
setelah peristiwa pengejaran yang berakhir di selamat kan pria yang pernah menolong nya itu, quen memilih mengikuti apa kata pria itu untuk tidak keluar selama beberapa hari kedepan untuk menghindari kejadian hal yang sama, pria itu yakin jika quen saat ini menjadi incaran untuk menangkap pria itu,
flashback
"me... mereka siapa....kenapa memiliki potoh ku saat aku menolong mu malam itu, saat aku hampir menabrak mu" mata ioz seketika terbelalak jadi gadis itu, menjadi incaran karena dirinya,
"kau ini sebenarnya siapa kenapa kau selalu menjadi buronan, apakah kau bandar narkoba, apakah orang orang tadi seorang agen FBI, apakah kau ini seorang penjahat, " sarkas gadis itu,
"diam lah kau cerewet sekali," sentak ioz tapi tak membuat wanita itu berhenti bertanya,
"kau siapa, setid setidaknya beritahu namamu dan kenapa mereka juga sekarang mengincar ku"
"huufff" ioz menghelai nafas jengah, mobilnya ia putar ke ara pantai yang sedang sepi karna sebentar lagi malam akan menyapa, untuk sesaat gadis itu terdiam dengan pemandangan indah depannya, sunset itu cukup merilekskan mereka berdua dari penatnya pikiran mereka,
"perkenalkan zdnamaku zean, aku bukan seorang bandar narkoba dan mereka bukanlah seorang agen FBIed hanyalah sekelompok bandit yang mengincar ku, dan semua orang yang berhubungan denganku termasuk kau yang telah menolong ku"
"tapi kenapa" ucap gadis itu tak terima, hey dia hanya menolong seseorang yang sekarat, bukannya mendapat kabar baik Malah mendapat musibah, kacau sungguh kacau niat menolong Mala menjadi Boomerang untuk dirinya sendiri,
"karna kau membuat mereka kehilangan kesempatan untuk melenyapkan ku, ngomong ngomong siapa namamu"
"aku queensha, quen, jadi aku harus apa, apa mereka akan terus mencari ku atau melukai ku" tanya quen lagi,
"ya kau benar, jadi untuk sementara Jangan keluar dulu, jika ingin kemanapun segera hubungi aku"
"kenapa aku harus menghubungi mu"
"kau yakin bisa mengatasinya, beberapa diantaranya mereka membawa senjata tajam, sangat memungkinkan mereka untuk melukaimu atau bahkan melenyapkan mu" jelas zean, membuat quen semakin bergetar
"kau menakuti ku"
"itu fakta"
"bagaimana aku menghubungi mu" ucap quen Masi berusaha menormalkan nafasnya,
"berikan nomormu" zean menyodorkan headphone miliknya ke ara gadis itu,
quen merainya dengan sedikit ragu mengetik beberapa angka sebelum akhirnya mengembalikan handphone itu,
flashback off
"huffff, kacau kenapa jadi seperti ini, sekarang aku tidak bebas, bagaiaman jika mereka menemukan ku dan segera melenyapkan ku, tidak bisa, dendamku belum tuntas jika aku mati keluarga pelakor itu otomatis akan menang mereka akan berbahagia setelah mendapat semua milikku,
jadi aku harus apa, memberitahu kakek jika aku dalam bahaya, tidak tidak....bisa bisa kakek yang akan menjadi target berikutnya, begaimana dengan tuan Alan pasti dia akan dengan suka rela menyerahkan nyawanya demi diriku, tapi bagaiamana pun aku membencinya dia adalah ayahku, aku tidak bisa kehilangan dia setelah kehilangan ibuku,
akkkkkkkkkk......., Sekarang aku harus bagaiamana, menghubungi pria itu lagi akan membawaku semakin masuk dalam buronan kematian, tapi hanya dia jalan satu satunya agar aku tetap kekampus, huuffff sekarang aku sedikit menyesal telah menolongnya harusnya ku biarkan saja dia mati" monolog quen di dalam kamarnya sambil menenggelamkan kepalanya di antara bantal bantal empuk miliknya,
seharian quen hanya berdiam diri di kamar memikirkan segala cara agar bisa sebebas dulu lagi, hingga makan malam tiba, awalnya dia begitu malas untuk makan bersama mereka tapi sudah beberapa kali para maid terus memanggilnya dengan mengatakan makan malam tidak akan di mulai jika dirinya belum turun, mau tidak mau gadis itu turun dengan pakaian tidurnya.
di sana seluruh anggota keluarga sudah berkumpul termasuk pengantin baru itu, quen sedikit terkejut pasalnya beberapa hari ini dia tidak melihat keberadaan mahluk astral itu, tapi kali ini dua orang yang sangat dia benci itu sedang duduk manis menunggu makan malam di mulai, jujur saja quen belum bisa sepenuhnya melupakan bara, bayangkan saja mencintai seseorang selama sepuluh tahun lamanya, dan harus melupakan perasaan itu dalam waktu singkat, oh jangan gila siapapun pasti tidak akan sanggup,
"ya aku baik" jawab quen singkat membalikkan piringnya,
"kau yakin, kau tidak sakit, kalau kau merasa sakit sebaiknya cepat di periksa agar bisa lekas sembuh" ucap Alan penuh perhatian tidak ingin putri satu-satunya kenapa kenapa,
"tidak perlu" jawab quen singkat Alan hanya tersenyum kecut saat quen menanggapi nya dengan cuek, bukan tak menyadari perhatian ayahnya hanya saja sulit rasa untuk berdamai dengan pria yang telah menghianati ibunya sampai harus bunuh diri, mungkin kejadian ini harusnya menjadi masalalu dan harus di lupakan bagaimanapun Waktu terus berjalan dan tidak akan pernah kembali untuk memperbaiki segalanya,
tapi melihat keluarga pelakor itu seenaknya dan hidup bahagia membuat quen tidak pernah terima kejadian masalalu itu, rasa benci semakin hari semakin subur dengan pupuk pupuk hasutan dari perlakuan keluarga pelakor itu, jika saja mereka sedikit lebih baik mungkin dia akan mempertimbangkannya tapi sampai detik ini mereka semena mena dengan quen otomatis quen semakin tidak terima kehadiran mereka,
"kalian makanlah" ucap alan, pasalnya semua anggota keluarga nampak memperhatikan quen yang lebih dulu makan Tampa mempersilakan yang lainnya, tapi tidak ada yang berani menegur karna Alan berada di tenga tengah mereka,
termasuk bara yang saat ini sedang menatap quen dengan pandangan berbinar binar, berpikir mengapa quen tiba-tiba terlihat menggoda dengan setelan sederhana yang dia kenakan,
"kalian lanjutan saja, papa ada urusan" pamit Alan saat selesai memakan tiga sendok nasi di piring nya, pria paru baya itu nampak terburu buru ke ruang kerjanya, mungkin masalah kerjaan pikir mereka,
quen hanya melirik sekilas punggung ayahnya, kemudian melanjutkan makannya Tampa peduli dengan yang lain,
"quen apakah kau masi tidak terima dengan pernikahan ku dengan bara sampei kau hanya bisa menghabiskan waktumu di kamar" ucap Calista yang sedari tadi memang sudah jengkel dengan quen karna terlalu lama menunggu,
quen tidak menanggapi, lagi pula apa hubungannya dengan pernikahan dan seharian di kamar quen yakin mereka hanya berusaha memojokkannya jadi untuk apa menanggapi,
"wanita ini benar benar tidak sopan" ungkap nenek Susi dengan nada merendahkan,
"ibu" tegur Sukma,
"aku selesai" kali ini bara yang menyahut entah kenapa pria itu tidak menyukai situasi membosankan seperti ini,
melihat suaminya beranjak segera Calista mengakhiri makan malamnya dan langsung menyusul bara yang hendak mengambil tisu di pojok kursi, melihat quen tidak menanggapi suasana sekitar membuat Calista berpikir untuk membuat quen cemburu dengan bermesraan dengan bara,
"aduu, perutku" liri Calista memegangi perutnya, bara yang hendak pergi memandangi Calista dan menuntun wanita itu menuju kamar mereka namun baru setengah perjalanan Calista pura pura lemas, mau tidak mau bara mengangkat wanita itu ala bridal style, bara sempat melirik quen berharap melihat reaksi cemburu dari wanita itu namun sepertinya quen lebih pokus dengan makanan nya,
quen bukannya tidak menyadari hanya saja rasanya cukup sakit melihat bagaimana bara begitu perhatian, sedangkan saat bersamanya dulu bara bahkan tidak mau melihatnya sangat tidak adil bukan, tapi quen cukup berterimakasih karena tidak ada kenangan manis yang akan membuat nya semakin bersedih,
"gedebukkkk"
"aduuuuhhh sakit"
"bwaaaaaa....hhaaaa..hhhaaa" melihat Calista dan bara jatu dengan tidak etis membuat quen tertawa terbahak-bahak sampai mengalihkan semua tatapan orang orang, ini kali pertama mereka melihat quen tertawa,
memang posisi Calista dan bara cukup lucu dengan saling menindih satu sama lain, beberapa maid juga mencoba menahan tawanya,
"makanya kalau makan jangan kebanyakan, beratkan jadinya, kasihan tu sama suamimu udah kurus harus menggendong gaja pula" ejek quen Masi dengan sisa sisa tawanya, memang hari ini quen tidak berniat membalas mereka tapi sepertinya laintai rumah nya pun tidak terima tuannya di hina dengan tamu yang menumpang puluhan tahun itu,
**salam dari author untuk para pembaca cerita ini, jika ada kesalah mohon di maklumi ya terimakasih semoga betah dengan cerita queensha,
ig: @khairunnisa_anha**