
setelah beberapa hari di rumah akhirnya quen memutuskan untuk keluar saja, lagi pula matanya cukup sakit melihat Calista dan bara yang bermesraan setiap hari, mereka berdua Sungguh keterlaluan dan tidka tahu malu, bukannya merasa bersalah telah menghianatinya, Malah bertingkah berlebihan tidak tahu kah mereka hati quen belum sepenuhnya pulih akibat penghianatan mereka tapi sekarang sudah bermesraan saja seenaknya,
"mau kemana" tanya seseorang saat quen hendak masuk ke dalam mobil barunya yang merupakan janji dari seorang kakek Nasution,
"bukan urusanmu" jawab quen sarkas, kepada pria yang sangat di hindarinya itu,
"kenapa kau sensi sekali quen, aku cuma bertanya bukan ingin memakanmu" jawab pria itu santai,
"untuk apa kau bertanya, sangat tidak penting" balas quen kepada mantan tunangan nya itu,
"queen tidak bisakah kau bersikap biasa saja denganku, maksudku kita bisa berteman baik" ucap bara Tampa tahu malu setelah semua yang dia lakukan kepada quen,
"berteman?, tidak ada pertemanan setelah perpisahan, lagi pula mengapa sekarang kau bertingkah seolah peduli, lebih baik kau fokus saja dengan istrimu dan jangan menggangguku" balas quen segera masuk kedalam mobil tidak peduli bara yang mau membalas ucapannya,
"huffff merusak Minggu pagi ku saja, dasar brengsek tidak tau malu semoga saja harinya Senin terus" omel quen setelah masuk kedalam mobil dan mulai meninggalkan pekarangan rumah mewah itu,
quen mengendarai mobilnya pelan di antara jajaran penjual kaki lima yang berjejer di pinggir jalan, tujuan quen untuk keluar hanya untuk jajan di pinggir jalan sepuasnya, di tempat seperti ini dia tidak akan menemukan makanan mewah tapi makanan pinggir jalan tidak kalah enaknya dengan makanan mahal, meskipun orang orang dari kalangan atas selalu memandang remeh dan merasa tidak sehat dan tidak higienis tapi bagi quen jajan seperti justru terlihat lebih menarik daripada makanan mahal yang ada di resto resto
memang kalau mau di bandingkan jajanan kaki lima ini tidak ada apa apanya dengan makanan restoran yang sudah terjamin kebersihannya, lagi pula tidak etis membandingkan tanah dengan langit pasti keduanya memiliki perbedaan dan ke indahan rasa tersendiri,
ini menurut pandangan Queen saja, setiap orang kan berhak untuk menilai, quen yang sudah sedari tadi memperhatikan para penjual kaki lima segera memarkirkan mobilnya di seberang, gadis itu menyebrang ke sebelah sisi kiri jalan di mana para penjual kaki lima berjejer menjual makanan mereka,
quen menghampiri penjual manisan buah, memesan dan memakan langsung di tempat itu, puas dengan manisan quen menyusuri beberapa jajan lainnya barang kali ada yang menarik untuk dia makan,
saat sedang asyik dengan beberapa jajanan yang dia beli, quen tidak menyadari jika kawasan yang dia tempati cukup rawan dengan kejahatan termasuk beberapa orang berjas hitam hendak menyebrang,
pandangan quen terarah ke beberapa pria berjas itu, quen panik bukan main entah parah pria itu melihatnya atau hanya sekedar kebetulan saja, tidak ingin ambil resiko quen mencoba berbaur dengan orang orang tapi tetap saja penampilannya cukup mencolok di bandingkan rakyat biasa,
quen menyadari situasi, sepertinya pria berjas itu memang sedang mengincar nya mau tidak mau gadis itu mempercepat langkahnya di antara padatnya para pejalan kaki, "gawat mereka mengenaliku, sekarang harus bagaimana, mobilku di seberang sana" batin quen ketakutan, woyy dia Masi mudah tidak etis mati dengan terpaksa.
quen terus saja melangkah dengan cepat hingga akhirnya gadis itu terlepas dari kerumunan para pejalan kaki, quen memutuskan untuk lari saja sembari mencari tempat sembunyi, di belakang sana parah pria berjas hitam itu juga ikut berlari membuat quen semakin panik bukan main,
tidak ada pilihan lain, quen harus meminta pertolongan pria yang waktu itu, jika tidak, mungkin saja dirinya akan benar benar di lenyapkan,
"uuhhggg kemana dia, kenapa tidak mengangkat telpon ku" racau quen semakin panik, gadis itu semakin mempercepat larinya saat melihat parah pria berjas itu sudah semakin dekat dengannya,
sampai akhirnya quen melihat beberapa polisi sedang bertugas di pinggir jalan, gadis itu segera berlari ke ara beberapa petugas yang nampak menilang beberapa pengendara motor,
"pak tolong saya pak, pria berjas itu mengikuti saya sedari tadi" aduh quen menunjuk parah pria berjas tadi yang sudah berbalik arah,
"wah wah kita kehadiran cucu Nasution, kali ini apa lagi yang ingin kau katakan gadis nakal, malam itu kau berhasil mengelabui kita menggunakan pipinan Nasution group dan sekarang kau meminta pertolongan, hebat sekali cucu Nasution ini" quen membulat kan matanya memang benar pria gendut yang ada di depannya ini adalah polisi yang tempo hari ia kerjain,
"heheh bukan begitu pak, kan teman saya sekarat pak saya perlu menemui nya tapi bapak tidak mengizinkan saya pergi" bela quen tidak terima di pojokan seperti tadi,
"ahh...hhaaaa, bukan begitu pak, kakek saya mana tau saya punya teman, diakan sibuk dengan kantor nya, lagi pula aku sudah cukup dewasa untuk tidak di campuri dalam hal pertemanan," alibi quen, Masi Keukeh dengan pendirian nya walaupun situasinya sekarang mendesak,
"jadi temanmu jadi meninggal karna kau mengunjungi nya" entah lah quen antara ingin tertawa atau bersedih, memikirkan kenapa jadi seperti ini situasinya, polisi itu benar benar mengganggap serius ucapannya tempo lalu,
"ah ya seperti yang aku bilang dia menunggu untuk yang terakhir kalinya" jawab quen, polisi itu geleng geleng kepala, tentu saja dia tau jika gadis di depannya itu sedang berbohong, untung saja polisi itu memiliki anak gadis yang seumur quen, jadi dia membiarkan saja, hanya untuk kali ini saja,
"baiklah jadi pertolongan apa yang kau harapkan dari kami" seketika nafas quen menjadi teratur akhirnya polisi itu menyerahkan juga dengan pertanyaan pertanyaan yang harusnya sudah di lupakan,
" bisakah salah satu dari kalian mengantarkan aku ke mobil, tadi ada sekelompok orang berjas yang mengikuti ku" ujar quen dengan pandangan memohon, Tetu saja polisi gendut itu paham dengan situasi quen,
quen adalah kunci ATM dari perusahaan Nasution, dengan menangkap quen artinya kesempatan besar untuk mendapatkan saham Nasution sangatlah besar jadi tidak heran jika polisi itu cukup tau jika quen adalah incaran para bandit berjas, padahal yang sebenarnya queensha di incar oleh musuh orang yang dia tolong bukan musuh Nasution, apalagi Adias,
"baiklah ayo di mana mobilmu" quen akhirnya berjalan beriringan beberapa anggota polisi menuju mobilnya yang terparkir jau dari tempatnya sekarang, dan benar saja saat sampai di tempat tujuan para pria berjas itu Masi berdiri menunggunya,
"aiiss bagaimana aku bisa masuk kemobil jika mereka Masi di situ, bisa bisa mereka akan mengikuti ku nanti" batin quen.
"pak bisakah bapak mengusir mereka dulu, jika dia melihat ku masuk mobil mereka pasti akan mengikuti ku" mohon quen, para polisi itu diam sesaat sambil memperhatikan beberapa orang yang sedang memantydi titik titik tertentu,
"tapi kami tidak punya alasan untuk mengusir mereka nak, memang kami adalah penegak hukum dan ke amanan masyarakat, tapi kami hanya punya wewenang untuk melakukan sesuatu sesuai tindak penyimpangan sosial, jika mereka hanya diam dan berdiri kemudian kami mengusir nya, maka masyarakat akan memberontak, maaf nak kami tidak bisa melakukannya" yang di katakan polisi itu benar adanya, citranya sebagai polisi yang di harapkan masyarakat akan rusak jika mereka melakukan pengusiran pada seseorang tanpa melakukan kesalahan,
"biippp......biippp"
quen yang kebingungan di kejutkan dengan handphone nya yang berbunyi nyaring, gadi itu langsung mengalihkan tatapan pada layar benda pipi itu di mana sebua nama penelpon terpampang jelas, 'mr. arogan'
"bagus dia menelepon, dia memang harus menelpon ku, karna semua yang terjadi padaku akibat aku terlalu baik padanya" sarkas quen dan wajah yang amat masam,
"kemana saja kau, kau tau aku hampir saja di tangkap musuh mu, dan kau seenak jidatmu mengabaikan telpon ku, dengar mereka sedang mengintai ku, katakan apa yang harus aku lakukan, aku tidak mungkin masuk kedalam mobilku dan membuat mereka tau plat nomor nya" sarkas quen tanpa memberikan orang di seberang sana menjawab pertanyaannya,
"share-lok, aku akan segera menjemput mu"
Tut
Tut
" huh dia mematikan nya begitu saja, dasar PRIA GILA" triak quen membuat beberapa anggota polisi geleng geleng kepala,
**Hay salam dari author,
boleh di sapa balik dong heheh
happy reading ya guyss**,