
Rania meletakkan cangkir kopinya di meja secara perlahan. Di hadapannya ada Arya yang sedang tegang menatapnya. Rania hanya menghela napas perlahan. Ia tak tahu kenapa Arya bersikap demikian tegang. Wajahnya tampak lucu bagi Rania. Mereka sebenarnya tidak janjian bertemu. Arya hanya menyusul Ardan dan Husna yang sedang hang out bersama Rania di Tunjungan Plaza. Rencananya mereka akan menonton film.
"Kak, Kak Arya kenapa?," tanya Rania dengan senyum manisnya yang semakin membuat Arya salah tingkah.
"Aku...emmm...enggak apa-apa, Nia," jawab Arya terbata-bata. Bahkan keringat menetes di pelipisnya. Rania mengulurkan sebuah tisu.
"Kak Arya yakin enggak apa-apa? Kakak sakit? Kakak keringatan gitu lho! Ruangannya ini kan dingin!," ujar Rania. Arya menatapnya sekali lagi dan menggeleng.
"Assalamu'alaikum. Maaf sudah menunggu lama," sebuah suara mengagetkan mereka. Sontak mereka menoleh bersamaan sembari menjawab salam itu. Bima berdiri disana dengan membawa dua batang coklat. Husna menyambutnya dengan antusias. Namun, berbeda dengan Ardan yang terlihat enggan mencium tangan ayahnya itu. Rania hanya tersenyum tipis kepada Bima. Bima menatap Arya tajam. Matanya seolah meminta penjelasan siapa lelaki itu.
"Hai, Bim! Apa kabar?," sapa Arya berdiri dan mengulurkan tangannya. Ia tersenyum kepada Bima. Bima menatapnya heran. Ia bahkan lupa siapa orang yang ada dihadapannya.
"Kamu enggak ingat sama aku?," tanya Arya lagi. Ekspresi Bima yang sebelumnya cemburu, nampak berubah menjadi kebingungan. Arya tertawa kecil melihat Bima yang berusaha mengingat siapa dirinya.
"Arya, Bim! Kakak angkatan kamu waktu kuliah Teknik!," seru Arya.
"Ahhh, Mas Arya! Apa kabar, Mas? Maaf, aku sampai enggak ngenalin Mas Arya. Mas Arya banyak berubah! Makin tua makin oke aja!," tanya Bima dengan raut wajah sumringah. Ia menyalami Arya dengan erat dan tampak rona wajah yang bahagia. Diam-diam Rania menghela napas lega keduanya saling mengingat. Ia tahu dari ekspresi saat Bima datang, Bima tak suka dengan Arya. Namun, ia kagum bagaimana Arya mencairkan suasana yang tegang tadi.
"Kamu ini bisa saja! Alhamdulillah aku baik, Bim. Ya sudah, kamu lanjutkan dengan anak-anak! Kasihan, mereka sudah menunggu. Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi ya?," kata Arya mempersilahkan Bima.
"Iya, Mas. Mas Arya mau kemana?," tanya Bima. Arya melirik Rania. Di saat yang sama Rania pun menatap Arya. Bima menangkap pandangan keduanya.
"Aku disini aja nemenin Rania," jawab Arya kemudian dengan tersenyum. Bima menyunggingkan senyum terpaksa.
"Kamu enggak ikut masuk?," tanya Bima ke arah Rania. Sejujurnya ia berharap Rania ikut masuk ke dalam bioskop dan menikmati kebersamaan mereka. Rania menggeleng senyum.
"Mama enggak akan ikut ke masuk, Pa! Ardan yang larang. Enggak baik buat Mama," jawab Ardan. Bima menoleh tersenyum pada Ardan yang memasang wajah datar. Bima kemudian pamit dan mengajak anak-anaknya masuk ke dalam bioskop.
"Bim," panggil Rania. Bima menoleh. "Jangan lupa! Hanya sampai jam sembilan malam. Sesudah itu antarkan mereka ke cafe," kata Rania mengingatkan. Ia sudah beranjak dari tempat ia duduk.
"Aku anter ke rumah aja, ya?," pinta Bima. Rania menggeleng.
"Antarkan saja ke cafe atau ke rumah orang tuaku kalau enggak ngajak mereka menginap di rumahmu," jawab Rania tegas. Bima akhirnya mengalah dan mengangguk.
"Ayo, Kak!," ajak Rania kepada Arya beranjak dari sana. Sebelum pergi keduanya tak lupa mengucapkan salam dan dijawab oleh Bima. Bima menatap kepergian Rania dan Arya dengan terpaku. Hatinya sedikit cemburu. Tidak! Tetapi sangat cemburu. Mungkin ia harus berbicara empat mata sekali lagi dengan Rania.
🍁🍁🍁
"Terus lo maunya gimana?".
Anggita terdiam mendengar pertanyaan Angel. Ia bimbang. Dihadapkan pada pilihan untuk bertahan atau mengakhiri semuanya, ia ragu. Logika dan hatinya berperang argumen. Jika ia meninggalkan Bima sekarang, hatinya akan sakit. Ia terlanjur jatuh cinta pada lelaki itu. Tetapi logikanya berkata, apalagi yang harus ia tunggu. Saat ini hati Bima sudah kembali pada Rania, mantan istrinya. Apa yang dilakukannya tetap kurang di mata Bima.
"Lo tinggalin dia sekarang sama nanti apa bedanya? Oh, I know! Kalau lo cerai sekarang, perusahaan itu belum gede, belum kelihatan hasilnya. Dan lo enggak bisa jalanin perusahaan tanpa Bima. Am I true?," tebak Angel lagi. Matanya memicing dan bibirnya tersenyum. Anggita diam. Itu adalah salah satu alasan yang membuatnya ragu untik berpisah dengan Bima.
"Hahaha...gue benar ya? Duh, Anggita Sayang! Lo enggak usah mikir lagi deh! Lo jual aja perusahaan kecil lo itu! Selama ini juga hasilnya enggak seberapa kan?," ujar Angel sembari mencubit pipi Anggita. Anggita menatap sahabatnya itu dalam-dalam.
"Iya, Ngel. Lo bener! Sudah enggak ada alasan untuk bertahan. Tapi siapa yang mau beli perusahaan kecil dan enggak ada prospek itu?," tanya Anggita. Angel tersenyum.
"Ada. Gue punya teman yang bisa bantu jual perusahaan lo," jawab Angel yakin. Anggita mengangguk.
"So, sekarang lo tinggal pikirin soal gugatan lo! Surprise him!," kata Angel setengah berbisik di telinga Anggita. Anggita mengangguk senyum. Ia pun memantapkan hatinya. Apalagi sudah hampir dua hari ini Bima tidak pulang. Kini logika menguasai dirinya. Tak perlu bertahan dengan orang yang sudah tak mempedulikannya lagi. Ia sudah lelah bersama Bima. Ia ingin pergi dan ini adalah kesempatannya.
🍁🍁🍁
"Assalamu'alaikum," sapa Ardan dan Husna.
"Wa'alaikumsalam," jawab Rania dan Arya bersamaan. Ardan dan Husna mencium tangan keduanya. Ardan kemudian melakukan tos persahabatan dengan Arya seperti biasanya. Arya mengusap kepala kedua anak itu seperti menyambut anak-anaknya sendiri.
Melihat kedekatan anak-anaknya dengan Arya, Bima merasa tak suka. Apalagi pemandangan saat Arya dan Rania duduk berbicara berdua. Tawa dan senyuman selalu menghiasi wajah Rania ketika bersama Arya. Rasa cemburu itu merayapi hatinya. Namun, sebisa mungkin ia menjaga ekspresinya. Ia tak ingin membuat hubungannya dengan Rania memburuk.
"Makasih, sudah dengerin aku," kata Rania. Kali ini tak ada nada dingin dalam kata-katanya. Bahkan saat mengucapkan itu Rania tersenyum tulus. Bima mengangguk senyum.
"Boleh bicara sebentar?," pinta Bima. Rania menoleh ke arah Arya dan anak-anaknya. Arya mengangguk senyum. Melihat itu, pelan-pelan rasa cemburu merayapi hati Bima. Siapa sebenarnya Arya? Kenapa mereka bisa sedekat itu? Apakah dia pria yang akan menikah dengan Rania? Begitu banyak pertanyaan di kepala Bima.
Rania dan Bima berjalan keluar dari cafe dan duduk di kursi depan cafe. Suasana malam jalanan depan cafe Rania lumayan ramai, meskipun bukan jalanan utama. Namun demikian, temaram lampu cafe Rania membuat suasana tenang.
"Mau ngomong apa?," tanya Rania. Nada suaranya benar-benar lembut. Bima tersenyum, sejenak menatap mantan istrinya itu. Temaram lampu kuning cafe itu membuat wajah Rania yang hanya bermake-up tipis itu semakin cantik.
"Boleh, aku ajak anak-anak berenang besok?," tanya Bima. Rania mengangguk senyum.
"Boleh. Besok kamu chat saja jam berapa mau jemput mereka disini," jawab Rania. Bima tersenyum.
"Boleh aku tahu kenapa aku tidak boleh jemput mereka di rumah kalian?," tanya Bima pelan. Ia ingin tahu alasan Rania sebenarnya. Hati-hati sekali ia bertanya pada Rania.
"Maaf, Bim. Aku hanya ingin privasi darimu. Mereka tetap anak-anakmu. Masih ada hak kamu terhadap mereka. Tapi tidak dengan aku. Aku bukan istrimu lagi. Aku berhak menerapkan privasi untuk diriku sendiri. Aku tidak sedang berusaha menghindarimu. Tapi ini karena posisiku sebagai seorang janda. Aku tidak mau ada fitnah. Kasihan anak-anak nantinya," jelas Rania pelan. Ia tersenyum hampa. Bima mengangguk senyum. Ia mengerti alasan Rania kali ini.
"Lalu, Mas Arya?," tanya Bima lagi.
"Saat ini kami masih berteman," jawab Rania dengan senyum tipis. Ia menunduk. Bima menangkap perasaan Rania yang menginginkan lebih dari hubungannya dengan Arya.
"Tapi kamu ingin lebih?," tanya Bima. Rania menatap Bima sejenak. Bima menghela napas.
"Aku cuma manusia, Bim. Aku punya perasaan. Ingin disayangi dan dicintai," jawab Rania. Jawaban Rania terdengar ambigu di telinga Bima. Ia mengerutkan keningnya mendengar jawaban Rania.
"Aku bisa menyayangimu seperti dulu," kata Bima spontan. Rania tertegun mendengar perkataan Bima. Ia tidak menyangka Bima akan mengatakan hal tersebut. Belum sempat ia mencerna kata-kata Bima, tangan Bima sudah meraih tangannya dan memegangnya erat.
"Nia, aku memang salah kemarin. Aku menyadari semuanya. Aku minta maaf. Aku tidak tahu Anggita meminta semua uang nafkah yang sudah kuberikan. Aku sekarang sadar. Cuma kamu! Cuma kamu, Nia! Wanita yang benar-benar setia dan mengerti aku. Aku merindukan kehidupan kita yang dulu. Aku rindu kamu dan anak-anak," kata Bima. Ia mengungkapkan semua isi hatinya. Perlahan Rania menarik tangannya, membuat Bima tertegun.
"Kalau kamu butuh maafku, aku sudah memaafkanmu sejak lama, Bim. Tapi untuk kembali, sepertinya aku tidak bisa. Bayang-bayang sakitnya masa lalu bersamamu, akan menghantuiku. Hubungan yang akan kita bangun tak akan sama lagi. Tak akan ada kepercayaan dariku lagi. Aku juga tidak akan bisa memperlakukanmu sama seperti dulu lagi. Seperti gelas kaca yang pecah, meskipun kamu perbaiki, bagian retaknya tetap akan terlihat nyata dan tak seindah sebelumnya," jawab Rania dengan lembut. Bima menunduk.
"Apa sudah tak ada tempatku lagi di hatimu?," tanya Bima.
"Ada. Kamu adalah ayah dari anak-anakku. Kamu tetap sahabatku," jawab Rania dengan senyumnya yang lembut.
"Apa kamu akan mengiyakan kalau Mas Arya mengajakmu menikah?," tanya Bima lagi. Sorot matanya memperlihatkan ketidakrelaan. Rania terhenyak. Ia terdiam sejenak.
"Mungkin iya. Karena bagiku jauh lebih mudah menjalin hubungan baru dibandingkan harus kembali ke masa lalu," jawab Rania. Kali ini ada ketegasan dalam suara Rania. Meskipun lembut, tetapi Rania sudah menetapkan pilihan sepertinya. Bima mengangguk-angguk dan tertawa sumbang. Kemudian, ia beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan Rania. Tanpa ucapan salam atau kata selamat tinggal. Bima pergi begitu saja diikuti pandangan Rania.
Semua pemandangan itu tak luput dari mata Arya. Bahkan ketika Bima pergi meninggalkan Rania, Arya menatap Rania penuh arti. Sepeninggal Bima, Rania menatap Arya penuh arti. Arya hanya melemparkan senyuman seolah tahu apa yang terjadi. Keduanya hanya bertatapan dengan senyuman.
🍁🍁🍁