
Pagi ini Surabaya diguyur hujan deras. Tidak lama, hanya beberapa menit saja. Tetapi mendung masih menggelayut di langit Surabaya pagi ini. Bima tampak bersiap-siap akan berangkat ke kantornya. Ia tampak berbeda dari biasanya. Jika biasanya ia mengenakan seragam kantor yang berupa polo shirt. Kali ini ia tampak lebih rapi dengan kemeja dan celana jeans panjangnya. Sedikit membuat Anggita curiga.
"Tumben kamu, Pa! Rapi amat!," celetuk Anggita. Bima tersenyum. "Mau kemana?," tanya Anggita lagi.
"Ke kantor, Ma. Seragam kan sudah kotor. Yang satu belum kamu cuci juga kan?," Bima bertanya setengah mengingatkan. Anggita mengangguk tanpa senyum. Bima telah selesai mengikat tali sepatunya. Ia pun berdiri hendak pamit.
"Ya sudah! Aku berangkat dulu ya?," pamit Bima dengan senyum. Anggita mengangguk tanpa senyum.
"Pa, nanti transferin lagi ya buat belanja kebutuhannya Zarina?," pinta Anggita sebelum Bima pergi. Bima mengerutkan keningnya. Baru seminggu yang lalu, ia membelikan seluruh kebutuhan Zarina, anak mereka. Mulai dari susu, popok, makanan dan camilan.
"Lho? Bukannya baru seminggu yang lalu kita belanja ya?," Bima balik bertanya. Anggita memutar bola matanya dan mendengus pelan. Bima tak suka dengan sikap Anggita itu. Tetapi ia sedang tak ingin berdebat. Ia ingin segera berangkat.
"Iya. Ini susunya sudah mau habis," jawab Anggita dengan enggan. Ia sebenarnya malas sekali meminta uang pada Bima karena Bima yang sekarang terlalu perhitungan dengan uang. Anggita mengerti. Itu semua karena pendapatan Bima belum banyak, meskipun lebih dari yang sebelumnya.
"Jatah kamu?," tanya Bima lagi.
"Jatah aku ya jatah aku dong, Pa! Jangan disamain!," jawab Anggita cepat. Bima sebenarnya ingin berbicara banyak perihal kebiasaan Anggita yang agak boros soal uang. Tetapi, hari ini ada yang ingin dilakukannya. Lebih penting dari sekedar menanggapi kebawelan Anggita pagi ini.
"Ya sudah! Nanti siang aku transfer. Hemat-hemat, ya?," kata Bima lagi. Anggita mengangguk malas. Setiap kali memberi uang, Bima akan mengatakan hal yang sama. 'Hemat-hemat ya?'. Hal itu membuat Anggita kesal. Bima tak pernah tahu berapa yang harus ia belanjakan untuk kebutuhan mereka selama seminggu. Bima juga tak pernah mau tahu harga-harga barang yang naik setiap bulannya.
Bima pun melajukan mobilnya diiringi lambaian tangan Zarina. Anggita hanya mengangguk tanpa senyuman. Ia hanya melihat kepergian Bima seperti biasanya.
🍁🍁🍁
Bima memarkir mobilnya di depan cafe Rania. Ia berhenti di seberang cafe Rania. Ia memperhatikan suasana cafe Rania. 'Mommy Cafe', begitu dibacanya nama cafe Rania itu, ia tersenyum kecut. Suasana tampak masih sepi, mungkin baru buka. Cafe itu tampak manis dan menarik. Terlihat beberapa karyawan cafe itu sedang bersih-bersih.
Bima tersenyum sendiri mengingat bagaimana Rania menceritakan mimpi dan keinginannya memiliki sebuah toko kue sederhana. Ia teringat bagaimana saat Rania pertama kali membuat sebuah tart untuknya dan anak-anak. Saat itu semuanya terlihat sempurna. Entah kenapa, rumah tangga yang ia jalani saat ini sangat berbeda. Iya! Anggita terlalu banyak menuntut dan bahkan marah-marah tanpa sebab. Berbeda dengan Rania yang selalu bisa mengontrol emosinya. Bahkan, di saat dirinya menduakan Rania. Ah, penyesalan selalu datang terlambat. Tetapi, saat ini bukan saatnya untuk menyesalinya.
"Daah, Mama!," suara seorang gadis kecil membuyarkan lamunan Bima. Ia menoleh ke arah datangnya suara itu. Bima mengenalnya. Itu suara Husna, gadis kesayangannya. Sayangnya, saat ia menyadari suara itu milik Husna, ia sudah terlambat. Husna telah berlalu bersama mobil yang membawanya. Mobil itu meninggalkan seorang perempuan berhijab warna coklat di depan cafe. Perempuan itu adalah Rania. Bima memperhatikan Rania. Dari jauh, Rania tampak berbeda dengan sebelumnya. Rania tampak lebih ramping dan segar.
Begitu Rania masuk, Bima pun turun dari mobilnya dan berjalan menuju cafe Rania. Ia membuka pintu cafe itu perlahan.
"Selamat datang, silah...kan du..duk," ucap Rania terbata begitu melihat siapa yang datang. Bima berdiri di pintu dan tersenyum ke arahnya. Rania hanya terdiam terpaku melihat kedatangan seseorang yang belum ia harapkan. Jantungnya berdegup kencang. Bukan karena jatuh cinta atau penasaran. Tetapi, karena terkejut dengan kehadiran Bima. Dengan enggan, ia mempersilahkan Bima duduk.
"Mau minum?," tanya Rania menawarkan minuman. Ia berusaha setenang mungkin di depan Bima. Bima terus tersenyum memandangi Rania. Rania sedikit menundukkan pandangannya.
"Maaf, Bim. Kopi yang seperti apa yang kamu minta? Kamu bisa lihat di menunya," jawab Rania lembut. Bima tertawa kecil. Kemudian memandangi menunya, dan meletakkannya kembali di meja.
"Aku cuma mau kopimu. Kamu yang buatin!," kata Bima keukeuh. Rania menghela napas pendek tanda ia sudah malas berurusan dengan Bima.
"Kalau kamu kesini hanya untuk menghina, menjatuhkan aku atau mengajak debat lagi, maaf, aku enggak ada waktu! Kamu cari aja orang lain saja yang mau jadi tempat pelampiasanmu," tegas Rania kemudian. Ia beranjak dari kursinya hendak meninggalkan Bima. Bima memegang tangannya. Tetapi sedetik kemudian Rania mengibaskan tangannya dengan kasar.
"Maaf, kita bukan mahram! Jangan pegang sembarangan!," seru Rania dengan marah. Bina bisa melihat kemarahan dalam mata Rania.
"Okay, okay! Sorry! Maafin aku, Nia. Aku kesini ingin ketemu kamu sama anak-anak. Aku kangen sekali sama kalian," kata Bima jujur. Rania menatap mata Bima dalam-dalam. Hatinya sakit mendengar ucapan Bima yang mengatakan rindu kepadanya dan anak-anaknya setelah tiga tahun.
"Maafin aku, Nia! Aku memang enggak bisa menempatkan diri. Aku terlalu kangen padamu dan anak-anak," kata Bima kemudian setelah mereka duduk berhadapan.
"Untuk apalagi, Bim? Kami sudah ikhlaskan kamu, kami sudah bahagia dengan dunia kami sendiri tanpa kamu! Dan seingatku, aku sudah mengatakan pada Anggita kalau itu terakhir kalinya kalian mengganggu hidup kami," kata Rania. Bima terdiam dan sedikit terkejut dengan perkataan soal Anggita dan pesan.
"Anggita?," Bima menatap heran dan tak mengerti yang dimaksud Rania. Rania menghela napas pendek. Sebenarnya ia juga tidak mau membuat kisruh rumah tangga Bima, dan memang ia enggan kembali berhubungan dengan mereka.
"Sudahlah! Bukan urusanku! Kamu tanyakan saja istrimu! Aku banyak urusan. Kalau kamu ingin bertemu anak-anak, nanti aku aturkan jadwal," jawab Rania tegas.
"Kenapa kamu enggak kasih tahu alamat kalian saja?," tanya Bima. Rania menatapnya tajam.
"Untuk apa? Supaya kamu bisa datang dan pergi gitu aja? Kita bukan mahram. Aku enggak mau ada fitnah. Kamu bisa menemui anak-anak di luar. Aku akan antarkan mereka," jawab Rania masih dengan nada penuh ketegasan. Bima terdiam. Sejenak ia kikuk dan termenung.
"Kenapa enggak kamu ajak anak-anak untuk menginap di rumahmu?," tanya Rania kemudian. Nadanya terdengar sinis di telinga Bima. Bima masih terdiam menatap Rania. Ia juga tidak bisa memberi jawaban atas pertanyaan Rania. Ia belum memberi tahu Anggita soal kedatangannya ke tempat Rania. Ia juga tidak tahu akan seperti apa reaksi Anggita dengan ide menginap tersebut.
"Nanti aku obrolin sama Anggita," jawab Bima lirih. Rania tersenyum kecut. Ia tahu Bima belum mengatakan kepada Anggita soal kedatangannya. Menurut Rania, ada sesuatu dalam rumah tangga mereka sampai-sampai membuat Bima mendatanginya kembali. Tetapi Rania tak mau menebak-nebak dan berburuk sangka. Ia tidak mau terlibat dalam hubungan toxic mereka lagi.
"Okay, nanti aku obrolin sama anak-anak soal jadwalnya. Kalau kamu mau balik kerja, silahkan atau mau ngopi-ngopi di sini juga silahkan. Tapi maaf, aku enggak bisa menemanimu. Aku masih banyak pekerjaan," kata Rania. Ia tak menunggu jawaban Bima untuk beranjak dari kursinya. Ia pun berdiri dan meninggalkan Bima yang masih termenung sendirian.
Bima benar-benar tercenung dengan sikap Rania yang sekarang. Ini bukan reaksi yang dia harapkan. Reaksi dingin, datar, bahkan sesekali terdengar sinis. Apakah Rania masih dendam padanya? Ingin ia memperjelas semuanya. Tetapi Rania sudah tak terlihat lagi batang hidungnya. Ia pun harus menelan kekecewaan saat ini. Namun, ia berjanji ingin membuatnya clear sesegera mungkin.
🍁🍁🍁