
hari Senin kembali menyapa setelah seminggu tidak datang ke kampus akhirnya gadis itu memutuskan untuk kembali mengikuti pelajaran tatap muka, tentu dengan kerja sama dengan Sean, pria itu sudah berjanji akan mengirimkan anak buahnya untuk mengawasi quen bila sewaktu-waktu pria berjas itu kembali menemukan nya,
"quen kau tidak sarapan dulu nak" ucap Alan saat melihat quen terburu-buru,
"tidak perlu, aku harus pergi temanku menunggu di luar" jawab quen Tampa menoleh, mendengar kata teman membuat seisi ruangan menjadi penasaran pasalnya quen hampir tidak pernah memiliki teman dan cenderung sendiri,
"kuharap temannya perempuan" batin bara, sampai detik ini pria itu Masi berusaha untuk mencari cara agar quen kembali padanya, tunggu sampai anaknya lahir, Calista akan dia depak dari status nya sebagai istri Pradipta, karna anak yang di kandung Calista adalah jalan bagi bara untuk mendapatkan warisan Pradipta dua kali lipat daripada Brian,
sedangkan quen yang melihat mobil zean terparkir di pinggir jalan segera masuk Tampa di suru "kau terlambat 5 menit" sambut zean dengan nada sarkasnya, se umur hidup nya baru kali ini dia di buat menuggu apalagi itu dengan seorang gadis, jika saja Gery ada di sini pasti dia akan di ledek habis habisan beruntung tangan kanannya itu Masi mengurus banyak hal jadi belum sempat ke kota yang zean tempati sekarang,
"see kau mempermasalahkan lima menit, salah sendiri datang lebih cepat" jawab quen cuek sembari menghidupkan handphone nya,
"matikan handphone mu kau pikir aku sopirmu, sudah bagus aku mau menolong mu jadi jangan banyak tingkah, bersikap sopan lah padakau" sahut zean jengah dengan gadis di samping nya itu, ya quen memang sedikit kurang ajar apalagi itu dengan seseorang yang baru dia kenal, tidak berpikir jika pria itu bisa saja menjadi ancaman buatnya terlepas bagaiamana pria itu bertanggung jawab atas masalah yang di alami quen,
"itu sudah menjadi tanggung jawabmu tuan, kau yang menyebabkan aku jadi buronan kematian seperti ini" lagi lagi zean memejamkan matanya gadis itu benar benar menguji batas kesabaran nya,
"queensha, dengar.... aku juga tidak ingin kau tidak bebas seperti ini, aku mengerti situasi mu cukup sulit untuk beraktivitas, tapi tetaplah bersikap sopan dan dengarkan aku, ingat aku juga punya batas kesabaran" ucap zean dengan sabar, jujur saja ini pertama kalinya zean bisa mengontrol emosi nya dengan cukup baik dengan seseorang biasanya di senggol dikit langsung meledak,
"bagaimana aku bisa bersikap sopan kalau hal kecil saja kau permasalahkan" sarkas quen melipat kedua tangannya di depan dada, "kalau tidak ikhlas bilang saja" lanjutnya dengan nada pelan namun Masi bisa di dengar dengan zean,
pria itu tidak ingin memperpanjang perdebatan hal sepele, lebih baik dia pokus dengan kemudi daripada mendengarkan ocehan gadis itu yang mungkin gak akan ada habisnya jika tidak ada yang mengalah, see seorang ketua mafia mengalah demi seorang gadis pasti dirinya sudah gila.
dorr
dorr
dorrr
tidak ada hujan tidak ada angin saat tiba tiba segerombolan mobil hitam mengikuti mobil zean dengan beberapa tembakan membabi buta,
"mereka siapa" ucap quen panik sambil menundukkan kepalanya, sedangkan zean sudah mengeluarkan pistol yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi,
"kau bahkan membawa senjata, mereka siapa zean mengapa dia menembaki mobilmu" tanya quen lagi, Masi menunduk sambil memegang sabuk pengamannya dengan kencang,
Sean tidak menjawab malah semakin menambah kecepatan mobilnya yang membela jalanan sepih, ya sepertinya para bandit itu sengaja mengarahkan mobil zean ketempat sepih agar lebih mudah melumpuhkan ketua mafia itu,
"sial mereka benar-benar mengawasi ku," umpat zean, beruntung hari ini dia memakai mobil Anti peluru jadi peluru para bandit itu tidak akan menembus kaca mobilnya, zean sudah biasa menghadapi situasi semacam ini tapi kali ini berbeda ada gadis cerewet yang harus dia lindungi,
dorr
dorr
penembakan Masi berlanjut mobil zean sedikit oleng saat pria itu berusaha menghindar, di situasi seperti ini biasanya zean akan mengorbankan mobilnya dengan memberiarkan dirinya melompat keluar dengan begitu para bandit akan kesusahan mencarinya,
"tetap menunduk quen" tegur zean saat tiba tiba quen mengangkat kepalanya,
sreeatattt
ciiiiiieeeeeeettt
dorrrr
breakkkkk
tamat, mobil Sean seketika oleng dan menabrak pembatas jalan saat ban mobinya berhasil di jadikan sasaran para bandit berjas itu, beruntung Sean memampu mengendalikannya dengan cara memutar sehingga yang penyok parah adalah bangian belakang mobil,
quen yang baru pertama kali mengalami situasi seperti ini hanya bisa duduk speechless dengan badan gemetaran, "cepat keluar" ucap zean menarik quen keluar dari dalam mobil, gadis itu bahkan tidak sadar sedang ikut berlari bersama zean yang entah menuju kemana,
suara tembakan Masi saling bersahutan zean Masi berusaha kabur sambil memegang tangan quen agar bisa mengikuti langkahnya yang lumayan cepat, selang beberapa saat berlari quen dan Sean memilih bersembunyi di balik batu besar dengan tumbuhan rimbun di sekelilingnya,
"kemana mereka" tanya salah satu bandit berjas yang masi berusaha melenyapkan Sean,
"sudah kukatakan pastikan dia tidak keluar mobil, ioz itu cukup susah untuk ditaklukkan jika dia sudah berbaur dengan daratan,"
"maaf bos tapi sepertinya mereka tidak ada di sini" lapor salah satu anak buah bandit itu,
"ahkkkk sudahlah balik ke markas, kita tak akan menemukannya meskipun hutan ini kita babat habis" jawab bos bandit itu,
melihat para bandit itu sudah menyerahkan dan memutuskan untuk pergi, zean baru bernafas legah di lihatnya gadis yang sedari tadi mulutnya di bekap agar tidak bersuara, gadis itu membelakangi nya dengan sedikit menunduk, jika di lihat situasi antara zean dan quen mampu membuat orang lain salah paham, keduanya berjongkok menghadap batu besar dengan satu lengan zean yang memeluk quen dan tangan lainnya membekap mulut gadis itu,
"quen mereka sudah pergi " ucap zean melepaskan tangannya dari mulut quen, hanya sebelah ya karna tangan satunya Masi memeluk gadis itu,
melihat tidak ada pergerakan dari gadis itu, segera zean membalikkan tubuh quen dengan kondisi mata terpejam, sepertinya gadis itu mengalami syok di Tamba zean membekap mulutnya mungkin agak kencang sehingga quen tidak sadarkan diri,
"huuuff"
zean tidak tau harus berkata apa, pria itu hanya bisa terduduk sambil menyandarkan quen di dadanya, mungkin dia akan sedikit beristirahat menunggu gadis itu siuman, entahlah zean begitu lelah setelah saling kejar kejaran, setahunnya situasi sesulit apapun dirinya tidak pernah merasakan ketegangan seperti tadi, seakan akan ini bukan dirinya, ada ketakutan yang tak bisa ia jelaskan apalagi melihat wajah pias dan ketakutan dari gadis yang ada di depannya itu, perasaan seperti ini sulit untuk zean cerna,
*
*
*
di sisi lain di suatu tempat seorang pria sedang mengamuk,. anak buahnya habis dia hajar satu persatu, kali ini rencananya untuk membunu ioz gagal lagi entah percobaan yang keberapa kalinya, tidak negara a bahkan di negara b yang termasuk daerah kekuasaannya Masi tidak bisa menangkap pria yang sangat dia benci itu siapa lagi kalau bukan ioz atau nama aslinya zean darico xavierioz keponakannya sendiri,
"zean akan ku pastikan kau mati di tanganku, entah esok atau nanti aku pasti akan mendapatkan mu, akan ku buat orang tuamu merasa sakitnya di tinggalkan orang yang paling kita cintai, sama seperti aku kehilangan putra ku" ucap pria itu dengan mata yang di penuhi amarah yang sangat membara,
"tunggu saja"