La Tahzan

La Tahzan
KARMA 1



Bima menatap langit malam dari teras rumahnya. Angin dingin berhembus menerpa tubuhnya. Tubuhnya kedinginan. Untuk sesaat dingin menusuk ke tulangnya. Rumahnya yang minimalis itu kini terasa luas dan sepi. Tanaman di halaman belakang terlihat tak terurus lagi, seperti dirinya kini. Hidup sendiri tanpa ada siapapun yang menemani.


Sudah hampir sepuluh tahun berlalu sejak pernikahan Arya dan Rania. Arya dan Rania sudah memiliki anak berumur delapan tahun. Tetapi ia tetap betah dengan kesendiriannya. Hatinya masih merasa bersalah dan menyesal kepada Rania dan anak-anaknya. Meskipun Rania dan anak-anaknya sudah memaafkannya, tetapi rasa sesal dan sedihnga itu tak juga kunjung pergi dari hatinya. Ardan dan Husna bahkan hampir setiap minggu datang untuk mengunjunginya. Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang luar biasa di tangan Arya dan Rania.


Ardan sebentar lagi akan berangkat ke Mesir untuk melanjutkan S2-nya. Ia telah menjadi hafidz Qur'an di umur lima belas tahun. Husna sendiri sebentar lagi akan masuk kuliah. Sejak SMA, Husna memutuskan mondok di Pondok Pesantren Tebu Ireng. Ia menjadi santri teladan. Sebentar lagi ia akan memasuki masa kuliahnya, dan atas kepandaiannya, yayasan memberinya beasiswa untuk menempuh S1 juga di Maroko.


Bima menghela napas panjang. Sebentar lagi, kedua anaknya akan pergi jauh. Ia bangga, tetapi hatinya bertanya, pantaskah ia bangga atas keberhasilan anak-anaknya? Sedangkan, ia tak pernah berada di sisi anak-anaknya semenjak bercerai dengan Rania. Sekali lagi Bima menghela napas panjang.


"Assalamu'alaikum," sebuah suara lelaki merdu terdengar dari arah depan rumahnya. Bima mengenalinya. Itu suara Ardan, anaknya. Ia pun bergegas ke depan menyambut anak lelakinya itu.


"Wa'alaikumsalam," jawab Bima tersenyum melihat kedatangan kedua anaknya. Ardan dan Husna tersenyum melihat ayahnya. Bima mengajak mereka masuk dan bersantai di teras belakang. Ardan dan Bima duduk di teras belakang, sedangkan Husna langsung menuju dapur menyiapkan makan malam dan kudapan yang ia beli di jalan sebelum datang.


"Kapan kalian akan berangkat kuliah?," tanya Bima memecah keheningan antara dirinya dan Ardan. Ardan memang jarang membuka obrolan. Ia hanya menjawab jika ditanya olehnya. Ia mengerti kenapa Ardan bersikap demikian. Itu karena Ardan tak merasa dekat dengan dirinya.


"Lusa kami akan berangkat," jawab Ardan. Bima menghela napas dan memandang wajah putranya itu dari samping. Wajah Ardan mirip seperti Rania. Hidungnya kecil dan mancung. Tak terasa anak itu sudah dua puluh tahun. Sekarang penyesalan Bima bertambah karena tak pernah memberi waktu untuk keluarganya dulu. Jika diberi kesempatan kembali ke masa lalunya, ia ingin memperbaiki semuanya. Ia ingin lebih banyak meluangkan waktu untuk keluarganya.


"Kamu masih marah sama Papa?," tanya Bima kemudian. Ia ingin rasanya mendapatkan maaf yang sebenarnya dari anak-anaknya. Ardan yang mendapat pertanyaan demikian terdiam menatap ayahnya.


"Marah karena apa?," Ardan pun bertanya balik. Bima menghela napas sekali lagi.


"Marah karena masa lalu kita. Apa kamu masih menyimpan marahmu kepada Papa?," tanya Bima lagi. Ardan menatap Bima lekat. Sejenak kemudian, Ardan mengalihkan pandangannya ke langit malam kota Surabaya.


"Ardan enggak pernah marah ke Papa soal itu. Ardan cuma enggak ngerti dan kecewa kenapa Papa menyakiti dan meninggalkan wanita sebaik Mama demi orang lain yang bahkan baru datang dalam hidup Papa. Ardan selalu berpikir, apa salah Mama? Apa salahnya kami sama Papa. Kenapa Papa sampai harus memulangkan kami kepada Oma dan Opa?," jawab Ardan. Matanya menerawang jauh melanglang langit malam itu. Bima tertunduk.


"Iya. Itulah bodohnya Papamu ini," kata Bima lirih. Ardan tertawa kecil.


"Manusia semua bodoh, Pa. Tapi kita selalu belajar memperbaikinya. Jangan menutup mata dan telinga pada kebaikan sekecil apapun itu. Mama selalu mengajarkan Ardan untuk bertanggung jawab. Bukan Ardan saja, tetapi juga Husna. Ardan belajar tanggung jawab itu apa justru dari Mama. Mama yang Papa benci itu adalah wanita hebat kami yang enggak pernah mengajarkan kebencian kepada kami, apalagi kepada Papa. Mama justru selalu mengingatkan untuk berbakti kepada Papa juga," jawab Ardan. Kata-kata itu seolah menggambarkan dirinya sebagai orang yang tak pernah bersyukur akan nikmat Yang Maha Kuasa.


"Tetapi, Papa bukanlah suami yang pantas untuk Mama. Mama adalah wanita baik, membesarkan kami di tengah traumanya. Kami juga harus saling menguatkan satu sama lain. Maaf, Pa! Tapi Ardan dan Husnalah yang meminta Mama untuk menikah dengan Papa Arya. Karena kami enggak mau melihat air mata Mama lagi. Kami tetap menghargai Papa sebagai ayah kandung kami. Kami akan tetap berbakti kepada Papa selayaknya anak kepada orang tuanya, karena kami tetaplah anak-anak Papa," kata Ardan. Bima menitikkan air matanya. Ia mengangguk perlahan. Ia menangis bahagia. Tak disangkanya kalau anak-anaknya bisa begitu dewasa mengambil sikap. Apa yang dikatakan Ardan tentang dirinya tak pantas menjadi suami Rania, baginya adalah benar. Wanita sebaik Rania memang pantas mendapatkan laki-laki seperti Arya. Baik, jujur dan tegas pendiriannya.


"Ayo, Kak, Pa! Makanannya sudah siap!," suara Husna membuyarkan lamunan mereka. Mereka pun masuk tanpa berbicara sepatah kata pun.


🍁🍁🍁


*POV BIMA


Aku menatap semua bintang malam ini. Malam yang semakin larut tidak mendatangkan kantuk padaku. Mungkin karena aku sedang gundah dan galau. Bukan karena memikirkan wanita, tetapi memikirkan penyesalan. Iya! Aku menyesal.


Hari ini seperti biasa, Ardan dan Husna datang. Seperti biasa juga mereka tak pernah mau menginap. Aku tahu rumah ini mengingatkan mereka pada masa lalu. Seharusnya mereka bisa mengingat hal yang baik dari rumah ini, tetapi sepertinya ingatan baik itu telah kuhapus dengan ingatan tentang betapa aku menyakiti Mama mereka, Rania.


Ah, masa lalu! Kenapa aku begitu bodoh membiarkan diriku memuaskan diri kepada hawa nafsu bodoh itu. Aku benar-benar kehilangan semuanya. Aku sadar itu konsekuensi dari apa yang kulakukan. Tetapi entan kenapa rasa sesal itu tetap menggelayut di hatiku, tak mau hilang. Meskipun aku sudah berkali-kali meminta maaf kepada mereka yang kusakiti, dan meskipun mereka sudah memberiku maaf, aku tetap tidak bisa menghapus penyesalan yang menyesakkan dadaku ini.


Sebenarnya, kenyataan bahwa mereka yang hilang dan lepas dariku tak bisa kudapatkan lagi itulah yang membuat sesal ini tak kunjung pergi. Kenyataan, meskipun sudah memaafkan aku, aku tetap tak bisa lagi memiliki mereka. Mereka telah menjadi milik orang lain. Aku sedih, cemburu dan kecewa pada diriku sendiri. Kebaikan-kebaikan yang tak terlihat di mataku, kini seolah terpampang nyata di depan mataku. Ketika mereka bahagia, aku merasa iri karena aku tak lagi bisa bergabung dalam kebahagiaan itu.


Anak-anakku sebentar lagi akan pergi keluar negeri. Mereka membanggakan. Tetapi hati kecilku bertanya, pantaskah aku ikut berbangga hati dengan apa yang diraih mereka? Keberhasilan mereka adalah berkat didikan Rania, mamanya dan Arya, papa tiri mereka. Bukan aku! Mereka tak pernah merasa dekat denganku. Aku merasakan kehadiran mereka, kasih sayang mereka dan ketulusan mereka. Yang tidak kurasakan adalah penerimaan mereka terhadapku. Mereka tidak membenciku. Hanya saja mereka terlanjur kecewa dengan sikapku di masa lalu. Bahkan hari ini Ardan mengungkapkan isi hatinya, apa yang sekian lama ingin ia ungkapkan.


Ardan mengatakan bahwa aku tetaplah ayah mereka. Kenyataan bahwa aku adalah ayah kandung mereka, tidak pernah mereka tolak atau hindari. Hanya saja, aku bukanlah orang yang pantas menjadi suami Mama mereka, Rania. Hatiku sakit dan sedih mendengarnya. Tetapi itu adalah hal yang benar. Laki-laki sepertiku bukan orang yang pantas bagi wanita sebaik Rania. Laki-laki yang bahkan tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, bagaimana bisa akan mengendalikan keluarganya? Aku merasa konyol.


Karma. Iya, inilah karma. Karma, balasan atas tindakan dan perilakumu. Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Dan aku sedang menuainya sekarang. Hidup dalam kesendirian dan penyesalan. Aku hanya berharap mendapatkan ampunan dari Allah. Aku ingin kembali ke masa sebelumnya. Jika ada kesempatan memiliki mereka lagi, sekecil apapun itu ingin kuraih. Tidak! Pintu mereka sudah tertutup untukku. Kesempatan itu hanyalah anganku. Sekarang ini harusnya aku bersyukur. Aku diberi kesempatan untuk mendapatkan maaf, memperbaiki diri dan melihat mereka bahagia. Iya, harusnya aku belajar bersyukur agar Allah tidak mengambil kesempatan itu lagi. Aku akan berusaha sebaik-baiknya lagi*.


🍁🍁🍁