
Bima menatap enggan perumahan di depannya. Jalanan itu tampak sepi. Hanya security perumahan yang sedang berada di pos jaga sedang menonton televisi. Bima melihat jam tangannya. Pukul sebelas. Sudah hampir tengah malam, dan ia masih berada di depan jalan perumahannya. Ia sudah dapat menebak Anggita sedang menunggunya dengan wajah penuh amarah. Itulah mengapa ia enggan pulang ke rumah.
Hari ini banyak sekali yang terjadi. Banyak hal yang membuat Bima semakin ragu melangkah ke depan. Ia ragu akan jalan yang telah ditempuhnya separuh perjalanan ini. Nyatanya tidak ada apapun yang ia dapatkan. Rasa jenuhnya membuatnya tak ingin melanjutkan perjalanannya. Jenuh karena hidupnya hanya berhenti di sini saja. Tidak ada kemajuan apapun. Keraguan itu semakin menjadi tatkala melihat keberhasilan Rania, mantan istrinya. Sepertinya, tanpa Bima, hidup Rania justru menjadi lebih baik. Apakah yang membuat kehidupan mereka stuck sebenarnya adalah dirinya sendiri? Bukan Rania atau Anggita. Sebenarnya dialah yang tak bisa hidup tanpa wanita-wanita itu, terutama Rania. Tetapi, semuanya sudah terjadi. Mau tak mau, suka atau tidak, ia harus menjalaninya. Apapun hasilnya.
Tak terasa mobil Bima sampai di depan rumahnya. Ia tak memasukkannya ke dalam garasi. Ia pun turun dari mobilnya dan melangkah enggan menuju rumahnya. Sesuai dugaannya, Anggita tengah duduk di ruang tamu. Ia menyilangkan tangannya. Wajahnya terlihat gusar. Bima hanya melihatnya sekejap, kemudian berlalu tanpa menoleh lagi.
"Darimana saja kamu?," tanya Anggita berusaha menahan emosinya. Bima mengambil gelas dan menuangkan air dingin dari kulkasnya. Ia meneguknya tanpa menoleh ataupun menjawab Anggita. Hal ini membuat Anggita kesal. Ia tak sabar lagi didiamkan seperti itu. Ia pun beranjak dari tempatnya ia duduk. Berjalan dengan gusar ke arah Bima.
"Jawab, Bim! Kamu ketemuan sama Rania! Atau perempuan lain?," teriak Anggita. Bima meletakkan gelas ke meja dapu dengan setengah membantingnya. Ia menoleh ke arah Anggita tak kalah gusar.
"Apa urusanmu? Jawaban mana yang kamu inginkan?," Bima balik bertanya dengan kilatan emosi di matanya. Anggita menggigit bibirnya menahan marah.
"Apa lagi sih yang kamu cari dari mantan istrimu itu? Dia sebentar lagi akan menikah dengan orang lain. Kamu cuma buang-buang energi aja! Kalau memang kamu punya energi lebih, lebih baik kamu gunakan untuk mikir gimana caranya perusahaan kamu berkembang dan memperbaiki hidup kita," seru Anggita. Bima tersenyum sinis. Ia tak tahu bagaimana Anggita memperoleh informasi itu atau dia sedang mengada-ada, batin Bima.
"Memperbaiki hidup kita? Hidup yang mana? Kamu selalu merasa kurang, Nggi! Apa yang kuberi enggak pernah cukup buat kamu! Hanya uang saja yang kamu pikirin!," sergah Bima.
"Oh, tentu saja, Bim! Kamu pikir kita bisa hidup tanpa uang? Kamu pikir beli susu pakai daun? Semua butuh uang, Bima!," sahut Anggita.
"Tapi apa yang kuberikan padamu, sudah sangat lebih, Nggi! Kamu tahu? Bahkan Rania enggak pernah aku beri semua uang gajiku! Bersyukurlah sedikit! Rania tak pernah kekurangan, bahkan bisa menabung untuk dirinya sekarang," sahut Bima tak mau kalah.
"Aku bukan Rania! Kebutuhanku beda sama Rania! Rania memang bisa menabung, tapi dimana dia saat kamu butuh modal untuk membangun perusahaan? Sepeser pun ia tak mau memberikannya pada kita, kalau enggak aku yang minta," sahut Anggita tak mau kalah. Bahkan suaranya kini sudah meninggi. Tetapi ia baru menyadari kesalahannya. Ia keceplosan! Seketika ia terdiam. Sedangkan Bima menatap Anggita dengan tatapan tak percaya sekaligus marah.
"Apa maksud kamu? Jelasin!," tegas Bima menahan marahnya. Menyadari kesalahannya Anggita terdiam menatap Bima. Ia mulai takut. "Anggita, jelasin! Apa ini ada hubungannya sama pesan yang disampaikan Rania ke kamu tiga tahun lalu?," desak Bima lagi. Matanya tampak sangat marah. Anggita bahkan tak sanggup menatapnya. Tanpa jawaban Anggita, Bima sudah tahu bahwa semua itu benar. Ia pun menggebrak meja sekeras-kerasnya. Kemudian memegang pipi Anggita dengan kasar.
"Iya! Kamu memang bukan Rania. Kamu bahkan jauh dari level Rania! Kamu cuma perempuan mata duitan!," seru Bima menghempaskan Anggita dengan kasar.
"Jadi, setelah pengorbananku, kamu begini? Kamu menyesal menikahiku? Kamu boleh ceraikan aku!," seru Anggita merajuk. Air matanya sudah menggenang. Bima menghela napas berkali-kali.
"Baik. Aku akan segera ceraikan kamu!," jawab Bima dengan nada lemah. Ia lelah berdebat dengan perempuan seperti Anggita. Mendengar reaksi Bima, Anggita ternganga. Ia pun mengeluarkan kalimat pamungkas terakhirnya.
"Kalau kamu ceraikan aku, kamu enggak akan dapat apa-apa. Bahkan perusahaan itupun akan jadi milikku," ancam Anggita dengan percaya diri.
"Terserah!," seru Bima lirih. Ia pun berlalu menuju keluar. Anggita benar-benar ternganga dengan sikap suaminya yang tak menggubris ancamannya seperti biasanya. Bahkan meninggalkannya. Ia pun berlari keluar menyusul langkah Bima.
"Mau kemana kamu? Bima tunggu! Bima! Stop!," teriak Anggita. Suara Anggita cukup keras sehingga membuat tetangga sekitarnya mengintip dari balik pintu atau jendela masing-masing. Terlihat Anggita berlari kecil mengejar mobil Bima yang memutar balik dan langsung pergi.
"Okay! Terserah kamu! Jangan pulang sekalian!," teriak Anggita ketika Bima tak sanggup lagi ia hentikan. Ia berdiri terpaku dengan gigi yang gemeretak menahan amarahnya. Tampaknya ia harus mulai mengambil langkah penting itu sekarang sebelum semuanya terlambat.
🍁🍁🍁
"Lo tidur aja di kamar tamu," kata Abdul melihat sahabatnya membaringkan diri di sofa ruang tamunya.
"Enggak apa-apa, gue di sini saja," jawab Bima lirih. Ia menutup matanya dengan lengannya. Dadanya penuh sesak. Entah kenapa ia ingin menangis malam ini.
"Lo masih ingat kan dimana tempat wudhu?," tanya Abdul setengah mengingatkan. Ia tahu tabiat sahabatnya itu ketika sedang galau. Ini untuk pertama kalinya setelah tiga tahun mereka tak bertegur sapa. Bima hanya mengangguk tanpa membuka matanya. Abdul pun mematikan lampu ruang tamu dan membiarkan lampu meja tetap menyala. Ia kemudian kembali ke kamarnya. Sebelum meninggalkan sahabatnya itu, ia sempat menoleh sejenak.
Sepeninggal Abdul, Bima terisak lirih dalam keremangan malam itu. Air matanya seolah tumpah tak mau berhenti, meminta untuk dikeluarkan bersama penyesalan yang menyesakkan dadanya. Ia menangis hingga akhirnya tanpa sadar ia tertidur dalam lelahnya.
🍁🍁🍁
Abdul sedari pagi mengikuti Gina, istrinya kemana-mana. Bukan tanpa sebab. Gina langsung marah dan ngambek, tak mau bicara, saat tahu Abdul mengizinkan Bima menginap di rumahnya. Bahkan ketika ia melihat sosok Bima yang baru keluar dari kamar mandi, Gina tak mau menoleh sedikit pun.
"Yang, please! Kamu enggak boleh gitu! Bima itu teman kita juga. Tamu lho!," kata Abdul yang sedari tadi membujuk istrinya. Gina nampak diam sambil menyeduhkan dua cangkir kopi.
"Dia memang ngana pe tamang! Tapi dia so bekeng Rania saki hati. Ngana nyanda inga gimana perlakuan dia pa Nia?," seru Gina dengan bahasa Manadonya. Abdul tersenyum menahan tawa. Sejujurnya sudah bertahun-tahun menikah dengan Gina, ia tetap saja tidak mengerti bahasa Manado yang digunakan Gina. Tetapi ia tahu, itu cara Gina mengeluarkan amarahnya. Ia mengerti sedikit apa yang dikatakan Gina. Semacam ungkapan kekesalan karena Bima sudah membuat sakit hati Rania.
"Iya, iya! Tetapi yang namanya memaafkan itu adalah sikap yang mulia. Kamu lupa kalau Rania sudah bahagia? Yang membuat Rania enggak move on justru sikap kita yang terus membenci orang di masa lalunya itu. Kita sebagai teman harusnya support dia move on. Ya salah satunya tetap menerima Bima sebagai teman dan tamu kita. Enggak lebih," kata Abdul menasehati istrinya itu. Gina terdiam. Abdul tahu Gina menerima nasehatnya itu. Ia pun memeluk Gina dan mencium pipinya mesra. Gina pun luluh dan tersenyum. Ia menyodorkan dua cangkir kopi kepada Abdul.
"Ini untuk ngoni berdua. Kamu nasehati itu teman kamu! Dia lebih butuh daripada istrimu ini. Aku enggak nemenin kalian ya? Aku mau ke spa," kata Gina dengan senyumnya. Abdul mengangguk senyum.
Semua pemandangan itu mengingatkan Bima pada Rania. Dulu, ia selalu begitu dengan Rania. Tak akan pernah bisa lama-lama bermarah-marahan. Saling menasehati. Kemana Bima yang dulu, batinnya.
"Ngopi dulu, *Br*o!," kata Abdul membuyarkan lamunan Bima. Bima terhenyak dan tersenyum. Abdul memperhatikan Bima yang sekarang. Jauh berbeda dengan Bima yang dulu ia kenal. Kini ia tampak lebih tua dari umur sebenarnya. Walaupun ia rapi dan wangi seperti dulu, tetapi raut wajahnya tak bisa menyembunyikan beban yang dibawanya.
"Makasih, Dul," ucap Bima tersenyum.
"Duh, cuma kopi, Bim," sahut Abdul. Bima menggeleng.
"Tapi dari sini gue tahu, lo masih nerima gue sebagai temen lo," jawab Bima. Abdul terdiam. "Selama tiga tahun ini, hidup gue cuma dipenuhi dengan kerja, kerja dan kerja. Gue enggak mau hidup susah apalagi membawa keluarga gue sengsara. Yang paling konyol adalah untuk membuktikan ke Rania kalau gue bisa tanpanya. Gue sakit hati saat dia mengembalikan semua uang nafkah yang kuberikan. Itu adalah hal paling bodoh yang gue lakukan," sambung Bima lagi.
Abdul terdiam. Tiga tahun lalu, Rania memang bercerita padanya apa yang terjadi saat Anggita datang pada Rania. Meminta apa yang sudah Bima berikan pada Rania. Sekarang hal itu diungkit lagi oleh Bima dalam sudut pandang yang berbeda. Ia merasa ada sesuatu yang salah terjadi.
"Bukannya yang minta semua uang itu Anggita ya?," celetuk Abdul. Bima tertawa kecil. Pahit.
"Lo tahu soal itu, Dul?," tanya Bima. Matanya penuh harap agar Abdul menceritakan apa yang diketahuinya. Abdul menghela napas dan mengangguk. Ia pun menceritakan apa yang diceritakan Rania padanya. Bima mendengarkannya dengan seksama. Dia tak ingin melewatkan detail dari kejadian itu. Peristiwa yang membuat dirinya dan Rania salah paham, membuat Rania menjauh darinya. Ia ingin tahu sedetailnya.
🍁🍁🍁