
tak
tak
tak
gadis itu melangkah pelan ke ara pintu apartemen mewah milik sang tunangan, lima menit yang lalu Kaka tirinya itu mengirimkan sebuah potoh di mana tunangannya sedang bercumbu dengan Kaka tirinya itu, awalnya gadis itu tidak percaya toh selama ini saudara saudara tiri nya itu memang selalu mencari celah untuk menghancurkan nya, terutama viona dialah yang paling terdepan selalu memberinya masalah,
tapi kali ini Calista benar benar kelewatan jika sampai potoh itu adalah fakta, fakta yang mungkin akan sedikit menghancurkan hatinya yang telah beku sepuluh tahun lalu, kini tertinggal setitik hanya untuk tunangannya itu, jika sampai seorang bara Adyan Pradipta berselingkuh di belakangnya sudah pasti sisa hati yang telah beku itu akan membatu detik itu juga, gadis itu benar benar di penuhi rasa takut akan suatu fakta yang sangat dia benci,
selang beberapa menit akhirnya gadis itu sampai di depan kamar sang tunangan yang terbuka lebar, di dalam sana dua insan sedang melenguh saling mencari kepuasan, bahkan suara bising yang di sebabkan oleh gadis malang itu tidak menggangu aktifitas keduanya, mereka Masi saling bersahutan dalam nikmat nya dosa yang mereka lakukan,
sekuat tenaga gadis itu menguat hatinya, walau pikiran dan logikanya ingin segera melenyapkan dua inzan yang tidak tahu malu itu, beruntung dia belajar dari kesalahannya ibunya sepuluh tahun lalu untuk tidak gegabah hanya karena cinta murahan yang di selipkan dalam hubungan sakral, cih menjijikkan sekali melihat dua sampah itu.
setengah jam kini telah berlalu namun gadis itu Masi setia berdiri di depan kamar sang tunangan yang akan menjadi mantan, sehancur apapun dirinya sekarang dia tidak boleh terlihat lemah dan menyediakan, penghianatan ini akan dia ingat seumur hidupnya dan akan terekam intes dalam ingatannya untuk selama lamanya,
"woahhh apakah seenak itu" akhirnya gadis itu bersuara setelah 20 menit berlalu setelah memutuskan untuk duduk di bar kecil yang ada di apartemen itu, tangan kanannya memegang gelas berisi kan air lemon asli yang tersedia di bar itu, selama sepuluh tahun terakhir perinsip gadis itu tidak pernah berubah, tidak akan pernah menyakiti dirinya sendiri sehancur apapun dia sekarang,
"queen" jawab pria itu panik
"heem ini aku...., kenapa?, kau terlihat Panik, aku cuma bertanya apakah seenak itu sampai kau membuat ku menunggu sekitar sejam" jawab quen memandang jam tangan mahalnya,
"kau menyaksikannya!, kau melihat semuanya!, quen kauharap kau tidak terpengaruh, aku hanya bermain main" pria itu berkata tanpa dosa seakan akan perbuatannya barusan bukan hal yang penting, bermain main katanya biar gadis itu menunjukkan cara bermain paling bergengsi,
di belakan sana ada Calista yang dengan bangganya memperbaiki bajunya yang berantakan sambil tersenyum ke arah quen, berpikir telah menang karna berhasil menggoda tunangan adik tirinya itu, bahkan sampai berhubungan intim, Calista memandang quen dengan rasa bangga dan penuh kepuasan, kali ini dia akan menyaksikan air mata wanita yang tidak pernah menangis dalam ke adaan apapun.
"oh rupanya kau bermain main saja, kasian ya wanita itu kau jadikan mainan saja hahaha...." tawa menggelar gadis itu menambah emosi yang Calista rasakan setelah di anggap hanya mainan, ini di luar dari perkiraan nya, harusnya queensha menangis memohon dan pria itu akan membelanya bukan malah sebaliknya,
"tutup mulutmu sampah, kau jangan memfitnah ibuku" kali ini Calista sangat mendidih, karna quen membongkar aibnya di depan bara, jika bara mengetahui yang sebenarnya bisa bisa pria itu menganggap nya pembohong sebagai pewaris sah adias group,
"iya si mulut paling suci, sudahlah jika kalian saling mencintai silahkan bersama aku tidak menghalangi hubungan kalian, mana mungkin aku yang mahal bersanding dengan barang murah seperti kalian huh"
"queensha" panggil bara tidak terima saat mendengar kata kata pedas milik quen, otomatis dua orang itu merasa tersinggung dan tersakiti bagaimana bisa mereka yang di gilai banyak orang di sebut murahan oleh gadis cupu seperti quen.
"apa!, kau tidak terima, pada kenyataannya memang seperti itu, kau menghianatiku bara! apalagi dengan perempuan ular seperti dia, jika memang kau tidak ingin meneruskan pertunangan ini kau bisa mengatakan nya padaku, tidak perlu bermain main di belakang ku bara, dan untuk apa kau melakukan ini padaku, apakah kau mengira aku akan hancur setelah menyaksikan perbuatan menjijikkan itu"
"cukup queensha, jika kau tidak begitu dingin dan cuek mungkin aku sedikit melunak padamu, tapi selama ini kau selalu bersikap sombong dan tak tersentuh, kau begitu sulit untuk di gapai bahkan hanya untuk bertukar pikiran saja sangat susah, kau bahkan tidak pernah ada saat aku butuh, kau yang mencampakkan aku lebih dulu queensha" ingin rasanya queensha tertawa di kuping pria itu, apalagi menyaksikan senyum kemenangan dari Calista semakin memprovokasi keadaan,
"ffpppppl, whaaaa hhahah.." akhirnya tawa queensha pecah membuat dua orang yang berdiri saling berhadapan dengannya memandang penuh keheranan,
"selain bodoh rupanya ku juga pikun tuan bara Adyan Pradipta, kau bahkan tidak mengingat dengan jelas bagaimana sembilan tahun lalu aku mengejar ngejarmu, sembilan tahun berlalu aku selalu menjadi bayangan mu, saat kau berada di titik terbawah siapa yang ada saat itu huh bahkan orang tuamu hendak menyingkirkan posisimu sebagai pewaris jika bukan aku yang menjadi alasan mereka mempertimbangkan posisi mu itu, saat perusahan yang kau rintis sendiri jatuh memang siapa yang selalu menyuntikkan dana jika bukan dari kakek Nasution,
sembilan tahun berlalu aku selalu memposisikan diriku untuk mu bara, karna aku mencintaimu sangat dalam sampai akhirnya satu tahun ini aku sadar jika selama ini aku hanya buang buang waktu mencintai orang yang salah, dan keputusan sudah benar akhirnya aku bisa menyaksikan betapa brengsek dan murahnya pria yang selalu ku perjuankan selema sembilan tahun,
apakah kau pernah mengajakku berdiskusi bara, tidak pernah sekalipun, kau selalu menolak setiap aku mengajakmu menemani ku di hari ulang tahun ku, kau begitu sibuk dengan duniamu sendiri dan aku si bodoh sibuk mengejar duniamu, waktu terbuang sia sia selama sembilan tahun sebelumnya akhirnya aku memilih menyerah dan menjadi diriku sendiri,
aku paham aku tidak semenarik wanita itu, penampilan ku juga biasa biasa aja aku bukan seseorang yang patut untuk di banggakan apalagi di publikasikan mungkin akan sedikit menodai Citramu sebagai pria menawan di kalangan mahasiswa dan rekan bisnis mu, tapi bukan berarti kau bisa seenaknya menyakiti seperti ini setelah semua yang kulakukan untukmu bara,"
bara seketika tercengang mendadak dia mengingat semua perlakuannya terhadap wanita itu, bagaimana dia dengan tidak sukanya jika queensha selalu membututi nya di kampus maupun di kantor nya, dimana bara bersekolah di situlah queensha bersekolah, membantunya mengerjakan tugas dan membiayai seluruh organisasi yang ia bangun meskipun banyak orang yang tidak mendukungnya, hanya wanita itu yang selalu percaya padanya. wanita itu adalah queensha.
"tidak perlu mengingat semua nya bara, kau hanya akan malu dan merasa tidak berguna, sudahlah setelah hari ini aku tidak akan menggangu mu lagi, kau bebas mau bersama dengan siapapun terserah, mau bersama wanita murah itu silahakan, kalian memang cocok, tapi akan ku pastikan kau akan menyesal telah menghianatiku, bukan aku yang akan membalas tapi hatimu sendiri yang akan melukai mu" setelah mengucapkan kata kata selamat tinggal akhirnya queensha melenggang pergi dari apartemen laknat milik tuangannya itu, ah lebih tepatnya mantan tunangan itu