Is Not Cinderella

Is Not Cinderella
18.drama pulang ke rumah



"Bagun nona kecil kita sudah sampai" bisik Sean saat taksi mereka berhenti di depan gerbang mansion quen, di tepuk tepuknya pipi gadis itu agar segera bangun dari tidur nya, quen yang merasa terganggu perlahan membuka mata di lihatnya Sean dengan wajah dekat, quen terlihat biasa saja sedangkan Sean jantung nya sudah berdetak maraton,


"sudah sampai.... makasih " pamit quen, namun sebelum turun sean menahan tangan gadis itu " handphone mu hilang kan, jika butuh bantuan, nomorku Masi sama" quen hanya mengangguk, gadis itu belum sepenuhnya sadar dari rasa kantuknya jadi dia hanya mengangguk untuk meng iyakan


quen masuk kerumah dengan lunglai, tidak makan selama dua hari membuat nya sedikit lemas di tambah tidurnya yang kurang, membuat anggota tubuhnya terasa remuk, apalagi setelah berlarian demi menghindari bandit sialan itu,


"queensha cucuku" teriak Derik Nasution saat melihat quen berjalan dari ara pintu, orang orang mulai mengikuti ara pandang tuan Nasution, betapa leganya prasaan alan saat melihat putrinya Masi hidup, berbeda dengan Calista ,viona dan Susi, mereka nampak tidak suka putri di rumah ini kembali lagi,


"sial kenapa dia harus kembali, kenapa dia tidak mati saja" batin Calista


"bagaimana bisa dia kembali , huh menyebalkan sekali harusnya tuhan tidak berbaik hati membawanya pulang " batin viona memandang remeh keara queensha


"cucuku tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menjadi pewaris jika anak sialan itu Masi bernafas, aku harus cari cara agar gadis itu bisa mati tampa mengotori tanganku" batin susi penuh niat licik,


"queensha akhirnya kau pulang nak" ucap Alan berlarian memeluk quen sebelum keduluan oleh ayah mertuanya, Derik mendengkus saat kalah telak dengan menantunya bisa bisanya Alan dengan tidak soban memeluk quen yg hampir di peluk oleh Derik Nasution,


quen yang sebenarnya belum paham situasi membiarkan saja dirinya di peluk seseorang toh dia juga sudah di dalam rumah tidak ada bahaya terang terangan, Alan menitihkan air matanya saat dia tidak mendapatkan penolakan quen biasanya gadis itu akan memberontak tak pernah ingin di sentuh bahkan berdekatan pun dia tidak mau,


"lama" racau Derik memisahkan Alan dari cucunya yang terlihat kelelahan, gantian Derik yang memeluk quen " gadis nakal, kau kemana saja huh, membuat kakek khwatir saja, lihat ini kau bahkan terlihat seperti gembel" racau Derik Masi memeluk cucunya itu yang sudah seperti gembel dengan pakaian robek sana sini dengan segala kotoran yang menempel,


"kakek tua aku ngantuk" rengek quen melepaskan pelukannya Derik, lagi lagi Derik Nasution mendengkus kesal, bisa bisanya quen bersikap biasa saja saat semua orang tegang karna perbuatannya yang menghilang begitu saja, tidak kah gadis itu berfikir bahwa nyawanya begitu berharga bagi dua marga yang hanya menyisakan satu pewaris sah, benar benar menyebalkan,


"tidak semudah itu, sebelum kau menceritakan semua yang terjadi, kau ingin pergi begitu saja setelah membuat semua orang kelimpungan mencarimu, heh gadis nakal kau menghilang dua hari dengan kabar terakhir kecelakaan, kau benar-benar ingin membuat kakek mu ini mati lebih cepat" omel Nasution menahan lengan quen yang nampak setengah kantuk,


"ayah biarkan dia istirahat dulu, lihat dia begitu kelelahan, entah kesulitan apa yang dia hadapi di luar sana sehingga kembali dengan keadaan kacau seperti ini"bela Alan merasa kasihan dengan putrinya yang nampak berusaha menahan kantuknya,


"diamlah, kau ini terlalu memanjakan nya, dia cucuku aku tau apa aku lakukan, ayo quen" derik Nasution menarik quen untuk duduk di sofa dan gadis itu sudah menahan kesal mendengar perdebatan dua manusia yang sialnya tidak bisa ia lawan,


"ayah, aku tidak memanjakan nya tapi lihatlah putri sangat kelelahan jangan terlalu memaksa nya, aku takut kesehatan nya akan terganggu" Alan Masi mencoba membujuk sang mertua meskipun tau hasilnya akan sia sia. Derik Nasution tidak pernah mendengar pendapat siapapun dan tidak akan mengalah pada siapapun kecuali pada dua orang, ratu ameraa dan cucunya queensha,


"kakek bisakah quen kekamar sebentar,quen perlu membersihkan diri, rasanya tidak nyaman dengan keadaan seperti ini" pinta quen menopang dagunya menggunakan lengan kanannya,


"hiisss, baiklah cepat bersihkan diri setelah itu temui kakek di meja makan" quen yang mendapat kesempatan segera berdiri merenggang kan otot-otot nya yang terasa kaku,


sementara di lain tempat, tepatnya di sebuah gedung tua nan terpencil seorang pemuda tengah menatap penuh amarah kepada ratusan anggota nya yang gagal menjalankan misi penyeludupan senjata biologis yang akan di kembangkan di negara b dan yang lebih parah sebagian besar bahan bahan pembuatan senjata itu telah di sita oleh agen FBI yang bergerak cepat saat melihat kejanggalan di perbatasan,


"siapa yang bertanggung jawab atas penyeludupan ini" ucap pria itu penuh penekanan membuat parah anggota nya di penuhi kering dingin,


"maafkan kami tuan, sebenarnya barang kita tidak akan ketahuan seandainya anggota Mateo tidak datang mengacaukan nya" jawab salah satu dari ratusan orang yang sedang berdiri menghadap ketua mereka,


"bodoh, bagaimana bisa mereka mengetahui penyelundupan ini, sudah aku katakan awasi situasi sebelum bertindak, kalian benar benar bodoh" umpat sang ketua dengan kemarahan nya membuat beberapa anggota menunduk takut,


"tuan kami telah memperkirakan semua, dan kami yakin berita penyeludupan itu tidak akan sampai keluar tapi entah bagaimana caranya Mateo bisa memprediksi tempat dan lokasi serta strategi yang telah di susun serumit mungkin,


jikapun mereka mencurigai pergerakan kita harusnya dia mengikuti truk kontainer yang berisi karet dari ara selatan, menurut kami ini sangat aneh, bagaimana mungkin mateo bisa tau jika mobil pickup berisi ikan kering itu berisi senjata rahasia dan mengirim angen FBI untuk menyelidiki nya ketimbang truk kontainer karet yang lebih memungkinkan," jelas salah satu anak buah pria itu membuat sang ketua menatap mereka atau persatu,


"hanya ada satu jawaban, jangan ada yang bergerak apalagi meninggal kan tempat" tita sang ketua kemudian berjalan kearah kerumah anak buahnya yang sedang berbaris rapih,


"berani sekali meremehkan ioz" ucap pria itu dengan suara lantang, parah anggota tidak ada yang bergerak, semua nampak biasa saja kecuali satu orang yang terlihat gelisa dan sibuk melap keringat yang terus keluar menggunakan sapu tangan dengan tangan yang sedikit bergetar,


"kamu maju kedepan" ioz dengan kasar menarik pria yang sedari di curigai ya itu,


"menarik sekali, seekor kucing berbaur dengan parah singa, hhh.....hhahah..pengkhianat sepertinya harus kita apakan" semua orang tercengang saat menyebut orang itu adalah penghianat, tidak menyangka ada yang berani menjadi penghianat di kelompok mereka yang terkenal dengan kekejamannya,


"dia adalah alasan gagalnya penyeludupan kita, Rey bawa Aros kemari buat pria itu jadi santapan hidup hidup dan ya sisahkan kepalanya untuk di kirim ke kediaman Mateo, akan kubuat istri dan anaknya terguncang siapa suruh mencari masalah denganku," putus ioz membuat pria itu bersujud di hadapan ioz sambil meraung tidak Terimah,


"tuan maafkan saya tuan, semua ini karna Mateo mengancam akan melenyapkan keluarga ku, tuan bagaimana anak dan istri saya jika saya mati Tuan, tuan ioz ampun saya" racau pria itu namun tidak di hiraukan,


"kau telah membuat aku rugi bodoh, tidak akan ku biarkan kau hidup dan ya tidak usah pikirkan anak dan istri mu kau akan bertemu dengannya segera, Rey utus orang untuk membantai seluru anggota keluarganya, ini adalah pelajaran bagi siapapun yang mencoba berkhianat, tidak akan ku biarkan hidup termasuk orang orang terdekatnya," setelah mengatakan itu, ioz segera pergi dengan kekesalan nya,



**ioz dan dua bodyguard nya ,


heh baru bisa up soalnya baru keluar dari rumah sakit karena tipes maaf ya bestie**