
"maaf" lirih zean, bahkan quen tidak mendengar nya dengan jelas
quen mengusap bulir bening yang jatuh di pipinya, ini pertama kalinya gadis itu menangis karena ketakutan, dulu sesakit apapun luka yang dia dapat tidak pernah sekalipun dia menitihkan air mata sedihnya, jika pun menagis pasti hanya dalam keadaan darurat atau pura pura menagis, dan untuk kali ini benteng pertahanan itu luruh hanya karena kelakuan gila oleh zean,
"aku akan membunuhmu" racau quen berbalik hendak menyerang zean, "maaf ak....." belum sempat zean meneruskan kata katanya quen dengan tidak berdosanya melompat kegendongan pria itu kemudian menggigit pundaknya "akhhhhhh" teriak zean saat merasakan gigi quen tertancap di pundaknya,
"kau mau membunuhku" tudu zean saat quen melepaskan gigitannya kemudian turun dari gendongan pria itu, zean yg merasakan ngilu pada area pundak segera melihat bekas gigitan quen yang mengeluarkan sedikit darah, pria itu mengatur nafasnya seumur hidupnya baru kali ini ada seseorang yang berani melukai nya tapi tidak bisa ia balas,
"salah sendiri menculikku ke sini" ucap quen santai tampa merasa bersalah sedikitpun bahkan gadis itu merasa legah setelah melampiaskan rasa kesal dan marahnya kepada pria itu, sedangkan Sean yang melihat raut wajah quen yang kembali normal hanya bisa pasrah, setidaknya gadis itu tidak merasa ketakutan lagi, "apakah sesakit itu" lirih quen saat melihat zean mengoleskan saleb ke bekas gigitannya, "biar aku bantu" tawar quen melihat zean kesusahan mengoleskan salebnya,
"tidak usah" sarkas zean kesal bukan main, jika saja pelakunya orang lain sudah pasti detik itu juga orang itu kehilangan giginya,
"dia ngambek, pria tua itu ngambek, hihih" batin quen terkekeh geli, melihat quen terkekeh zean menyerngit heran, cepat sekali mood gadis itu berubah,
"jadi apa tujuan kamu menculikku, apa selama ini orang berjas yang selalu mengikuti ku adalah suruhan mu, dan kenapa kau memakai topen, kau pasti keriminal iyakan, pantas saja kau sangat takut dengan polisi, kau sebenarnya siapa kagwppw...." belum sempat quen meneruskan pertanyaannya pria itu sudah membekap mulut quen sehingga gadis itu berhenti bertanya,
"diem....satu satu pertanyaan, kau ini berisik sekali bukannya minta maaf karena mengigit ku kau malah berkicau" sarkas zean melepas perlahan bekapan mulut quen,
quen yang jengkel setengah matipun memilih duduk di sofa sambil melipat kedua tangannya,wajahnya di tekuk pertanda dia sedang kesal, Sean hanya bisa menghelai nafas jengah, inilah salah satu alasan mengapa dirinya sangat membenci wanita, quen adalah satu satunya wanita yang mampu mematahkan asumsinya terhadap wanita dan kehidupannya yang ribet,
"aku bukan kriminal, aku juga tidak menculikmu buktinya sampai sekarang kau Masi baik baik saja, pria berjas yang mengikuti mu beberapa waktu lalu bukan suruhanku tapi suruhan musuhku, aku adalah zean darico xavierioz dari negara sebelah saat keluar nanti tetap panggil aku ioz karna beberapa anak buahku tidak mengetahui nama asli ku mereka cuma tau aku adalah ioz, kau boleh memanggil nama asliku saat kita hanya berdua saja mengerti" jelas zeam yang di bahas deheman oleh gadis itu,
"kau sangat tau aku takut mati mengenaskan tapi kau dengan seenaknya membuat berpikir demikian, kau harus membayar mahal atas tindakanmu tuan IOZ, atau siapakah terserah" racau gadis itu namun tidak lagi di hiraukan oleh zean
pria itu lebih memilih mengambil Jaz mahalnya kemudian memasang topeng hendak keluar dari ruangan itu, "kau mau ke mana" tanya quen sambil berdiri,
"aku pergi sebentar kau boleh melakukan apa saja anggap rumah sendiri, di sini kau akan aman bersama anak buahku" jelas zean,.sedangkan quen menanggapi nya dengan malas,
setelah beberapa saat kepergian zean quen mulai bosan di kamar pria itu, quen menelusuri setiap sudut ruangan yang bernuansa hitam putih ada beberapa topeng dan botol anggur yang berjejer di meja sudut dekat jendela,
"CK, kemana pria itu pergi, aku akan mati kebosanan jika terus berada di ruangan ini" quen bergumam melangkah keluar dari kamar zean,
di luar saat kepalanya menyembul dari balik pintu sudah ada beberapa pria berjas yang menatapnya intens membuat gadis dilanda kegugupan,namun saat teringat ucapan zean yang mengatakan dia akan aman, barulah quen berani keluar dan merebahkan diri di sofa panjang depan kamarnya,
"kenapa menatapku seperti itu" tegur quen saat beberapa pria berjas yang sibuk tiba tiba berhenti dan terus memandangi nya, namun gadis itu samasekali tidak mendapat respon Malahan pria berjas semakin bertambah dan terus memandangi nya seperti makanan lezat,
"a...aku..tidak melakukan apa-apa" gagap quen, mau kembali ke kamar percuma, parah pria itu sudah mengelilinginya, lari juga bukan ide yang baik "apa pria itu membohongi ku, kenapa aku merasa terancam padahal zean bilang aku akan aman bersama anak buahnya" batin quen
"akhhh" desis salah satu di antara parah pria berjas itu, membuat quen bergidik ngeri,
"apa dia birahi melihatku" batin quen membenarkan pakaiannya,
"heyyy ini pelecehan, kalian tidak seharusnya menatap kekasihnya bos kalian dengan tatapan mesum seperti itu" teriak quen saat benar benar di atas kesabarannya,
namun seperti apapun reaksi gadis itu, parah pria kaku itu tetap padah posisi yang sama, memandangi quen dengan tatapan datarnya,
quen benar benar kesal setalah umpatan dalam hati di tujukan untuk zean, yang entah pergi kemana meninggalkan nya dengan pria aneh Tampa ekspresi itu,
"zean benar benar menginginkan aku mati konyol, bisa bisanya dia memiliki anak buah aneh seperti ini" batin quen,
"berhenti menatapnya atau bos akan menelan kalian semua" suara bas itu mengalihkan tatapan pria aneh berwajah datar itu, begitupun dengan quen yang menyembulkan kepalanya di antara pria berjas yang menghalangi pandangannya,
"huuhfffff, kupikir aku wanita satu satunya, baguslah," gumam gadis itu memperbaiki duduknya,
"hai boca perkenalkan saya Lexi, bodyguard pribadi kamu mulai hari ini" ucap wanita yang tadi, penampilan nya cukup bisa di bilang seperti lelaki tulen andaikan dada itu rata ke pusar, quen yang di panggil boca pun mendengkus kesal sembari melempar tatapan sinis ke ara wanita berotot itu,
"saya tidak memesan bodyguard" jawab quen acu membuat wanita berotot itu tertawa lucu dengan tingkat quen,
"bukan kamu tapi tuan ioz, mulai hari ini aku akan mengikuti kemanapun kau pergi" jawab Lexi,
"ya sudah mengapa harus mengikuti ku, seharusnya yang perlu kau ikuti adalah orang yang mengajimu, lagipula aku tidak butuh bodyguard" quen tidak mau kalah entah mengapa dirinya seperti gadis lemah di mata zean pria menyebalkan itu cukup menguras banyak emosinya hari ini,
lexi hanya geleng-geleng kepala gadis tuannya benar benar gadis kepala batu, dan unik pantas saja ioz begitu terobsesi dengan boca seperti quen
"queensha namamu queensha bukan" tanya Lexi mencoba mengambil hati calon nyonya nya itu,
"dia bahkan sudah tau namaku, zean itu benar benar....niat sekali" batin quen
"kau sudah tau tapi Masi bertanya, katakan kau sudah tau semua tentangku kan, untuk menjadi bodyguard kau perlu tau latar belakang serta keseharian ku, jadi tidak usah bertanya lagi" ucap quen jengkel sembari meninggal kan Lexi yang geleng-geleng kepala,
"haisss boca bocaaa"