
Rania berdiri di samping jendela ruang tamunya. Ia menatap keluar ruangan itu. Sudah berhari-hari ia seperti itu. Ia juga tidak menggunakan hijabnya karena merasa sedang berada di rumahnya. Ia hanya mengenakan kaos pendek hitam dan celana tidur bermotif beruang. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai.
Rania mengamati jalanan. Kompleks perumahan elite itu tampak sudah mulai ramai orang lalu lalang. Ia melihat pembantunya yang sedang berbelanja di dagang sayuran sambil mengobrol dengan sesama pembantunya. Sudah beberapa hari ini ia tak berani keluar rumah. Ia takut jadi bahan gunjingan. Ia takut disebut janda. Janda, sebutan yang ditakuti perempuan ketika sudah menikah. Sebutan yang disalah artikan di masyarakat. Setiap mendengar kata janda, tentu masyarakat akan menafsirkan bahwa perempuan tersebut bisa jadi penggoda, padahal belum tentu seperti itu kenyataannya. Rania kembali menghela napas panjang, saat sebuah pesan masuk ke ponselnya.
TRING
- Gina -
Ketemuan hari ini bisa?
Di cafe biasa
Rania membacanya dengan cepat. Ia menatap ragu pesan itu. Sejak perceraiannya, ia memang tak pernah keluar rumah. Ia mengurung diri di kamar kadang-kadang. Ke sekolah anak-anaknya pun tidak. Anak-anaknya diantar oleh kakeknya atau kadang Raditya. Ia benar-benar ingin memulihkan dirinya sendiri. Mungkin ketemu Gina bisa sedikit mengobati kesepian, batinnya. Ia pun membalas pesan itu dengan mengiyakannya. Kemudian ia segera bersiap untuk berangkat menuju cafe tempat mereka sering bertemu.
🍁🍁🍁
"Kenapa kamu nggak cerita, Nia?," suara Gina terdengar sedih di telinga Rania. Rania hanya tertunduk berusaha menyembunyikan air matanya. Di hadapannya kini duduk kedua sahabatnya, Gina dan Abdul.
"Terus, anak-anak bagaimana?," tanya Abdul kemudian. Rania mengusap air matanya dan tersenyum ke arah kedua sahabatnya.
"Alhamdulillah mereka baik-baik aja. Yang aku khawatirkan itu Ardan. Sepertinya dia mengerti apa yang terjadi. Aku takut dia terluka. Aku takut dia jadi trauma," jawab Rania sendu.
"Menurutku, sekarang pikirin diri kamu dulu. Kamu harus bangkit, Nia! Jangan terpuruk oleh masa lalumu. Kamu harus kuat. Kamu wanita hebat," kata Gina menyemangati sahabatnya itu.
"Sehebat apapun aku di mata kalian, aku tetaplah janda. Janda yang tak bisa mempertahankan rumah tangganya sendiri," sahut Rania semakin sendu. Gina dan Abdul saling berpandangan melihat Rania. Gina kemudian menatap Rania tajam.
"Apa salahnya kalau janda? Memangnya kenapa? Janda itu cuma sebuah kata, cuma status. Buktikan kalau kamu bisa bangkit. Buktikan diri kamu itu bisa berdiri sendiri tanpa Bima. Setidaknya buat dia menyesal telah meninggalkanmu," seru Gina lagi. Rania menghela napas panjang.
"Benar, Nia. Jangan terus terpuruk dengan keadaanmu. Perceraian ini bukan salahmu. Bukan salahmu jika akhirnya Bima memutuskan meninggalkanmu. Artinya ia tak cukup sanggup menyeimbangkan diri dengan wanita sebaik kamu. Mungkin juga Allah tahu bahwa Bima bukanlah yang baik untukmu. Ingat kan? Jodoh adalah cerminan diri kita?," tambah Abdul. Ia ingin menyemangati sahabatnya itu. Rania mengangguk.
"Nah, anggap saja sekarang ujian dari Allah ini adalah ujianmu untuk naik kelas. Kamu sanggup dan Bima tidak. Apakah orang yang naik kelas bisa bersama dengan orang yang tinggal kelas? Tidak kan? Biarkan ia yang tertinggal di belakang! Kamu berdiri dan bangkit walaupun sendiri. Ada anak-anak yang jadi tanggung jawabmu sekarang. Nikmati hidupmu dengan caramu, Nia," kata Abdul lagi. Rania kali ini terdiam. Otaknya mencerna kata-kata Abdul. Kata-kata itu cukup menyadarkan dirinya. Mungkin benar kata Abdul, Allah sedang mengujinya. Mungkin juga ini jawaban dari do'anya akhir-akhir ini, bahwa ia menginginkan yang terbaik untuk kehidupannya.
Rania pun mengusap air matanya dan tersenyum. Mata sembab yang tadinya sendu kini berubah menjadi binar penuh harapan. Ia sadar kini ia seorang single parent dari anak-anaknya. Perceraian dan masalahnya telah membuat orang tuanya sedih. Ia tak ingin lagi membuat mereka bertambah sedih. Ia juga harus memiliki rencana ke depan. Ia tak mungkin terus bergantung kepada kedua orang tuanya. Ia tersenyum dengan memandangi kedua sahabatnya bergantian.
"Makasih, Gina, Abdul. Kalian sahabat terbaikku. Aku boleh minta tolong sekali lagi?," tanya Rania. Gina mengangguk cepat. Abdul pun tersenyum lega. "Bantu aku move on dan berdiri lagi," pinta Rania. Gina dan Abdul pun mengangguk senyum. Senyum penuh dengan kelegaan.
🍁🍁🍁
"Apa? Kerja?," seru Papa Rania begitu mendengar keinginan putrinya itu untuk bekerja. Rania mengangguk. Ia merasa tidak ada jalan lain untuk menghidupi anak-anaknya. Ia juga tidak mau terus bergantung kepada orang tuanya. Meskipun kedua orang tuanya adalah orang yang cukup berada, ia tak mau mengandalkan mereka terus menerus.
"Kamu sudah pikir mateng, Nia?," tanya Mamanya. Rania tidak menjawab. Ia sendiri juga bingung. Sebenarnya berat jika harus bekerja. Ia harus kehilangan waktu untuk anak-anaknya. Tetapi ia juga tak punya pilihan lain. Uang di tabungannya juga semakin tipis.
"Mbak buka usaha aja. Mbak kan pinter tuh masak. Bisa bikin cafe atau restoran," seru Raditya. Rania sejenak berpikir. Masak memang hobinya. Ia memang ingin sekali memiliki usaha sebuah toko kue. Tapi untuk saat ini uang di tabungannya tak cukup untuk modal.
"Iya. Kamu bilang kamu pengen punya usaha pattiserie?," imbuh Mamanya. Rania kembali menatap keluarganya itu satu per satu. Ia merasa bingung harus bagaimana mengatakannya.
"Iya, Ma. Tapi...emm...saat ini tabungan Nia belum cukup untuk buka usaha," jawab Rania lirih. Papa dan Mama Rania menghela napas dengan tersenyum. Mereka tahu bagaimana tabiat anak perempuannya itu. Rania memang tak pernah ingin menyusahkan kedua orang tuanya.
"Soal modal, jangan khawatir. Kalau untuk toko kuemu, insha Allah, Papa ada, Nak," kata Papa Rania.
"Jangan, Pa. Nia sudah banyak repotin Papa. Nia kerja aja!," jawab Rania menolak. Ia tidak enak harus terus meminta pada orang tuanya. Papa Rania tersenyum. Ia tidak ingin putrinya bekerja.
"Jangan, Nia. Kasihan anak-anak. Begini saja, modal tambahan yang Papa kasih, kamu bisa kembalikan nanti saat toko itu sudah mulai punya keuntungan," bujuk Papa Rania. Rania terdiam sejenak. Ia masih tak enak hati harus minta ini itu dari orang tuanya lagi. Tetapi, mendengar kata-kata papanya bahwa ia bisa mengembalikan modal itu nanti, ia pun mengiyakan.
"Baiklah. Makasih, Pa," ucap Rania. Papa, Mama dan Raditya mengangguk senyum. Senyum penuh kelegaan. Mereka teramat lega karena akhirnya Rania memutuskan untuk bangkit dari keterpurukannya. Dengan sangat senang hati, mereka akan membantu Rania. Rania memeluk mereka satu per satu sebelum kembali ke kamarnya. Begitu melewati kamar anak-anaknya, Rania membuka pintunya sedikit. Ia melihat mereka sedang tidur lelap seolah tanpa beban. Rania berdiri sejenak memandang mereka dengan senyum penuh harapan.
'*Hari ini, tepat di hari pernikahan kita, kita berpisah. Berpisah resmi secara agama dan negara. Hari ini juga aku jadi janda. Single parent dari anak-anak kita. Yang membuatku sedih adalah kenapa kamu tak menghubungiku. Jangan tanya kabarku! Karena aku bukan lagi istrimu. Tanyalah kabar anak-anakmu. Ataukah kami sudah benar-benar terhapus dari hidupmu. Jika begitu, tak apa! Biarlah aku dan anak-anak tetap begini. Biarlah kami di sini meniti hidup tanpamu. Kami hanya bisa berdo'a semoga kamu bahagia bersama dengan pilihan hidupmu. Setelah hari ini, aku tak ingin lagi membahas dirimu. Aku ingin bangkit. Akan kutunjukkan bahwa aku bisa tanpamu. Aku bisa berdiri dan berperan menjadi orang tua bagi anak-anakku. Semoga Allah membuka mata hati dan pikiranmu. Tetapi saat itu terjadi, aku tak akan pernah bisa kembali lagi padamu...
-Rania*-
🍁🍁🍁