Is Not Cinderella

Is Not Cinderella
15. terjebak di garis pantai



"akhhhhhh" suara eregan gadis yg kini perlahan membuka matanya, entah berapa lama dia tertidur sehingga matahari mulai berwarna jingga artinya sebentar lagi malam mulai mengambil ali posisi matahari, seketika gadis itu tersentak saat kilatan bayangan bayang yang terjadi saat hendak berangkat ke kampus, inside penembakan beserta mobil yang menabrak trotoar,


gadis itu panik memandang sekelilingnya dan tak menemukan siapapun hanya ada hutan belantara di sertai suara burung yang saling bersahut-bersahutan, gadis itu berdiri memandang pepohonan yang menjulang tinggi hawa dingin mulai berhembus ada ketakutan saat merasa sekelilingnya seolah sedang menatapnya layaknya mangsa yang siap di terkam, entah imajinasi queen atau rasa takut dalam dirinya yg membuat gadis itu berpikir jika seluruh mahluk hidup yang ada di sekelilingnya seakan hidup dan memperhatikan nya,


quen menyukai hutan, tapi gambaran hutan yang di maksud queen adalah hutan yang di tembus cahaya matahari, sedangkan hutan yang di tempati berdiri sekarang sama sekali tak memiliki cela membiarkan sinar Surya untuk sampai ke tanah, pikiran gadis itu semakin berkelana,


apakah hutan ini adalah hutan mistis dimana di dalamnya di jaga seorang pria bertaring berusia ribuan tahun, mahluk yang hanya minum cairan merah, atau penunggu hutan ini mahluk yang setinggi pohon bertubuh hitam tampa memiliki hidung, atau bisa jadi tempat ini adalah tempat berkumpulnya para ghost dari berbagai klan tertentu, tidak, tidak, pikiran liarnya tidak boleh di biarkan terus berimajinasi,


ini hanya kebetulan seperti nya jika di beri kesempatan untuk bebas quen harus mengurangi menonton film fiksi seperti imajinasi nya,


"akkkkkkkkkk" teriak quen saat merasakan sesosok menyentuh pundak nya, kembali pikiran liar itu menghantui pikiran nya, quen memejamkan matanya erat tidak berani berbalik atau sekedar berbicara,


"kau kenapa" ucap orang yang memegang pundak quen, siapa lagi kalau bukan zean pria itu tidak benar benar meninggal quen, zean hanya mencari buah untuk dia makan saat gadis itu Masi pingsan,


"heyy ini aku zean" ucap Sean pelan mencoba membuka tangan quen yg sedari tadi menutup wajah cantiknya itu, quen perlahan menurunkan tangannya di lihatnya zean sedikit membungkuk untuk menyamakan tingginya, tapi rupanya gadis itu belum sepenuhnya percaya kalau itu beneran Sean asli,


"plakkkk"


"akkkkkk" satu tamparan keras mendarat di wajah tampan zean, membuat pria itu meringis pelan sambil memegangi pipinya yang terasa panas, quen benar benar menampar Sean dengan tenanga penuh, melihat Sean kesakitan membuat quen bersorak bahagia, sedangkan zean sudah naik pitam, heyy seumur hidupnya baru kali ini di tampar itupun dengan seorang perempuan, lama lama dengan gadis itu bisa membuat zean gila,


"buugg" baru saja zean ingin meneriaki quen, tapi tubuhnya mendadak mendapat serangan tak terduga saat gadis itu dengan lancang memeluknya erat hingga hampir saja terjatu kebelakang, amarah yang tadinya di puncak perlahan redah dengan pelukan gadis itu,


jantung Sean tiba tiba berdekatan tak karuang sehingga mau tak mau Sean segera mendorong quen hingga gadis itu jadi tersungkur di tanah, "siapa yang menyuruh mu memeluk ku gadis gila" umpat Sean berusaha menormalkan detak jantungnya yang berpacu dengan cepat,


"Iiiss pelit sekali, itu replek saja, ku pikir aku benar benar sendiri di tempat aneh ini, dan maaf aku menampar mu, aku cuma memastikan saja kalau itu beneran kamu bukan mahluk jadi jadian" ucap quen tampa merasa bersalah sedikitpun,


Sean hanya mendengkus kesal sembari memunguti buah buah yang berserakan akibat tamparan quen yang menyebabkan Sean melepaskan beberapa buah yang di pegang nya,


"kita akan kemana" ucap quen mengikuti langkah Sean, pria itu tidak menjawab dan justru mempercepat langkahnya,


"isss kau tidak menjawab ku, kita akan kemana, dan ini di mana, kita akan bermalam di mana, aku lapar bisakah kita mencari restoran, apakah hutan ini hutan mistis, bisakah kita menemukan manusia serigala...."


"diaamm...kau berisik sekali, jangan sampai aku meleparmu ke sarang hantu, parah hantu itu akan senang dengan gadis cerewet seperti mu" sarkas zean jengah dengan pertanyaan quen yang tak masuk akal, atau memang Sean yang terlalu malas menanggapi nya, seketika quen membungkam mulutnya sembari merapatkan tubuhnya dengan tubuh Sean,


selang berjalan beberapa menit akhirnya zean berhenti di garis pantai pasir putih yang indah dengan senjah yang mulai turun, quen yang sedari tadi pokus menguyah terperangah melihat keindahan alam di depannya, gadis itu perlahan mendekati bibir pantai dengan air yang begitu jerni, sunggu quen tidak tau harus berkata apa ini benar benar indah, kenapa dia tidka tau ada tempat se indah ini,


"istirahat di sini saja, tempat ini cukup aman dari binatang buas dan ancaman lainnya," jelas Sean yang di angguki gadis cantik itu, bahkan kini kecantikan nya seakan bertambah berkali kali lipat dengan sinar senja dan angin yang meniup indah rambutnya, senyum tulus menghias bibir merah mudah itu mampu mengalihkan dunia seorang Sean darico xavierioz meskipun hanya sesaat,


jantungnya kian berdetak tak karuan gadis itu benar benar sihir sebuah magic, sulit untuk di lewatkan, tawa bahagia kian terdengar layaknya melodi indah di telinga Sean, ini pertama kalinya merasakan hal aneh seperti ini, dan itu kepada gadis yang sudah ia cap sebagai gadis gila, sedang berlarian dengan tawa dari bibir mungilnya,


senjah kini telah berganti malam Sean dan quen sedang menikmati api unggun yang Sean buat, quen memperhatikan Sean yang sedang memanggang ikan hasil tangkapan pria itu, "jangan menatap ku seperti itu, kau seperti kucing kelaparan" tegur Sean merasa tak nyaman di perhatikan,


"Iiiss PeDe sekali dirimu, aku hanya menatap ikan yang kau panggang, dan memang aku sedang kelaparan" jawab quen sembari mendekat ke ara Sean tadinya mereka saling berhadapan sudah membuat Sean tidak nyaman bagaimana bisa gadis itu berpindah ke samping nya, Sean benar benar membatu, sulit untuk bergerak saat quen semakin menempelinya,


"jau jauh sana kau membatasi pergerakan ku" ucap zean mendorong pelan tubuh quen, gadis itu tidak membantah menjau dari Sean dan berlalarian di pinggir pantai, sesekali tawa indah itu terdengar di telinga Sean, bahkan di malam hari pantai itu semakin cantik dengan sinar bulan yg begitu terang.



"haha..ha.. !" awalnya gadis itu tertawa bahagia melihat air mengejar nya, namun tawa itu berubah jadi tawa pedih, dadanya tiba tiba sesak, entah kapan terakhir kali dia tertawa bahagia seperti ini, satu tahun lalu, Lima tahun lalu atau sepuluh tahun lalu entahlah quen saja tidak tau kapan terakhir kali dia tertawa lepas seperti tadi, "mom" lirih quen,


gadis itu ingat, dulu ibunya sangat menyukai laut dan hujan sama seperti dirinya, tapi semenjak ibunya pergi quen berusaha membenci laut dan hujan hinggap sampai detik ini menjadi alasan tidak pernah mau di ajak ke pantai, semuanya terasa menyakitkan, alam seakan mempermainkan nya dengan kenangan bahagia yang begitu pedih di kala menyaksikan laut dan hujan,


"MOM....., KAMU DI SURGA KAN, MOM... LIHAT AKU MOM, AKU SUDAH BERTAHAN SEJAUH INI,"teriak quen tampah sadar dengan air mata yang berderai, di belakang sana Sean memerhatikan quen yang menatap langit dengan taburan bintang, gadis itu terlihat sesekali menghapus butiran bening di pipinya, "gadis kuat" lirihnya,


.


.


.


^^^"jika harus memilih, aku sanggup kehilangan segalanya kecuali ibu, "^^^


^^^queensha azariella jakson^^^