
Bima melangkahkan kakinya di pinggir pelabuhan Tanjung Perak. Ia menikmati angin pantai yang berhembus kencang di malam hari. Dingin terasa menerpa tubuhnya yang gagah berbalut kaos dan celana jeans itu. Tetapi sepertinya dingin tak terasa di tubuhnya. Ia tampak tak memedulikannya. Ia memandang jauh ke arah lautan yang memantulkan warna langit senja.
Bima marah, teramat marah. Ia marah kepada dirinya sendiri. Ia juga marah kepada Rania. Kenapa Rania harus bekerja? Mengambil satu langkah tanpa sepengetahuannya. Di perusahaan tempat ia bekerja pula! Rasanya harga dirinya ditendang jauh-jauh oleh Rania, wanita yang dibanggakannya. Ia tak bisa mengerti kenapa Rania begitu pembangkang akhir-akhir ini. Padahal, saat ini ia sedang mengusahakan yang terbaik bagi mereka. Agar hidup mereka tidak itu-itu saja. Namun, semua rencananya gagal karena Rania yang mengaudit semua keuangan perusahaan. Ketelitian Rania membuat ia harus memutar otak dalam merevisi keuangan perusahaan.
Awalnya ia diberitahu Anggita bahwa Mark, suami Angel akan mendirikan perusahaan di Surabaya. Perusahaan yang bergerak di bidang distributor makanan. Ia tertarik untuk join dan akan menanam saham sebesar 50 persen di perusahaan itu. Apalah daya uang yang akan ia gunakan kurang, ditambah dengan harus menafkahi kedua istrinya.
Sebenarnya, ia tak ingin mengkhianati perusahaan yang sudah membesarkannya seperti sekarang ini. Namun, yang namanya setan akan memberinya kesempatan berbuat maksiat. Hari dimana Rania meminta uang haknya, disitulah ia mengembalikan uang Rania dengan mengambil uang perusahaan. Uang sisa pembayaran dari kliennya yang diberikan secara cash. Walaupun begitu, ia menghibur hatinya dengan membenarkan apa yang dilakukannya. Ia merasa ikut membesarkan perusahaan itu. Sudah seharusnya ia memiliki tambahan dari keuntungan perusahaan.
"Ah, sial!," seru Bima kesal. Padahal sedikit lagi, ia bisa mengumpulkan uangnya. Kalau ia berinvestasi sekarang, tentunya ia hanya bisa menanam saham di perusahaan barunya sekitar 30 persen saja. Dan itu tak cukup menjadikannya direktur. Ia akan berada di posisi komisaris atau hanya manager. Kehidupannya tak akan pernah lepas dari korupsi dan kebohongan. Uangnya tak akan pernah cukup untuk dua istri dan dua anak. Apalagi saat ini Anggita juga sudah hamil.
Jalan satu-satunya yang harus ia ambil adalah menceraikan salah satu istrinya. Toh, dengan begitu ia membebaskan salah satu istrinya. Tapi siapa yang akan ia ceraikan? Anggita sedang hamil anaknya, sedangkan Rania juga memiliki anak-anaknya. Jika dibandingkan soal peran, Anggita tak berperan apa-apa dalam hidupnya. Jika ia mempertahankan Rania, itu artinya ia membalas seluruh kebaikan Rania menemaninya selama ini. Lalu, bagaimana nasib Anggita? Ia yatim piatu, belum lagi ia tak akan bisa bekerja karena kondisinya yang tengah hamil. Anggita hamil anaknya, anak kandungnya juga. Itu artinya juga ia tak adil terhadap anak-anaknya.
Pikiran-pikiran itu terus mengganggunya. Hati dan pikirannya seolah-olah sedang menimbang baik dan buruknya mempertahankan kedua istrinya. Butuh waktu lama baginya untuk memutuskan siapa yang akan ia tinggalkan. Namun, pada akhirnya ia memutuskan dengan berat melepas salah satunya. Apapun resikonya. Karena ia sudah tak sanggup lagi berbuat adil.
🍁🍁🍁
Rania sedang merapikan baju-bajunya saat Anggita berdiri di depan pintunya. Ia menatap Rania dalam-dalam. Rania yang melihatnya, tampak bingung. Matanya yang sembab terlihat kalau dia habis menangis.
"Ada apa, Nggi?," tanya Rania. Anggita berjalan perlahan masuk ke ruangan Rania. Ia berdiri di hadapan Rania dan menatapnya lekat. Perutnya terlihat sedikit membuncit menandakan ia sedang hamil. Tiba-tiba ia memeluk Rania dan menangis sesenggukan.
"Kamu kenapa, Nggi?," tanya Rania lagi. Ia melepaskan pelukan Anggita dan mengajaknya duduk di tepi tempat tidur. Anggita masih terisak-isak. Rania iba melihat keadaannya.
"Mbak, aku takut kalau Bima beneran melakukan niatnya. Yang diceraikan pasti aku," isak Anggita. Rania menghela napas. Sungguh, ia ingin mengatakan tidak, tapi hatinya mencegahnya.
"Mbak Nia, apa boleh aku minta tolong?," tanya Anggita memelas. Rania mengernyitkan dahinya. Menunggu kata-kata Anggita selanjutnya. "Mbak, aku ini yatim piatu. Aku lagi hamil anak pertamaku. Kalau sampai Bima akhirnya memilihku yang dicerai, apa bisa kalau...kalau Mbak Nia mengalah?," pinta Anggita memelas. Air matanya terus meleleh.
"Maksudnya?," Rania bertanya karena ia kurang memahami maksud Anggita. Anggita memegang tangan Rania dan dengan wajah penuh harapan, ia berkata, "Mbak, aku minta maaf atas kesalahanku mengambil Bima darimu. Sekali lagi, sekali ini aku mohon sama Mbak, untuk mengalah sekali lagi buat aku yang hina ini, Mbak. Demi anak yang dalam kandunganku ini. Suatu saat, kalau memang Bima ingin kembali padamu, aku serahkan kembali, Mbak". Anggita memohon sambil terisak. Bahkan ia jatuh terduduk di bawah kaki Rania.
Rania benar-benar tak habis pikir dengan pemikiran Anggita. Separuh hatinya benar-benar tak terima dengan perkataan Anggita. Bagaimana mungkin seorang istri menyerahkan suami dan ayah dari anak-anaknya kepada perempuan lain. Meskipun perempuan itu punya hak yang sama. Tetapi separuh hatinya juga bilang kalau bertahan dengan Bima saat ini adalah keputusan yang salah. Bima yang sekarang bukanlah Bima yang ia kenal dahulu. Bima yang sekarang jauh dari Allah, menghalalkan segala cara dan kasar. Namun, jika Bima mempertahankannya, ia berjanji untuk memperbaiki Bima kembali seperti dulu.
"Anggita, bangun! Kamu jangan kayak gini. Bima hanya emosi sesaat, Nggi. Insha Allah dia akan berubah pikiran nanti saat dia pulang," kata Rania membangunkan tubuh Anggita. Anggita masih terisak.
"Nggi, kamu nggak boleh kayak gini. Bima hanya emosi. Itu juga karena kesalahanku," kata Rania sendu.
"Tapi, kalau Bima beneran gimana, Mbak?," Anggita masih terisak. Rania terdiam. Ingin rasanya, ia menjawab kalau seandainya ia yang diceraikan Bima, akankah Anggita membelanya? Tentu saja tidak! Karena dia sendiri sedang memohon untuk posisinya.
"Kalau aku yang dicerai, apa yang akan kamu lakukan?," tanya Rania tiba-tiba. Matanya menatap Anggita nanar. Anggita terdiam menatap Rania. Keduanya saling berpandangan mencoba mencari jawaban masing-masing.
"Aku akan membela Mbak Nia. Toh, kita sudah bisa bersama begini. Kenapa harus pisah-pisah lagi?," jawab Anggita. Rania tertawa kecut. Ia tahu itu hanya jawaban Anggita saja. Ia tak akan mungkin beranj melawan Bima yang emosi.
"Sudahlah! Biarkan Bima sendiri malam ini. Kita tunggu saja dia pulang. Sambut aja besok pas dia pulang. Sekarang kamu istirahat," kata Rania. Anggita mengangguk. Ia kembali ke kamarnya.
Sepeninggal Anggita, pikiran Rania melayang kembali kepada kata-kata Bima dan Anggita. Hatinya dilema. Satu sisi ia ingin mempertahankan Bima, tapi sisi lain ia kasihan jika harus menyingkirkan Anggita yang sedang hamil. Mereka sama-sama tak memberinya pilihan. Apapun keputusan Bima nanti, tetap mengarahkannya untuk menyerah. Entah kenapa saat ini ia benar-benar merasa lelah. Lelah untuk memperjuangkan Bima dan rumah tangga mereka. Sepertinya Allah benar-benar ingin ia melepas Bima. Jika ia harus melepas Bima, bagaimana dengan anak-anaknya? Hidup bertiga tanpa suami? Apakah itu pilihan yang harus ia pilih? Ssmuanya terasa berat baginya. Ia hanya berharap agar Allah benar-benar memilihkan jalan terbaik baginya dan anak-anaknya.
🍁🍁🍁