
Bima berdiri tertegun melihat ke arah bangunan rumah miliknya itu. Sepuluh tahun sudah ia menempati bangunan itu, dengan suka duka di dalamnya. Sejenak ia menatap rumah yang ia dapatkan dengan kerja kerasnya. Ia ingat sebelum memiliki rumah ini, ia dan Rania tinggal di sebuah kos-kosan kecil. Dua bulan sebelum Husna lahir, mereka menempati rumah baru itu. Memang itu dari perusahaan, tetapi itu sebuah pencapaian besar dalam hidupnya. Perusahaan mensubsidi setengah dari cicilan rumahnya, bahkan ia diberikan fasilitas berupa mobil dari perusahaan Lutfi waktu itu. Hidupnya yang dari karyawan biasa menjadi karyawan menengah, semuanya ditemani Rania. Ranialah yang banyak merasakan suka duka bersamanya.
Bima menghela napas. Apa yang terjadi dalam hidupnya saat ini seperti sebuah karma. Ia sadar telah mengkhianati orang-orang yang berjasa dalam hidupnya. Pertama, Rania dan anak-anaknya. Kemudian, atas iming-iming Anggita dan Angel, ia pun mencurangi Lutfi dan perusahaannya. Sekarang semua orang-orang yang dibuangnya justru menuai sukses, setelah titik balik terendah dalam hidup mereka. Ia melihat dirinya sendiri yang justru tak sanggup menghadapi titik balik terendah dalam hidupnya. Begini rasanya ternyata, batin Bima.
Ia menghela napas panjang dua kali, kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Seperti dugaannya, Anggita telah duduk manis di meja makan dengan menatap kedatangannya dengan tajam.
"Pulang juga kamu! Inget masih punya rumah ternyata!," celetuk Anggita dengan tawa sinisnya. Bima tak menjawab dan memilih mengambil air minum di dapur. Saat minum, matanya menatap sebuah koper di sudut ruangan. Zarina juga tengah tertidur di kursi.
"Mau kemana kamu?," tanya Bima. Mendengar pertanyaan Bima, Anggita tertawa sinis. Ia melirik ke arah Bima.
"Penting buat kamu?," Anggita balik bertanya. Bima akhirnya menghampiri Anggita. Tepat di depan Anggita dia berdiri. Anggita menyodorkan sebuah map kepadanya. Bima menerimanya. Matanya penuh tanya pada Anggita. Perlahan dibukanya map itu. 'Gugatan Perceraian', begitu tertulis di lembaran kertas yang ada di dalamnya.
"Apa maksudnya ini?," tanya Bima. Anggita menghela napas pendek dan berdiri dari kursinya.
"Sudah jelas tertulis di sana, Bim. Beruntung kamu pulang hari ini, jadi sekalian saja kuserahkan gugatan ini ke kamu! Aku mau kita pisah. Kamu tenang saja! Aku bukan Rania yang minta diantarkan kembali ke orang tuaku. Karena memang aku sudah yatim piatu!," jawab Anggita pelan. Tak ada nada tinggi. Hanya ada kesenduan di dalam bicaranya. Sebelum Bima menyadari, Anggita sudah menggendong Zarina dan menarik kopernya. Bima mengejarnya sebelum mencapai pintu rumah mereka.
"Kamu mau kemana, Nggi? Kita bicara dulu! Kalau kamu mau pisah, it's fine! Tapi Zarina. Kamu mau bawa kemana? Kamu akan ajak dia tinggal di kosan itu lagi?," sergah Bima tak sabar. Anggita tak bergeming. Ia hanya menghela napas pendek.
"Bicara apalagi? Kamu sendiri yang memilih seperti ini. Menghindariku setiap hari. Aku memang bukan Rania yang kaya, tapi tenang aja! Aku enggak akan ajak tinggal Zarina di kos-kosan itu. Aku sudah membeli rumah sendiri. Kamu lupa? Perusahaanmu itu milik siapa? Itu milikku! Aku sudah menjualnya dan uangnya sudah aku belikan rumah kecil untuk kami berdua! Lebih baik sekarang kamu pikirkan bagaimana kamu mengatakan ini semua sama karyawan kamu. Karena minggu depan pembeli perusahaan itu sudah akan merenovasi perusahaanmu itu," jelas Anggita. Bima benar-benar terpana dengan penjelasan Anggita. Ia tak menyangka bahwa selama ini Anggita telah melangkah jauh dan mempersiapkan semuanya.
"Jadi, semua sudah kamu persiapkan?," tanya Bima. Anggita mengedikkan bahunya.
"Aku hanya mempersiapkan semua kemungkinan buruk dalam rumah tangga kita. Jika sewaktu-waktu kamu membuangku, aku enggak rugi," jawab Anggita percaya diri.
"Jadi, selama ini kamu cuma manfaatin aku?," sekali lagi Bima menegaskan pertanyaannya. Anggita tersenyum pahit.
"Enggak, Bim. Aku benar-benar jatuh cinta sama kamu. Tapi aku memakai logikaku. Kalau kamu bisa mengkhianati istrimu yang menemanimu dari nol untuk aku yang lebih muda, siapa yang bisa menjamin kamu enggak akan melakukannya padaku?," ujar Anggita. Bima terdiam mendengar jawaban Anggita.
"Aku tidak mau seperti Rania, yang tak mengambil apapun darimu. Aku bukan orang kaya seperti Rania. Aku bukan ingin mengambil keuntungan darimu. Tapi, aku mengambil hakku. Aku layak mendapatkannya setelah hampir lima tahun menemanimu sebagai istri. Aku bahkan melahirkan anakmu. Jadi, aku rasa aku pantas mendapatkannya. Anggap saja itu nafkahmu untuk kami," kata Anggita sebelum pergi. Bima tertegun dengan kata-kata terakhir Anggita. Tanpa memedulikan Bima lagi, Anggita berlalu. Taksi online yang dipesannya sudah berhenti di depan rumahnya. Tanpa menoleh lagi, ia pergi malam itu bersama Zarina, meninggalkan Bima sendirian. Bima tertegun melihat kepergian Anggita. Ia tak sanggup mencegahnya, bahkan enggan mencegahnya pergi setelah mendengar kata-katanya. Ia menghela napas panjang demi menenangkan hatinya. Semuanya semakin kacau baginya. Ia hanya berharap mendapat jalan keluar dari masalahnya.
🍁🍁🍁
Rania sedang mengerjakan akuntasi toko kue dan cafe-nya saat Arya datang mengunjunginya pagi itu. Cuaca sedikit dingin diluar, sehingga Rania menaikkan temperatur ac di ruangan cafenya agar tak terlalu dingin.
"Assalamu'alaikum," sapa Arya dengan senyum manisnya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Rania dengan senyuman. Ia sudah sangat hafal dengan suara merdu Arya.
"Kak Arya, jam segini sudah disini! Enggak kerja?," tanya Rania. Arya tertawa kecil. Akhir-akhir ini ia memang lebih banyak menghabiskan waktunya di cafe Rania dibandingkan di kantornya.
"Kenapa? Enggak boleh ya?," goda Arya. Rania tertawa mendengar godaan Arya. "Kamu lagi ngerjain apa, Nia?," tanya Arya kemudian.
"Biasa, Kak. Akutansi," jawab Rania. Arya mengangguk-angguk.
"Kamu enggak ada staf akuntan atau admin?," tanya Arya. Rania menggeleng. "Jangan begitu! Lebih baik kamu punya satu staf akuntan atau admin yang ahli. Enggak apa-apalah kamu bayar satu orang untuk ngerjain ini. Kamu bisa safe time, bisa gunain waktunya buat ngembangin bisnis atau test resep baru. Selain itu, biar kamu enggak kecapekan juga. Kalau kamu sakit, kasihan anak-anak," kata Arya panjang lebar. Rania tersenyum lebar mendengar nasehat Arya barusan. Rasanya senang ada yang memperhatikannya seperti itu.
"Iya, iya, Kak. Nanti aku coba buka loker deh!," jawab Rania.
"Travel apa nih maksudnya?," tanya Rania.
"Perusahaan travel. Masih kecil sih! Dibilang collapse sih, enggak. Tapi katanya enggak berkembang gitu karena manajemennya yang enggak bagus," jawab Arya.
"Trus?".
"Aku maunya beli, soalnya bisnis travel itu kan enggak butuh modal besar. Apalagi ini mereka sudah ada koneksi. Aku tinggal lanjutkan kalau mau. Asetnya belum banyak. Cuma dua minibus sama ruko gitu buat kantornya," jawab Arya lagi. Rania mengangguk-angguk seperti seekor merpati. Ia tak mengerti orang yang suka teknik seperti Arya justru pandai dalam melihat peluang bisnis. Mungkin karena pengalaman bisnisnya dan juga lingkarannya adalah pebisnis.
"Menurut kamu gimana, Nia?," tanya Arya. Rania sedikit gelagapan ketika Arya bertanya seperti itu. Ia tak menyangka jika Arya akan meminta pertimbangannya. Sedangkan, dia sendiri hanya berbisnis sesuai hobi.
"Gimana ya, Kak? Sebenarnya terserah Kak Arya, sih! Kalau mendengar cerita Kak Arya soal kondisi perusahaannya, artinya Kak Arya harus siap memulai dari nol lagi. Karena kalau manajemennya enggak bagus, ya Kak Arya harus beresin manajemennya, dan itu enggak mudah. Soal aset, itu soal nanti. Kalau Kak Arya berhasil memperbaiki manajemennya, Nia yakin perusahaannya bisa berkembang," jawab Rania. Arya sekali lagi manggut-manggut mendengar jawaban Rania.
"Okay! Aku beli! Tapi kamu bantu aku beresin manajemennya!," kata Arya tiba-tiba, membuat Rania kaget. Sampai-sampai Rania tak bisa berkata apa-apa. Rania berpikir, bahwa Arya sebenarnya sudah membeli perusahaan itu, hanya saja sepertinya Arya mencoba mencari cara lain untuk memintanya membantu Arya. Sebelum sempat menjawab, sebuah suara perempuan mengagetkan mereka berdua.
"Assalamu'alaikum," suara Gina mengagetkan mereka berdua. Keduanya menjawab salam Gina hampir bersamaan.
"Hai! Kita lia ngoni berduaan sepanjang hari. Hati-hati ada setang!," seru Gina. Arya tertawa mendengar logat Manado Gina.
"Nyanda ada bagitu. Kitorang cuma ngobrol bisnis jo ini. Jang kwa ngana bagitu," jawab Rania. Arya melongo saat Rania menjawab Gina bahasa Manado.
"Nikah jo ngoni berdua! Biar halal, nyanda ada orang protes ngoni somo berduaan," ujar Gina. Rania tertawa.
"Nanti kwa itu. Kasiang katu lia dorang bagitu! Nyanda ngerti kitorang ngomong apa," kata Rania. Gina tertawa.
"Kak Arya enggak ada niat nikahin sahabatku ini?," tanya Gina to the point, membuat Rania yang sedang meneguk kopinya tersedak. Ia pun terbatuk-batuk. Ia pun menyenggol lengan Gina.
"Jadi kalian ngomongin itu dari tadi?," tanya Arya. Gina mengangguk. Sedangkan Rania membersihkan bibirnya. "Niatnya sih ada. Masih mencari restu," lanjut Arya dengan senyum tersipu. Mata Rania membulat mendengar jawaban Arya.
"Restu sapa dang?," tanya Gina.
"Restu dari sahabatmu ini. Mau enggak dia kasih aku kesempatan? Orang tua sama anak-anak sih sudah lampu hijau," jawab Arya percaya diri. Rania melemparkan tisu mendengar kata-kata Arya yang dianggapnya sedang bercanda. Arya hanya tertawa melihat Rania tersipu malu.
"Oh, berarti kalian sudah ada rencana?," tanya Gina.
"Sudah," jawab Arya.
"Apaan sih? Belum ada rencana apa-apa, Gina! Orang Kak Arya aja belum minta ke Papa secara langsung!," sergah Rania. Tanpa sadar ia mengungkapkan perasaannya. Gina tersenyum menahan tawa. Sedangkan Arya tersenyum penuh arti. Rania tertunduk malu. Ia tak sanggup menatap Arya.
"Enggak apa-apa, Nia. Kalau memang benar kamu mau begitu, aku yang akan datang memintamu sama Om Zaky. Lagipula, aku memang sudah ada rencana kesana," jawab Arya lembut. Rania tersenyum malu. Gina berdehem. Kemudian, setengah berbisik ia berkata pada Rania.
"Ngana harus berterima kasih pa kita e? Kalau nyanda kita tanya, ngoni berdua nyanda akan mengungkapkan isi hati," bisik Gina. Rania memukul pelan pundak sahabatnya itu. Ketiganya pun tertawa. Mereka akhirnya membahas hal lain. Diam-diam ada bahagia menyelimuti hati Rania hari itu.
🍁🍁🍁