
"akhirnya kau datang juga" sarkas quen langsung masuk ke mobil pria itu Tampa berpamitan dulu dengan para polisi yang sedari tadi menunggu nya,
"sebentar" quen mengeluarkan kepalanya dari balik kaca mobil sambil berteriak Terimah kasi kepada tim polisi,
pria itu cuek saja kembali menancap gas dengan pelan karna situasi kendaraan sangat padat, di hari Minggu memang biasanya seperti ini selalu ramai di dekat taman, untuk sesaat keadaan kembali hening bukan karna canggung melainkan gadis itu sedang sibuk dengan handphonenya sambil sesekali mendengkus, sedangkan pria yang mengendalikan kemudi mobil itu tidak berniat untuk bertanya, keadaannya begitu lelah setelah seharian mengerjakan beberapa proyek baru,
di Tamba harus menjemput gadis gila yang sayangnya telah menolongnya beberapa kali, dan kesulitan yang di alami gadis itu di akibatkan oleh musuh bebuyutan nya, dan entah bagaimana caranya gadis itu bisa menundukkan pria arogan yang bahkan tidak suka berdekatan dengan perempuan mahluk Ter ribet Ter berisik Ter hebo, dan terlemah menurut sudut pandang nya,
"kakek, aku tidak melakukan kenakalan apapun, aku sengaja meninggalkan mobilku di parkiran taman karna perutku benar benar sakit, tidak mungkin aku menyetir dengan ke adaan kesakitan, yang ada nantinya akan membahayakan diriku dan penggunaan jalan lain" sarkas quen sambil memegang benda pipinya di depan dagu, kebiasaan yang selalu quen lakukan, itupun dengan loudspeaker yang menyala,
"kau tidak membohongi ku kan, kau itu licik jadi kakek harus waspada" jawab Derik Nasution membuat quen benar benar kesal, ini cucumu dalam keadaan nyawa terancam, astaga!
"kakek, bisakah kakek tidak membesarkan masalah, cucumu ini benar benar ke sulitan, kalau kakek tidak mengambilnya jangan salahkan jika cucumu satu satu satunya ini tidak akan mengunjungi mu setahun penuh" ancam quen sambil berteriak di depan benda pipi itu,
"kau berani mengancam ku cucu kurang ajar, baiklah jangan datang setahun penuh, tapi ingat jangan minta uang, apalagi ganti mobil, dan jangan libatkan aku atas kenakanlamu di masa depan," niatnya ingin mengancam sang kakek Mala quen di ancam balik, mana bisa quen hidup Tampa sang kakek, siapa yang akan membereskan masalah yang akan dia buat di masa depan,
" ahh kakek, bukan begitu, maksud cucumu ini, setelah kakek mengambil mobilku di taman, maka aku akan mengunjungi kakek kapanpun kakek minta, dan cucumu ini akan segera memikirkan cara untuk segera mengganti kan kakek, setelah itu kakek bisa menikmati masa tua kakek, oke kakeku tersayang" quen berkata dengan lembut, mana mungkin dia rela kehilangan segala pasilitas dari Nasution.
quen bisa saja hidup Tampa pemberian Nasution tapi tidak mungkin baginya mengemis dengan tuan Alan, gengsinya terlalu tinggi jika bersangkutan dengan keluarga Adias,
"sudah kakek duga kau tidak bisa hidup tanpa kakek bukan," tawa mengejek dari seberang membuat quen memukul apa saja di samping tangannya termasuk meninju dengan keras luka yang belum sembuh di lengan pria yang sedang menyetir, pria itu hanya meringis pelan sembari menjauhkan lengannya, tapi quen kembali meninju di tempat yang sama sehingga membuat pria itu bersuara cukup keras,
" akhhhhkk "
"quen kau bersama seseorang" selidik sang kakek mulai curiga,
"ah kakek, nanti aku telpon lagi, ingat mobilku jangan lupa di ambil" jawab quen buru buru kemudian mematikan handphonenya secara sepihak,
"sorry Gak sengaja" ucap quen Mala menyingkap lengan pendek pria itu, yang semakin membuat nya merasa ke sakitan,
"kau diam saja, gerakanmu membuatku semakin kesakitan" pria itu buru buru menyingkirkan tangan quen dari lengannya,
" tuan zean aku hanya mau memeriksa lukamu, Kenapa kau bertingkah seolah aku akan memperk*samu" jawab quen melihat bagaimana cara pria itu menghindari nya seakan akan dirinya adalah sebuah ancaman,
"kaukan suka meraba, kau tidak ingat di pondok itu kau menggunakan kesempatan untuk menyentuh anggota tubuhku, kau mengganti bajuku, mengelus perut ku dan meraba-raba wajahku" rahang quen seketika jatuh, bagaimana bisa pria itu berpikir lain pada orang yang pernah menolong nya, padahal quen waktu itu tidak memiliki kesempatan untuk meraba apalagi mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti yang pria itu pikirkan, quen terlalu panik waktu itu,
"kau" tunjuk quen tidak bisa berkata kata,
"kenapa........aku benar kan, kau sengaja memampaatkan situasi ku yang lemah untuk meraba raba bagian tubuhku yang sempurna ini" quen benar benar mengutuk pria yang ada di sampingnya itu bisa bisanya pemikiran itu muncul di situasi seperti ini,
"kau tidak bisa menuduh ku seperti itu, memang apa yang kau banggakan dari tubuh mu yang lempeng itu, kau bahakan memiliki perut buncit yang di huni lemak, AKU TIDAK TERTARIK DENGAN TUBUHMU SEKALIPUN GERATIS" sarkas quen tidak terima di tuduh seakan mencabuli pria tua seperti dia,
sedangkan zean sudah membulatkan iris matanya dengan pengakuan menyentuh hati dari perempuan mungil di samping nya, padahal niat awal zean hanya untuk menggoda gadis itu, tapi tak di sangka reaksinya sungguh luar biasa mematahkan hati seorang zean darico xavierioz, seorang CEO terkemuka dengan pekerjaan sampingan sebagai ketua geng mafia untuk menambah uang jajannya,
zean yang tidak terima harga dirinya di jatuhkan dengan gadis mini itu segera menepih dan menghentikan mobilnya, "turun, kau sangat berisik, telingaku bisa bisa pecah mendengar kau berceloteh" usir zean membuat quen lagi lagi menjatuhkan rahangnya, pria itu benar benar gila,
" oke, dasar orang tua, mudah sekali tersinggung" omel quen dengan suara keras sambil membuka pintu mobil pria itu,
"brraakkkk"
quen menutup pintu mobil itu dengan keras membuat zean kembali meringis, benarkan perempuan itu mahluk yang merepotkan dan suka seenaknya,
"dasar pria gila, aku sumpahin kau jadi suami takut istri, biar tau rasanya di ospek setiap hari" teriak quen di tengah ramainya ibu kota, beberapa orang mulai memandang nya aneh, tapi quen mana pernah memperdulikan sekelilingnya sekalipun terjadi gunung meletus, prinsipnya tetap sama selagi nyawanya aman maka yang lain tidak menjadi halangan untuk nya terus melakukan sesuatu yang dia inginkan,
saat sampai di rumah pun quen Masi merutuki pria itu yang suka seenaknya, bisa bisanya dia di turun kan di tengah jalan, untuk saja rame jadi tidak susa mencari taksi untuk kembali ke Mension ya, niatnya untuk menghilangkan stress Mala menjemput stress baru,
"kau sudah pulang" tegur seseorang yang sudah pasti bisa quen tebak Tampa menoleh sekalipun
"kalau kau tidak buta maka tidak perlu ku jelaskan" ucap gadis itu acu tak acu,
bara yang mendapat respon negatif dari quen diam diam mengepalkan tangannya, entah mengapa quen terlihat menarik sekaligus menyebalkan, qadis itu benar benar sulit untuk di dekati,
Calista yang dari jauh menyaksikan interaksi suami dan adik tirinya segera menghampiri mereka, " see aku tidak percaya kau menggoda suamiku" quen yang pokus ke ponselnya langsung mengangkat wajah nya sambil menatap heran ke ara Calista,
"me. I seduce your husband, (aku menggoda suamimu) hahah.....jangan bercanda Calista, tipeku bukan orang yang kekurangan gizi, memang apa yang bisa di banggakan dari bodynya yang kurus itu, kau tau aku pecinta pria seksi, dengan otot bisep beserta perut six pack, ah jangan lupa harus kaya raya biar gak numpang " jelas quen di sertai sindiran halusnya yang justru menyinggung seorang bara,.
"bayyy bicht"
visual tokonya di persilahkan berimajinasi sendiri ya bestie
lanjutkan imajinasi liarmu bestie arrggg