La Tahzan

La Tahzan
PENYESALAN



Bima menatap ruangan sidang kali ini dengan sendu. Untuk kedua kalinya ia datang ke tempat itu dengan tujuan yang sama. Hanya berselang tiga tahun ia telah kembali bercerai. Bedanya, kali ini ia melakukannya dengan ikhlas, tanpa emosi, tanpa berapi-api. Ia mengiyakan segala tuntutan dari pengacara Anggita. Di sidang pertama mereka kali ini Anggita tak datang, membuat upaya mediasi gagal dan diputuskan untuk menunggu sidang selanjutnya.


Bima menyetir mobilnya dengan santai menuju kantornya. Kemeja putih yang ia pakai pada saat sidang pertama perceraiannya, sudah ia buka kancing bagian atasnya. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia berusaha menguasai emosinya. Ada rasa marah, kecewa dan sedih yang menggelayuti hatinya.


Sampai di depan kantornya, ia bingung ada dua mobil terparkir manis di halaman kantornya. Begitu ia masuk ke lobby, dilihatnya karyawan-karyawannya berkumpul. Wajah mereka diliputi kecemasan. Bima bingung menatap wajah karyawan-karyawannya itu. Ia pun menuju ruangannya. Ketika membuka pintu ruang kerjanya, betapa kagetnya ia. Disitu beberapa orang sudah berkumpul. Anggita, Angel, Mark, Arya dan Rania. Mereka semua didampingi dua pengacara. Semua orang sontak menoleh melihat Bima yang tiba-tiba membuka pintu.


"Ada apa ini?," tanya Bima tak mengerti. Arya dan Rania menatap Anggita dan Angel yang ada di hadapannya dengan penuh tanda tanya meminta penjelasan. Sejujurnya, Rania langsung tak suka ketika bertemu dengan Anggita yang ternyata adalah pemilik usaha travel yang akan dibeli Arya itu. Tetapi, ia tak bisa meminta Arya untuk membatalkan pembeliannya karena uang sudah diberikan kepada Anggita. Rania hanya sempat berpikir kalau perusahaan ini pasti penuh ketidakberesan, dan fellingnya pun benar. Dilihat dari ekspresi kekagetan Bima, Rania sudah bisa mengetahui bahwa Anggita menjual perusahaan ini tanpa sepengetahuan Bima.


"Abaikan saja dia! Lanjutkan saja tanda tangannya, Mas Arya! Dia cuma manager kok disini!," kata Anggita melirik sinis pada Bima. Ia tersenyum manis kepada Arya. Bahkan bersikap manis kepada Arya. Rania sangat tidak suka melihat tingkah laku Anggita. Menurutnya Anggita sedang berusaha menarik perhatian Arya.


"Tunggu, Yang!," cegah Rania mengambil alih berkas yang disodorkan Anggita. Arya terkejut. Bukan karena sikap Rania saja, tetapi panggilan 'Yang' yang baru saja dikatakan Rania. Anggita menatap Rania tajam.


"Maaf, Mbak Anggita! Kami mengingatkan sekali lagi, jika memang ada yang disembunyikan di perusahaan ini, dan merugikan kami di kemudian hari, kami akan membatalkan proses transaksinya," kata Rania tegas. Kali ini ia menggunakan bahasa seformal mungkin seolah tak mengenal Anggita. Anggita menatap Rania tidak suka. Ia sedikit terkejut ketika mengetahui pembeli perusahaannya adalah Arya, calon suami Rania. Penampilan Arya yang memang dewasa dan santai, menarik perhatian Anggita. Tetapi, ia tak bisa leluasa menarik perhatian Arya karena Rania ada di samping Arya.


"Tenang saja, Ibu Rania!," kata Anggita tersenyum. Ia menekankan kata 'ibu' dengan maksud merendahkan Rania di hadapan semua orang.


"Maaf, Ibu Pramudya! Panggil Ibu Pramudya! Itu nama belakang saya. Dia ini istri saya," sela Arya dengan senyum bangganya. Anggita mendengus kesal. Rania tersenyum mendengar pembelaan Arya.


"Tenang saja, Ibu Pramudya! Ibu bisa cek berkas perusahaan ini. Tidak ada nama mantan suami Ibu di berkas tersebut," kata Anggita menyodorkan sebuah dokumen tebal. Ia kembali menekankan kata 'mantan suami' untuk menyebut Bima. Rania mengerutkan keningnya tanda ia tak suka cara Anggita. Arya yang menangkap sinyal itu menyela pembicaraan.


"Tolong sopan sedikit!," tegas Arya. Anggita memutar bola matanya tanda mulai kesal dengan perilaku Arya yang terus melindungi Rania. Kemudian sesudah berdiskusi sejenak, Arya menandatangani berkas-berkas itu. Seusai menandatangani semua berkasnya, Arya meminta izin untuk berbicara dengan karyawan perusahaan itu. Sedangkan, Anggita, Angel dan Mark pamit untuk pulang.


Anggita sempat berpesan dengan manis kepada Arya sebelum pergi. "Mas, chat aku ya kalau mau tanya-tanya. Atau perlu perusahaan lagi?".


"Makasih, Mbak Anggi. Kalau soal itu chat aja istri saya ya?," jawab Arya cuek. Senyum manis Anggita langsung lenyap begitu mendengar jawaban Arya. Arya selalu mengarahkan semuanya kepada Rania. Mengakui Rania sebagai istrinya. Memangnya sejak kapan mereka menikah?, batin Anggita kesal. Arya bukan pria seperti Bima yang akan mudah tertarik pada wanita. Selain itu, Arya adalah pria mapan incaran para wanita.


"Oh, sudah nikah ya, Mas Arya?," seru Anggita berusaha menarik perhatian Arya. Arya yang sedang sibuk dengan ponselnya hanya menoleh dan tersenyum sejenak pada Anggita. Kemudian, ia kembali pada ponselnya.


"Bohong ah, Mas Arya! Orang jarinya aja enggak pakai cincin!," seru Anggita lagi dengan suara setengah bercanda. Arya memalingkan wajahnya pada Anggita. Melihatnya dari atas ke bawah. Kemudian tertawa kecil. Membuat Anggita tersipu dipandangi seperti itu.


"Enggak pernah ngaji ya? Ketahuan lho! Dalam agama saya, laki-laki enggak boleh pakai perhiasan emas, Mbak Anggi. Lagipula, kalaupun saya belum nikah, saya akan mencari wanita yang bisa menjaga kehormatannya, bukan yang murahan," jawab Arya. Anggita benar-benar terdiam. Ia menggertak giginya karena kesal. Ia benar-benar merasa jatuh sejatuh-jatuhnya mendengar kata-kata Arya. Ia merasa Arya menganggapnya perempuan penggoda yang murahan, yang bahkan tidak mengenal agama. Karena tak tahu lagi bagaimana menghadapi Arya, Anggita pun berlalu meninggalkan Arya yang sibuk dengan ponselnya.


🍁🍁🍁


"Tadi ngobrol apa sama Anggita?," tanya Rania ketika Arya memasuki ruangan yang mereka gunakan untuk meeting. Arya tersenyum, menangkap sinyal-sinyal cemburu pada Rania.


"Enggak. Dia cuma ngajak aku makan sesekali," jawab Arya berbohong. Ia melirik perubahan raut wajah Rania yang mulai mendung.


"Enggak lah! Sudah ada calon istri sholehah, masa mau cari istri begitu," jawab Arya dengan senyum lembutnya. Rania pun tersenyum sumringah mendengar jawaban Arya.


"Permisi. Apa bisa bicara sebentar Mas Arya?," terdengar suara Bima menyela percakapan mereka. Arya mengangguk senyum.


"Boleh, Bim. Ayo sekalian makan siang!," ajak Arya. Sebelum pergi, Arya mendekati Rania dan berkata, " Nia, kamu enggak apa-apa kan balik ke cafe sendiri? Kamu bawa mobilku. Nanti aku mampir ke cafe sebelum ke rumah kamu".


Rania mengangguk senyum. Ia menerima kunci mobil Arya dan segera pamit kepada mereka berdua. Mata Bima dan Rania sempat bertemu sejenak. Tetapi kemudian Rania menundukkan wajahnya sedikit dan mengucap salam. Arya dan Bima menjawab salam Rania.


Sepeninggal Rania, Arya dan Bima makan siang di warung kaki lima dekat kantor mereka. Bima terlihat kagum melihat kerendahan hati Arya. Walaupun ia pengusaha yang berada, Arya tak sungkan untuk makan di warung kaki lima bersama dirinya. Mereka berdua memesan kopi hitam.


"Mas Arya, maafkan saya. Sebenarnya banyak yang ingin saya tanyakan, Mas," kata Bima. Arya tertawa mendengar Bima bicara seformal itu.


"Bim, sejak kapan kamu seformal ini sama aku? Duh, santai aja lah!," seru Arya. Bima tersenyum. "Apa yang mau kamu tanyain?," tanya Arya lagi.


"Soal perusahaan dan karyawan, Mas. Rencana Mas Arya ke depan seperti apa?," tanya Bima. Arya meneguk kopinya sedikit.


"Tenang saja, Bima! Aku membeli perusahaan ini bukan berarti aku akan mengubah semuanya. Aku hanya akan memeriksa manajemennya, konsepnya dan beberapa hal. Untuk sementara lanjutkan saja dulu operasionalnya. Rekening sudah aku pegang kok!," kata Arya. Bima menghela napas lega.


"Berarti enggak ada yang akan Mas Arya rubah?," tanya Bima.


"Tentu ada, Bim! Pelan-pelan. Semua ada strateginya. Aku tetap ingin kalian dapat gaji. Cari kerjaan sekarang kan juga susah! Kalau aku berhentikan sementara pun, kalian mau makan apa? Makanya aku minta kalian jalankan operasional seperti biasa. Soal perubahan, biarkan aku dan orang-orangku saja yang gerak," jawab Arya.


"Apa aku masih bisa kerja disana, Mas? Aku sadar kalau aku bukan direktur dan manajer yang baik. Direktur apa yang bahkan tak tahu bahwa namanya sebenarnya tak pernah tercantum di akta?," seloroh Bima. Ia tertawa pahit. Arya hanya tersenyum. Kemudian, menepuk pundak Bima sebagai tanda memberi support pada Bima.


"Mas, satu lagi. Apa benar Mas Arya akan menikahi Rania?," tanya Bima sungguh-sungguh. Arya terdiam. Ia tahu Bima menyimpan harapan untuk kembali pada mantan istrinya itu. Tetapi, ia tidak mungkin berkata bohong pada Bima. Arya pun menjawabnya dengan mengangguk.


"Alhamdulillah. Wanita sebaik Rania memang pantas mendapatkan yang terbaik. Selama hidup bersamaku, aku membuatnya menderita. Aku ajak dia hidup susah dari nol. Tinggal di kosan kecil. Padahal bisa saja dia memilih pria lain yang lebih dariku. Begitu berhasil, aku lupa mengajaknya hidup bahagia. Aku tergoda pada Anggita. Menikahinya tanpa sepengetahuan Rania. Aku tahu aku salah! Tapi aku bertahan karena aku adalah suami yang tak boleh dibantah istri. Aku tak adil dalam hal nafkah. Bahkan aku terlihat lebih sayang dan peduli pada Anggita. Aku pernah menampar Rania hanya karena dia meminta haknya. Aku menceraikannya hanya karena dia berusaha menutupi kekurangan nafkah dariku yang sebagian besar kuberikan pada Anggita. Padahal saat itu Rania harus membiayai anak-anak juga. Aku jahat kan, Mas Arya?," Bima menyudahi cerita masa lalunya dengan senyuman pahit. Airmatanya menetes di ujung matanya. Ia mengusapnya.


"Jangan lakukan itu padanya, Mas! Jangan sakiti Rania lagi! Aku menyesal, Mas. Menyesal sekali!," kata Bima tertahan. Airmatanya sekali lagi menetes. Arya tak menjawab apa-apa karena ia tahu Bima hanya butuh didengarkan saat ini. Ia hanya mengusap lengan Bima.


"Aku titip anak-anakku, Mas," kata Bima. Arya mengangguk senyum. Bima tiba-tiba memeluknya sebentar. Arya menepuk punggung Bima. Saat itulah Bima berbisik, "terima kasih, Mas Arya".


🍁🍁🍁