
Rania sedang menikmati kopinya saat matahari sudah menguning di ufuk barat. Cahayanya nampak indah terlihat menyinari jalanan depan cafe-nya yang ramai laku lalang orang. Ia duduk di sudut cafe, tempat favoritnya untuk menghabiskan sore, menunggu anak-anaknya datang dijemput oleh supir orangtuanya. Sebenarnya kedua anak-anaknya selesai sekolah pada jam dua siang. Tetapi, mereka akan langsung mengikuti pelajaran agama sampai pukul empat.
Rania melihat cahaya kuning matahari itu dengan sebuah senyuman. Senyum penuh rasa syukur atas apa yang dicapainya sekarang. Tiga tahun yang lalu, saat Bima meninggalkannya, adalah saat yang paling hancur dalam hidupnya. Bagaimana tidak? Sepuluh tahun ia menemani Bima dari nol, tetapi akhirnya dibuang hanya untuk seseorang yang baru, lebih muda dan tidak membebaninya. Tiga tahun lalu, semuanya terasa menyedihkan. Bahkan, ia tak tahu apa yang harus ia syukuri.
Sekarang Rania sadar ada banyak hal dalam hidupnya yang harus ia syukuri. Anak-anaknya, orang tuanya, adiknya dan sahabat-sahabatnya. Tiga tahun lalu adalah titik balik hidupnya. Di saat tempatnya bergantung patah, ternyata ia tak sepenuhnya jatuh. Mungkin Allah hanya ingin memberitahunya dan menyeleksi orang-orang yang pantas bersamanya. Ia menyesal, orang yang ia harapkan ada di sisinya, justru menjadi orang yang pertama dieliminasi oleh Allah. Melalui masalah dan cobaan yang diberikan, nyatanya Bima tak sanggup berdiri bersamanya.
Jika ia mengingat masa-masa indah bersama Bima, rasanya ada sesak yang memenuhi dadanya. Sesak yang tak bisa ia jelaskan. Sesak yang membuatnya sakit. Sesak yang tak ingin ia ingat lagi. Untuk bangkit dan melupakan sesak itu, Rania benar-benar harus berjuang sendiri. Dukungan orang-orang terdekatnya adalah semangat tersendiri baginya. Ungkapan "la tahzan innallaha ma'anna" itu memang benar. Fitria adalah ustadzah yang memberi healing therapy melalui ibadah dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Kini, hatinya benar-benar ikhlas. Hatinya hanya dipenuhi oleh Allah dan anak-anaknya. Ia ingin bahagia bersama anak-anak dan orang tuanya.
"Mama..!," panggilan mesra penuh kasih sayang dari buah hatinya, membuyarkan lamunan Rania. Ia melihat Ardan dan Husna berjalan ke arahnya.
"Assalamu'alaikum," sapa seseorang dari belakang anak-anaknya. Arya datang dengan senyuman ramahnya.
"Wa'alaikumsalam. Lho, kok dijemput sama Kak Arya?," tanya Rania heran. Ardan dan Husna senyum-senyum.
"Aku yang minta izin sama Papamu, Nia," jawab Arya.
"Papa?," tanya Rania semakin heran. Ia tak mengerti apa yang Arya katakan. Ia masih belum bisa mencerna kata-kata Arya.
"Iya! Kita kan partner. Jadi, Om Lutfi dan Papamu itu partner dari dulu. Kamu saja yang enggak pernah tahu. Dari jaman Om Lutfi masih jalanin bisnis advertising. Papamu itu klien setianya. Kalau aku, dikenalin Om Lutfi waktu kita buka bisnis baru ini. Papamu kan juga ikut bantu di perusahaan kita. Yah, katanya karena Papamu sama Om Lutfi itu sudah kayak sahabat kepompong," jelas Arya. Rania menatapnya dengan melongo. Tak disangkanya ternyata mereka saling mengenal.
"Oh iya! Maaf, ya? Anak-anak aku ajak makan dulu tadi," kata Arya. Rania tersenyum akhirnya.
"Mana bos kalian?," sebuah suara lantang mengejutkan Rania, Arya, Ardan dan Husna. Mereka serentak menoleh ke arah kasir. Seorang perempuan berambut panjang dan tinggi semampai sedang menatapnya penuh amarah. Anggita. Rania berdiri, dan berjalan ke arah Anggita. Ia berhenti ketika jarak mereka sudah cukup menurut Rania.
"Mau apalagi?," tanya Rania dingin. Anggita tersenyum sinis. Ia melihat Arya yang berdiri di belakang Rania.
"Kamu sudah punya yang baru, tapi masih doyan barang lama?," sergah Anggita dengan sinis. Rania mengerutkan dahinya tanda tak suka.
"Bukankah sudah kubilang. Jangan ganggu kami lagi! Semua uang yang Bima beri, sudah kukembalikan. Kamu bahkan sudah jadi istri Bima satu-satunya. Suami sudah kusedekahkan, uang sudah kukembalikan. Kurang baik apalagi?," tanya Rania tak kalah sinis. Anggita menggigit bibirnya menahan amarahnya. Sedekah? Jadi Bima dianggap sedekah untuknya? Sungguh! Ia tak terima mendengar itu.
"Lalu, kamu sendiri gimana? Suami yang kamu bilang kamu sedekahkan kamu mau ambil lagi?," sergah Anggita dengan suara bergetar menahan emosi. Kini Rania tertawa sinis.
"Sorry, Nggi! Kamu salah! Bima enggak mengajarimu soal sedekah? Apa yang sudah disedekahkan tidak boleh dihitung apalagi diambil kembali," jawab Rania dengan senyumnya sedikit merasa menang. Jujur, ia tak mau berdebat dan bertengkar soal Bima lagi. Capek. Ia sudah bukan siapa-siapa lagi dalam hidup Bima. Ia juga sudah tidak ingin meratapi masa lalunya.
"Tante, tolong jangan ganggu Mama! Tolong pergi dari kami!," seru Ardan yang kini berdiri di sebelah Rania.
"Iya, Mbak. Rania sudah enggak ada hubungan apa-apa lagi dengan Bima. Sebentar lagi kami akan menikah. Daripada mengganggu kebahagiaan kami, lebih baik Mbak nasehati suami Mbak untuk tidak lagi mengusik Rania," kata Arya tegas. Ia menyela diantara Rania dan Anggita, membuat Anggita mundur beberapa langkah. Ia sedikit terkejut dengan pembelaan dari Arya dan Ardan. Apalagi mendengar bahwa Arya dan Rania akan menikah. Ia terdiam. Ia merasa harga dirinya jatuh seketika mendengar bahwa Bima sudah mengganggu kebahagiaan mereka. Seolah-olah sebagai istri, ia tak mampu menjaga suaminya dengan baik. Ia pun tak sanggup menahan emosi dan malu lebih dalam lagi. Ia bergegas pergi dari cafe Rania.
Sepeninggal Anggita, semua yang ada di sana menghela napas lega. Bahkan karyawan-karyawan Rania ikut tegang melihat kedua wanita tersebut saling berhadapan. Rania justru terpaku kepada Arya sekarang. Ia ingin mempertanyakan perihal pernyataannya tadi. Arya yang merasa ditatap oleh Rania, tersenyum kikuk.
"Maaf, Nia. Kalau enggak gitu, enggak pergi dia! Lain kali, kamu bisa bilang gitu kalau Bima yang gangguin kamu," kata Arya salah tingkah. Rania tampak tersenyum melihat tingkah Arya.
"Tenang aja, Ma! Ardan enggak akan biarin Papa atau Tante itu gangguin Mama lagi," ujar Ardan tegas. Husna pun mengiyakan.
"Kenapa enggak Om aja yang jadi papa kita?," tanya Husna tiba-tiba. Ardan menatap Arya. Arya kembali salah tingkah. Ia tidak tahu harus menjawab bagaimana. Ia pun menatap Rania. Begitu pula Rania.
"Sudah, sudah! Ayo duduk lagi. Ngobrol di sana aja!," ajak Rania menggiring kedua anaknya ke sudut cafe. Diikuti oleh Arya dengan senyuman manisnya.
🍁🍁🍁
Rania termenung di sudut cafenya. Matanya memandang ke arah luar cafe. Sekelilingnya juga ramai. Pengunjung cafenya sedang ramai. Maklum malam minggu. Ia sedang ingin menikmati malam itu sendiri. Di luar hujan rintik-rintik. Ia terlihat menikmati setiap tetesan yang jatuh di hadapannya.
"Makan dulu!," sebuah suara mengejutkan Rania. Ia menoleh. Arya dengan senyum manisnya menyodorkan sepiring pasta padanya. Ia menatap pasta itu dengan ragu. Ia baru menyadari itu piring dari dapur cafenya. Bahkan Arya masih menggunakan celemek khas cafenya. Ia tertawa melihat penampilan Arya.
"Kak Arya, masih pakai celemek!," seru Rania di sela-sela tawanya. Arya menunduk mendengar perkataan Rania. Lalu, menepuk dahinya sendiri sambil mengucap istighfar. Ia lupa melepas celemek yang ia gunakan untuk masak.
"Masih bau bawang, bau dapur!," seru Rania lagi. Arya mengerutkan keningnya pura-pura marah, membuat Rania tertawa. Sedetik kemudian, Arya ikut tertawa. Baru kali ini ia melihat tawa lepas dari Rania. Ia pun berhenti tertawa dan menghela napas.
"Sudah, sudah, aku makan ya, Kak?," ujar Rania. Ia mulai mencicipi masakan Arya. Kemudian ia menatap Arya dalam-dalam. Arya juga menatapnya, dadanya berdebar menunggu komentar Rania.
"Kak, kakak kerja di Mas Lutfi digaji berapa?," tanya Rania kemudian. Wajahnya masih terlihat serius.
"Adalah, Nia! Enggak bisa kusebutin! Memangnya kenapa sih?," tanya Arya. Rania tersenyum jahil.
"Mau aku sabotase Kak Arya! Habis, makanan kakak enak banget! Jadi kokiku aja ya, Kak?," pinta Rania bercanda. Arya tertawa mendengar candaan Rania.
"Kamu ini! Kirain kenapa!," seru Arya dengan tawanya. Melihat Rania tertawa bahagia membuat hati Arya terasa hangat. Entah mengapa, ia ikut bahagia melihat senyum kebahagiaan di wajah Rania. Sungguh, bodoh yang melepasmu, dik, batin Arya. Ia menghela napas panjang.
"Maaf ya, Kak?," kata Rania di sela-sela makannya.
"Untuk?".
"Untuk insiden tadi. Dan juga terima kasih sudah berdiri di sisiku untuk membelaku. Terima kasih juga sudah memberi semangat anak-anakku," jelas Rania panjang lebar. Arya tersenyum menatapnya.
"Sama-sama. Maafin kami, Nia! Baik aku dan Bima adalah laki-laki bodoh yang melepaskanmu," kata Arya tiba-tiba dengan senyum lemahnya. Rania menghentikan makannya dan mendengarkan Arya. Dengan sedikit tertunduk, Arya melanjutkan perkataannya.
"Aku bodoh tidak memperjuangkanmu saat itu. Seandainya aku mengatakan perasaanku dan berani melamarmu saat itu, mungkin kamu tidak akan seperti ini. Bukan aku menganggap diriku terbaik. Tetapi, aku tidak akan meninggalkanmu. Bodohnya Bima adalah melepas orang yang menemaninya dari nol dan memperjuangkannya," Arya terdiam. Ia mengusap pipinya sendiri. Kemudian tertawa kecil. Tertawa pahit jika mengingat semuanya. Rania hanya tersenyum kecut.
"Aku ingin menjagamu, Nia. Aku ingin menjaga anak-anakmu. Aku jatuh cinta pada mereka. Cara mereka bersikap padaku membuatku ingin di samping mereka. Setidaknya biarkan aku dekat dengan mereka. Denganmu, sebagai sahabatmu," kata Arya. Rania tercenung mendengar perkataan Arya. Sejurus kemudian, ia tersenyum.
"Bukan salah Kak Arya jika hidupku menyedihkan. Bukan salah Kakak kalau aku dan Bima akhirnya berantakan. Ini cuma takdir, Kak! Aku sudah ikhlaskan hubunganku sama Bima berakhir. Banyak hal yang kusyukuri setelahnya. Aku lega bisa keluar dari hubungan yang toxic. Soal anak-anak, iya! Aku sama sekali enggak keberatan kalau Kakak mau menjaga, menemani bahkan dekat dengan mereka. Aku justru bersyukur bisa menghadirkan sosok ayah yang mereka rindukan. Meskipun hanya dari sahabatku," jawab Rania dengan senyumnya. Arya pun tersenyum lega mendengar jawaban dari Rania.
"Aku cuma pengen bahagia, Kak! Cuma pengen hidup tenang," kata Rania lirih. Ia tersenyum. Dalam senyumnya, Arya melihat kepahitan dan harapan. Entah kenapa jantungnya kembali berdebar. Bukan karena menunggu jawaban, tetapi karena ia merasa semangatnya seperti dibakar. Ia ingin melindungi dan membahagiakan Rania. Untuk itu, ia pun memikirkan cara untuk memberi Rania kebahagiaan.
🍁🍁🍁