
Siang di kota Surabaya terasa amat terik. Rania merasa lega saat memasuki tokonya yang dingin karena acnya. Rasanya hawa gerah di kulitnya langsung menguap entah kemana. Baru saja meletakkan tasnya di belakang meja kasir, sebuah suara lembut menyapanya.
"Mba Nia," suara itu membuat Rania menoleh. Ada Anggita telah berdiri di depan meja kasir. Rambut panjang lurusnya terurai. Ia mengenakan dress selutut dengan sandal jepit bermerk kesayangannya. Dari balik meja kasir, Rania bisa melihat perut Anggita yang mulai membesar.
"Bisa bicara sebentar?," tanya Anggita. Rania mengangguk tanpa suara. Ada hal apa yang hendak Anggita bicarakan sampai ia datang ke tokonya? Rania keluar dari meja kasir dan mempersilahkan Anggita duduk di salah satu kursi.
"Mau minum apa?," tanya Rania datar. Senyumnya hanya tipis. Anggita menggeleng. Namun, Rania tetap memesan secangkir kopi dan segelas lemon tea untuk Anggita. Begitu minuman mereka datang, Rania meneguk kopinya sedikit. Anggita menatapnya kikuk.
"Katakan!," ujar Rania datar sembari menaruh gelas kopi di meja. Anggita kembali salah tingkah.
"Mbak Nia, maaf sebelumnya. Tolong, Mba Nia jangan marah," kata Anggita merengek seperti anak kecil. Rania hanya mengernyitkan dahinya. Ia tak mengerti apa yang dimaksud Anggita. Ia sebenarnya sedikit risih dengan tingkah kekanakan yang Anggita lakukan sekarang.
"Gini, Mbak. Sebenernya Bima itu lagi butuh uang untuk membangun usahanya yang baru," kata Anggita kemudian. Rania masih terdiam, menunggu kata-kata Anggita selanjutnya. "Jadi, apa bisa kalau keuntungan dari toko kue ini kita bagi berdua? Karena, gimana pun juga toko ini dibangun dengan uang nafkah dari Bima," ungkap Anggita lagi. Ia mengatakan itu dengan lemah lembut seolah ingin membujuk Rania. Rania kemudian menghela napas pendek.
"Jadi, intinya kamu mau minta kembali apa yang sudah Bima kasih ke aku?," tegas Rania. Anggita mengangguk senyum. Rania menarik napas panjang dan membuangnya pelan.
"Maaf, Anggita. Bukannya waktu itu sudah aku bilang kalau toko ini hadiah dari orang tuaku? Sedangkan, uang nafkah yang Bima kasih itu masih rapi dan utuh tersimpan di rekeningku. Asalkan kamu tahu, Nggi. Sejak kami bercerai resmi, Bima baru sekali memenuhi kewajiban nafkahnya kepada anak-anak. Sedangkan tabungan dari nafkah yang Bima berikan selama kami menikah, masih ada sisa di rekeningku. Tapi bukankah itu hakku?," ujar Rania. Matanya menyelidik penuh kecurigaan terhadap Anggita. Anggita salah tingkah mendengar kata-kata Rania. Nyalinya memang ciut jika berhadapan dengan Rania.
Sebenarnya niatnya hanya ingin membantu Bima. Tetapi, ia sedang tidak ada simpanan ataupun penghasilan untuk membantu Bima. Ia ingin menambah investasi Bima sedikit lagi.
Melihat Anggita yang salah tingkah dan tak sanggup menjawabnya, Rania pun menghela napas panjang. Ia tahu mereka sedang membutuhkan uang saat ini. Tetapi sangat mengejutkan kalau Bima sampai tak punya tabungan untuk investasinya.
"Kalian itu enggak punya tabungan sendiri? Tapi ya sudahlah! Aku akan kembalikan nafkah yang sudah diberikan Bima kalau memang itu mau kalian," kata Rania. Sebenarnya ia tak rela. Bukan karena serakah atau mata duitan, tetapi ia terlalu curiga dengan sikap Anggita. Caranya meminta uang seolah-olah ia tak pantas lagi menerima nafkah dari Bima.
"Berikan nomor rekening Bima. Akan kutransfer semuanya. Setelah ini, jangan ganggu hidup kami lagi!," tegas Rania. Kali ini matanya tajam menatap Anggita, membuat Anggita merinding. Sebenarnya Anggita ingin agar Rania mengirimkan dananya ke rekeningnya, tetapi melihat sorot mata Rania, ia mengiyakan saja apa yang dikatakan Rania. Ia pun memberikan nomor rekening Bima pada Rania.
"Done! Sudah kutransfer semuanya. Kamu boleh pulang. Setelah ini, kamu harus belajar manage rumah tanggamu dengan baik. Bima bukan orang yang pintar atur uang sendiri," ujar Rania tegas dan datar. Anggita tertegun. Pesan itu seperti petir baginya. Seolah Rania sedang mengatakan bahwa selama ini dialah yang mengatur keuangan di keluarga Bima. Anggita tak bisa menjawab apapun karena itulah kenyataannya. Rania lebih pandai mengatur uang dibandingkan dirinya. Daripada harga dirinya semakin jatuh, ia memutuskan untuk beranjak dari kursinya.
"Assalamu'alaikum," salam Rania begitu melihat Anggita beranjak dari kursinya tanpa pamit. Anggita menoleh kikuk.
"Wa'alaikumsalam," jawabnya lirih. Ia pun bergegas meninggalkan toko Rania dengan buru-buru. Rania menatap punggung perempuan itu dengan perasaan kosong. Ia hanya berharap, ini terakhir kali mereka menganggu hidupnya.
🍁🍁🍁
Anggita melempar tasnya di meja dengan kasar. Sontak itu juga mengagetkan Angel yang sedang mengambil foto selfie di cafe langganan mereka. Anggita duduk di sofa cafe itu dengan gusar. Seperti anak kecil yang keinginannya tak dituruti.
"Idihh, kenapa lu, Neng? Datang bukannya nyapa temannya, malah lempar tas pakai acara muka dilipat, ditekuk gitu!," seru Angel. Anggita mendengus kesal mendengar ocehan Angel. Hatinya yang kesal dengan ceramah Rania, kini juga dibuat sebal dengan ocehan Angel yang membuatnya sakit telinga.
"Berisik! Gue lagi sebel banget!," seru Anggita.
"Cerita, cerita, dong! Kenapa sampai kesal begini sahabat gue?," tanya Angel.
"Gue tadi minta duit sama Rania," jawab Anggita. Mata Angel membelalak. Ia tak percaya apa yang dilakukan sahabatnya itu.
"Serius. Gue itu datang ke toko kuenya dia. Niat gue itu minta bagi hasil toko kuenya dia. Kan bangun toko itu pakai duit Bima! Yang ada gue diceramahin, dong!," cerita Anggita. Angel tertawa, membuat Anggita kesal.
"Ya wajarlah lo diceramahin! Lo kira dia emak lo! Seenaknya aja lo minta bagi hasil usahanya dia. Ikut bangun tokonya aja enggak, tiba-tiba datang minta bagian! Gila lo!," seru Angel.
"Ya gue kira dia bangun toko itu dari uang nafkah yang dikasih Bima. Ternyata dari orang tuanya! Gue diceramahin soal tabungan. Dongkol gue!," ujar Anggita.
"Trus dikasih?".
"Dikasih, sih! Tapi dia transfer ke rekening Bima langsung. Pusing gue! Apa coba gue jawab ke Bima kalau dia tanya!," ujar Anggita. Ia memegang dahinya dan menyandarkan dirinya di sofa. Angel meneguk minumannya.
"Ya bilang aja kalau Rania yang kembaliin uang itu. Dia nggak mau oakai uang dari Bima. Simple kan?," usul Angel. Anggita terdiam menatap Angel. Hatinya bimbang mengatakan hal itu kepada Bima. Ia khawatir kalau Bima akan mengkonfirmasi semuanya kepada Rania.
"Tapi kalau Bima konfirmasi ke Rania gimana, dong?," tanya Anggita kemudian. Angel menghela napas pendek.
"Duh, Anggita! Please deh! Bima dan Rania itu hubungannya enggak baik. Tinggal lo pintar atur Bimanya aja! Lo kasih bumbu kek dikit biar ada dramanya kalau perlu, supaya suami lo itu enggak konfirmasi ke Rania," jawab Angel sambil menoyor kepala Anggita. Anggita tertawa kecil. Iya! Ia baru ingat kalau beberapa hari yang lalu Bima sempat bermasalah soal toko itu dengan Rania. Ia pun mengerti harus melakukan apa nanti saat ketemu dengan Bima.
🍁🍁🍁
Anggita membuka pintu kamarnya dan menyalakan ac. Untuk sejenak ia menikmati sejuknya ruangan kamar itu. Ia memandang sekeliling. Kamar impian itu akhirnya jadi miliknya. Kamar utama yang sempat dilihatnya dengan perasaan iri itu kini adalah kamarnya. Tak ada foto pernikahan Rania dan Bima, karena begitu resmi bercerai, Bima membawa foto-foto pernikahannya dengan Rania ke gudang. Itu sebagai bentuk kekesalannya pada Rania.
"Kamu sudah pulang, Yang?," tanya Bima yang baru keluar dari kamar mandi. Anggita mengangguk senyum. Bima melihat ponselnya sejenak sebelum memakai bajunya. Dahinya mengerut melihat notifikasi sms banking di ponselnya yang memberitahukan ada dana masuk dengan nominal yang lumayan besar. Bukan nominalnya yang membuatnya heran, tetapi berita transfer itu yang membuatnya gemetar menahan emosi.
'Terima kasih 11 tahunnya. Kukembalikan semuanya' begitu berita itu tertulis. Bima tahu siapa pengirimnya karena tertera dengan jelas. Rania Indah Pratiwi. Mantan istrinya. Sekaya itukah Rania sekarang sampai mengembalikan semua yang diberikannya? Ia tahu, keluarga Rania bukan keluarga sederhana. Ia tahu keluarga Rania adalah keluarga yang sangat berada bahkan berlimpah harta. Apa ini bentuk pembalasan dari Rania? Rania seolah menghinanya dengan mengembalikan semua uang yang diberikannya. Seratus juta. Bukan nominal yang sedikit. Ternyata tabungan Rania dari nafkahnya memang besar.
"Kenapa, Yang? Kok cemberut mukanya?," suara Anggita mengejutkan Bima. Pelukan hangat dari belakang Anggita membuyarkan semua pikirannya.
"Ini, Rania. Dia bikin ulah lagi!," jawab Bima sembari meletakkan ponsel itu di mejanya. Ia berdiri tetap pada posisinya.
"Memangnya dia ngapain kamu?," tanya Anggita pura-pura tak tahu. Bima menghela napas, seolah mengeluarkan emosinya.
"Dia transfer kembali semua uang yang pernah aku berikan," jawab Bima. Anggita menelan ludahnya. "Ternyata perempuan itu pintar juga menabung! Seratus juta! Bisa kamu bayangin, Nggi? Dia ternyata bisa nabung seratus juta dari nafkah yang aku beri tiap bulan," kata Bima lagi sembari menggelengkan kepalanya, antara takjub dan benci. Anggita masih terdiam mendengar jumlahnya yang ternyata cukup besar itu.
"Bagiku ini seperti sebuah penghinaan. Dia sedang menjatuhkan harga diriku. Nggak jadi suami, nggak jadi mantan, sama saja! Dia tetap berusaha menjatuhkan diriku! But fine! Nggak apa-apa! Nanti kita lihat siapa yang akan tertawa di akhir," kata Bima seolah pada dirinya sendiri. Anggita terdiam kelu. Ia bersyukur karena dengan begini Bima tidak akan mengkonfirmasi apa yang terjadi pada Rania. Tetapi, di sisi lain, ia juga takut jika harus bersaing dengan Rania yang sekarang. Rania yang sekarang berdiri bersama orang-orang yang kuat di keluarganya. Ia takut jika Bima macam-macam, bukan hanya Bima yang hancur. Tetapi hidupnya dan anak yang dalam kandungannya juga.
"Sudahlah, Yang! Kalau memang dia begitu! Kamu sekarang bisa fokus dengan kerjasama kamu dan Mark. Kita bangun bisnis kita dari nol ya?," ujar Anggita. Bima menoleh dan tersenyum pada istrinya itu. Baginya sekarang Anggita adalah dunianya, satu-satunya orang yang masih mendukungnya saat titik rendahnya.
"Makasih, Yang!," ucap Bima sembari mengecup kening dan bibir Anggita. Anggita tersenyum menatap Bima. Kini, ia dan Bima harus fokus dengan usaha yang mereka mulai. Apapun tujuannya dan bagaimanapun caranya.
🍁🍁🍁