Is Not Cinderella

Is Not Cinderella
07 orang yang sama



ciiiittttt


lagi lagi gadis itu menekan pedal rem mobilnya secara tiba tiba, seseorang baru saja hampir di tabraknya jika ia tidak lihai, gadis itu segera turun dan menghampiri orang yang hampir ia tabraknya,


"OMG" teriak gadis itu saat menyaksikan luka luka di sekujur tubuh pria itu, wajah yang tidak asing bagi queensha, namun luka pria itu lebih menarik di bandingkan wajah yang tidak asing baginya mungkin saja dia pernah bertemu dia sebelumnya,


"cepat pergi tempat ini sangat berbahaya untuk gadis sepertimu" ucap liri pria itu, namun quen tidak mendengar Mala merobek bagian bawa rok yang di kenakan kemudian membalut luka di lengan pria itu,


"cepat cari dia, jangan sampai kita kehilangan kesempatan yang sama untuk kedua kalinya" suara itu lagi lagi suara yang tidak asin bagi quen seperti dejevu tapi Dimana dia pernah mendengar itu,


"pergi" liri kembali pria itu mendorong pelan gadis yang pernah menolong nya itu,


"really, kau menyuruhku pergi dengan keadaan kau yang sekarat seperti ini, diamlah dan ikut denganku" quen mengerti situasi saat ini, sangat berbahaya ada sekelompok pria yang mencari pria yang ada di depannya ini,


quen mendengar beberapa langkah kaki semakin mendekat dari ara hutan hutan pinggir jalan, segera dia membantu pria itu masuk ke dalam mobilnya, "tahanlah aku akan membawa mu kerumah sakit"


"tidak jangan pernah" jawab pria itu semakin liri,


"hiisss sudah mau mati Masi aja keras kepala, dia pikir punya cadangan nyawa gitu" grutu quen Masi di dengar pria itu, namun rasa sakit di sekujur tubuhnya tidak memungkinkan dia untuk meladeni gadis kecil itu,


"kita ke rumah pohon waktu itu" ucap pria itu Masi ingat betul gadis yang menolongnya saat ini adalah gadis yang sama beberapa bulan lalu di rumah pohon


"rumah pohon, astaga kau pria yang sama waktu itu, pantas saja wajahmu tidak asing bagiku, baiklah kita akan ke sana, kau tahan sebentar kita akan segera sampai" quen melajukan mobilnya agak kencang sambil memperhatikan mobil patroli yang lalu lalang, kali ini dia tidak boleh ceroboh dan tertangkap,


setelah beberapa menit akhirnya quen sampei di seberang jalan, tidak mungkin mobilnya bisa naik ke bukit sana, satu satunya akses adalah jalan kaki, mau tidak mau quen membopong tubuh kekar milik pria itu yang beratnya dua kali lipat dari tubuhnya,


"tahanlah sebentar" quen menyemangati pria itu walau dirinya saat ini sedang kesulitan menuntun pria itu berjalan menuju pondoknya,


setibanya di pondok, quen segera membaringkan tubuh pria itu dan segera membuka pakaian yang putih yang kini berubah merah muda, tubuh itu di penuhi memar dan luka sayatan, terakhir membuka sepatu milik pria itu dan menggunting celana panjangnya hingga sebatas lutut, setidaknya tidak ada luka di sekitaran situ, mungkin?


perlahan quen segera membersihkan wajah pria itu dari sisa sisa darah kering dan basah, selanjutnya quen membersihkan beberapa luka sayatan dengan alkohol agar tidak iritasi selama tubuh berproses menyembuhkan lukanya, tidak lupa saleb antibiotik untuk mencegah infeksi, quen begitu cekatan dalam merawat luka luka pria itu, terakhir memberikan perban untuk luka yang cukup dalam,


setelah dirasa sudah cukup, quen menyelimuti pria itu dan menyimpan bubur instan persediaan dua hari yang lalu saat menginap di rumah pohonnya, beruntung Masi ada obat pereda nyeri, itu akan membantu pria itu tidur nyenyak dengan keadaan penuh luka,


"makanlah dulu, kau butuh energi dan obat agar bisa memulihkan diri" quen pelan berkata di samping pria itu, seperti sebelumnya pria itu menurut saja, memakan apa yang quen kasi, setidaknya besok pagi dia bisa langsung pergi sama seperti sebelumnya,


usai makan queensha kembali membantu pria itu untuk berbaring, kemudian menyelimuti nya, sebenarnya gadis itu punya banyak pertanyaan, kenapa pria itu selalu terluka, siapa nama pria itu, dan kenapa dia selalu menjadi buronan orang berjas, tapi biarkan saja mungkin besok pagi dia bisa bertanya, jika pria itu tidak kabur lagi seperti sebelumnya,


sebelumnya pria itu pergi tanpa berterimakasih, bahkan saat fajar belum menyongsong pria itu sudah meninggalkan pondoknya, quen bisa tau dengan cctv yang dia pasang di gubuk itu,


.


.


.


"ha...halo kakek, apa ada hal yang penting sampai menelpon ku sepagi ini" quen berkata sambil menetralkan suaranya,


"dasar cucu sialan, apa yang kau lakukan semalam sampai polisi menyuruhku ke kantornya, kau bahkan kabur saat di mintai pertanggungjawaban" omel sang kake membuat quen meringis,


"benarkah, apa polisi itu benar benar menyuruh kakek ke kantor, astaga dia pasti memeras kakek".


"diam, itu semua karna ulahmu, kenapa bukan ayamu saja yang kau seret queensha, kau benar benar pintar memilih orang untuk membereskan masalah yang kau buat"


"itu salah kakek, aku cucumu jadi sudah pasti semua kepintaran dan kerasa kepalaku menurun darimu"


"kau ini benar benar, kau berhentilah berbuat ulah dan mulai memperhatikan perusahaan, jika kau terus bermain kapan kau menggantikan kakek dalam memimpin Nasution group"


"kakek kau Masi sehat untuk memimpin bukan, tunggu saja kakek sakit baru aku gantikan ya" queensha cekikikan usai membuat kakenya itu naik darah, memikirkan itu hampir membuat quen tersenyum,


"siapa yang mengajarimu berkata seperti itu, Alan pasti salah memberi mu makan, harusnya kau tidak di asuh pria sepertinya, dia bahkan tidak memperhatikan mu dan lebih mementingkan keluarga pelakor itu, sebaiknya kau cucu sialan tinggalah sama kakek kau akan lebih ter urus"


"kakek sudahlah, aku hidup dengan baik di sini, pikiran saja kesehatan kakek, karna aku belum siap menggantikan kakek jika sewaktu-waktu kakek jatuh sakit"


"dasar cucu sialan kenapa kau selalu mendoakan kake yang tidak tidak"


"apa....kakek....aku tidak dengar, jaringannya buruk sekali.....sudah dulu ya kakek"


Tutt.


tuuut


selesai mematikan telpon quen segera menghadap ke arah pria yang berbaring di tempat tidurnya itu, "kau sudah bangun" tanyanya ambigu jelas jelas pria itu membuka mata sudah pasti dia sudah bangun,


"heemm"


"cih irit sekali, apa dia tidak ada niatan berterimakasih apa, susa susa aku menolongnya semalam" batin quen


"saya harus pergi" quen hanya bisa menyerngit keheranan, pria itu benar benar irit bicara,


"apakah kau sudah baikan, sepertinya kau belum sepenuhnya pulih" ucap quen basa basi, tapi pria itu Mala menatap nya dengan sorot mata tajam, walaupun begitu sedikit pun tidak mengusik seorang quen,


"baiklah kalau mau pergi silahkan tuan, semoga tidak ada pertemuan berikutnya, jikapun ada setidaknya jangan terluka, kau tau kau sangat merepotkan hehhee tapi aku orangnya tidak tegaan, jadi terluka lah di tempat lain jangan di depanku, karna pasti aku akan menolong mu dan itu akan merepotkan ku" itulah quen mulutnya sulit untuk di rem jika sedang kesal,


"tak tau terimakasih" monolog gadis itu saat punggung pria tadi menghilang dari pandangan nya.