La Tahzan

La Tahzan
PERTEMUAN KEMBALI



3 tahun kemudian...


Hari terus berlalu, berganti bulan dan tahun. Surabaya memasuki musim penghujan, cuaca menjadi tak menentu. Pagi terang benderang, namun 3 jam kemudian, hujan turun deras sekali.


Rania duduk di sofa cafe barunya, yang baru saja grand opening sebulan lalu. Sofa pojok dekat dengan jendela kaca itu adalah tempat favoritnya untuk mengerjakan keuangan usaha dan sumber inspirasinya.


Penampilan Rania telah banyak berubah seperti hidupnya. Ia tetap berhijab, yang membuatnya berbeda adalah sekarang hijabnya menutup dada. Ia tetap memoleskan make up di wajahnya, namun lebih tipis. Ia tampak menggunakan kacamata yang pas dengan wajahnya. Penampilannya tetap dewasa, tetapi tidak menampilkan umur kepala tiga-nya.


"Assalamu'alaikum, Umi," terdengar suara berat namun lembut di telinganya. Rania menengadah melihat siapa yang datang. Lutfi. Beberapa tahun terakhir ini, mereka telah bekerja sama dalam hal bisnis. Lutfi telah menyerah dengan bisnis advertisingnya. Ia kini benar-benar menjalankan usaha sesuai keinginannya. Sebagai distributor bahan pangan. Kini, ia menjadi salah satu supplier di toko Rania.


"Wa'alaikumsalam, Mas Lutfi," jawab Rania dengan senyum manisnya.


"Silahkan duduk," kata Rania. Lutfi pun duduk di depan Rania. "Mau minum kopi seperti biasanya?," tawar Rania. Lutfi tertawa kecil dan mengangguk.


"Kamu itu hapal banget kesukaan saya!," seru Lutfi dengan tawa renyahnya. Rania menanggapinya dengan senyuman. Ia pun memanggil salah satu waiters-nya dan memesankan kopi untuk Lutfi.


"Lagi jalan-jalan atau memang mau ke cafe?," tanya Rania.


"Lagi janjian sama temen sekaligus saudara sekaligus partner kerja," jawab Lutfi lengkap. Rania kini tertawa kecil mendengar jawaban kocak dari mantan atasannya itu. Lutfi memang selalu bisa membawa suasana menjadi segar.


"Aku kira mau bawa invoice," sahut Rania berseloroh. Mereka kemudian tertawa.


"Assalamu'alaikum. Sorry, Om! Telat!," seru seseorang menghampiri mereka. Seorang laki-laki dengan santainya langsung mengambil tempat duduk di sebelah Lutfi. Laki-laki itu hanya memakai kaos dan celana jeans. Rapi namun santai.


"Wa'alaikumsalam. Enggak apa-apa! Om juga baru sampai," jawab Lutfi dengan senyum khasnya. Orang itu tersenyum dan menoleh ke arah Rania. Mata mereka bertemu dan justru menghadirkan keterkejutan diantara mereka berdua. Tanpa sadar mereka melongo.


"Kak Arya?," seru Rania lirih. Laki-laki itu bernama Arya. Arya tampak tersenyum kikuk. Ia salah tingkah. Begitu pula Rania. Rania ingat sekali pernah menjadi pengagum rahasia Arya sewaktu mereka SMA. Mereka saling mengenal sebagai anggota OSIS. Arya adalah kakak tingkat Rania. Bahkan, Rania kuliah di kampus yang sama dengan Arya. Sayangnya, Rania terlanjur jatuh cinta dengan Bima.


"Rania? Apa kabar kamu?," sapa Arya dengan kikuk. Lutfi tersenyum geli melihat keduanya.


"Sudah sukses dia, Ya! Ini cafenya dia. Ini yang aku bilang customer loyal kita," jawab Lutfi. Arya menatap Rania takjub. Sedangkan Rania menunduk malu.


"Ah, Mas Lutfi ini! Enggak kok, Kak! Cafe ini baru sebulan opening. Ini cabangnya dari 'Mom and Son' Tunjungan," jawab Rania tersipu. Arya semakin takjub dan menggelengkan kepalanya. Senyum sumringah belum beranjak dari wajahnya.


"Ya sudah, kita bicarakan soal bisnis dulu ya? Saya mau ada janji ketemu orang lagi setelah ini. Sehabis meeting kalian lanjut lagi reuninya!," ujar Lutfi. Ia menahan senyum gelinya melihat ekspresi sumringah dari kedua orang yang ada dihadapannya itu. Keduanya pun mengangguk setuju dan melanjutkan obrolan mengenai pengambangan bisnis mereka ke depan.


🍁🍁🍁


Sisi lain kota Surabaya sudah dilanda mendung gelap. Angin juga berhembus sedikit lebih kencang. Bima sedang memeriksa beberapa laporan di ruangannya. Ruangan berukuran 3x3 itu terlihat berantakan. File-filenya tampak bertumpuk di satu sisi meja. Salah satu dinding ruangan itu terlihat spanduk berisi iklan transportasi. Ya! Itu spanduk perusahaannya.


Perusahaan yang dibangun dari uang Bima dan Mark. 'Angel Transport', begitu tulisan di spanduk itu. Uang sebesar 80 juta yang diberikan ke Angel memberinya posisi direktur travel agent. Lebih tepatnya, direktur yang merangkap sebagai akuntan di perusahaan itu. Sedangkan Mark sebagai pemilik modal terbesar, hanya tinggal menikmati hasilnya saja. Sebagai warga negara asing, Mark tidak bisa mendirikan perusahaan sendiri. Ia harus menyertakan nama orang Indonesia di dalamnya. Ia pun menambahkan nama Angel sebagai direktur utama dan Bima sebagai direktur. Itu karena Bima menyumbang uang sebesar 80 juta dalam perusahaan itu.


Perusahaan Bima itu lebih mirip perusahaan jasa yang menaungi beberapa driver yang mangkal di Bandara Juanda. Driver-driver itu sebagian menggunakan mobil mereka sendiri. Semua itu Bima-lah yang mengurusnya. Itupun dibantu dua staff operator yang merangkap resepsionis dan staff cleaning service.


Bima melemparkan satu binder laporannya hari ini. Kepalanya pusing memeriksa angka-angka yang tertera di sana. Ia merasa butuh udara segar sebentar. Meskipun ruangan itu cukup sejuk, tetapi tetap saja membuat Bima tak nyaman dengan kondisi yang berantakan seperti itu. Ia pun beranjak dari kursinya dan keluar sebentar.


Kantor itu hanya sebesar satu ruko berlantai dua. Ruangan Bima ada di lantai 2. Ia pun turun dan keluar ruangan. Sejenak sebelum membuka pintu depan, ia melihat beberapa driver dan customer berada di depan resepsionisnya. Begitu sudah diluar kantor, dinyalakannya sepuntung rokok. Sejak dua tahun terakhir Bima mulai merokok lagi. Padahal dulu selama menikah dengan Rania ia tak pernah merokok lagi. Sekarang, akibat kesibukan dan tingkat stressnya, ia kembali pada kebiasaan lama itu.


Sejenak dipandanginya kantor itu. Sudah tiga tahun berjalan. Tidak ada perubahan yang berarti dari kantor yang ia kelola ini. Armada yang mereka miliki masih sama jumlahnya. Kantor belum berpindah. Karyawan pun masih sama jumlahnya bahkan dengan sistem bongkar pasang, karena banyak yang tiba-tiba berhenti. Ia terus berpikir, bagaimana bisa membuat kantor ini berkembang. Segalanya sudah ia jalani rasanya. Bahkan untuk marketing pun ia handle sendiri. Pendapatan perusahaan dan dirinya tak pernah berubah. Sedangkan, ia terus melihat Mark dan Angel sudah berganti mobil tiga kali setahun ini. Apa yang salah dari dirinya? Pikirannya terus bergulir membuatnya gelisah.


Tiba-tiba ia teringat Rania. Apa kabarnya wanita itu sekarang?, batinnya. Tiga tahun belakangan ia tak menemui Rania dan anak-anaknya. Awalnya sengaja untuk memberikan pelajaran atas kesombongan Rania tempo hari. Ia juga fokus dengan usaha barunya dan kelahiran anak dari Anggita. Anak Anggita lahir prematur, namun sehat. Anak itu ia bernama Zarina. Usianya kini sudah dua setengah tahun. Sudah mulai cerewet seperti ibunya. Anggita memang mulai kelihatan sifat aslinya yang bawel. Atau mungkin semua wanita yang telah menikah seperti itu? Tetapi Rania tak begitu, pikirnya.


Diam-diam ia merindukan kasih sayang dan kelembutan Rania memperlakukannya. Ia juga merindukan celotehan Ardan dan Husna. Sebesar apa mereka sekarang? Masih ingatkah mereka padanya, pada ayahnya itu? Rasanya ingin sekali ia melihat ketiga orang itu sekarang. Ia pun mengambil motor kantor dan melajukannya menuju tempat dimana bisa menemui ketiganya. Untuk kali ini saja, ia ingin memuaskan hasrat kerinduannya.


🍁🍁🍁


"Jadi gitu ceritanya, Kak". Suara Rania menutup cerita hidupnya terdengar sendu. Senyumnya di mata Arya lebih banyak mengandung kepahitan. Ia bisa menebak kalau hati Rania pasti masih trauma dengan masa lalunya bersama Bima.


Setelah meeting, Lutfi benar-benar meninggalkan mereka berdua untuk reunian. Awalnya kikuk. Tetapi akhirnya suasana itupun cair dengan cerita-cerita seru di masa lalu mereka.


"Yah, baguslah kalau kamu akhirnya moved on, Nia! Hidup harus terus berjalan kan?," kata Arya. Rania mengangguk senyum. "Tapi kamu juga harus bisa membuka hati kamu. Lagipula ini semua bukan salah kamu! Dan enggak semua laki-laki seperti itu," imbuh Arya. Rania tersenyum.


"Kakak sendiri kenapa sampai sekarang belum menikah?," Rania balik bertanya. Arya tertawa salah tingkah mendengar pertanyaan itu.


"Kalau itu karena ada seseorang yang aku tungguin. Sebenarnya karena aku nyesel banget waktu itu lepasin dia. Aku juga nunggu kabar dari Allah saja untuk memberiku kesempatan ketemu dan kalau beruntung menikahinya," jawab Arya. Matanya menatap Rania dalam. Rania sempat terdiam mendengar jawaban itu. Ia menundukkan pandangannya sedikit dan kemudian mengalihkannya pada jalanan yang ramai.


"Mama!," suara Ardan terdengar di telinga Rania. Ia menoleh. Ardan dengan gagahnya berjalan menuju ke arahnya. Anak itu kini sudah hampir lulus SMP. Tubuh tinggi dan gagahnya mewarisi kegagahan Bima. Wajah tampannya dan mata indahnya mewarisi dari Rania.


"Assalamu'alaikum," sapa Ardan begitu sudah di hadapan mamanya. Ia mencium tangan mamanya.


"Wa'alaikumsalam," jawab Rania dan Arya hampir bersamaan. Ardan menatap Arya sejenak. Ia mencium tangan Arya.


"Kamu kesini sama siapa?," tanya Rania.


"Sendiri, Ma. Ini siapa, Ma?," tanya Ardan melihat Arya. Rania tersenyum. Memang semenjak perpisahannya dengan Bima, Ardan kerap hati-hati dengan laki-laki yang dekat dengan dirinya. Rania tahu, itu bentuk trauma yang dihadapi anaknya.


"Ini teman Mama waktu SMA dan kuliah. Kakak kelas Mama. Namanya Om Arya," jawab Rania seraya melirik Arya. Arya berdiri dan mengulurkan tangannya. Ardan menyambutnya. Mereka bersalaman.


"Arya. Kamu pasti Ardan," kata Arya. Ardan mengangguk senyum. Tipis sekali senyum itu. Kemudian, matanya beralih pada Rania kembali.


"Mama sudah makan siang?," tanya Ardan. Rania menggeleng. "Mama ini lho! Ini sudah jam satu lho! Lambung Mama lagi enggak baik," gerutu Ardan. Wajahnya menampakkan ekspresi kekhawatiran sekaligus kekesalan. Rania hanya tersenyum melihat tingkah anak lelakinya itu.


"Sudah, Ardan! Mamanya jangan dimarahin! Kasihan! Mama sama Om rencananya baru mau makan siang. Tapi Mamamu ini ngotot mau nunggu anak kesayangannya yang ganteng ini, mau makan bareng katanya," Arya berusaha menenangkan Ardan. Ardan menatap keduanya. Rania mengangguk berusaha meyakinkan Ardan.


"Mama sama Om saja yang makan ya? Ardan tadi sudah makan siang sama teman-teman di kelas. Ada yang ulang tahun tadi di kelas," jawab Ardan. Rania menghela napas lega melihat ekspresi anaknya yang melunak mendengar jawaban Arya.


"Ya sudah enggak apa-apa. Mama sama Om makan disini saja. Lagian Om mau coba menu andalan cafe Mama kamu ini," ujar Arya. Mata Ardan berbinar. Ia tersenyum. Kalin jelas sekali senyumnya senang dan tulus. Ia mengangguk cepat. Mungkin ia senang karena Arya tak mengajak mamanya pergi. Rania melirik Arya dan membisikkan kata 'thank you'. Arya hanya mengangguk senyum. Di situ justru Arya terlibat obrolan seru dengan Ardan, dan membuat Rania terabaikan sejenak. Walaupun begitu, Rania tersenyum. Ia bahagia melihat senyum Ardan kembali. Ia juga merasa lega karena Ardan ternyata menemukan kecocokan dengan Arya. Seperti menemukan sosok ayah dan sahabat.


Diam-diam ia juga merindukan seseorang. Kehadiran seorang lelaki. Bukan sebagai pendampingnya saja. Tetapi sosok untuk anak-anaknya. Bukan Bima tentunya. Ia hanya rindu melihat senyum anak-anaknya yang dulu. Tetapi, ia masih ragu. Ia ragu akan kesiapan hatinya menerima kehadiran laki-laki dalam hidupnya. Ia terlalu takut patah hati. Rasa sakitnya masih membekas. Ia hanya berdo'a dalam hati agar Allah tetap memberinya kekuatan dalam membesarkan anak-anaknya. Ia pasrahkan semuanya.


🍁🍁🍁


Bima memarkir motornya di depan rumah mewah keluarga Rania. Diam-diam diawasinya dari luar rumah itu. Tampak sepi. Hanya ada tukang kebun, Pak Mardi, yang sedang duduk di garasi sembari menikmati kopinya.


"Pak Mardi, Pak, Pak," panggil Bima setengah berbisik. Karena jarak pagar dan Pak Mardi tidak terlalu jauh, Pak Mardi pun menoleh. Ia menajamkan penglihatannya, mencoba melihat siapa yang memanggilnya. Ia pun mendekat ke arah lubang-lubang pagar.


"Pak Bima? Ada apa, Pak?," tanya Pak Mardi dengan senyumnya yang khas.


"Pak, Bu Nia ada?,"tanya Bima. Pak Mardi mengerutkan keningnya. Kemudian menggeleng cepat.


"Bu Nia sudah pindah ke rumahnya, Pak. Sudah enggak disini. Gus Ardan dan Non Husna juga ikut," jawab Pak Mardi. Pindah? Ke rumah baru? Bima terhenyak. Ternyata Rania benar-benar menghindarinya.


"Pak Mardi tahu alamatnya?," tanya Bima lagi.


"Maaf, Pak. Saya enggak boleh ngasih tahu. Kalau mau ketemu, Bapak datang saja ke cafe Bu Nia yang baru, di Airlangga," jawab Pak Mardi. Bima pun menghela napas. Kemudian ia pamit pada Pak Mardi.


Bima kembali melajukan motornya menuju tempat yang ditunjukkan Pak Mardi. Ia benar-benar tak menyangka dalam waktu tiga tahun, mantan istrinya bisa sesukses itu. Membeli rumah dan bahkan membuka cafe. Tetapi bisa saja semua itu pemberian orang tua Rania, pikirnya. Ia terus mencoba menghibur dirinya.


Motornya berhenti tepat di seberang jalan sebuah cafe yang lumayan besar. Dari seberang jalan, ia dapat melihat mantan istrinya dan anak laki-lakinya tampak bahagia bercengkrama dengan seorang laki-laki. Ia mengenalnya. Arya. Apakah Rania telah menikah kembali? Dengan Arya?, batinnya. Rasa cemburu merayapi hatinya melihat keakraban mereka bertiga. Ada rasa tak rela melihat semuanya. Ia pun berjanji kembali lagi besok. Iya! Besok dia akan datang kembali.


🍁🍁🍁