La Tahzan

La Tahzan
PERCERAIAN



Proses perceraian Bima dan Rania akhirnya selesai diproses oleh keduanya secara resmi. Walaupun sebenarnya Bima tidak ingin berpisah secara resmi, tetapi ia tidak bisa membantah semua keputusan hakim. Selama proses perceraian, Rania mewakilkan semua kepada pengacara yang ditunjuk keluarganya. Sehingga, tak ada celah bagi Bima untuk membujuk atau bernegosiasi dengan Rania. Itu juga merupakan alasan bagi hakim memutuskan perceraian mereka lebih cepat.


Rania hanya tertegun tanpa suara ketika papanya menyodorkan surat cerai dari pengadilan. Ah, ia telah resmi menjadi janda sekarang. Ia menerimanya tanpa memandang mata papanya. Ia takut. Ia takut lelaki itu membaca apa yang tersirat di matanya. Tetapi bukan Papa Rania kalau ia tak memahami isi hati putri kandungnya itu sendiri. Papa Rania mengangkat wajah putrinya yang sudah basah oleh air mata itu.


"Kuat, Nia! Ingat anak-anak. Jangan takut! Ada Mama, Papa, Raditya dan anak-anakmu. Semua akan baik-baik saja. Allah itu nggak tidur, Nak," kata Papa Rania. Rania tak menjawab. Hanya isak tangisnya yang kini mulai terdengar pilu. Ia memeluk lelaki itu erat. Iya! Laki-laki yang tak akan pernah menyakiti dirinya seumur hidupnya. Papanya. Seandainya semua laki-laki di dunia ini bisa menyayangi dirinya seperti papanya.


Saat mereka masih berpelukan, sebuah pelukan lain menyadarkan keduanya. Pelukan dari kedua tangan kecil Ardan. Ternyata ia melihat semua adegan pilu itu sedari awal. Baginya ia sudah sangat mengerti situasi dan kondisinya. Ia sudah bukan anak kecil lagi. Ia sudah 10 tahun.


"Mama, jangan sedih. La tahzan, Mama. Kita semua bersama Mama," ujar Ardan. Tangis Rania semakin pilu. Ia kini memeluk anak lelakinya itu erat. Papa Rania kini tak dapat membendung air matanya juga, menyaksikan pemandangan itu. Sungguh, ia berdo'a agar Ardan benar-benar bisa tumbuh menjadi lelaki sejati. Ia, kakeknya yang akan mendidiknya sendiri. Ia pun berjanji dalam hatinya.


 


🍁🍁🍁


 


Sementara itu, di sisi lain, Anggita sedang me time bersama Angel di sebuah salon langganan mereka. Anggita hanya melakukan perawatan rambut dan massage kaki. Perutnya yang sudah mulai kelihatan buncit membuatnya harus menahan diri untuk melakukan perawatan full body. Sedangkan Angel melakukan perawatan full body.


"Jadi, lo sekarang udah resmi jadi Nyonya Bima? The one and only Mrs. Bima?," seru Angel dengan senyumnya. Anggita tersenyum bangga dan mengangguk. "Asyik, dong! Kamu nggak perlu berbagi lagi?," tambah Angel. Anggita mengangguk. Namun, sedetik kemudian ia teringat akan Rania. Jauh dalam lubuk hatinya ia juga merasa bersalah pada Rania. Rania harus rela tersingkir demi egonya memiliki Bima.


"Kok lo kayaknya nggak seneng, Nggi?," tanya Angel melihat perubahan ekspresi sahabatnya itu. Sejurus Anggita menatap Angel.


"Gue kok ngerasa bersalah ya sama Rania?," ujar Anggita kemudian. Angel mengerti perasaan Anggita. Sebagai sesama perempuan, ia juga kasihan melihat Rania. Tetapi, semuanya butuh pengorbanan.


"Kasihan sih! Dia sekarang jadi janda. Tapi lo juga nggak salah kok, Nggi. Yang memutuskan untuk ninggalin Rania kan Bima. Bukan atas perintah atau permintaan dari lo. Semua hal butuh pengorbanan, Nggi. Di dunia ini mah nggak ada yang gratis. Kalau lo mau bahagia, lo harus berani buang jauh-jauh rasa bersalah lo itu," jawab Angel. Anggita terdiam sesaat. Ia masih ingat bagaimana ia memohon agar Rania mau mengalah untuk dirinya. Tetapi, sebenarnya tanpa ia meminta Rania mengalah pun, akhirnya Bima memutuskan memilih dirinya dibandingkan Rania. Lalu, apa salahnya kalau ia sekarang menikmati apa yang telah menjadi haknya? Ia mencoba menenangkan dan menghibur dirinya dari rasa bersalah itu. Melupakannya bahkan. Tetapi pikirannya soal karma tetap mengganggunya.


"Tapi gue takut karma, Ngel!," seru Anggita. Angel tertawa.


"Lo baru mikir sekarang? Harusnya kalau lo takut karma, dari awal lo nggak usah nerima lamaran Bima. Lo nggak perlu nerusin hubungan sama Bima. Soal karma itu urusan Tuhan. Yang penting lo persiapkan diri lo dari sekarang. Supaya ketika Bima ninggalin elo, elo nggak sakit hati apalagi rugi," seru Angel. Anggita terdiam. Iya! Ia tidak mau nasibnya sama seperti Rania. Ia ingin bertahan bersama Bima. Jika pada akhirnya suatu hari nanti Bima meninggalkannya, ia tidak mau seperti Rania, pergi tanpa membawa apa-apa. Ia bukan Rania yang kaya raya tanpa Bima.


"By the way, suami lo jadi join di usaha Mark?," tanya Angel mengalihkan pembicaraan. Anggita terhenyak dan sedetik kemudian mengangguk lemah.


"Udah! Bawa aja ke kita berapa pun nominalnya. Mark butuh direktur dengan segera soalnya. Soal duit join itu sebenarnya cuma pengikat aja, sebagai jaminan aja suami lo beneran nggak kerjanya," sahut Angel. Mata Anggita berbinar. Memang itulah yang mereka butuhkan sekarang untuk hidup baru mereka. Pekerjaan untuk Bima. Ia pun mengangguk cepat dan berjanji akan memberitahu Bima segera. Ia merasa permasalahan mereka akhirnya selesai satu per satu.


 


🍁🍁🍁


 


"Cerai?".


Suara keras itu berasal dari mulut Abdul dan Gina di sudut restoran. Mereka diundang Bima untuk datang di restoran langganan mereka. Ia sedang butuh teman mencurahkan isi hatinya yang tengah remuk karena harus menceraikan Rania. Sedangkan, di hadapan Bima, Abdul dan Gina benar-benar terkejut dengan apa yang disamapaikan Bima. Semenjak ia berhenti dari kantor Lutfi, ia tak pernah lagi bertemu Abdul.


Abdul dan Gina tak menyangka bahwa selama sebulan lebih mereka tak bersua dengan Bima dan Rania, telah banyak hal terjadi pada mereka. Bahkan, mereka baru tahu kalau Rania dan Bima telah resmi berpisah. Alasannya pun sangat membuat Abdul geram.


"Iya, Dul. Gua cerai sama Rania. Sebenarnya gua nggak niat untuk cerai sama dia. Tapi, kelakuannya akhir-akhir ini bikin gua sakit kepala. Awalnya gua cuma pengen dia berubah balik seperti dulu lagi, jadi wanita yang manis, nurut dan nerimo," ungkap Bima sembari menuangkan satu botol bir ke dalam gelasnya yang berisi es batu.


"Eh, dungu! Jelas aja Rania nyari kerja! Lu pikir lu hebat karena menghasilkan uang? Lu itu imam! Lu itu suami! Biarpun lu yang nyari duit, lu nggak berhak ngelempar dia pake duit kayak gitu. Kalau gue jadi Nia, sekarang gua gantian lempar lu pake duit segepok kalau perlu! Nia itu bukan bahas soal duitnya. Tapi attitude lu sebagai suami yang harusnya bisa memenuhi tanggung jawab lu," ujar Gina panjang lebar. Sungguh, ia sangat emosi dengan perlakuan Bima pada Rania. Ia hendak berkata lagi, namun diurungkannya karena Abdul sudah memegang tangannya. Ia pun diam dan menurut pada Abdul. Sekarang giliran Abdul yang berbicara.


"Gua kan udah pernah bilang sama lu soal keadilan. Adil bukan soal jumlah. Tapi porsi. Harusnya lu bisa nasehatin Anggita untuk bijak menggunakan duit, bukan lu memangkas bagian Rania untuk memenuhi kebutuhan Anggita. Lu belum paham fiqih nafkah sudah berani poligami. Lu belum tahu kemampuan adil lu, lu sudah main nikahin aja anak orang. Tapi gimana pun juga semua udah terjadi. Sekarang, rencana lu apa ke depan bareng Anggita?," tanya Abdul kemudian. Ia hanya ingin tahu apakah sahabatnya itu sudah bersiap menata hidupnya bersama istri barunya.


"Gua mau ikut join di perusahaannya Mark, suami Angel, teman Anggita. Itu lho soal rencana yang gua ceritain ke lu," jawab Bima. Abdul mengangguk-angguk tanda mengerti. Ia tak ingin bertanya lagi lebih detail pada Bima. Baginya itu sudah lebih dari cukup. Sekarang yang paling penting adalah menemui Rania, sahabatnya. Gina juga pasti sependapat dengannya. Saat ini, Rania pasti membutuhkan support dari mereka. Ia berencana segera mengunjungi Rania.


 


🍁🍁🍁