatapan dengan Rania. Rania tersenyum. Ia memperlihatkan senyum terbaiknya, termanis dan terbahagianya. Ia tak mau mereka melihat lukanya.


"Oh, Bima? Anggita? Kalian disini juga?," seru Rania seolah-olah baru tahu mereka datang. Bima tersenyum tipis. Ia tahu Rania sedang berakting bahagia.


"Jadi ini tokomu?," tanya Bima kemudian sambil mengamati sekelilingnya. Rania mengangguk tanpa mengurangi senyumnya.


"Hebat kamu! Tabunganmu sampai bisa bikin toko di mall begini," kata Bima. Kata-kata itu lebih terdengar seperti sebuah sindiran bagi Rania. Abdul, Gina dan Lutfi mengernyitkan dahi mereka tanda tak suka dengan cara bicara Bima.


"Makasih, Bim! Yah, namanya juga perempuan. Harus pintar atur duitnya kalau mau sukses," jawab Rania mengedikkan bahunya sembari menyunggingkan senyum bangga. Anggita mengernyitkan dahinya. Kini, ia benar-benar merasa seperti sedang disindir. Sedangkan Bima terdiam mendengar jawaban Rania. Ia memandangi Rania tak suka. Ia sedikit mendengus kesal.


"Sayangnya kamu salah, Bim! Tabunganku dari nafkahmu masih utuh. Toko ini hadiah dari orang tuaku," imbuh Rania. Kali ini wajahnya memperlihatkan ekspresi serius. Ekspresi yang sukses membuat Bima diam tak berkutik. Jawaban Rania seolah memberi pernyataan bahwa ia adalah seorang suami yang kurang peduli dan perhitungan dengan istri dan anak-anaknya.


Bima menatap sekelilingnya, kepada Abdul, Gina dan Lutfi. Malu rasanya dipandangi seperti itu. Mereka memandang seolah-olah ini memang salahnya. Sekali lagi ia mendengus kesal. Tiba-tiba ia menarik tangan Anggita dan mengajaknya pergi dari sana disaksikan mata dari orang-orang yang ditinggalkannya itu. Mereka pergi tanpa menoleh lagi. Rania menghela napas seolah habis dihimpit beban yang berat.


"Good job, Nia," bisik Gina di telinga Rania. Rania terhenyak. Ia tersenyum pada sahabatnya itu. Senyum yang sedikit dipaksakan.


"Eh, sampai lupa! Ayo sini duduk! Kalian mau pesan apa?," tanya Rania. Roman wajahnya kembali ceria.


"Yang the best dari cafe kamu," jawab Gina cepat. Rania pun mengangguk senyum. Ia pun beranjak dari tempat duduknya dan memesan beberapa menu kepada karyawannya.


Sejenak ia termenung dengan apa yang baru saja terjadi. Ia tak mengerti kenapa Bima melakukan itu padanya. Seolah-olah, Bima ingin menjatuhkan dia di depan sahabat-sahabatnya. Seolah Bima ingin menunjukkan bahwa dari Bimalah semua yang ia raih sekarang. Atau mungkin, Bima hanya ingin menjaga wibawanya di hadapan Anggita dan teman-teman yang lain. Tetapi, bagi Rania itu semua sangat keterlaluan, karena kini mereka sudah tak bersama lagi. Keputusan pengadilan pun, Bima wajib menafkahi anak-anaknya dan ia tak meminta itu. Ia tak mau membuka celah bagi Bima untuk dapat menyakitinya lagi. Tidak! Karena luka yang kemarin sudah sangat sakit. Rania pun menghela napas panjang. Ini tak akan mudah untuk move on baginya.


 


🍁🍁🍁


 


Bima meletakkan botol air dingin itu di meja dapur dengan setengah dibanting. Napasnya terengah-engah seolah habis berlari puluhan kilometer. Anggita mengusap punggungnya perlahan berusaha menenangkannya. Mereka tidak bicara sejak pulang dari mall tadi. Bima juga menyetir dengan penuh amarah.


"Kamu lihat kan tadi? Dia sombong sekali sekarang," suara Bima terdengar gusar. Anggita memilih diam tak menjawabnya.


"Sudah! Sabar, Yang," ucap Anggita lembut. Meskipun ia sadar apa yang tadi Bima lakukan salah, tetapi ia memilih diam saat ini. Ia tak mau menambah emosi Bima saat ini.


"Gimana bisa sabar? Harga diriku jatuh di depan mereka. Di depan Lutfi juga! Rania itu enggak bisa membelaku sedikit saja! Menjaga sedikit harga diriku. Dia merasa hebat sekarang padahal semuanya dari orang tuanya. Aku enggak boleh diam saja!," seru Bima bertambah gusar. Anggita mengernyitkan dahinya. Ia tak mengerti jalan pikiran Bima. Rania sudah bukan istrinya lagi, jadi, tidak akan mungkin Rania membelanya apalagi menjaga harga dirinya. Konyol, batin Anggita.


"Terus kamu mau ngapain, Yang? Menurutku dia begitu karena merasa bukan istrimu lagi. Kenapa harus menjaga harga dirimu, Yang?," ujar Anggita kemudian. Bima terdiam dan mendengus kesal.


"Aku juga akan move on. Kita nggak boleh kalah sama Rania. Kapan perusahaannya Mark buka? Aku transfer Angel sekarang!," jawab Bima. Belum sempat Anggita menjawab, ia sudah meraih ponselnya dan mencari aplikasi mobile bankingnya. Ia mentransfer seluruh dana tabungannya ke rekening Angel. Anggita terdiam seribu bahasa. Ia tak bisa berbuat apa-apa saat Bima sedang emosi seperti itu. Semuanya akan dilakukan secara terburu-buru.


"Kamu transfer semuanya, Yang?," tanya Anggita. Bima menatap Anggita. Kini emosi Bima seperti sudah menurun. Itu karena ia sedang merasa puas. Puas karena sebentar lagi ia akan memiliki perusahaan besar.


"Enggak, Sayang. Aku transfer Angel setengahnya aja. Sisanya buat jaga-jaga lahiran," jawab Bima dengan senyumnya. Anggita tersenyum lega. Ia menghela napas panjang. Kemudian dipeluknya Bima dengan penuh kasih sayang.


 


🍁🍁🍁


 


Bima mengejapkan matanya beberapa kali. Di sampingnya, Anggita telah tidur nyenyak dengan memunggunginya. Sejak hamil, Anggita tak suka disentuh olehnya. Pembawaan wanita hamil memang selaku aneh menurut Bima.


Bima memunggungi Anggita dan meraih ponselnya yang terletak di meja. Jam di ponselnya menunjukkan pukul satu dini hari. Tetapi, matanya sulit sekali diajak untuk beristirahat.


Ia teringat insiden tadi siang di toko Rania. Pasti Rania berpikir bahwa ia tadi ingin menjatuhkan Rania di depan sahabat-sahabatnya. Tidak! Bukan itu niat Bima di awal. Ia hanya merasa bahwa Rania benar-benar melangkahinya. Seolah-olah Rania telah mencuri start untuk move on darinya. Tadi siang ia begitu merasa tak terima dengan apa yang dilihatnya. Belum 3 bulan mereka berpisah, tapi Rania seolah sudah lupa akan dirinya.


Rania mendirikan toko tanpa sepengetahuannya. Ia sadar, ia bukan suami Rania lagi. Tetapi, sekedar berkabar, tak bisakah Rania lakukan padanya? Rania sudah move on, tetapi disini kadang ia merindukan keberadaan mantan istrinya itu. Diam-diam rasa sesal itu merayapi hatinya perkara insiden tadi siang. Itu hak Rania memiliki usaha. Ia hanya merasa tak terima karena diabaikan oleh Rania. Ia hanya merasa iri karena mantan istrinya itu move on lebih cepat darinya. Ia merasa harga dirinya jatuh, karena merasa didahului oleh Rania. Dan semua itu bukan salah Rania. Salah hatinya yang tak bisa mengontrol emosinya.


Ia membuka galeri foto ponselnya. Masih tersimpan foto terakhir mereka keluar bersama. Foto itu sengaja ia ambil saat Rania tak memperhatikan kamera. Tampak tatapan matanya tak secerah tadi siang saat ia temui di toko. Tatapan di foto itu mengisyaratkan kesedihan dan kekecewaan. Pikirannya kembali goyah. Ia ingin memeluk Rania. Ia rindu mantan istrinya itu. Sejujurnya, dalam hatinya yang terdalam, ia masih mencintai Rania. Ia masih berharap bisa bersama Rania kembali. Tetapi, ia tak yakin dengan itu semua karena rasa sakit yang ia tanamkan tampaknya terlalu dalam. Ia hanya berdo'a kepada Tuhan agar Rania tak menikah lagi. Sehingga, akan selalu ada kesempatan untuknya kembali. Ia pun memejamkan mata dengan ponsel masih di tangannya.


 


🍁🍁🍁