La Tahzan

La Tahzan
EMAIL PENGGUGAH HATI



Bima berjalan gontai memasuki lobby kantornya. Ia begitu tak bersemangat untuk bekerja di kantornya. Bahkan untuk mengucapkan selamat pagi kepada karyawannya seperti biasanya pun ia enggan. Beberapa pasang mata karyawannya mengikuti langkah Bima yang tanpa semangat menuju ruangannya. Mereka terdengar berbisik satu sama lain.


Bima membuka pintu ruangan kerjanya. Disana tampak semuanya berantakan. Doni, office boy-nya tampak berdiri di pintu ruang kerjanya.


"Pak, saya bantu ya?," kata Doni menawarkan diri. Bima menatap pemuda itu dan mengangguk senyum. Doni meletakkan kopi Bima di meja dan turun membantu Bima membereskan ruangannya. Setelah selesai, Bima memberikan selembar uang lima puluh ribuan padanya dan minta tolong dibelikan sarapan.


"Belikan saya sarapan, apa aja. Sisanya buat kamu," kata Bima. Doni mengangguk senyum. Pemuda tampak terlihat senang mendengar permintaan atasannya itu.


Bima menyalakan komputer di hadapannya seperti biasa. Ia mulai memeriksa email dari klien-kliennya. Tak ada yang perlu ia balas. Rata-rata semua memberikan konfirmasi pembayaran paket perjalanan yang mereka beli. Ia sedikit terganggu dengan email spam yang mulai menumpuk. Ia pun hendak membersihkan email itu. Tetapi, ia tetap memeriksanya satu per satu.


Mata Bima terpake pada satu email. Email yang tak ia kenal pengirimnya. Kolom pengirim hanya bertulis alamat email. Namun, subjek email itu membuatnya ingin membukanya.


"*Gue kira lo lelaki yang baik. Ternyata begini juga nasib Rania. Tahu gitu, aku pertahankan aja perjodohan kami dulu! Namanya juga manusia, enggak bisa lihat masa depan. Thanks sudah melepaskan Rania.


By Angga*"


Begitu isi email itu. Angga. Dia adalah orang yang pernah dijodohkan dengan Rania. Keluarganya dan keluarga Rania memang mengenal sejak lama. Rania dan Angga juga sudah mengenal dan berteman sejak kecil. Karena kedekatan itu mereka berniat menjodohkan Angga dan Rania. Sayangnya, Angga harus mengalah saat Rania membawa pulang Bima dan memperkenalkannya kepada kedua orang tua Rania.


Membaca email itu membuat Bima menghela napas panjang. Ia ingat bagaimana ia memperjuangkan Rania. Di sekitar Rania ada banyak pria-pria dari keluarga kaya. Tetapi, atas kegigihannya juga, Rania memilihnya sebagai suami. Namun, apa yang dilakukannya sekarang? Ia merasa menjadi orang yang paling jahat. Dilihatnya tanggal email itu dikirim. Sudah hampir tiga tahun yang lalu. Ia pun memeriksa email-email itu lagi. Ternyata ia menemukan banyak email yang isinya hampir sama, mengatainya bodoh, ***** bahkan brengsek. Hingga ada satu email yang singkat, namun cukup membuat hatinya panas.


"*Thanks ya


Kamu membuat do'aku siang malam terkabul. Aku tidak akan mengataimu, aku malah berterima kasih padamu sudah bercerai dengan Rania. Jadi, aku punya kesempatan bidadari sepertinya. Aku punya seseorang yang akan menjaga surgaku.


Terima kasih.


Itu email terakhir yang dibaca Bima. Hanya inisial nama. Bahkan nama gmail-nya pun nama yang acak. Pelan-pelan cemburu menelusup dalam ruang hatinya. Hati kecilnya berkata ia ingin kembali dengan Rania. Tetapi setelah apa yang dilakukannya dan segala prasangka bodohnya itu, ia tak yakin Rania akan kembali padanya.


Separuh hati Bima mengatakan tidak ada salahnya mencoba. Bukankah Rania adalah wanita yang baik dan pemaaf?, batinnya. Ia membenarkan apa kata hatinya itu. Ia ingat bagaimana Rania menerima kehadiran Anggita yang dinikahinya tanpa seizin Rania. Bahkan Rania hidup selama dua tahun serumah dengan Anggita. Hati Rania itu lapang, mudah memaafkan, batin Bima lagi. Ia tersenyum mengingat kebaikan-kebaikan Rania selama menjadi istrinya.


Jika melihat kembali isi email-email itu, Bima tak sanggup untuk marah. Apa yang mereka katakan adalah benar adanya. Ia adalah pria yang bodoh, ***** dan brengsek karena sudah membuang bidadari secantik Rania. Bukan hanya cantik, tetapi wanita sebaik Rania. Hanya demi memuaskan jiwa penasarannya, ia melupakan semua kebaikan Rania. Bahkan ketika Rania sudah menerima kesalahannya, ia masih saja melukai hati wanita itu.


Ah, mengingat itu semua hati Bima hancur dan sedih. Apalagi dengan prasangka bodoh tanpa bukti, ia membiarkan wanita itu berjuang untuk anak-anaknya sendirian. Ia membayangkan bagaimana menghadapi dunia dari sisi Rania saat itu. Diceraikan oleh suami yang dicintainya, membesarkan dua anak-anaknya dan menjelaskan situasinya saat itu. Memang, ketika dilihat saat ini, sepertinya Rania berhasil melalui semuanya dengan baik. Tetapi Bima yakin ada perjuangan yang menyakitkan dibalik itu semua. Rania memang tak akan kekurangan secara materi untuk membesarkan anak-anaknya karena keluarganya memang orang berada. Tetapi, bagaimana ia membesarkan secara morilnya? Menghapus sakit hati dan traumanya?


Bima malu dan sedih. Ia malu karena akhirnya Rania berhasil membuktikan bisa bangkit tanpa dirinya. Melalui semuanya tanpa dukungan atau kasih sayang darinya. Justru, ia kini sendiri meratapi kesalahan masa lalunya. Ia dengan congkaknya berani mengatakan tanpa Rania, ia bisa sukses bersama Anggita. Nyatanya, ia terpuruk sendiri di ruangan yang tak lebih besar dari kantornya di perusahaan Lutfi. Gajinya memang lebih besar dari yang Lutfi berikan, tetapi entah kenapa, sepeser pun ia tak memiliki simpanan. Entah apa jadinya masa tuanya nanti.


"Pak, sarapannya," suara Doni membuyarkan lamunan Bima. Bima menatap pemuda di hadapannya itu. Doni tersenyum menyodorkan sarapan untuk Bima.


"Saya makan sendiri?," tanya Bima. Doni menatap Bima heran. Ia tak mengerti arti pertanyaan atasannya itu.


"Maaf, maksudnya, Pak? Bapak mau saya suapin?," tanya Doni dengan polosnya. Bima tertawa melihat wajah Doni yang keheranan itu.


"Maksud saya, kamu sarapan di sini juga sama saya! Kalau perlu Pak Mamat security juga boleh sarapan bareng saya sekarang," kata Bima. Doni membelalakan matanya seolah tak percaya apa yang didengarnya barusan. Bima kembali tertawa melihat wajah Doni yang keheranan itu.


"Sudah, di depan lagi enggak ada customer kan? Suruh Dedi tutup aja dulu sebentar. Kita sarapan disini semua," kata Bima. Doni mengangguk dan bergegas mengajak teman-temannya yang lain.


Bima tersenyum. Jadi, begini rasanya kesepian?, batinnya. Bahkan, untuk menemaninya sarapan saja ia harus mengumpulkan karyawannya. Ia tersenyum pahit. Hari ini ia sedang tak ingin sendirian. Ia ingin mendengar celotehan meskipun hanya dari karyawan-karyawannya. Ia rindu suasana rumahnya yang dulu, saat bersama Rania. Ia rindu celotehan Ardan yang ingin mengajaknya main game dan Husna yang ingin mengajaknya jalan-jalan. Ia juga rindu bagaimana suara lembut Rania, ngambeknya Rania dan manjanya Rania. Ketika menyeruput kopinya, ia teringat bagaimana pagi-pagi Rania bangun, membuatkan kopi dan memasak sarapan untuk mereka. Semua itu membayangi Bima dengan jelas. Ia merindukan semua itu, semua yang telah ia lepaskan. Diam-diam air matanya meleleh.


🍁🍁🍁