La Tahzan

La Tahzan
KARMA 2



Rania sedang melihat-lihat gamis di sebuah mall saat Arya datang bersama anak bungsu mereka, Wildan. Anak berumur delapan tahun itu tampak asyik menyedot minuman bubble tea-nya. Begitu melihat Rania, ia pun mengulurkan minuman itu.


"Mama haus?," kata Wildan sembari menyerahkan gelas bubble tea-nya. Rania tersenyum. Ia menerimanya dan meminumnya sedikit.


"Makasih, Sayang," ucap Rania dengan senyumnya. Meskipun ia tidak sedang haus, ia tetap menerima pemberian putranya.


"Ma, ada yang kamu suka?," tanya Arya. Rania menggeleng senyum. Arya tersenyum melihat istrinya itu. Rania memang bukan tipe pemboros. Ketika ke mall, ia hanya akan melihat-lihat modelnya. Jika suka, ia akan mencoba membuatnya sendiri di rumah sebagai pengisi waktu luangnya. Sejak menikah dengan Arya, semua bisnis dipegang Arya. Arya tak mau Rania terlalu lelah mengurus dunia bisnis. Ia ingin Rania fokus kepada anak-anaknya. Lagipula Arya memiliki banyak orang kepercayaan di setiap usahanya.


"Apa-apaan, sih? Saya enggak nyuri!," sebuah suara bentakan seorang perempuan dari arah kasir terdengar keras. Semua orang yang ada disitu menoleh, tak terkecuali Rania dan Arya. Mereka mencari sumber suara. Mereka melihat seseorang yang sangat mereka kenal. Anggita.


Anggita tengah berseteru dengan kasir dan security mall. Sepertinya ia dituduh mencuri. Terlihat bagaimana security itu hendak memeriksanya. Anggita pun juga terlihat bersikukuh bahwa dirinya tidak mencuri apapun. Sedangkan kasir yang tampak baru datang itu adalah kasir supermarket mall.


"Kalau saya nyuri 'kan kelihatan! Saya enggak bawa barang apa-apa selain anak saya ini!," seru Anggita kesal.


"Kalau begitu, kasih saya lihat tas bawaan Ibu!," Security itu juga bersikeras meminta bukti. Anggita tampak gusar. Karena terlalu lama dan Anggita juga tetap bersikeras, akhirnya security itu terpaksa meraih tas belanja yang dibawa Anggita. Tas belanja itu berisi baju dan nota belanjaan. Ketika satu per satu dikeluarkan, mereka menemukan sekotak susu untuk anak balita.


"Nah, ini! Ini buktinya!," seru security itu. Semua yang melihat kejadian itu sontak memberikan celotehan tak pantas. Rania merasa iba. Apalagi melihat bayi yang digendong Anggita. Rania berjalan mendekati kerumunan itu.


"Maaf, ada apa ini?," tanya Rania kepada security itu.


"Ibu ini mencuri susu, Bu," jawab kasir supermarket mall yang sedari tadi berdiri di sana.


"Berapa harga susunya?," tanya Rania lagi.


"Harganya satu kotak ini seratus lima puluh ribu, Bu," jawab si kasir. Rania membuka dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan menyerahkannya kepada si kasir.


"Tolong, jangan lanjutkan lagi semuanya! Ini saya bayar susunya dan minta tolong ambilkan lagi susu yang sama dua kotak lagi," kata Rania. Kasir dan security itu saling berpandangan. Sementara beberapa yang melihat terlihat berbisik-bisik.


"Apa Ibu kenal dengan Ibu ini?," tanya security itu. Rania menatap Anggita. Anggita tertunduk malu.


"Tidak. Saya enggak kenal, Pak. Saya cuma kasihan melihat bayinya," jawab Rania. Security itu menatap Anggita sekali lagi.


"Baik. Kali ini kami tidak proses lebih lanjut. Tetapi kami perlu foto Ibu ini untuk kami masukkan ke daftar hitam agar Ibu ini dicegah masuk untuk sementara waktu," kata security. Rania mempersilahkan. Kerumunan pun bubar.


Setelah kerumunan bubar, Rania mengajak Anggita di sudut mall. Anggita tampak malu, ia tak mau menatap Rania. Sedangkan, Rania sedari tadi diam menatap iba pada bayi lucu di gendongan Anggita. Kemudian setelah kasir supermarket datang memberi apa yang diminta Rania, Rania menyerahkannya kepada Anggita.


"Ini susu buat anak kamu. Jangan kamu ulangi lagi seperti ini! Kasihan anak kamu! Jangan pernah memberi makan anakmu dengan cara yang haram seperti itu apapun yang terjadi," kata Rania mengulurkan seplastik berisi beberapa kotak susu. Anggita menerimanya dengan sungkan. Ia malu. Malu dengan perlakuan Rania. Kenapa harus Rania? Setelah semua yang terjadi, Rania tetap berusaha baik padanya. Air matanya bergulir.


"Maafkan saya, Mbak. Maafkan saya. Maafkan semua kesalahan saya," katanya dengan menangis tersedu-sedu. Rania menatapnya dengan iba. Ia pun memeluk Anggita. Tangis Anggita semakin pecah. Ia terisak dalam pelukan Rania.


🍁🍁🍁


"Kenapa kamu bisa seperti ini, Nggi? Apa kamu sudah enggak bekerja? Suami kamu kemana?," tanya Rania begitu Anggita sudah tenang. Rania mengajaknya ke food court mall. Rania bukan bermaksud tidak sopan dengan mempertanyakan suami Anggita. Karena Rania tahu bayi yang sedang terlelap itu bukan anak Bima. Wajahnya berbeda dengan anak perempuan di sebelah Anggita. Lagipula, Anggita dan Bima telah berpisah sejak sepuluh tahun lalu. Jadi, Rania berpikir kalau pastilah Anggita sudah menikah kembali, melihat bayi itu sepertinya baru berusia sekitar setahun.


"Maafin aku, Mbak Nia," ucap Anggita lagi. Sedari tadi hanya itu yang bisa ia katakan. Ia masih sesenggukan. Rania menghela napas panjang.


"Anggi, semua sudah berlalu. Masa lalu itu sudah aku kubur jauh-jauh. Aku sudah memaafkan kalian. Berhentilah menyalahkan diri sendiri! Kalian berhak punya masa depan. Ingat, Nggi! Ada anak-anak yang harus kamu hidupi. Dengan halal tentunya," jawab Rania bijak. Anggita perlahan menatap Rania. Tak ada yang berubah pada diri Rania. Selalu penuh kebaikan.


"Iya, Mbak. Saya minta maaf soal uang nafkah dari Bima. Itu murni saya yang minta, Mbak. Tapi saya benar-benar enggak tahu kalau usaha itu milik Mbak Nia sendiri. Uang itu, aku pakai untuk menambah investasi Bima di perusahaannya Angel, teman aku, Mbak. Aku cuma pengen dilihat sama Bima, Mbak. Aku enggak suka Bima bandingin aku sama Mbak Nia. Sayangnya, aku termakan saran Angel. Dia bilang kalau Bima bisa bermain belakang sama Mbak Nia, bukan enggak mungkin dia juga gitu ke aku, Mbak. Akhirnya tanpa sepengetahuan Bima, pada saat akta pendirian perusahaan dibuat, direkturnya dicantumkan namaku. Jadi asetnya semua milikku. Aku hanya jaga-jaga, Mbak. Aku bukan orang kaya seperti Mbak Nia. Aku takut ketika aku dibuang oleh Bima, aku tak punya pegangan apapun. Aku cuma anak panti yang ditemukan Bima, Mbak," ungkap Anggita terisak. Rania dan Arya saling berpandangan. Rania menghela napas panjang. Ia meraih tangan Anggita, menggenggamnya seolah menguatkan.


"Aku juga minta maaf sudah berusaha menggoda Mas Arya waktu itu. Aku...aku enggak serius waktu itu. Aku hanya cemburu melihat Mbak Nia mendapatkan banyak perhatian," lanjut Anggita. Rania menatapnya iba.


"Lalu, kenapa kamu sampai seperti ini?," tanya Rania hati-hati. Anggita terisak.


"Aku...aku ditipu Mark, suami Angel, Mbak. Setelah menjual perusahaan itu, Mark nawarin bisnis bareng. Aku iyain saja! Tapi nyatanya, mereka enggak pernah muncul lagi. Entah kemana," jawab Anggita tersedu.


"Suami kamu yang sekarang?," tanya Rania lagi. Anggita menggeleng dan tetap menangis. Sejenak ia butuh waktu untuk menenangkan dirinya.


"Aku enggak ada suami, Mbak. Bayi ini adalah kesalahanku. Aku tertipu lagi. Saat aku sedang terpuruk, aku ketemu mantanku. Dia bilang dia single, Mbak. Aku benar-benar enggak tahu saat itu. Karena hubungan kami sudah terlalu jauh, aku memintanya menikahiku. Kami menikah dua tahun lalu. Setahun kemudian aku melahirkan Tsabita, bayi ini. Tapi, belum sebulan aku keluar dari rumah sakit, istri dari mantanku itu datang ke rumah kami. Dia menyeret mantanku itu pulang. Sampai sekarang, aku enggak pernah ketemu lagi atau bisa menghubungi dia. Ekonomi kami terpuruk sejak itu. Rumahku terjual. Tabunganku sudah habis. Aku enggak berani kerja, Mbak. Aku enggak bisa meninggalkan mereka di rumah sendirian," jelas Anggita. Rania menitikkan air mata mendengar cerita Anggita.


Rania memandangi wajah perempuan itu lekat. Dulu, ia adalah gadis yang energik dan lincah, sampai bisa membuat Bima terpesona dan berpaling dari Rania. Hari ini, ia melihat Anggita sungguh berbeda. Wajahnya kusam tanpa perawatan lagi. Ia terlihat lebih tua dari umurnya.


"Ini karma untukku ya, Mbak?," tanya Anggita dengan senyum pahit.


"Enggak boleh gitu, Nggi! Kamu sudah menyadari kesalahanmu. In Syaa Allah, kalau kamu mohon ampun, Allah juga akan membuka pintunya untukmu," jawab Rania. Anggita kembali terisak.


"Mbak Nia selalu baik. Maafkan saya sekali lagi, Mbak Nia. Terima kasih sudah membantu saya hari ini," kata Anggita. Rania membuka tasnya. Ia menyerahkan sebuah kunci dan beberapa lembar uang seratus ribuan.


"Ini kunci rumahku, rumah sebelum aku nikah sama Mas Arya. Enggak besar, tapi cukup untuk kalian. Rumah ini kosong, daripada kotor, lebih baik kalian tempati dulu. Ini ada sedikit rezekiku untuk kalian. Kamu bisa mulai usaha kecil, buat gorengan atau apalah, untuk kamu titip di warung sekitarnya," kata Rania. Ia menoleh kepada Arya. Arya mengangguk senyum.


"Jangan, Mbak. Mbak Nia sudah terlalu baik sama saya," tolak Anggita.


"Kalau kamu mau aku ridho dan memaafkan kamu, kamu terima ini," paksa Rania. Anggita menghela napas panjang. Ia tahu ia tak bisa menolak Rania. Meskipun ia tahu kalau tanpa ini pun, Rania akan memaafkannya. Anggita mengambil pemberian Rania itu. Kemudian ia bersimpuh di lantai, di depan Rania. Rania mundur sedikit. Ia kaget dengan yang dilakukan Anggita.


"Ngapain kamu, Nggi? Malu dilihatin orang!," ujar Rania. Ia pun mengajak Anggita berdiri. Anggita terisak kembali. Ia memeluk Rania erat.


"Makasih, Mbak. Makasih, Mbak Nia. Mbak Nia malaikat penolong saya. Mbak Nia pahlawan saya. Saya janji, saya akan membalas kebaikan Mbak Nia. Saya akan dedikasikan hidup saya untuk Mbak Nia," isak Anggita di pelukan Rania. Rania menitikkan air matanya dan mengusap punggung Anggita.


"La tahzan, Nggi. Jangan sedih! Kalau kamu berniat baik, Allah akan kasih jalan kamu. Jangan pernah sedih, karena kamu harus yakin Allah selalu ada untuk kita. Kamu enggak perlu membalas apa-apa ke aku. Semua milikku cuma titipan Allah. Allah ingin kamu lebih dekat padaNya. Jadi, perbaiki hubunganmu dengan Allah, ya?," pesan Rania. Anggita menganggukndi tengah isak tangisnya. Ia melepas pelukannya. Kemudian menghapus air matanya. Arya memeluk dan mencium keningnya.


"Masya Allah, Ma. Kamu luar biasa," puji Arya. Sekali lagi ia mencium kening istrinya. Anggita juga melakukannya pada anak-anaknya. Hari ini begitu berat baginya. Tetapi berkat Rania, seolah ia mendapat air segar setelah kehausan sekian lama. Hari ini ia belajar bersyukur.


🍁🍁🍁