
setelah rancangan pernikahan hampir sebulan akhirnya semua sudah selesai acara di gelar di gedung hotel milik keluarga Adias, mempelai pria dan wanita nampak bahagia bersama para tamu, mungkin sebagian, karna nyatanya mawar dan Bagas begitu tertekan dengan pernikahan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya, memang siapa yang menyukai anak pelakor itu bersanding dengan putra sulungnya, bahkan keluarga Pradipta sudah mengulur ulurkan waktu hingga tiga Minggu dari yang seharusnya tapi tetap saja pernikahan ini terjadi, sialan!
"dia tertawa Tampa beban padahal sudah merebut tunangan adiknya sendiri" bisik mawar pada suaminya, sedangkan putra bungsu Bagas, Brian Regan Pradipta tersenyum menyeringai, sangat menikmati pernikahan Kakanya itu, peluang untuk mendapatkan quen semakin besar, dulu dia hanya bisa menjadi teman dekat quen, dan berusaha mengubur rasa cintanya pada gadis yang selalu dia temani bermain saat saat queensha dalam masa pemulihan akibat kehilangan ibunya, alasan dia memiliki melanjutkan studinya di luar karna tidak tahan saat queensha selalu memperhatikan bara dan menanyakan aktivitas sang kakak, tak menyangka mendapatkan kesempatan emas untuk dekat lagi dengan wanita itu,
"ma kuliahku sebentar lagi selesai, bagaiman jika mama melamar quen untukku," Bagas dan mawar yang tadinya muram seketika tersenyum bahagia, putra bungsu itu memang selalu menyenangkan hati mereka, berbakat tampan dan sangat pintar, pantas jika Brian selangkah di atas bara,
sementara di tempat lain, tepatnya di sebuah kamar mewah seorang quen sedang menikmati harinya dengan menonton film kesukaannya, di temani beberapa cemilan, setidaknya dia tidak kepikiran dengan pernikahan dua manusia lucknat itu,
"queensha"
"queensha, bukan pintunya"
"Queensha" panggilan samar itu seketika menyadarkan gadis itu, segera ia menekan tombol kunci agar pintu itu terbuka secara otomatis,
"kakek apa yang kakek lakukan di sini" sejujurnya quen cukup terkejut dengan kunjungan mendadak kakenya itu, karna sebelumnya dia pernah bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kaki di rumah ini selagi pelakor itu Masi berkuasa di rumah ini,
"kau masi bertanya setelah apa yang kakek dapatkan" Nasution melempar hpnya di depan quen, di layar tipis itu terdapat potoh bara dengan Calista dengan setelah pernikahan seketika hati gadis itu berdenyut nyeri, kakeknya sungguh tidak pengertian, alasan tidak hadir di pernikahan itu karena tidak yakin hatinya akan Goya,
"jelaskan kenapa Calista yang menikah dengan bara, bukankah kau adalah tunagan bara, kakek tidak ingin mendengar bahwa kau yang memutuskan bara dan akhirnya memilih Calista"
"tepat, kakek sangat tepat," jawaban itu sungguh membuat Nasution atau biasa di sebut tuan Derik itu kaget bukan main,
"tapi kenapa," tanya kakek derik
"huh" menghelai nafas berat " sebenarnya bara berselingkuh dengan Calista sampai Calista hamil anak bara, aku mengetahui kebenaran itu dua bulan lalu kek, aku tidak punya pilihan lain selain melepaskan"
"darah pelakor memang sudah mendara daging sampai anak cucu mereka, andai dulu aku tidak menganggap Sukma sebagai putri ku dan menjadikan ayahnya sebagai CEO mungkin hidupmu akan lebih baik " ucap kake Derik menggebu gebu
"sudahlah, tidak perlu Khawatir, cucumu ini akan memberimu menantu kaya raya, pintar, berbakat, dan lebih tampan daripada lelaki murahan itu" jawab quen santai tampa ekspresi, membuat kakek derik meringis,
"buuukk"
"aduh kenapa kakek menimpukku dengan bantal"
"kau suka sekali berkhayal, lihat dirimu, terlihat Kumal, dan tidak bisa di sebut perempuan, bagaimana bisa kau memberiku menantu seperti yang kau katakan, ketika penampilan mu saja seperti gembel yang tidak punya tempat tinggal cih" sarkas Derik menelisik penampilan cucunya itu,
"baru sadar dengan kostummu, kau ini persis wanita lemah yang patah hati karna di tinggal nikah dengan pacarnya" ejek Derik mencoba memprovokasi cucunya agar berhenti bernalas malasan,
"ini bukan kostum kek, ini trand yang lagi marak sekarang, lagi pula aku nyaman memakai ini, satu lagi aku memang di tinggal nikah kalau kau pikun, tapi bukan berarti aku wanita lemah"
"dasar kau ini, sempat sempat nya mengataiku, kalau kau tidak lemah cepat berganti baju dan segera datang ke pernikahan bara," sebenarnya ini memang rencana Derik agar Cucunya tidak di anggap patah hati hanya karena brandal seperti bara, jika quen datang, keluarga pelakor itu tidak akan meremehkan quen karna masalah pembatalan pertunangan,
"tidak mau, kecuali kalau kakek mengganti mobilku"
"kau,......kau pandai sekali memeras kakekmu, baiklah tapi kau harus datang, saksikan baik baik bahwa bara bukan lagi milikmu, kau tidak harus membantunya lagi, dan mulailah membuka hati untuk yang lain,"
quen bersorak gembira, gadis itu langsung masuk ke kamar mandi, dan mulai berdandan, meskipun quen tomboy bukan berarti dia tidak mengenal makeup, sebagai penerus Nasution dia harus pandai dalam berbagai hal terutama hal wanita, setidaknya dia harus bisa menjadi contoh yang baik untuk kedepannya,
selang sejam berlalu quen keluar menemui sang kakek yang masi setia menunggu nya di ruang tamu, kini quen telah berganti menjadi seorang princess, gaun yang dia kenakan berwarna hitam putih dengan bahu depan dan belakang yang agak ter ekspose, kaos tangan hitam sampai lengan, dengan mahkota yang bertengger indah di kepalanya, benar benar luar biasa,
"DNA ku memang tidak pernah gagal, kau sangat cantik melebihi putriku" puji Derik mendekati cucunya itu
"tentu saja, kau lihat pangeran brengsek yang di nikahi putrimu, aku adalah gabungan keduanya, jadi DNA kakek hanya sedikit, jangan lupa mobil baru ku kek"
"hisss, sudah sana pergi ingat pesan kakek, tetap lah angku dan Jangan terpengaruh, kau itu berharga tidak pantas di kucilkan" Sungguh quen tidak tau harus bangga atau bersedih mendengar ucapan sesad sang kakek, bukannya memberikan masukan yang baik Malah mengatakan hal yang tidak tidak.
mobil sport hitam berhenti di depan gedung hotel, sang pemilik turun dengan gaya anggunnya, penampilannya sunggu menarik, melangkah pelan di atas red karpet menggunakan sepatu kaca pemberian sang kakek,
gadis itu melangkah pelan layaknya seorang putri, bahkan kini semua mata tertuju padanya, tapi sedikitpun tak mengusik gadis itu, dia tetap melangkah menuju kedua mempelai yang masih asyik bercanda dengan beberapa tamu, hati quen berdenyut nyeri menyaksikan pria yang selalu dia perjuakan bersanding mesrah dengan wanita lain,
semenit kemudian keadaan menjadi sunyi, mereka terpaku pada sosok sempurna berjalan dengan anggun bak ratu yang sesungguhnya bahkan kilauan itu mengalahkan sang pengantin wanita yang sedari tadi di puji atas ke indahan wajahnya, rupanya di atas langit Masi ada langit, bahkan pengantin wanita sama sekali tidak bisa di bandingkan dengan wajah ayu wanita dengan gaun hitam putih itu,
seketika Alan memegangi dadanya yang berdenyut nyeri, gadisnya itu begitu persis dengan istrinya, meskipun garis wajah nya lebih banyak di banding ratu ameraa, tapi secara sekilas putrinya nampak seperti ratu ameraa, sorot mata jerni dan senyum sinisnya sangat menggambarkan dirinya dan ameraa, Tampa sadar alan menitihkan air matanya, tak ingin terlihat lemah pria paruh baya itu memilih meninggalkan acara, istrinya adalah rindu yang tak bisa ia temui, tapi rindu pada putrinya yang tidak bisa Ia sentu jauh lebih menyiksa, Tampa quen mungkin dia telah lama menyusul ameraa, queensha lah alasan Alan Masi bertahan di tengah penyesalan yang selalu menyiksanya Tampa ampun,