Is Not Cinderella

Is Not Cinderella
06 kebenaran itu



"katakan yang sebenarnya bara" titah mawar dengan tatapan penuh kekecewaan,


"Bara harus mengatakan apa ma, bara merasa tidak pernah menghamilihnya, memang bara sama Calista beberapa kali berhubungan tapi bara bukan yang pertama ma, ada orang lain yang memiliki Calista sebelum bara, jadi bara yakin anak itu bukan anak bara ma"


"tutup mulutmu bara, mama benar benar kecewa dengan tindakan mu, mati Matian mama mempertahankan hubungan mu dengan quen tapi kau......ah mama tidak tau harus berkata apa" ucap wanita paru baya itu menunduk tidak terima jika putranya itu begitu bodoh,


sedangkan quen memilih cuek sambil memainkan handphone miliknya, hanya berdoa agar drama membosankan ini segera berakhir dengan cepat, makin lama hatinya makin hancur menyaksikan pria yang sangat dia cintai harus menikahi orang lain,


Alan menatap putrinya yang sibuk sendiri, tatapannya senduh, Sangat tau jika putrinya itu juga dalam keadaan terguncang, beruntung putrinya itu jauh lebih dewasa ketimbang anak seusianya, jadi gadis malang itu bisa mengontrol emosi yang ia rasakan,


"quen maafkan papa" ucap Alan pelan,


"quen mama minta maaf jika anak mama menyakitkan perasaanmu, mama tau kau saat ini sangat terguncang mendapatkan kabar buruk seperti ini, mama juga tidak bisa berbuat apa apa, semoga kejadian ini tidak membuat mu Jau dari mama ya," ucap mawar tulus, queensha hanya bisa mengangguk pelan, prasaan nya mungkin campur aduk, tapi gadis itu bisa bersikap tenang,


"semua sudah terjadi, memang apa yang bisa di perbaiki selain mengikuti alur yang sudah di atur oleh waktu," jawab quen


mungkin sebagian orang memandang quen iba tapi tidak dengan Calista wanita pelakor itu nampak tersenyum puas, merebut apa yang quen miliki adalah sesuatu yang sangat di sukai oleh dua bersaudara itu, kini viona dan Calista sekarang merasa di atas angin,tidak ada yang bisa menghalanginya lagi untuk menjadi nyonya Pradipta sang pewaris Pradipta group,


"bara kenapa kau terlihat keberatan dengan pernikahan ini, bukankah kau mencintai Calista makanya kau meninggalkan quen,"


skamat...


ucapan Alan langsung membuat bara yang Sedari tadi bergerak layaknya ikan kekeringan, diam membantu, seakan pikiran waras nya baru terkumpul, mengapa dia begitu khawatir bukankah dia memang jatuh cinta dengan Calista " bener juga kenapa aku harus Khawatir, wanita yang aku cintai adalah Calista bukan queensha si buruk rupa dan norak itu" batin bara menenangkan diri sendiri,


"ah bukan begitu, hanya saja aku sedikit Khawatir jika nanti aku tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk anakku" alasan yang cukup masuk akal bara, setidaknya semua orang nampak percaya dengan kata katamu, " kenapa aku baru tau jika Queensha begitu dekat dengan mama, dan kenapa juga aku baru sadar bahwa dia adalah satu satunya keturunan sah Nasution dan Adias, bodoh," batin bara syokkk dengan fakta yang sebenarnya,


"sepertinya urusan ini tinggal urusan kalian jadi bolehkah aku pergi," pamit quen dengan senyum manisnya,


mata bara berbinar cerah senyum itu sungguh menghanyutkan, wajah teduh nan indah layaknya senja yang datang sesaat tapi begitu berbekas di ingatan, "tidak bara kau tidak boleh terpengaruh hanya karena senyuman murahan itu, cih sungguh wanita penggoda" batin bara menyaksikan kepergian quen, boleh di katakan saat ini bara di Landa di lema mencoba tidak terpengaruh dengan pesona gadis itu, tidak masalah jika dia menikahi Calista setidaknya dia akan tinggal di rumah ini dan mencari kesempatan untuk mendekati gadis itu,


quen memantapkan hatinya pilihannya tidak pernah salahkan, sejujurnya dia begitu ilfil dengan bara tapi tidak menutup kemungkinan bahwa dia masi sangat mencintai pria itu, selayaknya alam semesta tau jika hubungan mereka tidak akan sampai ke hal yang lebih serius jadi, tidak ada kenangan manis yang berbekas selain kebersamaan atas urusan pekerjaan dan sekolah, ya alam semesta telah mengatur segala rasa sakit nya agar kedepannya bisa terbiasa dengan kekecewaan, mungkin begitu.


"huh" quen menghelai nafas berat matanya sedikit berkaca-kaca, rasa benci di hatinya sunggu menyiksa hampir tidak menyisakan ruang baginya untuk tersenyum bahagia walau hanya sedetik, hari hari sunyi dan sepi memang siapa yang tahan, tapi begitulah harusnya, terlalu terbuka tidak memungkinkan seseorang akan masuk dan mengacaukan dunia yang awalnya baik baik saja, memang dia punya dunia yang baik baik saja, sepertinya tidak,


"sepertinya keputusan ku sudah benar, berbahagialah untuk sementara, huh......hahaha.... mana mungkin aku biarkan kau tertawa di atas tangisku bara, aku bersumpah kau tidak akan menemukan bahagiamu sebelum aku menemukan bahagia ku" quen begitu hanyut dalam pikirannya hingga Tampa sadar telah melajukan mobilnya di atas rata rata,


suara sirine polisi yang saling bersahutan memperingati tak ia hiraukan, karna Malam sudah agak larut jadi kondisi jalan sudah sepi waktu yang tepat untuk para petugas keamanan berpatroli, bukankah malam adalah waktu yang tepat dalam melakukan aksi, merajut pada banyaknya penyimpangan sosial yang sedang marak di ibu kota membuat pemerintah menerjunkan Anggota terbaik untuk cek beberapa lokasi yang sudah di pantau sejak laporan itu melunjak.


"ciiiittttt"


melihat satu mobil polisi menghadang dari depan membuat quen mau tidak mau berhenti, pikirannya sekarang kalut, jika sampai orang rumah tau jika dirinya di tahan karna ugal ugalan keluarga pelakor itu akan bersorak bahagia, bara akan semakin meremehkan nya dan citranya akan semakin rusak, tidak boleh di biarkan terjadi,


tok


tok


tok


cleakkk, pelan pelan quen membuka pintu dengan keadaan mata sembab airmatanya terus berjatuhan, satu tangan memegang handphone dengan potoh seseorang yang sekarat,


"anda melakukan pelanggaran-pelanggaran nona" ucap salah satu polisi itu,


"maafkan saya pak, tapi saya melakukan ini dengan terpaksa, lihatlah teman saya sedang sekarat, dia hidup sebatang kara pak, cuma saya yang dia punya, saya telah merawatnya dengan baik tapi sepertinya dia akan menghadap Tuhan jadi pak tolong kasi saya jalan untuk bertemu dengannya" ucap quen dramatis,


"aturan adalah aturan nona, Jagan menggunakan teman anda sebagai alasan untuk lari dari tanggung jawab" sial, rasanya quen ingin mendorong pria itu ke kandang buaya biar otaknya sedikit bekerja, kenapa dia begitu pintar untuk polisi gendut sepertinya,


"jika bapak di posisi saya pas......."


"saya tidak akan melakukan itu jika jadi kau" rahang quen melebar seketika, polisi di depannya ini sangat smart dan stupid dalam waktu bersamaan,


"pak tolong lah pak, biarkan saya ketemu dulu dengan teman saya untuk yang terakhir kalinya, dia menunggu saya pak, huh.... whaaaa " tangis gadis itu pecah,


"bwhhaaaaaa"


tapi Mala membuat polisi gendut di depannya itu terbahak bahak, bahkan sampai memegangi perutnya, jelas jelas quen menangis kenapa pria tua itu tidak bisa mempercayai nya,


"dengar nak, usia saya sudah hampir 45 tahun, saya sudah menjadi anggota polisi di usia 24 tahun, jika ingin menipu, kau salah orang, ekting mu sangat buruk untuk menipu saya, nona kecil"


quen sungguh terharu antara ingin menangis atau tertawa, di saat seperti ini polisi gendut itu Masi bisa memamerkan jabatannya beserta curhatan tentang usia yang sebentar lagi di jemput, hadeeee


"alasan apa lagi yang ingin kau gunakan gadis kecil, ayo ikut kekantor, dan segera bayar denda"


"hisss pemerasan berkedok seragam, mengapa hari ini begitu apes buat seorang quen cucu pewaris sah Nasution, Nasution?" seketika senyum lebar gadis itu mereka, sepertinya menumbalkan sang kakek tidak apa apa,


"begini saja pak, mobil saya silahkan di bawa untuk dendanya silahkan hubungi pimpinan Nasution group, dan tunjukkan kartu nama ini" quen menyerahkan selembar kertas gold kepada anggota polisi itu,


siapa yang tidak mengenal Nasution group, perusahaan itu cukup terkenal dengan kemegahan nya, " apa kau cucunya tuan Nasution" tanya polisi gantut itu,


"Yap tepat sekali, silahkan di hubungi" quen tersenyum hangat dan mundur beberapa langkah, karna beberapa anggota polisi kurang percaya, sangat sulit untuk mendapatkan nomor seorang direktur, dan jika gadis itu jujur berarti ini kesempatan baik untuk mereka saling mengobrol bukan,


"dadah penjilat" batin gadis itu masuk ke mobil dan meninggalkan tempat itu Tampa ketahuan,


"kakek queensha minta maaf" teriak gadis itu di sertai tawa kemenangan nya.