
Anggita memasuki ruangan kantor Bima tanpa permisi. Semua karyawan di kantor Bima sudah sangat tahu siapa Anggita. Meskipun mata mereka mengikuti langkah kaki Anggita, tetapi mulut mereka tetap tersenyum kepada pelanggan.
Anggita hari ini ingin memberi kejutan kepada Bima, suaminya. Sengaja ia datang ke kantor Bima setelah mengantarkan Zarina ke sekolahnya. Namun, ia mendapati ruangan kerja Bima yang kosong dan berantakan. Ia keluar lagi dan bertanya kepada karyawan di sana.
"Kemana Pak Bima?," tanya Anggita kepada salah satu resepsionisnya. Ia bahkan menyela tanpa permisi di saat karyawannya itu sedang melayani customer.
"Belum datang, Bu," jawab karyawannya itu. Anggita mengerutkan keningnya. Kemana Bima? Padahal sudah dari pagi ia berangkat. Ia pun memilih kembali ke ruang kerja Bima. Ia duduk di kursi Bima. Pikirannya mulai kacau. Ia menelpon Bima beberapa kali tetapi tak ada jawaban. Digebraknya meja Bima dengan cukup keras tanda ia mulai kesal. Ia masih ingat betapa rapi dan wanginya penampilan Bima hari ini. Apakah Bima sedang menggoda wanita lain? Pikirannya pun melayang-layang dan membuatnya semakin kesal. Ia tak terima. Tetapi tak ada apapun yang bisa dilakukannya kecuali menunggu Bima di sana, dan ia memilih menunggunya.
🍁🍁🍁
"Ada apa Papa sampai kesini cari Ardan?," suara itu terdengar datar di telinga Bima. Ardan, anak laki-lakinya itu kini tumbuh besar. Sudah empat belas tahun. Reaksi datar itu lagi-lagi bukan yang diharapkannya. Ia maklum mungkin Ardan belum mengerti kenapa ia meninggalkan anaknya itu.
"Papa kangen Abang," jawab Bima lembut dan tersenyum. Ardan terdiam. Datar. Tak ada senyuman di wajahnya.
"Ardan enggak kangen sama Papa?," tanya Bima kemudian. Ardan masih tak menjawab juga. Ia terdiam menatap Bima. Bima merasa canggung ketika dipandangi seperti itu oleh Ardan. Ia merasa kikuk. Tak ada pelukan yang ia harapkan.
"Cuma itu? Papa sudah ketemu Mama?," tanya Ardan kemudian. Bima bingung harus menjawab apa. Ia takut jika salah berbicara.
"Lebih baik Papa ketemu Mama dulu! Minta maaf dan izin untuk ketemu kami! Ardan akan maafin Papa kalau Mama juga maafin Papa," kata Ardan kemudian. Ia berbalik dan langsung pergi meninggalkan papanya tanpa kata-kata lagi. Ini membuat Bima terkejut sekaligus syok. Ardan, anak kandungnya yang baru berumur empat belas tahun berkata demikian. Sakit sekali rasanya. Apakah luka yang ia goreskan begitu dalam pada anak-anaknya? Ataukah Rania mengajarkan mereka untuk tidak menerimanya kembali? Ah, pikirannya kacau. Ia pun terdiam, tepekur menyaksikan semuanya.
🍁🍁🍁
Bima baru saja membuka pintu ruang kerjanya. Ia dikejutkan dengan kehadiran Anggita yang tengah duduk di kursinya. Ia masih belum sembuh dari keterkejutannya dengan sikap Ardan. Sekarang ia dibuat terkejut lagi dengan tingkah istrinya yang tengah mengobrak-abrik beberapa file di mejanya.
"Anggita! Apa yang kamu lakukan?," teriak Bima. Suara Bima yang keras terdengar sampai ke lobby, membuat para customer dan resepsionisnya melihat apa yang terjadi.
"Diam kamu, Bim! Habis darimana kamu? Kamu berangkat pagi sekali, dan jam segini baru sampai kantor! Tiga jam! Apa rumah kita sejauh itu dari kantormu? Kamu kemana? Jawab aku!," teriak Anggita tak kalah garang. Bima yang berang, juga salah tingkah. Ia bingung harus menjawab apa.
"Kamu habis ketemu perempuan lain kan? Jawab aku! Jangan bohong!," sergah Anggita mendorong tubuh Bima dengan gusar. Bima hanya terhuyung sedikit ke belakang. Ia pun menjadi emosi.
"Iya! Aku habis ketemu Rania! Mau apa kamu?," sergah Bima balik. Anggita terdiam. Sedetik kemudian ia tersenyum sinis pada suaminya itu.
"Ngapain lagi? Ngapain lagi kamu cari-cari mantan kamu itu? Buat apa? Buat berterima kasih soal uang seratus juta itu?," teriak Anggita. Kini ia menunjuk Bima dengan jari telunjuknya. "Kamu, Bim! Kamu jangan seenaknya sendiri! Aku bisa menendangmu dari sini kalau aku mau!," ancam Anggita kemudian.
"Keluarkan aku dari kantor ini kalau kamu bisa jawab soal Rania! Apa yang dikatakan Rania kepadamu tiga tahun yang lalu?," kini Bima bertanya dengan senyum sinis penuh kemenangan. Anggita tercekat. Ia terdiam. Ia tak mungkin mengatakan bahwa ialah yang meminta uang nafkah itu kembali.
Bima mendekat ke arah Anggita. Ia berbisik di telinga Anggita. "Kamu enggak bisa jawab kan?," bisik Bima dengan nada penuh kemenangan. Anggita terdiam, melongo mendengar itu semua. Bima mundur perlahan.
"Ada apa ini?," terdengar suara Angel dari arah pintu. Ia berpapasan dengan Bima. Matanya penuh tanya meminta jawaban atas apa yang terjadi saat itu.
"Lo enggak apa-apa, Nggi?," tanya Angel khawatir.
"Dia tahu soal uang itu, Ngel! Rania bilang sama dia," jawab Anggita setengah panik.
"Rania? Kapan dia bilang?," Angel masih tak mengerti.
"Tadi. Bima tadi bilang ketemu Rania. Pas balik kesini dia tanya gue apa yang dibilang Rania tiga tahun lalu. Gimana dong ini?," Anggita panik. Angel menghela napas. Ia mulai memahami situasinya. Ia pun menenangkan Anggita.
"Okay! Lo nggak usah panik. Rileks! Chill, Baby! Aset Bima kan sudah atas nama lo sama Zarina. Kalau Bima nuntut cerai, sebagian besar asetnya ada di lo. Termasuk perusahaan ini," jelas Angel menenangkan Anggita. Anggita menghela napas panjang dan mulai menenangkan diri. Ia harus tenang. Toh, selama ini ia sudah mempersiapkan semuanya. Ia tidak mau seperti Rania yang ditendang keluar oleh Bima tanpa membawa apapun selain diri dan anak-anaknya. Ia tidak mau seperti itu.
🍁🍁🍁
Bima menghentikan mobilnya di sebuah musholla. Dilihatnya musholla itu tampak sepi. Hanya ada beberapa orang yang sedang beribadah di sana. Bima menatap musholla itu dengan senyum kecut. Musholla penuh kenangan bersama Anggita. Ia ingat bagaimana menarik Anggita yang baru pulang kerja ke sini dan menikahinya tanpa seizin Rania. Kalau diingat-ingat ada perasaan menyesal dalam hatinya. Andai saja ia gak serakah, tak tamak dan egois dalam menjaga hatinya. Andaikan saja saat itu ia lebih banyak bersyukur dengan kehidupannya bersama Rania.
Entah apa yang mempengaruhi Bima saat itu. Kakinya melangkah menuju musholla itu. Ia melihat bapak dari sahabatnya, Abdul. Ustadz sekaligus penghulu itulah yang menikahkan Bima dan Anggita.
"Assalamu'alaikum," sapa Bima. Bapak itu menoleh. Ia mencoba mengingat-ingat melihat wajah Bima.
"Wa'alaikumsalam," jawab Bapak itu masih sambil mengingat wajah Bima.
"Bima, Pak," kata Bima mencoba mengingatkan. Akhirnya Bapak itu tersenyum sumringah melihat Bima.
"Iya! Bima, sahabatnya Abdul kan? Iya! Bapak baru ingat! Kamu nikah kedua kalinya disini ya?," seru Bapak Abdul. Bima mengangguk sembari tersenyum kecut. "Gimana kabarmu, Bim? Istrimu?," tanya Bapak Abdul lagi.
Mendengar pertanyaan itu, Bima tertunduk. Senyum di wajahnya seketika lenyap. Raut wajahnya terlihat sedih. Bapak Abdul pun terdiam menunggu jawaban Bima.
"Gagal, Pak. Saya ceraikan istri pertama saya," jawab Bima dengan senyum lemahnya. Bapak Abdul hanya mengangguk-angguk. Ia tersenyum.
"Punya dua istri itu memang nggak mudah, Nak. Poligami itu nggak akan bisa selamanya adil. Apalagi tidak ada keikhlasan dan keridhoan istri pertama kamu, Nak. Bapak sudah ingatkan itu di awal. Apa yang kamu kejar dengan emosi sebenarnya belum tentu baik untukmu. Mengandalkan emosi dan hati tanpa melibatkan Allah itu hanya akan membawa keburukan," kata Bapak Abdul. Bima terdiam.
"Rania itu wanita yang baik. Bapak kenal dia karena Abdul bersahabat dengannya sejak SMA. Meskipun dia kaya, tetapi keluarganya tak pernah meninggalkan agamanya. Semoga yang kamu tinggalkan tidak membawa penyesalan," lanjut Bapak Abdul. Ia tersenyum pada Bima yang termenung.
Bima terdiam tak sanggup menjawab apapun pada Bapak Abdul. Karena memang diam-diam rasa penyesalan meninggalkan Rania itu mulai muncul. Nyatanya, Anggita memang tidak seperti harapannya di awal.
"Ayo sholat dulu! Sudah berapa lama kamu enggak sholat?," tanya Bapak Abdul. Bima terhenyak. Sudah berapa lama ia tak melaksanakan ibadah wajib itu. Rasanya sejak akhir pernikahannya dengan Rania. Dulu, ada Rania yang selalu mengingatkannya akan ibadah wajib itu, sekarang itu semua entah kemana. Awalnya memang rasanya bebas, tetapi ternyata banyak yang terasa kurang dalam hidupnya.
"Kamu itu laki-laki. Laki-laki itu imam. Kalau imamnya saja meninggalkan yang wajib, bagaimana makmumnya? Kamu itu pemimpin yang punya tanggung jawab membawa keluargamu ke surga. Bukan cuma ngejar dunia. Dunia kamu kejar, kamu enggak akan pernah bahagia karena kamu tidak akan pernah terpuaskan dengan apa yang kamu dapatkan," kali ini kata-kata Bapak Abdul sukses membuat air mata Bima benar-benar menetes. Bapak Abdul menepuk pundak Bima perlahan.
"Perbaiki hubunganmu dengan Allah, supaya Allah yang perbaiki hidup kamu," kata Bapak Abdul dengan senyum khasnya sebagai orang tua. Bima mengangguk dan menyeka air matanya. Ia mengikuti langkah Bapak Abdul ke dalam musholla. Ia ingin segera bersujud dan bersimpuh di hadapan Rabb-nya, memohon ampunan dan rahmatnya kembali.
🍁🍁🍁