
seperti biasa, pagi di kediaman Jackson sangat ramai dengan perbincangan hangat antar keluarga di sana ada Alan sebagai ketua keluarga, di samping nya ada Sukma yang penyakitan quen menganggap nya sebagai karma dan jangan lupa pemerannya utama drama murahan itu adalah nenek Susi ibu dari wanita pelakor itu, dialah yang mengontrol rumah ketika alan melakukan perjalanan bisnis, dan di tambah dua curut yang tidak tau diri itu sedang menikmati makanan mereka,
Ini adalah hari ketujuh di mana queensha mendapati Calista dan bara berselingkuh, setelah memantapkan diri akhirnya gadis malang itu berani menampakkan dirinya di hadapan dua wanita pelakor dan Jagan lupa nenek peot yang bau tanah itu.
"queensha, sarapan dulu sebelum berangkat" itu adalah Alan yang mencoba bersikap lembut pada putri sati satunya itu,
"di mana aku harus duduk," queensha berdiri di samping kursi besar milik mendiang ibunya itu, ini sudah hampir sebulan dia tidak membuat ula, sampai kapan pun Queensha tidak pernah relah melihat mereka akur dan terlihat bahagia,
"kau bisa duduk di kursimu nak, apakah kau tidak menyukainya papah akan menggantikan yang baru jika kau tidak nyaman dengan kursi itu" di sini alan mencoba untuk merebut kembali hati putri nya yang membantu sejak kematian ibunya, rasanya sangat sakit saat di pandang penuh permusuhan dengan anak kandung itulah yang di rasakan alan selama sepuluh tahun,
ternyata benar Malam di mana istrinya mengatakan bahagia nya berakhir malam itu, malam itu juga bahagia hilang, dunianya ikut mati, dan prasaannya ikut terbawa oleh wanita yang ternyata telah merebut hatinya namun terlambat ia sadari, sepuluh tahun terakhir ini selalu menjadi hari hari penyiksaan untuk nya , rasa rindu kian hari kian menggerogoti hatinya yang paling dalam, tak ada lagi cinta di hati nya selain cinta untuk putrinya itu, rasanya untuk sekedar meminta maaf saja tidak cukup, dia telah memberikan luka paling dalam pada dua wanita yang tidak pernah ia syukuri hadirnya, biarlah dirinya hidup dalam penyesalan sebagai penebus dosa nya selama ini.
"ah tidak perlu tuan, kursi ini bukan masalah bagiku, tapi masalah utamanya adalah bagaimana bisa aku duduk bersanding dengan dua pelakor ini," seketika pandangan semua orang mengarah ke ara queensha bagaimana bisa anak yang selalu diam dan penurut bersuara dengan sesuatu yang tidak sopan.
"apa yang kau maksud queensha" nenek reot itu berkata dengan cempreng sepertinya nenek itu cepat tanggap juga menurut queensha,
"lah kalian tidak tau, ibunya merebut tuan Alan dari ibuku dan anaknya seminggu yang lalu merebut tunangan ku, hhhh memang si keluarga pelakor" pernyataan queensha seketika menghentikan gerakan Alan yg sedari tadi cuek dengan kelakuan putrinya itu. tidak masalah jika dia selalu menjadi bahan Buliyan anaknya itu selagi itu bisa menghapus luka yang ia torehkan tidak masalah tapi kali ini tunagan putrinya di rebut oleh salah satu dari anak tirinya itu,
"apa yang kau bicarakan quen bicaralah dengan jelas" mendengar nada tegas dari alan membuat Calista seketika membeku, queensha yang menyadari itu tersenyum simpul,
"seminggu yang lalu Calista mengirim kan potoh ini, kalian lihat dia sedang berciuman dengan bara," queensha mengangkat tinggi handphone mahalnya sehingga seluruh orang bisa melihat dengan jelas potoh itu,
Alan seketika berdiri menatap dalam ke arah Calista" papa kecewa padamu Calista" hanya kata itu yang keluar sebelum akhirnya akan memilih untuk pergi ke kantor, kepalanya sudah sangat pusing dengan kelakuan putrinya di tambah lagi putri angkat nya yang penurut itu mulai berbuat ulah,
"kau wanita murah beraninya kau mengadukan cucuku" nenek reot itu kembali bersuara sambil memandang nyalang ke ara queensha.
"kau tidak punya pilihan lain selain menerima fakta Susi" nenek Susi semakin tersulut saat queensha dengan sengaja menyebut namanya Tampa embel-embel
"dasar anak tidak sopan, apa begitu caramu memperlakukan orang yang lebih tuah darimu" sahut susi dengan suara yang nyaring,
"tidak, ini hanya terkhusus untuk kalian yang tidak tahu malu, sudah menumpang malah bertingkat seenaknya, bahkan pelayan di sini lebih baik dari pada kalian"
Susi melempar gelas ke ara queensha membuat gadis itu memekik saat tangannya Tampa sengaja terkenal goreng dari gelas yang berhamburan itu,
"mama sudah, queensha sebaiknya kamu berangkat ke kampus saja" kali ini Sukma bersuara menghampiri ibunya untuk menenangkan nya.
"ISS pelakor ini," desis queensha namun Masi bisa di dengar viona dan Calista karna posisi mereka berdekatan,
byurrrrr.
Calista Tampa ampun menuangkan jus hangat ke wajah queensha, viona berseru senang menyaksikan kakaknya itu, begitupun dengan Susi sangat bangga dengan cucunya itu.
"Calista apa yang kau lakukan" Sukma berteriak memperingati, dia tidak terima jika putri putri nya saling bertengkar seperti ini,
"mama diam aja biar ku beri pelajaran pada ****** kecil ini" Calista yang belum puas kembali menarik rambut queensha, membuat Sukma segera berlari memisahkan keduanya.
"sudah cukup, Calista cepat minta maaf pada adikmu" seperti biasa Sukma pasti akan membela queensha meskipun gadis itu salah, Calista dan viona juga tidak habis pikir bagaimana bisa Sukma lebih memilih quen daripada mereka berdua,
"aku gak sudih minta maaf padanya" Calista berkata sambil melenggang pergi meninggalkan ruang makan yang sudah kacau ini
"aku juga tidak sudih" kini giliran viona yang berkata sambil menyusul kakanya itu,
"queensha maafin anak mama ya" Sukma berkata dengan lembut sambil membantu queensha memlap sisa jus yang ada di wajahnya,
"tidak perlu berpura pura, di sini tidak ada tuan Alan, kau tidak perlu repot-repot perhatian padaku pelakor" queensha Tampa ambun mengatai wanita yang ada di hadapannya itu, wajah itu adalah wajah yang paling dia benci wajah yang menjadi penyebab ibunya meninggalkan untuk selamanya,
Sukma hanya bisa menelan pahit kata kata itu, kata kata yang selalu ia denger sepuluh tahun terakhir ini, rasa bersalah itu selalu ada, rasa bersalah itu Masi bersarang dengan bayam di lubuk hatinya hingga untuk memulai hubungan baru dengan Alan pun sudah tidak bisa lagi, hidup dalam atap yang sama namun tidak pernah saling menyapa itu sangat menyiksanya, sudah sepuluh tahun kejadian itu namun Alan Masi terpuruk hingga melupakan
bahkan alan tidak pernah mendatangi nya apalagi menyentuh nya, tidur di kamar yang sama Namun di ranjang yang berbeda,tidak ada yang tau Selain dirinya dan Alan, seharusnya ini tidak terjadi, seharusnya dia bisa menolak dengan tegas saat alan meminta nya untuk menjadi istri sirih Waktu itu, mereka memang dulunya sepasang kekasih tapi karna tuan Jackson tidak pernah merestui mereka, hingga dia dan Alan hanya berani menjalin hubungan secara diam diam, sampai akhirnya Jackson menikah kan Alan dengan sahabatnya ya itu, ratu ameraa wanita yang sempurna dalam segi apapun harta tahta kasi sayang orang tua semua ia miliki, selain cinta Alan, setahun menikah dengan ratupun mereka Masi menjalani hubungan diam diam sampai akhirnya sang Ayah menikahkan dia dengan seorang pengusaha sukses dan memiliki dua putri namun mantan suaminya itu bangkrut kerna kala dalam tender masalah kian berdatangan
suaminya yang lembut jadi kasar dan tidak peduli lagi terhadap nya, hingga akhirnya dia memilih meminta bantuan kepada Alan dan juga kepada ratu sebagai alibi tapi tidak pernah menyangka jika yang dia lakukan adalah hal yang menghancurkan masa depan sahabat nya sendiri bahkan dirinya sendiri, dan anak anak mereka adalah korban dari kelakuan itu.