
Sidang putusan perceraian antara Bima dan Anggita digelar sebulan kemudian. Bertepatan dengan pernikahan Arya dan Rania. Acara ijab qobul dilaksanakan di masjid dekat rumah Arya. Acara berlangsung sangat khidmat. Yang membuat suasana semakin haru adalah ketika Zaky, Papa Rania mengucapkan permohonan sebelum ijab qobul dimulai.
"Sebagai seorang ayah, saya tidak akan meminta banyak hal darimu, Nak. Aku hanya minta bahagiakan istrimu sebagaimana kami selaku orang tuanya membahagiakan dia. Jangan sakiti fisik dan hatinya. Jika kamu tidak berkenan akan kesalahannya cukuplah dengan mengingatkannya. Bimbinglah ia dengan imanmu. Jagalah ia dengan agama dan prinsipmu," kata-kata Papa Rania sukses membuat yang hadir menitikkan air mata. Setelah kata-kata itu diucapkan, Arya bersimpuh di depan Papa Rania dan mencium tangannya.
"Dengan segenap hati, jiwa dan raga, saya menerima tanggung jawab yang Bapak berikan kepada saya. In syaa Allah saya akan membimbing puteri Bapak menuju jannahNya," kata Arya sebelum akhirnya mencium tangan calon mertuanya itu. Kemudian, acara itu dilanjutkan dengan ijab qobul. Ketika semua saksi akhirnya mengatakan 'sah' secara bersamaan, Arya kembali mencium tangan Papa Rania. Tepat saat itu juga, Bima datang dengan nafas terengah-engah sampai di pintu masjid.
Bima melewatkan prosesinya. Ia menyesal. Tetapi penyesalan tentang Rania yang sudah resmi menjadi istri Arya jauh lebih besar. Ia perlahan berjalan menuju barisan belakang tamu yang hadir di sana. Abdul dan Gina juga hadir. Penghulunya juga Ayah dari Abdul. Bima menyaksikan bagaimana Arya memasangkan sebuah cincin ke jari manis Rania, mencium kening dan membacakan do'a kepada mantan istrinya itu. Keduanya tampak sederhana. Tanpa riasan berlebihan. Ardan dan Husna pun mencium tangan Arya. Bahkan Ardan memeluk erat Arya. Melihat itu Bima semakin sakit.
Acara ijab qobul Arya dan Rania telah usai. Namun, beberapa sahabat masih berbincang di masjid untuk sekedar berkabar. Arya dan Rania telah meninggalkan masjid dan pulang untuk mempersiapkan pesta kecil antar keluarga. Di sudut ruangan masjid, Abdul, Gina dan Bima masih berbincang.
"Bim, bukannya hari ini sidang perceraian kamu?," seru Gina. Abdul menyenggol lengan Gina. Gina memasang wajah cemberut. Bima hanya menghela napas panjang.
"Sudah! Enggak apa-apa, Dul! Gue tadi enggak hadir di sidang. Toh, sudah tahu juga hasilnya apa!," jawab Bima menyandarkan dirinya di dinding. Cahaya matahari menembus kaca jendela masjid dan mengenai dirinya. Namun, ia tak bergeser sedikit pun dari tempatnya duduk.
"Terus terang, hari ini gue pengen lihat kebahagiaan Rania. Meskipun gue berharap hari ini adalah mimpi," kata Bima kemudian. Abdul menghela napas panjang.
"Baru nyesel lo sekarang?," tanya Abdul kemudian. Bima menatap sahabatnya itu dalam-dalam. Dulu, ia tak mengindahkan nasehat sahabatnya itu. Kini, ia dilanda rasa penyesalan yang teramat besar.
"Walaupun begitu, lo harus tetap bersyukur, Bim! Setidaknya logika lo masih lo pakai saat bersama Anggita. Lo pakai uang lo seada-adanya untuk bangun usaha lo. Meskipun konyol menurut kita, tapi gue bersyukur lo enggak sampe berhutang," kata Abdul mengingatkan.
"Iya, Dul! Tapi bodohnya gue, bisa percaya sama mereka. Mana ada bangun usaha dengan uang puluhan juta terus jadi direktur. Konyolnya lagi, gue enggak lihat akta pendirian dan perubahannya. Disitu enggak ada nama gue sama sekali. Dan lo tahu? Anggita bilang dia cuma ambil haknya dia karena sudah mengorbankan hidupnya selama lima tahun buat gue. Kayak semacam bayaran gue ke dia gitu!," kata Bima sambil menyandarkan kepalanya di dinding. Ia memejamkan matanya sejenak dan menghela napas panjang.
"Sudahlah, Bim. Semua sudah terjadi. Buat pelajaran saja!," hibur Abdul. Bima tersenyum pahit tanpa melihat sahabatnya itu.
"Oh iya, lo ikut pengajian kita yuk! Ada Pak Lutfi sama Arya juga di sana," ajak Abdul antusias. Bima menatap Abdul ragu. Sebenarnya ia tidak keberatan ikut pengajian, lagipula ia memang ingin memperbaiki dirinya. Tetapi harus bertemu dengan Lutfi dan Arya, ia tak sanggup.
"Ayolah! Memperbaiki ukhuwah, Bim," bujuk Abdul.
"Tapi gue enggak enak ketemu Pak Lutfi. Malu gue!," ujar Bima.
"Sebenarnya kita juga salah, Bim. Gue sama Gina yang masukin Rania ke kantor. Rania datang ke Gina minta kerjaan di tempat les. Kebetulan butik dan tempat les Gina full. Pak Lutfi juga lagi nyari audit. Gue tawarin Rania karena gue tahu Rania teliti banget orangnya. Memang syaratnya ya tanpa sepengetahuan lo, bahkan tanpa sepengetahuan karyawan lainnya. Gue enggak nyangka bakal ada insiden itu," jelas Abdul. Bima tersenyum.
"Iya, Dul. Gue paham kok! Okay lah! Kapan pengajiannya?," tanya Bima. Abdul tersenyum bahagia. Ia pun menjelaskan kapan dan dimana pengajian selanjutnya akan dilaksanakan. Bima mengiyakan ajakan itu karena ia harus belajar menekan egonya. Harus berani menerima kesalahan. Ia ingin memperbaiki dirinya. Sesal yang lalu kini jadi pelajaran baginya.
🍁🍁🍁
Resepsi pernikahan Arya dan Rania digelar di sebuah restoran. Mereka hanya mengundang kerabat dekat dan sahabat saja. Pesta kebun bernuansa krem itu nampak sederhana, namun romantis dan eksklusif. Arya dan Rania sepakat untuk menggelar pesta hanya dengan anggota terdekat dalam hidup mereka. Mereka duduk di sebuah meja panjang bersama.
"Pa, Ma, apa kabar?," sapa Bima. Mata Papa Rania menatap tajam. Tidak bisa dibohongi kalau dia tak suka melihat kehadirannya.
"Mau apa kamu kesini?," tanya Papa Rania tegas namun sopan.
"Maaf, Pa. Bima hanya diundang sama Pak Arya," jawab Bima salah tingkah. Tidak enak rasanya dipandang dan ditanya dengan nada seperti itu.
"Pak Arya? Maksud kamu Arya, menantu saya?," sahut Mama Rania. Bima mengangguk senyum. Ia tahu keduanya belum bisa memaafkan sepenuhnya apa yang telah dilakukan Bima. Rania dan Arya kemudian menghampiri mereka.
"Pa, Ma. Bima ini Arya yang undang atas persetujuan Nia kok! Lagipula kita kan kerabat. Dia ini papanya anak-anak saya juga, Pa," sela Arya. Ia mengedipkan sebelah mata kepada Bima. Papa dan Mama Rania hanya manggut-manggut. Bima menghela napas lega. Ia terselamatkan oleh Arya.
"Papa dan Mama ayo kita kesana! Itu Om Lutfi datang," seru Arya mengalihkan perhatian orang tua Rania. Arya mengedipkan satu matanya ke arah Rania. Ia memberikan privasi agar keduanya bisa berbicara empat mata sejenak.
"Suami kamu baik banget ya? Enggak khawatir ninggalin kita berduaan?," tanya Bima setengah bercanda. Rania tertawa kecil.
"Ya gitulah Mas Arya," jawab Rania dengan senyum manisnya. Bima menatap mantan istrinya itu sejenak. Cantik meski hanya bermake up tipis.
"Sekarang panggilnya Mas Arya?," goda Bima. Rania lagi-lagi tertawa kecil.
"Sudah jadi suami, Bim," jawab Rania. Bima tersenyum kecil.
"Iya. Mas Arya memang laki-laki yang baik. Cocok sama kamu. Wanita yang baik. Lihat! Dia bisa begitu akrab dengan orang tua kamu, dia juga deket banget sama anak-anak," kata Bima. Matanya menerawang melihat keakraban Arya dengan keluarga Rania. Rania menghela napas. Tersenyum.
"Kamu tahu, Nia? Setiap malam aku meratapi semua ini. Aku menangis setiap bangun tidur. Karena aku berharap semua ini mimpi. Yah...penyesalan memang selalu di belakang. Sekarang aku tahu apa yang kamu rasakan saat itu. Aku benar-benar minta maaf, Nia," kata Bima lagi. Rania menatap Bima dalam-dalam.
Bima, pria yang pernah dicintainya itu kini berdiri mengakui penyesalannya. Memang, kalau Allah sudah berkehendak memberi hidayah dan memutar-balikkan hati manusia, siapapun bisa berubah secepat kilat. Rania hanya menyayangkan semuanya. Sayang, butuh tiga tahun Bima harus belajar arti mencintai dan dicintai. Butuh waktu yang tak sebentar bagi Bima untuk menyadari bahwa ia keliru dan salah langkah.
"Semua sudah terjadi, Bim! Sudah kehendak Allah. Mungkin kita hanya ditakdirkan sebagai pelajaran bagi hidup kita masing-masing. Maaf, jika aku menolak kembali padamu. Bukan aku tak memikirkan anak-anak. Justru anak-anak adalah tempatku berbagi. Aku hanya takut hidup bersamamu. Aku tak tahu untuk siapa lagi nanti aku ditinggalkan. Saat kamu menemani seseorang dari nol, dan kamu dilupakan saat mereka berhasil, itu rasanya sakit. Aku tak ingin mengulangi sakit itu. Meskipun kamu bilang kamu berubah, tapi kepercayaanku padamu rasanya tak lagi sama. Aku justru takut menodai hubungan kita," kata Rania. Bima mengangguk mengerti. Rania kemudian tersenyum manis.
"Aku mengerti, Nia. Jika aku di posisimu, aku akan melakukan hal yang sama," ujar Bima kemudian. Rania tersenyum lebar.
"Ayok! Semua sudah kumpul! Kita duduk di sana!," ajak Rania. Bima pun mengangguk dan mengikuti langkah kaki Rania menuju meja hidangan.
🍁🍁🍁