La Tahzan

La Tahzan
TALAK SATU



Pagi ini ternyata suasana sangat cerah. Ramalan cuaca di tv ternyata salah. Bima memasuki ruangan kantornya dengan terburu-buru, padahal hari masih pagi. Abdul yang melihatnya tak jadi menyapanya begitu melihat wajah sahabatnya itu bagai kertas yang dilipat. Kusut.


Bima melemparkan badannya di sofa tamu ruangannya. Ia butuh kopi pagi ini. Hari ini ia buru-buru berangkat karena menghindari pertanyaan Rania soal uang spp anak-anaknya yang belum bisa ia ganti. Ini sudah 2 hari dari sejak ia minta uang itu untuk menambah jatah Anggita. Ia pun meminta OB untuk membawakannya secangkir kopi.


Tok Tok Tok


Bima terlonjak dan menoleh ke arah pintu. Begitu yang dilihatnya Abdul, ia kembali ke posisinya dengan menghela napas panjang. Abdul mengambil tempat duduk di sebelahnya.


"Lu kenapa, bro? Kusut amat pagi-pagi!," komentar Abdul. Bima menghela napas lagi. Tak berapa lama, OB mengantarkan kopi pesanannya.


"Gue bingung nih!," keluh Bima sambil menyeruput kopinya. Ah, masih enak kopi buatan Rania, batinnya.


"Bingung kenapa?," Abdul balik bertanya.


"Soal duit".


"Duit? Gaji lu kurang?".


"Harusnya enggak. Udah gue itung semuanya. Anggita kemarin abis belanjain kita semua pakai uang jatahnya dia. Gue kasihan dia pegang sejuta doang sampe akhir bulan," cerita Bima.


"Trus?".


"Ya gue pinjemin ke Rania sejuta dan Rania kasih pake uang spp anak-anak. Gue janji balikin. Apalagi minggu ini harus bayar spp mereka," jawab Bima. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa sembari memijit kepalanya. Abdul hanya geleng-geleng kepala. Ia tahu kalau Bima sudah jatuh cinta bisa jadi bucin sekali alias budak cinta. Sekarang masalahnya dia bukan sedang main-main. Dia sudah memiliki anak dan dua istri. Ia harus belajar mengatur istri-istrinya.


"Duh, bro. Kalo gue ada, gue kasih ke elu. Gue juga lagi bokek banget. Gue cuma dikasi jatah 500 ribu sama Gina," kata Abdul setengah berbohong. Ia bisa saja meminjamkan uang pada Gina, istrinya. Apalagi Gina adalah sahabat dekat Rania. Malah akan dikasih kalau Rania perlu. Tetapi Abdul ingin Bima, sahabatnya ini belajar mengendalikan istri-istrinya, terutama Anggita.


"Nggak apa-apa, Dul. Lu tuh terlalu banyak gue repotin," kata Bima lagi. Abdul menghela napas panjang.


"Saran gue lu coba deh ngomong sama Rania masalah lu. Dia marah, wajar, terima resiko dong! Masalahnya sekarang lu nggak ada duit. Spp anak lu harus dibayar. Maybe, Rania atau Anggita bisa cari solusi lain sebelum deadline," saran Abdul. Bima menghela napas. Benar kata Abdul. Ia bukan tipe orang yang suka berhutang. Kecuali memang perlu sekali dan ia sedang tak ada, ia akan meminjam uang. Itupun ia sudah merasa terbebani.


"Gue kira setelah lu nikah lagi, lu bisa bahagia. Ternyata tambah ribet hidup lu! Ikuti saran gue tadi. Gue yakin Rania ngerti. Dan elu sebagai lelaki, lu adalah imam, pemimpin, jadi sudah jadi kewajiban elu untuk mengendalikan istri-istri elu," kata Abdul menasehati Bima. Bima terdiam. Abdul pun memutuskan kembali ke ruangannya, meninggalkan Bima yang termangu sendiri di ruangannya.


 


🍁🍁🍁


 


Rania keluar dari gedung sekolah anaknya. Ia telah menyelesaikan pembayaran spp anak-anaknya. Satu juta untuk berdua. Sekolah di sekolah swasta Islam bertaraf internasional memang tidak murah. Sekolah Ardan dan Husna justru lumayan lebih murah.


Ditemani Gina, istri Abdul, Rania menyelesaikan semua pembayaran sppnya. Ia kembali ke mobil Gina. Gina yang menunggu di mobil tampak tersenyum melihat sahabatnya masuk kembali ke mobilnya. Gina pun melajukan mobilnya begitu Rania sudah siap.


"Sampai kapan kamu mau kayak gini, Nia?," tanya Gina. Rania tersenyum kecut. Ia tak bisa menjawab pertanyaan Gina. "Baru seumur jagung aja, Bima udah keliatan nggak adilnya! Kalau Abdul yang kayak gitu udah aku pencet-pencet sampe nggak berbentuk!," seru Gina emosi. Rania hanya tertawa kecil menanggapi emosi sahabatnya itu.


"Inget, Nia! Ini bukan hanya soal kamu, tapi anak-anak kamu. Aku denger dari Firza, Ardan cerita kalau dia nggak suka sama perempuan itu, siapa namanya?," di tengah nasehatnya, Gina lupa siapa nama Anggita. Membuat Rania menahan tawa.


"Anggita," kata Rania sambil menahan tawa.


"Kita nyanda bercanda ini! Jang tatawa! Serius aku, Nia!," seru Gina. Rania mencoba berhenti tertawa.


"Iya, iya. Jangan marah, Nyonya Manis. Nanti ngana pe kecantikan hilang dibawa angin dang," ucap Rania yang juga menggunakan bahasa Manado. Rania memiliki darah Manado dari ibunya. Ia juga pernah tinggal di sana saat SMP.


"Nia, pikirkan anak-anak. Mungkin ini baru sekali dia nggak adil sama kamu. Besok-besok gimana? Si Anggita juga nggak tahu malu banget sih! Harusnya dia nolak dong! Itu buat kepentingan anak-anak lho! Caper banget pake beli-beliin kalian semua barang. Ujung-ujungnya ngambil hak kamu juga buat ganti hasil buruannya," gerutu Gina. Rania tersenyum. Dalam hatinya tak pernah ada pikiran negatif seperti yang diungkapkan Gina barusan. Tetapi ia membenarkan apa yang dikatakan Gina. Hanya saja bagi Rania bukan Anggita yang salah di sini. Bima. Seharusnya ia mengatakan saja kalau memang tidak ada uang lagi, tidak perlu berjanji.


"Aku akan bertahan sebisaku dan semampuku, Gin. Biarkan semua jadi ladang pahalaku. Jika memang aku akhirnya menyerah, setidaknya aku sudah berusaha dalam hubungan kami," jawab Rania. Gina memandang sahabatnya itu sejenak. Ia tahu Rania orang yang menjunjung tinggi agama. Taat pada suami juga sudah jadi prinsipnya. Ia juga tahu Rania tidak akan meminta cerai dari Bima karena hal itu tak dibenarkan dalam agama Islam.


"Aku dukung kamu taat sama Bima. Tapi aku juga mau kamu jangan terlalu mengalah, Nia. Kamu punya hak yang sama dengan perempuan itu. Bima masih suamimu. Ardan dan Husna juga punya hak atas ayahnya. Sekalipun kamu ikhlas menerima kehadiran perempuan itu, aku ingin kamu tunjukkan kamu adalah nyonya-nya. Kamu adalah istri yang terbaik. Jika memang suatu saat kamu lelah menghadapi mereka, lepaskan saja. Ikhlaskan. Masih ada aku, Abdul, orang tuamu dan teman-teman lain yang bakal support kalian," kata Gina. Ia tersenyum seolah ingin meyakinkan Rania. Rania pun mengangguk senyum. Gina tersenyum lega. Mereka pun melaju menuju rumah Rania.


 


🍁🍁🍁


 


Makan malam telah berakhir. Ardan dan Husna telah berada di kamar mereka untuk belajar. Rania membersihkan ruang makan. Sedangkan, Anggita tengah berbaring di pangkuan Bima di depan televisi.


Seusai beberes di dapur, Rania menyusul Bima dan Anggita di ruang tengah. Melihat mereka bermesraan seperti itu, sangat mengiris hatinya. Ia menghela napas guna menenangkan gemuruh di dadanya. Ia mendekati keduanya. Seolah tak melihat Rania, mereka bermanja dan bercanda mesra. Rania berdehem sedikit. Bima menoleh ke arah Rania.


"Yang, aku mau tanya soal uang spp anak-anak," kata Rania lembut dan hati-hati. Bima memalingkan pandangannya ke arah televisi.


"Belum ada. Temenku belum transfer," jawab Bima dingin. Ia merasa Rania terlalu perhitungan padanya. Ia mulai merasa kesal pada Rania.


"Tapi, Yang. Minggu ini harus sudah bayar," kata Rania lagi. Bima mendengus kesal. Ia memandang Rania tajam kali ini. Namun, tatapan itu dibalas oleh Rania. Rania bukan bermaksud berani kepada suaminya, tetapi ia hanya merasa benar dan sesungguhnya ia hanya ingin tahu apa reaksi suaminya.


"Kamu ini perhitungan sekali sama suami sendiri?," ucap Bima kesal.


"Maaf, Bim. Tapi kamu janji akan kembaliin dua hari yang lalu. Itu uang spp Ardan dan Husna, bukan untuk keperluanku," tegas Rania. Ia ingin Bima sadar apa yang telah dilakukannya dan diucapkannya.


"Lagian, kenapa kamu kasih uang spp anak-anak? Kenapa nggak uangmu saja?," tanya Bima. Anggita bangkit dari pangkuan Bima dan duduk memandang mereka.


"Ya karena itu saja yang tersisa dari jatah bulananku. Kamu sendiri bilang akan kamu kembalikan keesokan harinya, ini sudah dua hari dan besok hari terakhir pembayaran spp anak-anak," sergah Rania mengingatkan Bima. Bima mendengus kesal.


"Maaf, Mbak. Uangnya masih aku simpan. Aku ambilin ya?," ujar Anggita mencoba menengahi. Ia hendak beranjak dari tempat duduknya, tetapi Bima mencegahnya. Membuatnya duduk kembali, tertunduk.


Bima sendiri berkali-kali menghela napas kesal. Ia tak mau harga dirinya jatuh di depan Anggita. Ia pun beranjak dari kursi menuju ruang kerjanya. Di sana ia membuka tas kerjanya dan mengambil segepok uang seratus ribuan. Saat mengambilnya, ia seperti menimbang-nimbang, tetapi sedetik kemudian ia keluar ruangan. Di depan Anggita, ia melemparkan uang itu ke arah Rania, hingga sebagian uangnya berhamburan.


"Nih, aku balikin uangnya. Bahkan lebih! Kamu bisa pake buat foya-foya sebulan itu!," seru Bima sedikit kasar. Anggita yang terkejut menutup mulutnya. Sedangkan, Rania menangis menahan amarahnya. Ia menengadah menatap Bima dengan marah. Ia berdiri sehingga mereka saling berhadapan.


"Aku hanya meminta hakku, dan kamu memperlakukan aku seperti ini. Aku bukan wanita mata duitan, Bim! Ambil saja uangmu! Asal kamu tahu saja, aku hanya ingin tahu sejauh mana tanggung jawabmu menyelesaikan janjimu. Karena bagiku, laki-laki harus bisa dipegang kata-katanya!," ungkap Rania dengan gemetar. Ia gemetar menahan amarah dan sakit hatinya. Bima yang merasa dipermainkan, tiba-tiba menampar pipi Rania. Cukup keras. Ia pun mengacungkan telunjuknya ke arah Rania.


"Itu peringatan buat kamu, Nia. Sebagai hukumannya, aku jatuhkan talak satu ke kamu. Supaya kamu jera! Nggak mempermainkan laki-laki, suamimu lagi," kata Bima yang juga gemetar menahan amarahnya. Tangis Rania pecah. Bukan sakit karena ditampar Bima, tapi sakit hatinya dengan perlakuan Bima padanya hari ini. Bima menarik tangan Anggita meninggalkan Rania yang menangis terduduk di sofa ruang tengahnya. Tanpa sadar dua pasang mata mungil menyaksikan drama itu semua.


🍁🍁🍁