
Matahari pagi terbit lebih awal dari biasanya. Cahayanya mengintip dari balik dedaunan di pohon yang tumbuh di pekarangan belakang rumah Rania. Semalam, Ardan dan Husna telah berangkat ke negara tujuan mereka masing-masing untuk menempuh pendidikan mereka. Rania duduk di teras belakang rumahnya. Menikmati secangkir kopi favoritnya.
"Mbak," sebuah suara lembut memanggilnya. Ia menoleh. Anggita berdiri di sebelahnya. Anggita pun mengambil tempat duduk di sebelahnya. Ia menatap Anggita lekat. Wanita itu pernah menghadirkan luka dalam hatinya, meskipun sebenarnya ia tak sengaja. Ia hanya ingin dicintai. Ia jatuh cinta pada laki-laki yang telah mengikat janji pada Rania. Pada Bima yang telah beristri.
"Mbak Nia lagi mikirin apa?," tanya Anggita. Rania menggeleng senyum. Lantas mengalihkan pandangannya ke pohon itu lagi.
"Hanya mengenang masa lalu. Pohon ini aku tanam saat aku baru datang ke rumah ini. Sekarang sudah tumbuh besar. Seumuran Wildan" jawab Rania dengan seulas senyuman. Matanya menerawang jauh, menatap langit dari sela-sela dedaunan pohon itu.
Anggita terdiam. Matanya pun terpaku pada dedaunan pohon itu. Mengenang masa lalu, itu yang dikatakan Rania padanya. Masa lalu bagi Anggita benar-benar buruk. Banyak penyesalan yang ia kenang. Banyak luka yang ia torehkan kepada orang-orang baik seperti Rania. Kemarin ia bertemu Bima. Awalnya mereka terkejut, tetapi akhirnya hanya bertegur sapa sejenak. Tak ada lagi rasa ingin memiliki apalagi ambisi untuk bersama lagi. Baginya sudah cukup semua luka yang ia tinggalkan. Ia ingin memulai semuanya dengan sesuatu yang baru, kebaikan.
"Mbak, ada yang mau aku tanyakan. Tapi, jangan tersinggung atau marah," kata Anggita. Selama ini, pertanyaan-pertanyaan tentang sikap Rania ia simpan. Ia hanya membangun spekulasi sendiri. Tidak pernah benar-benar mengenal Rania.
Rania mengalihkan pandangannya dan menatap Anggita. "Kenapa Mbak Nia tidak berusaha mempertahankan rumah tangga Mbak dengan Bima dulu? Bahkan, saat aku meminta Mbak mengalah, Mbak juga mengabulkannya," lanjut Anggita. Rania tersenyum mendengar pertanyaan Anggita.
"Siapa bilang aku enggak berusaha mempertahankan? Kamu tahu, aku kerja untuk mempertahankan rumah tanggaku. Bukan untuk melawan atau merendahkan Bima. Aku tahu Bima takkan sanggup berlaku adil, maka aku membantunya. Sayangnya, semua salah di mata kalian. Aku enggak pernah mengalah untukmu, Nggi. Aku pergi karena aku ingin menyelamatkan Bima dan anak-anakku. Dosa kalau aku tetap bertahan saat suamiku sudah tidak menginginkanku lagi," jawab Rania. Anggita termenung. Ternyata Rania melampaui apa yang dipikirkannya. Rania bertindak atas dasar agama dan fakta. Bukan atas dasar ego seperti dirinya. Anggita terdiam. Rania kembali menatap dedaunan yang gugur di hadapannya.
"Semua wanita akan tua pada waktunya. Seiring berjalannya waktu, kulitnya akan keriput, matanya akan berkantung. Badannya tak akan lagi sebagus umur dua puluhan. Di usia lima puluhan dia akan dihadapkan pada menopause. Saat itu generasi baru yang lebih muda lebih banyak di luar sana. Mati satu tumbuh seribu. Sehingga, yang dibutuhkan perempuan sebenarnya hanyalah laki-laki yang setia, yang menerima muda dan tuanya. Bersedia menemani sampai akhir hayatnya. Jika di pertengahan saja dia sudah mencari penggantiku, maka apa jaminannya dia tak akan mencari penggantimu? Lelaki dengan jiwa seperti itu tidak akan pernah puas meskipun wanita di seluruh dunia telah dimilikinya. Karena dalam hatinya tak ada sedikitpun rasa syukur atas apa yang dimiliki dan diberikan Allah," kata Rania. Ia tersenyum pada Anggita. Anggita semakin tersadar dengan kata-kata Rania tadi. Yang dikatakan Rania sama persis dengan kekhawatirannya saat hidup bersama Bima. Jadi pemikiran itu yang akhirnya membuat Rania mengambil keputusan menerima talak dari Bima.
"La tahzan innallaha ma'anna. Itu prinsipku, Nggi! Jangan bersedih, Allah bersama kita. Aku hanya punya keyakinan, jika sesuatu diambil dariku, artinya ia bukan yang baik untukku. Dan aku percaya, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik," kata Rania lagi. Anggita termangu mendengar penuturan Rania. Ternyata hati Rania jauh luar biasa dari yang ia pikirkan. Memang benar Bima bilang, kalau ia tak akan pernah bisa seperti Rania. Ia pun tersenyum menatap Rania. Baginya sekarang Rania menjadi inspirasinya.
POV Rania
*Ketika semua orang bertanya padaku, kenapa kamu memaafkan mereka bahkan membantu mereka? Aku hanya bisa menjawab bahwa setiap orang berhak memiliki kesempatan kedua. Aku memaafkan mereka karena aku juga butuh untuk menyembuhkan lukaku sendiri.
Aku telah belajar mengikhlaskan apa yang bukan milikku. Milikku, tetapi ia tak ingin lagi jadi milikku. Aku telah belajar mengikhlaskan garis takdirku. Aku juga ikhlas menghadapi ujianku. Aku pernah di posisi mereka. Terbuang dan dibuang. Sakit sekali.
Adakah dendam di hatiku? Jujur, dulu iya! Aku kecewa karena aku yang menemaninya dari nol. Aku dendam pada diriku sendiri yang dengan bodohnya membukakan pintu pada sebuah luka. Aku ingin membalasnya dengan memperbaiki diriku sendiri. La tahzan, la tahzan, la tahzan innallaha ma'anna. Aku percaya Allah disampingku. Menemaniku melewati semua ini.
Awalnya berat, tetapi ada satu momen dimana aku benar-benar mengikhlaskan semuanya. Momen dimana ternyata pada dasarnya aku memang tidak bisa memperbaiki sifat Bima. Momen dimana ternyata itulah sifat aslinya. Disitu aku sadar, bukan aku yang memilih pergi. Tetapi Allah-lah yang mengeluarkan aku dari circle hidup Bima.
Aku tersadar, sebenarnya semua perempuan hanya butuh laki-laki yang setia. Laki-laki yang mendampinginya tanpa lelah. Karena perempuan akan tua pada waktunya. Perempuan hanya butuh laki-laki yang menerima dan melengkapi kekurangannya. Bukan menggantinya dengan yang lain. Laki-laki yang tak mempunyai rasa syukur tak akan pernah puas dengan apa yang didapatkan dan dimilikinya. Seandainya semua wanita di dunia ini telah dimilikinya, ia tak akan pernah cukup dengan hal itu.
Apakah ini sebuah akhir? Menurutku bukan. Ini justru permulaan bagi mereka. Memulai sesuatu yang baru. Mengawali semua dengan kebaikan. Aku hanya ingin menebar kebaikan. Aku juga manusia biasa yang mungkin menyimpan rasa sakit terhadap mereka. Tapi sepertinya rasa kasihanku mengalahkan rasa sakit itu. Aku hanya berharap ini juga sebuah akhir dari semua rasa sakit hati dan iri diantara kami. Aku berharap semua dapat memaafkan diri sendiri maupun kesalahan di masa lalu. Masa lalu biarlah semua berlalu. Ada hal baik di masa kini dan masa datang yang menunggu.
Aku berhasil membuktikan bahwa tidak perlu membalas semua perlakuan buruk kepada kita. Bisa jadi itu peringatan Allah bahwa memang kita berada di tempat yang salah. Meskipun ada sakit hati dan dendam, aku memilih mengabaikannya. Aku hanya percaya, aku tak pernah sendirian. Aku punya Allah, Rabbku yang tak pernah berhenti memperhatikanku. Alhamdulillah*...
TAMAT