La Tahzan

La Tahzan
SALING MELEPAS



Setelah hampir 20 menit perjalanan, Bima dan Rania sampai di suatu rumah megah. Bahkan jauh lebih luas dari rumah yang mereka tempati. Rumah mewah itu adalah milik orang tua Rania. Begitu melihat mobil menantunya, Mama Rania keluar menyambut mereka. Bahkan adik laki-laki Rania langsung menyambut kedatangan keponakannya.


"Nenek," seru Husna begitu turun dari mobil. Ia menghambur memeluk neneknya. Perempuan setengah baya itu tampak bahagia sekali melihat kedatangan cucunya itu. Tetapi ia bingung dengan kedatangan Rania yang membawa koper. Ardan bahkan membantu menurunkannya.


"Assalamu'alaikum, Ma," sapa Rania dengan senyuman terpaksa. Mama Rania mencium ada hal yang buruk terjadi dengan melihat mata Rania yang sembab.


"Wa'alaikumsalam," Mama Rania membalas salam dan memeluk anaknya. Rania memeluknya erat. Sebagai seorang ibu, ia merasa Rania ingin menumpahkan semua emosinya saat ini. Buru-buru ia mengajaknya masuk. Tak lupa ia juga mempersilahkan Bima masuk.


Begitu mereka masuk, Papa Rania melihat mereka. Ia juga menyambutnya anak dan cucunya itu dengan amat bahagia. Namun, begitu melihat mata sembab Rania dan wajah muram mereka, ia menduga sesuatu telah terjadi. Papa Rania menyuruh Mama Rania mengajak cucu-cucunya itu ke belakang dengan isyarat matanya. Mama Rania mengangguk mengerti. Ia memanggil asisten rumah tangga mereka untuk membawakan koper Rania dan anaknya.


Sepeninggal Mama Rania dan anak-anak, Papa Rania memegang kedua pipi anak perempuan kesayangannya itu. Ia melihat luka yang dalam terpancar dari mata Rania. Rania sempat menunduk untuk menyembunyikan genangan air matanya.


"Pa, Bima mau bicara sama Papa," ucap Rania datar. Papa Rania pun mengangguk.


"Duduk sini," ajak Papa Rania. Mereka duduk di ruang tamu. Adik Rania, Raditya juga duduk bersama mereka. Raditya ingin tahu apa yang terjadi pada kakaknya itu. Raditya adalah adik Rania satu-satunya. Usia mereka hanya terpaut 4 tahun. Itulah kenapa mereka sangat dekat. Raditya awalnya mendaftar sebagai taruna polisi tetapi karena harus meneruskan usaha orang tua mereka, ia membatalkannya. Ia hanya menyalurkan hobi bela diri dengan menjadi pelatih muay thai di gym. Rania sangat menyayangi adiknya itu, begitu pula sebaliknya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan, Bim?," tanya Papa Rania. Bima terlihat bingung memulai kata-katanya. Ia tidak tahu harus mulai darimana. Tidak mungkin ia mengatakan memiliki istri lagi selain Rania. Rania menunggu kata-kata Bima tanpa menoleh. Rania tahu Bima tak akan bisa memulai kata-katanya.


"Bima mau mengembalikan Nia, Pa. Kami udah nggak bisa sama-sama lagi. Kami memutuskan untuk berpisah," kata Rania mencoba tegar. Papa Rania menatap Rania dan Bima bergantian. Bima tertunduk. Dari dulu Papa Rania tidak pernah setuju anaknya menikah dengan laki-laki ini. Dan hari ini terbukti.


"Katakan alasannya! Kamu, Nia, dulu mati-matian mempertahankan dia. Sekarang kalian berpisah gitu aja! Jangan seenaknya! Ada Ardan dan Husna!," seru Raditya mulai gusar.


"Radit benar. Dan kalian tidak membicarakan ini terlebih dahulu sama kami. Memang kalian anggap apa kami ini?," seru Papa Rania. Rania tertunduk diam. Air matanya menetes.


"Maafkan saya, Pa," hanya itu yang bisa Bima katakan. Bahkan ia tak bisa menjelaskan apapun. Rania semakin kecewa.


"Sekarang tergantung Papa. Papa mau terima Rania kembali atau tidak. Talak udah Bima jatuhkan ke Nia, Pa," kata Rania di sela tangisnya. Kini ia sudah tidak sanggup lagi menahan tangisnya. Raditya tampak geram dengan sikap Bima yang tidak bisa menjelaskan apa-apa. Akhirnya, ia mencengkeram baju Bima dan menyeretnya keluar dari rumahnya.


"Keluar lo! Harusnya gue dulu nggak kasih kakak gue nikah sama pengecut kayak lo! Ngomong aja gagu! Awas lo berani balik lagi!," seru Raditya geram. Ia benar-benar sudah tidak sabar lagi. Kalau Rania tidak memeganginya, ia sudah menghajar Bima habis-habisan.


Raditya pun menarik Rania masuk ke dalam rumah dan membanting pintunya. Mereka meninggalkan Bima yang masih tersungkur di halaman depan rumah mereka. Bima berdiri dan masuk ke dalam mobilnya dengan gusar. Rasanya sakit sekali diperlakukan seperti itu. Tetapi ia juga merasa pantas diperlakukan begitu. Sebenarnya menyesal menjatuhkan talak pada Rania. Harusnya ia bisa berpikir lebih jernih lagi. Mungkin saja ia bisa dapat bantuan dari keluarga Rania. Ia benar-benar menyesalinya.


 


🍁🍁🍁


 


Papa Rania mengurut keningnya tanda sudah mulai berpikir. Ia sudah berfikir untuk segera mencarikan pengacara bagi anaknya. Ia yakin Bima tak akan menceraikan secara resmi anaknya. Ia tahu seperti apa Bima. Sedangkan, Mama Rania memeluk Rania yang masih menangis.


"Kamu sudah siap jadi janda?," tanya Papa Rania. Rania menatap ayahnya itu dengan perasaan campur aduk.


"Siap atau tidak, sekarang status Rania sudah jadi janda, Pa," jawab Rania pahit. Papa Rania mengangguk. Ia menepuk pundak Raditya dan membisikkan sesuatu. Raditya mengangguk tanda mengerti. Ia pun segera bergegas pergi dari ruangan itu. Rania mengernyitkan dahinya.


"Jangan khawatir! Papa hanya menyuruhnya untuk mengurus perceraianmu secara resmi. Karena Papa tahu, Bima nggak akan mau menceraikanmu secara resmi," kata Papa Rania. Ia seolah tahu apa yang sedang dipikirkan putrinya itu. Rania kemudian berdiri menghadap ke arah ayahnya itu. Menatap pria paruh baya itu lekat-lekat. Kemudian memeluknya erat dan menangis. Papa Rania mengusap punggung anaknya dengan lembut. Bahkan setitik air mata menggenang di ujung matanya. Sakit hatinya melihat putri yang dibanggakannya diperlakukan seperti ini.


"Maafin Nia, Pa," ucap Rania dalam isak tangisnya.


"Nggak apa-apa, Nak. Kamu tetap putri kesayangan Papa. Biarkan tangan Allah yang bekerja membalasnya," jawab Papa Rania. Rania hanya terisak dan mengangguk. Papa Rania melepas pelukannya dan menatap mata putri kesayangannya itu.


"Kuatkan hatimu untuk anak-anak. Mulai sekarang kamu tanggung jawab Papa dan Radit. Kamu nggak perlu khawatir dengan apa yang ada di depan. Tidak masalah soal statusmu. Kamu tetap anak Papa," kata Papa Rania mengusap pipi anaknya itu. Rania mengangguk dan memilih memeluk ayahnya itu lagi. Ia merindukan pelukan penuh perlindungan dari ayahnya itu. Papa Rania membiarkan anaknya terisak di pelukannya. Ia membiarkan anaknya melepas semua emosinya. Mungkin dengan begitu akan berkurang rasa sakit dan kecewa dalam hati Rania. Ia terus mengusap punggung anaknya itu lembut.


 


🍁🍁🍁


 


Sementara itu Bima telah sampai kembali di rumahnya malam hari. Ia menenangkan diri dahulu sebelum pulang, karena ia tak mau Anggita jadi pelampiasan emosinya nanti. Wanita itu tengah hamil anaknya.


"Assalamu'alaikum," sapa Bima masuk ke rumah. Tak ada jawaban. Bima masuk melihat ke arah dapur. Rupanya Anggita sedang membuat jus hingga tak mendengar sapaan darinya. Melihat usaha Anggita, Bima tersenyum kembali. Ia memeluk perempuan itu dari belakang. Wangi. Sepertinya Anggita sudah mandi. Kaget dipeluk dari belakang, Anggita menoleh. Melihat Bima yang memeluknya Anggita tersenyum.


"Udah pulang kamu, Yang. Kok lama sih tadi?," tanya Anggita menuangkan jus buatannya ke dalam gelas. Bima melepas pelukannya dan duduk di meja makan.


"Iya. Kan pembicaraannya panjang, Yang," jawab Bima santai. Ia melihat hidangan makan malam mereka. Ada ayam goreng dan tumis buncis. Anggita menaruh gelas jus di depannya. Ia meminum jus buah itu. Ada yang berbeda. Rasanya manis, tapi tak seenak buatan Rania. Saat Anggita menghidangkan makan malam mereka pun, ia mencoba memakannya meskipun rasanya agak aneh. Masakan Anggita enak, tapi benar-benar berbeda. Tidak seperti masakan Rania yang selalu pas di lidahnya. Ah, apa yang dilakukannya sekarang? Ia mulai membandingkan Rania dan Anggita. Ia mulai meyakinkan dirinya untuk sepenuhnya bersama Anggita. Ia juga harus menerima Anggita apa adanya.


"Melepasmu adalah hal yang paling berat dalam hidupku. Meskipun hatiku sangat menyesal melakukannya, tetapi aku tak bisa kembali lagi ke jalan itu bersamamu. Biarlah nanti, waktu yang akan mengembalikan kebahagiaanmu. Dan itu semoga ada kesempatanku di sana. Aku sudah melepasmu, Nia. Pergilah selayaknya burung yang bebas kemanapun pergi agar kau tak menderita bersama kami di sini. Maaf telah menyakitimu selama ini. Maaf telah tak adil selama menjadi suamimu. Semoga Allah melindungimu dan jagalah anak-anak kita. Aku akan selalu mengingatmu dan kamu akan selalu menempati hatiku".


- Bima -