Is Not Cinderella

Is Not Cinderella
17. pulang



"tuan Alan"


"aalaaannnn"


"cih kemana pria sialan itu, cucuku menghilang tapi dia tidak memberitahu ku" sarkas pria tua yang masi terlihat bugar


"alannn keluar kamu "


begitulah kebisingan pagi ini di kediaman Jackson setelah dua hari putri mereka tidak pulang,


"ayah kau di sini" ucap Alan menghampiri ayah mertuanya itu, "duduk dulu ayah" sambut Alan bahagia,ini pertama kalinya ayah mertuanya datang ke rumah nya setelah kepergian Ameera, Derik Nasution perna berjanji tidak akan menginjakkan kakinya di rumah ini jika keluarga Sukma Masi satu atap dengannya, jika ingin bertemu quen cucunya, Nasution hanya mengirimkan mobil untuk membawa putrinya, tapi kali ini untuk pertama kalinya di mata Alan tuan Derik Nasution menginjakkan kaki dirumahnya,


"tidak perlu, aku kesini hanya untuk memastikan bahwa cucuku ada di rumah ini, sudah dua hari dia tidak mengangkat telpon ku, tidak datang ke kampus dan terakhir maid mengatakan bahwa dia tidak kembali setelah izin ke kampus" jelas Derik memijit keningnya yang terasa berdenyut,


"APAAA, jadi quen tidak bersama ayah, aku pikir quen bersama ayah," tanya Alan panik


"atas dasar apa kau berpikir dia bersamaku, kau ingat aku selalu menyuruh asisten ku untuk mengabarkan kalau quen bersamaku, kau benar benar tidak becus jadi ayah" sarkas Nasution memandang remeh ke ara manantu yang sangat di bencinya itu, Jika bukan quen sudah lama Derik menghancurkan Alan, ayah mana yang tidak sakit hati saat tahu putrinya meninggal karna seorang pria yang sudah di percaya penuh untuk menjaga anak dan cucunya, sunggu sial,


"seperti biasa Kalau dia marah sama kita di sini quen akan tinggal sama Ayah selama beberapa hari, jadi aku tidak mencarinya, lagi pula ketika akau menelponnya quen pasti tidak akan mengangkat nya" jelas Alan dengan penuh rasa khawatir takut putrinya kenapa kenapa, memikirkannya saja Alan tidak sanggup, jika putrinya tidak ada lantas dunia siapa lagi yg akan menggenggam nyawa dan semangat hidupnya, quen adalah satu satunya alasan dia Masi bernafas,


"isss kau benar-benar bukan ayah yang bisa di andalkan, kau sudah gagal menjadi suami, setidaknya Jangan Sampai kau gagal menjadi seorang ayah, Jika sesuatu yang buruk terjadi dengan cucuku jangan harap aku akan mengampuni mu lagi," sarkas Nasution menatap nyalang ke ara menantunya itu,


sedangkan Alan sudah panik perasaannya campur aduk, benar benar tidak bisa membayangkan jika putrinya benar benar menghilang untuk selamanya, tidak bisa, dia harus menemukan putrinya bagaimanapun caranya, "halo gino, kerahkan anak buahmu sebanyak mungkin,cari putriku sampai ketemu usahakan bawah dia dengan keadaan hidup tanpa kurang sedikitpun"


tidak menjadi rahasia lagi, semua pembisnis hebat dan sukses pasti memiliki dunia gelap tersendiri, seperti alan dia juga memiliki beberapa agen untuk kepentingan diri dan perusahaan, karna sejujurnya dunia bisnis adalah dunia yang paling kejam, persaingan di dalamnya sangat ketat, sehingga memungkinkan pagar makan tanaman,


jadi di perlukan sesuatu yang berbahaya untuk melawan hal yang berbahaya, semua yang alan lakukan untuk menjaga putrinya kelak ketika quen jadi pemimpin di perusahaannya, selagi Alan Masi bernafas akan dia lakukan apapun untuk putrinya itu, tapi entah apa yang terjadi kali ini dia kecolongan, kecolongan yang sangat patal sehingga tidak sadar putrinya menghilang selama dua hari dan tidak ada mencari, Alan benar benar merasa gagal menjadi ayah yang baik untuk Putri tunggal nya itu,


Alan berjalan ke ruang tamu di sana Derik Masi berdiri dengan handphone yang tidak pernah lepas dari telinganya, entah apa yang dia bicarakan tapi Alan yakin jika itu menyangkut putrinya , kakek tua itu sangat menyayangi queensha nya,


"whaaattt, quen mengalami insiden penembakan, jadi di mana sekarang cucuku, cari sampai ketemu dalam ke adaan hidup" bentak Nasution pada lawan bicaranya, tidak main main kalau Nasution marah, meskipun sudah tua aura kekejaman Masi terasa dengan jelas,


"baik tuan, ada informasi baru lagi, quen bersama seorang pria, mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan parah di perbatasan kota, mobilnya hangus terbakar tapi kami tidak menemukan tanda-tanda adanya korban, kemungkinan nona mudah berhasil kabur, kami sedang mencoba mencari di dalam hutan dekat kejadian tuan" jelas pria di seberang, Derik semakin memijit kepalanya, benar benar pusing dengan situasi nya, dia sudah kehilangan putrinya jangan sampai cucunya juga ikut menghilang,


sementara di lain tempat di pesisir pantai dua orang sedang duduk bersebelahan menyaksikan pagi yang begitu tenang damai tanpa adanya kebisingan kota " ayo kita pulang" ajak pria itu, "tidak mau, kau memaksa mau pulang ke apartemen, aku mau langsung pulang ke rumah" cerca quen tidak terima saat beberapa jam lalu pria itu ingin membawanya pergi ke apartemen dan bermalam di sana, 'jangan harap' batin quen


"see kau ingin pulang dengan keadaan seperti ini, yakin keluarga mu tidak menganggap mu gembel yang salah masuk rumah"


"memang apa yang salah dengan penampilanku..., seperti biasa meskipun agak kotor tapi tidak masalah, daripada aku ikut dengan mu, bisa bisa para bandit itu akan mengejar ku lagi," bantah quen,


"kau ini keras kepala sekali, apa salahnya datang ke apartemen ku untuk membersihkan diri istirahat disana setelah itu plng, quen aku peduli denganmu," ucap zean besikap lembut,


"tidak mau ya tidak mau, kenapa kau keras kepala sekali tuan" Sean menghelai nafas berat bisa gila jika dia terus meladeni gadis cerewet itu,


"baiklah ayo pulang, jangan sampai para bandit itu datang ketempat ini lag....." Sean belum selesai berbicara quen sudah berdiri di sampingnya bahkan gadis itu sudah memegang lengan Sean erat, lelaki itu bisa melihat ada ketakutan di mata gadis itu membuat nya tidak tega untuk membicarakan para bandit itu lagi,


"ayo," ajak Sean yang entah keberanian dari mana dia menggenggam tangan gadis itu, quen yang sedikit takut membiarkan saja Sean menggenggam telapak tangannya, hingga mereka tidak sadar telah bergandengan tangan sampei di dalam taksi yang lewat, ya karna dekat dengan pantai yang ramai jadi tidak sulit untuk mencari kendaraan umum,


di dalam mobil keduanya Masi berpegangan tangan, tidak ada yang berbicara, hanya ada keheningan dengan detak jantung yang saling memacu dengan cepat, bukan quen tapi detak jantung Sean yang tak karuan, tapi pria itu menikmati prasaan aneh yang dia rasakan,


quen yang kelelahan mulai mengantuk, gadis itu melepaskan genggaman tangannya dari Sean, ada rasa tidak rela tapi malu untuk mengakui nya "aku pinjam bahumu aku sangat lelah" ucap quen melilitkan tangan nya di lengan Sean kemudian menyandarkan kepalanya di bahu pria itu,


jujur saja Sean bahagia bukan kepalang, pria itu tersenyum ke ara quen sambil mengelus pelan rambut gadis itu, quen yang benar benar mengantuk akhirnya tertidur,


✨✨✨🌚🌚


halo bestie ketemu lagi kita ya, eh gak ada yang mau sapa author gitu,,


happy reading ya